NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Kesepakatan Rumah Tangga

Keheningan di dapur itu terasa begitu berat, seperti waktu berhenti berputar. Alya berdiri dengan punggung bersandar pada meja dapur, tangannya menutupi wajah yang basah oleh air mata. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena campuran lega dan hancur yang luar biasa. Rahasia yang ia simpan selama enam tahun akhirnya terungkap, seperti beban yang tiba-tiba lepas dari dada, tapi meninggalkan luka yang masih menganga.

Reyhan berdiri beberapa meter darinya, napasnya tercekat, matanya menatap kosong ke lantai marmer yang mengkilap. Pikirannya kacau terlalu banyak informasi yang harus ia proses sekaligus. Arka… anakku. Alya… adalah Zara. Enam tahun. Enam tahun aku hidup tanpa tahu apa-apa.

“Kenapa?” tanya Reyhan lagi, suaranya serak. Bukan marah, tapi terluka. Sangat terluka. “Kenapa kamu nggak bilang waktu kamu hamil? Kenapa kamu hilang begitu saja?”

Alya menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa kekuatan yang tersisa. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap Reyhan dengan tatapan penuh luka lama yang tak pernah sembuh. “Karena kamu pergi duluan,” bisiknya, suaranya bergetar. “Kamu… yang meninggalkan aku tanpa kata-kata.”

Reyhan terdiam. Ingatan itu langsung menerjang kembali seperti pisau yang menusuk dada. Enam tahun lalu, malam terakhir mereka bersama.

Saat itu, Zara nama panggilannya dulu adalah mahasiswi magang di divisi IT perusahaan Reyhan. Gadis ceria dengan senyum yang mampu menerangi ruangan paling gelap sekalipun. Ia selalu membawa kue buatan sendiri untuk tim, selalu menyapa semua orang dengan ramah, selalu membuat Reyhan merasa hidup di tengah rutinitas kerjanya yang dingin.

Reyhan, saat itu baru berusia dua puluh delapan tahun, masih muda, ambisius, perfeksionis, dan sangat takut pada perasaan sendiri. Ia jatuh cinta pada Zara tanpa sadar. Dan itu membuatnya panik. Karena Reyhan Mahardika tidak pernah jatuh cinta. Ia tidak percaya pada cinta. Ia hanya percaya pada logika, data, dan kontrol.

Tapi Zara… membuat semua kontrolnya runtuh.

Malam itu, setelah proyek besar selesai, mereka berdua tertinggal di kantor untuk lembur finalisasi laporan. Kantor sudah sepi, hanya mereka berdua di bawah cahaya lampu neon yang redup.

“Kak Reyhan, terima kasih ya udah bantuin aku selama magang. Besok hari terakhirku,” kata Zara sambil tersenyum lelah.

Reyhan mengangkat wajah dari layar laptop. “Kamu… sudah dapat pekerjaan?”

Zara menggeleng sambil tersenyum. “Belum. Tapi aku mau fokus lulus dulu. Skripsi masih banyak.”

Hening sejenak.

Lalu Zara bertanya dengan nada pelan, “Kak… kita masih bisa ketemu kan? Setelah aku nggak magang lagi?”

Reyhan terdiam lama. Terlalu lama.

Dan Zara melihat jawaban itu di matanya penolakan yang tak terucap.

“Aku… sibuk, Zara. Kamu juga harus fokus kuliah. Lebih baik kita nggak usah… rumit.”

Senyum Zara perlahan memudar. “Rumit? Maksud Kakak… aku… bikin Kakak rumit?”

“Bukan begitu”

“Atau Kakak cuma… main-main sama aku?”

Reyhan berdiri, frustrasi. “Aku nggak main-main! Tapi aku juga nggak bisa… aku nggak siap, Zara. Aku nggak tahu cara… peduli sama orang lain. Aku nggak tahu cara jadi orang yang kamu butuhkan.”

Zara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak butuh Kakak jadi sempurna. Aku cuma butuh Kakak… ada.”

Tapi Reyhan menggeleng. “Aku nggak bisa.”

Dan ia pergi, meninggalkan Zara sendirian di kantor yang gelap.

Itu malam terakhir mereka bertemu.

Dua minggu kemudian, Zara menghilang. Nomor teleponnya tidak aktif. Akun media sosialnya terhapus. Ia seperti tidak pernah ada.

Dan Reyhan… meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu yang terbaik.

Tapi setiap malam, ia menatap foto-foto Zara dan bertanya dalam hati apakah ia membuat keputusan yang benar.

Kembali ke masa kini, Alya menarik napas dalam. “Aku… mencoba menghubungimu,” bisiknya, menarik Reyhan kembali ke kenyataan. “Setelah aku tahu aku hamil. Aku coba telepon, tapi nomormu sudah diganti. Aku datang ke kantor, tapi satpam nggak izinkan aku masuk. Aku kirim email, tapi nggak ada balasan.”

Reyhan menutup matanya, rasa bersalah menghantam dadanya seperti palu besar. “Aku ganti nomor… karena aku mau lupain kamu,” akunya pelan, suaranya bergetar. “Aku minta divisi HRD untuk blokir kontakmu di sistem perusahaan. Aku… membuangmu dari hidupku karena aku takut.”

“Takut apa?” tanya Alya, suaranya nyaris memohon. “Takut mencintai? Takut peduli? Atau takut… bertanggung jawab?”

Reyhan membuka matanya, menatap Alya dengan tatapan penuh penyesalan yang dalam. “Takut kehilangan kontrol. Takut jadi lemah. Takut… kamu lihat aku nggak sempurna dan pergi.”

Alya tertawa miris, tawa yang penuh kepahitan. “Jadi kamu pergi duluan. Sebelum aku sempat pergi.”

Hening lagi.

Reyhan mendekat perlahan, hati-hati sampai jarak mereka hanya sejengkal. Ia menatap wajah Alya yang sembab, mata merahnya, bibirnya yang gemetar. “Maafkan aku,” bisiknya, suaranya retak. “Maafkan aku karena jadi pengecut. Maafkan aku karena meninggalkan kamu. Maafkan aku karena… nggak ada waktu kamu butuh aku.”

Air mata kembali mengalir di pipi Alya. “Aku nggak butuh permintaan maafmu, Reyhan. Yang aku butuh adalah… kamu percaya kalau aku nggak akan pernah menyakiti Arka. Aku nggak akan pernah bilang ke dia kalau ayahnya… meninggalkan kami.”

Reyhan merasakan dadanya seperti diremas kuat. “Kamu bilang ke dia… aku sudah meninggal?”

Alya menggeleng. “Aku bilang ayahnya nggak ada. Arka cukup pintar untuk nggak bertanya lebih jauh.”

Reyhan mundur, tangannya meremas rambutnya dengan frustrasi. “Enam tahun, Alya. Enam tahun aku kehilangan waktu bersamanya. Enam tahun aku nggak tahu… aku punya anak.”

“Aku tahu,” bisik Alya. “Dan aku minta maaf. Tapi aku nggak punya pilihan lain. Kamu sudah pergi. Kamu sudah bilang kamu nggak siap. Aku nggak mau memaksamu jadi ayah kalau kamu sendiri nggak mau.”

“Tapi aku berhak tahu!”

“Dan aku berhak untuk nggak dihakimi!” balas Alya, suaranya akhirnya meninggi. Semua emosi yang ia pendam selama enam tahun meledak. “Kamu pikir gampang hamil sendirian? Kamu pikir gampang melahirkan tanpa ada yang nemenin? Kamu pikir gampang besarin anak genius yang sering dianggap aneh sama orang lain? Aku bertahan, Reyhan! Aku bertahan buat Arka! Sendirian!”

Reyhan terdiam benar-benar terdiam.

Karena ia tidak punya jawaban untuk itu.

Sepuluh menit kemudian, mereka berdua duduk di sofa ruang keluarga dengan jarak yang cukup jauh. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Alya memeluk bantal, menatap kosong ke lantai. Reyhan bersandar dengan kepala menengadah, menatap langit-langit.

“Sekarang… apa yang mau kamu lakukan?” tanya Alya akhirnya, suaranya lelah.

Reyhan menurunkan kepalanya, menatap Alya. “Maksudmu?”

“Sekarang kamu sudah tahu. Arka itu anakmu. Jadi… apa rencanamu? Kamu mau cerai? Kamu mau ambil Arka? Atau… apa?”

Reyhan terdiam lama. Lalu ia menjawab dengan nada tegas yang tidak memberi ruang untuk argumen. “Aku nggak akan cerai. Dan aku nggak akan ambil Arka dari kamu.”

Alya mengangkat wajah, terkejut. “Kenapa?”

“Karena Arka butuh kamu. Dia lebih butuh kamu daripada siapapun.” Reyhan menarik napas panjang. “Tapi aku juga… mau jadi bagian dari hidupnya. Aku mau jadi ayahnya. Beneran.”

Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu… serius?”

“Aku nggak pernah main-main soal tanggung jawab, Alya. Kamu harusnya tahu itu.”

“Tapi… ini bukan cuma soal tanggung jawab. Arka itu anak yang sensitif. Dia butuh lebih dari sekadar ayah yang hadir secara fisik. Dia butuh… koneksi emosional.”

Reyhan mengangguk pelan. “Aku tahu. Dan aku… mau belajar.”

Hening.

Lalu Reyhan melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, “Aku nggak akan munafik dan bilang aku langsung bisa jadi ayah yang baik. Aku nggak tahu caranya. Tapi… aku mau coba. Buat Arka. Dan… buat kamu.”

Alya menunduk, air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan karena sedih semata. Entahlah. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang.

“Kita… bikin kesepakatan baru,” kata Reyhan tiba-tiba.

Alya menatapnya bingung. “Kesepakatan?”

Reyhan mengangguk. “Pernikahan kita dimulai dengan kesepakatan. Sekarang kita buat kesepakatan yang baru. Kesepakatan yang lebih… jujur.”

“Maksudnya?”

Reyhan mengambil napas dalam, lalu mengatakannya dengan tegas. “Pertama: Aku akan jadi ayah buat Arka. Bukan ayah tiri, bukan ayah pura-pura. Ayah yang beneran. Aku akan belajar, aku akan coba, dan aku nggak akan berhenti sampai Arka merasa punya ayah.”

Alya mengangguk perlahan.

“Kedua: Kita tetap tinggal satu rumah. Tapi aku nggak akan maksain… hubungan fisik atau apapun kalau kamu belum siap. Ini masih pernikahan tanpa cinta setidaknya untuk sekarang.”

Alya merasakan dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Pernikahan tanpa cinta. Entah kenapa… itu menyakitkan.

“Ketiga,” lanjut Reyhan, kali ini nadanya lebih lembut, “aku… pengen kita coba jadi keluarga. Bukan keluarga pura-pura. Keluarga beneran. Aku nggak janji bisa langsung sempurna. Tapi aku janji… aku nggak akan pergi lagi.”

Air mata Alya mengalir deras. Ia tidak bisa menahannya lagi.

Reyhan bergerak lebih dekat perlahan, hati-hati, lalu duduk di sampingnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia mengulurkan tangan dan memegang tangan Alya dengan lembut. Hangat. Seperti malam itu di meja makan, tapi kali ini… berbeda. Kali ini ada ketulusan di sana.

“Aku nggak akan sia-siain kesempatan kedua ini, Alya,” bisiknya. “Aku janji.”

Alya menatap tangan mereka yang bertautan tangan besar Reyhan yang membungkus tangannya yang kecil. “Aku… takut,” akunya pelan. “Takut kamu pergi lagi. Takut Arka terluka. Takut… aku jatuh cinta lagi dan kamu cuma anggap ini tanggung jawab.”

Reyhan terdiam. Lalu ia menarik tangan Alya, memaksanya menatap matanya. “Aku nggak bisa janji aku akan jatuh cinta sama kamu lagi belum. Tapi aku janji… aku akan peduli. Aku akan ada. Dan aku nggak akan ninggalin kalian lagi.”

Alya mengangguk perlahan, meski hatinya masih ragu. Tapi untuk sekarang… janji itu sudah cukup.

Pukul delapan malam, di kamar Arka, anak kecil itu sudah tidur nyenyak dengan pelukan boneka robot lusuh di dada. Wajahnya damai, tidak tahu badai emosional yang baru saja terjadi di lantai bawah.

Reyhan berdiri di ambang pintu kamar, menatap anak itu dengan tatapan penuh emosi campur aduk kagum, menyesal, dan… cinta. Cinta yang baru saja ia sadari.

Anakku.

Ia melangkah masuk perlahan, duduk di tepi ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkan Arka. Ia menatap wajah anak itu hidungnya, alisnya, bentuk matanya semuanya mirip dengannya.

Bagaimana aku bisa tidak sadar?

Perlahan, dengan gerakan ragu-ragu, ia mengulurkan tangan dan mengusap rambut Arka dengan lembut. Lembut sekali, takut membangunkannya.

“Maafin Ayah ya, Nak,” bisiknya, suaranya bergetar. “Ayah… nggak tahu. Ayah baru tahu sekarang. Tapi mulai sekarang… Ayah nggak akan kemana-mana lagi. Ayah janji.”

Arka bergerak sedikit dalam tidurnya, bergumam pelan, lalu kembali terlelap.

Reyhan tersenyum tipis senyum yang penuh luka dan harapan. Ia membungkuk, mencium puncak kepala Arka dengan lembut.

Lalu ia berdiri, berjalan keluar dengan langkah pelan, menutup pintu dengan hati-hati.

Di luar kamar, Alya berdiri bersandar pada dinding. Ia menyaksikan semuanya dari kejauhan. Mata mereka bertemu.

Tidak ada kata-kata.

Tapi ada pengertian di sana pengertian bahwa mulai malam ini, semuanya berubah.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!