NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Tak Membutuhkan Onad

Keesokan harinya, Onad tidak keluar rumah. Ia belum bisa menerima apa yang terjadi. Seluruh tabungan hasil kerja keras dua tahun pun lenyap.

Belum lagi luka batin yang ditinggalkan. Ia mengambil cuti sakit beberapa hari, melapor ke polisi, dan membuat laporan.

Namun informasi yang ia miliki sangat minim. Ia bahkan tidak punya satu pun foto Yasmine. Ia hanya bisa berharap polisi entah bagaimana bisa menemukannya.

Seminggu kemudian, saat kembali bekerja, ia merasa banyak orang meliriknya diam-diam. Salah satu rekan kerjanya mendekat dan berbisik dengan nada mengejek.

“Gue enggak nyangka lo segitu bodohnya, Onad. Kalau lo segitu butuhnya sama cewek, tinggal bayar lonte aja, beres.”

Kalimat terakhir itu sengaja diucapkan lebih keras agar orang-orang di sekitar bisa mendengarnya. Beberapa orang pun tertawa kecil.

“Maksud lo apa?” tanya Onad, terkejut.

Ternyata salah satu rekan kerjanya berada di kedai kopi saat ia menanyai pemilik tentang Yasmine.

Berita bahwa ia ditipu cepat menyebar, mengejutkan banyak orang, termasuk pegawai kedai kopi.

Seakan belum cukup, kabar bahwa ia ditipu lima ratus juta ikut tersebar. Tidak butuh waktu lama sampai cerita itu sampai ke kantornya. Seluruh divisinya sudah tahu.

Rasa malu dan ejekan langsung menimpanya. Bagi sebagian orang, ini kesempatan emas untuk merendahkannya. Selama ini Onad dikenal sebagai karyawan yang selalu menyelesaikan tugas tepat waktu dan jarang menolak pekerjaan penting. Catatannya bersih, bahkan pihak manajemen menganggapnya kandidat yang menjanjikan untuk mendapatkan promosi.

Namun di dunia kerja yang keras, satu rumor saja cukup untuk menyeret nama seseorang ke lumpur. Kebenaran sering kali tidak lagi penting.

Onad memang tidak pernah terlibat gosip kantor, tetapi ia tetap punya harga diri.

Hari itu terasa sangat panjang. Setelah jam kerja selesai, ia tidak langsung pulang. Ia naik ke atap paling atas gedung kantornya yang setinggi tiga puluh dua lantai, ingin mencari udara segar dan menenangkan pikiran.

Seminggu terakhir adalah pengalaman terburuk dalam hidupnya.

Rasa sakit ini bahkan lebih perih daripada pukulan para perundung di masa sekolahnya dulu. Lebih menyakitkan daripada tatapan kecewa orang tuanya. Ketahanan mental dan harga dirinya belum pernah diuji sedemikian rupa.

Air mata pun mengalir di pipinya tanpa henti. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar runtuh. Ia tidak sanggup lagi menghadapi hidupnya yang terasa kacau, sepi, dan menyedihkan.

Ia sadar betul, keputusannya sendiri ikut berperan besar dalam semua ini.

Ia bukan orang yang menyalahkan dunia dan pura-pura menjadi korban. Namun saat ini ia benar-benar buntu. Ia tersesat, tak berdaya, sendirian. Ia hanya ingin ada seseorang yang menepuk bahunya dan berkata semuanya akan baik-baik saja.

Tapi tidak ada siapa pun.

Siapa yang bisa ia hubungi?

Orang tuanya yang sudah tiga bulan tak ia telepon?

Kakak-kakaknya yang tak pernah dekat dengannya sejak kecil?

Tokoh fiksi dan idola masa remajanya?

Teman?

Ia bahkan tak yakin apa itu.

Di mana pun posisi seorang pria dalam masyarakat, entah petugas kebersihan atau CEO perusahaan besar sekalipun pun, mereka tetap punya harga diri. Namun hari ini, semuanya hancur bagi Onad.

Dalam hati ia kembali bertanya,

“Kenapa cuma gue yang hidupnya begini? Apa sekali aja enggak bisa ada hal yang berjalan sesuai harapan gue? Kenapa gue selalu dapet bagian yang paling sial?”

Perlahan ia melangkah ke tepi atap dan melihat ke bawah. Kini ia berada di titik yang sama seperti di awal cerita.

“Emang hidup gue masih ada gunanya?” gumamnya.

Bertahun-tahun penderitaan, pelarian, dan kesepian membawanya ke momen ini.

Pengkhianatan Yasmine hanyalah pemicu yang membuka luka lama yang selama ini ia pendam. Cepat atau lambat, kondisi mentalnya memang akan meledak.

Onad bukan orang emosional yang bertindak karena amarah sesaat. Sejak kecil ia rasional. Namun keputusasaan menggerogoti akalnya.

Kini ia punya dua pilihan. Pulang ke apartemennya, menangis sepuasnya, lalu kembali menjalani hidup yang datar, hidup yang tak akan berubah ... atau melakukan apa yang sedang ia pikirkan sekarang.

Kalaupun ia pulang, apa yang bisa ia lakukan?

Mencari Yasmine dan membalas dendam seperti di film atau novel?

Ia tahu itu mustahil.

Perempuan itu mungkin sudah melakukan hal yang sama pada banyak orang lain. Ia hanya salah satu korban yang terlalu bodoh untuk menyadarinya.

Dan soal pekerjaan, mulai sekarang apa pun yang ia lakukan, sebaik apa pun kinerjanya, ia akan tetap menjadi bahan tertawaan. Kalaupun ia resign dan pindah ke tempat lain, hidupnya akan tetap sama. Hanya berpindah lokasi, bukan berubah.

Onad mengusap tetes air mata terakhir di pipinya. Ia tak menemukan jalan keluar dari keadaan mentalnya saat itu.

Ia berdiri di bibir atap dan menatap bulan yang menggantung di langit tengah malam. Baru sekarang ia sadar, hampir tujuh jam ia menangis dan meratapi nasib. Ia bahkan tak menyadari waktu telah berlalu.

Onad Nevalion menarik napas panjang dan memejamkan mata. Angin dingin menyapu wajahnya.

“Gila … hidup gue payah banget,” gumamnya pelan.

Detik berikutnya, ia melepaskan diri dan menjatuhkan tubuhnya ke bawah.

Tubuhnya meluncur dari ketinggian gedung, terdorong tekanan angin, berputar beberapa kali sebelum akhirnya menghantam trotoar.

Suara benturan keras memecah malam.

Tubuhnya hancur seketika. Darah dan potongan tubuh tercecer di sisi jalan. Pemandangan yang begitu mengerikan hingga sulit dibayangkan.

Orang-orang yang melintas di trotoar pun menjerit dan mundur ketakutan. Beberapa perempuan langsung muntah saat menyadari apa yang ada di hadapan mereka. Seorang pria tua gemetar sambil menelepon ambulance.

Polisi yang sedang berpatroli di sekitar lokasi segera berlari mendekat ketika melihat keributan.

Di atas genangan darah itu tergeletaklah Onad Nevalion, pria yang memilih mengakhiri hidupnya daripada terus menanggung rasa sakit.

Baginya, itu satu-satunya jalan keluar. Seorang pria yang merasa ditinggalkan dunia dan keluarganya, mati dengan tragis.

Dan tak akan pernah terbangun lagi.

1
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
azizan zizan
sudah lah buang aja lah dari rak baca.... cerita tah apa2 tah ini...
azizan zizan
Thor kau bercerita apa kau menjelas...??????🤔🤔
DityaR: Oh, maksudnya Pacing cepat,
aku sengaja ga pakai itu. Feel-nya kurang dapet, lagian itu monolog dari persepsi Noah kok, biar konflik batin dia dapet. kan dia udah ga pingin hidup itu, sekalian jelasin latar belakang dia sama motif dia. itu di bab awal broo, kalau aku kasih sat set, gak dapat latar belakangnya si Noah itu karakternya gimana, soalnya ga cukup kalau cuma di tulis 1 paragraf buat jelasin Noah itu kek gimana, jadinya kek formulir pendaftaran ekskul wkwkwk.
jadi aku sampirin di monolog, di narasinya.

Iya paham novel online pembacanya suka yang sat set alias Pacing cepat kan?

Coba kita buat vibe yang beda ....

Jadi kalau lagi buru-buru, gpp skip aja.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!