NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kura-Kura Baja

Di sebuah galangan kapal tersembunyi yang ditutupi oleh rimbunnya hutan bakau di teluk Kendal, sebuah pemandangan aneh sedang berlangsung. Bukan kapal kayu bercadik yang sedang dikerjakan, melainkan sebuah tabung raksasa berbentuk oval yang terbuat dari pelat baja setebal dua inci. Permukaannya kasar, penuh dengan bekas las listrik dan paku keling (rivet) yang diperkuat dengan getah perca panas.

"Ini gila, Raden," bisik Suro sambil menyentuh dinding logam dingin tersebut. "Benda ini tenggelam ke dasar laut, dan kita ada di dalamnya? Bagaimana kita bernapas? Bagaimana jika air masuk dan menghimpit kita seperti kerupuk?"

Jatmika menyeka oli dari dahinya. Matanya merah karena kurang tidur. "Prinsipnya sederhana, Suro. Hukum Archimedes. Kita memiliki tangki pemberat di sisi kiri dan kanan. Jika kita isi dengan air, kita tenggelam. Jika kita pompa airnya keluar dengan tekanan udara, kita naik. Untuk napas, kita menggunakan kotak kalsium oksida untuk menyerap karbon dioksida yang kita buang, dan tangki oksigen murni yang aku hasilkan dari elektrolisis air."

Benda itu disebut Kura-Kura Baja. Sebuah kapal selam primitif yang digerakkan oleh motor listrik DC yang terhubung ke baling-baling tunggal di bagian belakang. Di bagian depan, terdapat sepasang "lengan" mekanis yang bisa dikendalikan dari dalam untuk memotong kabel atau menempelkan ranjau magnetik.

Target mereka adalah kabel telegraf bawah laut yang baru saja diletakkan oleh kapal Inggris SS Agamemnon. Kabel itu adalah urat nadi informasi yang menghubungkan markas Thorne di Batavia langsung ke London. Jika kabel itu putus, koordinasi armada internasional akan lumpuh selama berminggu-minggu.

Malam itu, laut sangat tenang. Jatmika memutuskan untuk memimpin misi ini sendiri. Ia masuk ke dalam ruang sempit kapal selam bersama Darman, yang bertugas memutar roda manual jika motor listrik mengalami gangguan.

"Tutup lubang palka," perintah Jatmika.

Suara dentuman logam yang menutup kedap udara bergema di dalam tabung sempit itu. Jatmika menyalakan lampu pijar kecil di dalam kabin. Ruangan itu seketika dipenuhi bau logam, keringat, dan ozon dari motor listrik. Melalui jendela kaca tebal di bagian depan, mereka melihat air mulai naik menutupi pandangan saat tangki pemberat diisi.

"Kedalaman sepuluh kaki... dua puluh kaki..." Jatmika membaca manometer raksasa di hadapannya.

Di luar, dunia berubah menjadi hijau gelap yang sunyi. Hanya suara dengung motor listrik dan detak jantung mereka yang terdengar. Jatmika mengandalkan Kompas Magnetik dan peta dasar laut yang ia buat berdasarkan pengukuran sonar pasif sebelumnya.

"Kita mendekati koordinat kabel," bisik Jatmika. "Matikan motor. Kita gunakan arus bawah untuk mendekat."

Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras menghantam dinding kapal. CLANG!

"Apa itu?!" Darman panik, hampir menjatuhkan lampu minyak cadangan.

"Bukan tembakan," Jatmika menatap ke luar jendela. "Itu suara rantai jangkar kapal patroli Inggris di atas kita. Mereka sangat dekat."

Jatmika menahan napas. Di atas sana, kapal korvet Inggris sedang membuang sauh, tepat di atas jalur kabel telegraf. Jika mereka bergerak sekarang, suara baling-baling Kura-Kura Baja bisa terdengar oleh alat pendengar air (hidrofon) sederhana yang mulai dikembangkan para ilmuwan Thorne.

"Suro, gunakan lengan mekanis. Pelan-pelan," perintah Jatmika melalui pipa bicara internal.

Dengan ketelitian seorang ahli bedah, Jatmika menggerakkan tuas hidrolik manual. Lengan baja kapal selam itu keluar, meraba-raba dasar laut yang berlumpur hingga menyentuh kabel telegraf yang terbungkus lapisan timah dan gutta-percha.

KREK... KREK...

Gunting raksasa di ujung lengan mekanis menjepit kabel itu. Jatmika memberikan tekanan penuh. Dalam satu gerakan kuat, kabel utama yang menghubungkan benua Asia dan Eropa itu putus. Percikan listrik singkat terlihat di kegelapan bawah air saat arus telegraf terputus seketika.

"Target hancur," bisik Jatmika. "Sekarang, kita pasang 'hadiah' untuk kapal di atas kita."

Jatmika mengarahkan kapal selamnya tepat di bawah lambung kapal korvet Inggris tersebut. Ia melepaskan sebuah ranjau magnetik yang dilengkapi dengan Pemicu Detik Mekanis. Magnet kuat itu menempel pada lambung baja kapal musuh dengan suara klik yang hampir tak terdengar.

"Naikkan tekanan tangki! Kita pergi dari sini!"

Sepuluh menit kemudian, saat Kura-Kura Baja sudah menjauh satu mil dari posisi semula, sebuah ledakan bawah air yang dahsyat mengguncang permukaan laut. Air menyembur ke atas setinggi tiga puluh meter. Kapal korvet Inggris itu terbelah menjadi dua dan tenggelam dalam hitungan menit tanpa sempat mengirimkan sinyal bantuan—karena kabel komunikasi mereka sudah putus.

Di Singapura, Kolonel Thorne sedang menunggu laporan penting dari London melalui mesin telegrafnya. Jarum telegraf itu tiba-tiba berhenti bergerak di tengah kalimat. Operator telegraf mencoba memperbaiki alat itu, namun hanya keheningan yang keluar.

"Kabelnya putus?" tanya Thorne, wajahnya memucat di bawah lampu gantung.

"Bukan hanya putus, Sir. Sinyal terakhir menunjukkan adanya lonjakan listrik besar, seolah-olah dipotong secara paksa," jawab sang operator.

Thorne memukul meja dengan keras. "Dia ada di bawah air! Jatmika ada di bawah air kita!"

Fajar menyingsing saat Kura-Kura Baja muncul ke permukaan di teluk Kendal yang aman. Pintu palka terbuka, dan Jatmika keluar dengan napas terengah-engah, menghirup udara pagi yang segar. Rakyat yang menunggu di pantai bersorak saat melihat "monster besi" mereka kembali dengan selamat.

Jatmika berdiri di atas dek bundar kapal selamnya, menatap ke arah laut. Ia telah memenangkan satu pertempuran lagi, namun ia tahu ini adalah titik balik yang tak bisa ditarik kembali. Ia bukan lagi sekadar membela sebuah kota; ia telah menantang supremasi global Inggris di lautan.

"Raden, kita berhasil memutus komunikasi mereka!" seru Suro kegirangan.

"Ya," jawab Jatmika datar. "Tapi mulai besok, Inggris akan menganggap kita sebagai ancaman bagi peradaban dunia. Mereka akan membawa teknologi paling gelap yang mereka miliki dari revolusi industri mereka. Perang ini... baru saja kehilangan kemanusiaannya."

Jatmika menyadari bahwa untuk melindungi Nusantara, ia harus membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar kapal selam. Ia harus membangun Intelijen Elektronik.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!