DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Mulai Peduli?
Fattah, ayahnya dan seluruh anak buah mereka masih berdiri di rooftop, setelah tubuh Michael terjatuh ke bawah dan tewas di tempat.
Mereka diam, melihat bagaimana Aqqela mengguncang tubuh ayahnya sambil menangis histeris malam itu.
Fattah memandang kejadian itu datar.
Tidak jauh berbeda dengan ayahnya.
Entahlah, kemana perginya hati nurani ayah dan anak itu.
"Kita turun sekarang!" perintah ayahnya.
"Pi, apa yang bakal kita lakuin buat anaknya Michael?" tanya Fattah di sela langkah menuruni tangga.
Jordan tersenyum miring, "Menurut kamu?"
"Pi, stop playing with me! Aku penasaran," kesal Fattah.
"Kenapa kamu jadi tertarik tentang gadis itu? Kamu kenal dia?"
Fattah berdecak, "Bukan. Aku cuma-"
"Kalau kamu ingin menghancurkan putrinya juga, no problem. Itu bukan hal yang besar."
Ayahnya tersenyum kecil.
Fattah tersentak dan mengatupkan bibir diam. Tiba-tiba mulai diam seribu kata.
Jordan diam-diam melirik putranya yang berjalan di sampingnya dengan pandangan kosong.
***
Tubuh Aqqela menegang ketika pria-pria berjas hitam itu keluar dari dalam gedung.
Seorang pria 43 tahun melihat ke arahnya
dingin, di susul sosok tampan yang lebih muda, Fattah Andara Fernandez yang kini
memandangnya datar. Penjagaan yang tak biasa
membuat Aqqela yakin mereka bukan orang biasa.
"Fattah?" Bibir Aqqela bergetar menggumamkan namanya.
Jadi bener dia yang gue lihat tadi?
"Kamu putri pembunuh ini?" tanya Jordan-ayah Fattah.
Aqqela tersentak dengan rahang mengeras, "Pembunuh apa maksud lo? Jangan ngomong hal yang enggak-enggak ya soal bokap gue!"
Jordan mengusap pangkal hidungnya sambil terkekeh.
"Wow, berani juga kamu."
Aqqela berdiri dari duduknya sambil menatap mereka semuanya tajam.
"Kalian kan pelakunya?"
Alis Fattah terangkat sebelah.
"Kalian kan yang udah bunuh papa gue?" teriaknya histeris.
Jordan tersenyum samar, "Menurut kamu begitu?"
"JAWAB AJA ANJING! Bapak kan pembunuhnya?" sentak Aqqela sambil menarik kerah Jordan dan mengguncangnya kasar, membuat Jordan agak terkejut karena serangannya yang tiba-tiba.
Para ajudan dengan cepat mendorong gadis itu, agar menjauh dari bos besar mereka.
"Jangan bertindak kelewatan!"
"Gue atau bos kalian yang udah kelewatan?
Papa gue salah apa sampai kalian se-jahat ini?" Air mata Aqqela mengalir di pipinya dan di usap kasar, "Kenapa? Kenapa kalian bunuh papa gue? Dia satu-satunya yang gue punya di dunia ini."
Fattah mengeraskan rahang sebelum
akhirnya maju mendekati Aqqela dan menatapnya tajam.
"Lo tanya kan, apa salah bokap lo? Yakin mau tau?" ujar Fattah.
Aqqela memandangnya dengan kerlipan berubah.
"Bokap lo itu pembunuh."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Fattah membuat semua orang agak tersentak termasuk Jordan-ayahnya.
"Di jaga ya mulut lo!" bentak Aqqela.
Fattah menekan pipi dalamnya dengan lidah, lalu menatap Aqqela sengit.
"Bokap lo emang pembunuh. Satu tahun lalu, Sandrina tewas. Dan dia pelakunya! Bokap lo, yang bikin cewek gue meninggal sekarang."
"Enggak! Itu semua nggak mungkin!" Aqqela menutup kedua telinganya sambil menggeleng dengan tubuhnya gemetar.
"Mau ngelak apalagi sekarang?" sentak Fattah sambil menarik tubuh Aqqela dan mencengkram tangannya.
"Nggak mungkin. Bokap gue orang baik."
"Dia pembunuhnya. Elo nggak akan bisa ngelak lagi kalau gue kasih lihat ini."
Fattah mengangkat ponselnya yang memperlihatkan rekaman CCTV.
Mata Aqqela melihat jelas sebuah mobil sedan yang sangat dia kenali-mobil milik ayahnya-yang di jual satu tahun lalu, ada di rekaman itu.
Tangis Aqqela tumpah melihat mobil itu menabrak keras seorang gadis sampai tergeletak di jalan raya. Bahkan mobil itu sengaja mundur lagi untuk melindas gadis yang sudah tergeletak hingga meninggal, saat awalnya menyadari bahwa gadis itu masih sempat bergerak kecil.
"Lo lihat, kan?" desis Fattah menutup rekaman itu.
"Terus apa bedanya sama lo sekarang?" bentak Aqqela mendorong dada Fattah.
"Elo juga seorang pembunuh! Elo udah bunuh bokap gue," katanya kasar.
Fattah mengusap pangkal hidungnya sambil terkekeh iblis, "Apa lo bilang? Pembunuh? Dia bunuh dir-"
"Jadi gimana? Mau di lanjutkan ke proses hukum atau ayahmu di bakar saja untuk mempermudah semuanya?" tawar Jordan.
Aqqela membelalak, "Enggak pak, saya mohon jangan!"
Aqqela mengambil tangan Fattah, "Fattah, gue mohon, bilang sama ayah lo jangan bakar papa gue! Gue nggak mau, lihat papa gue di bakar," katanya sambil menangis.
Fattah tersentak saat melihat wajah Aqqela dari dekat.
Entah kenapa tertegun melihat gadis itu.
"Bawa dia!" perintah Jordan.
"ENGGAK, JANGAN BAWA PAPA SAYA! SAYA MOHON JANGAN!"
Aqqela berlari ke arah ayahnya yang sudah tak bernyawa dan memeluk jasad pria itu erat.
Fattah berdecak, "Pi, stop! Nggak usah nakutin dia," kata Fattah membuat Jordan mendelik kecil.
Fattah mendengus pelan dan menarik Aqqela mundur.
"Biarin bokap lo di urus polisi," kata Fattah tegas.
"Enggak. Kalian bohong. Kalian mau bawa papa gue pergi," kata Aqqela dengan tangis makin kencang.
"Lepasin!" Aqqela meronta-ronta.
"Aqqela, diem!" sentak Fattah menarik gadis yang ingin memberontak itu, "Elo bisa jadi tersangkanya kalau nekat ke sana."
"GUE NGGAK PEDULI."
Fattah segera berlari saat Aqqela kabur. Dengan panik, dia mengangkat tubuh Aqqela untuk mundur.
"Lepasin gue! Gue nggak mau." Aqqela meronta-ronta ketika tubuhnya di rengkuh dari belakang dan agak di angkat, "Bunuh gue juga! Tolong bunuh gue! Gue nggak mau sendirian di sini. Papa, Aqqela pengen ikut, pa!"
Aqqela menyerukan rasa nyeri dan keputus-asaan atas hal ini.
Fattah menelan ludah tercekat, menatap gadis di pelukannya itu. Sisi manusiawinya kembali muncul.
Anjing!
Fattah mengetatkan rahang, "Kita pulang."
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang bisa Aqqela dengar, sebelum gelap melenyapkan kesadaran.
Aqqela jatuh pingsan di pelukan Fattah, membuat cowok itu terkejut. Aqqela berharap banyak, dia akan segera bangun dari mimpi buruk ini.
"Pingsan tuan muda?" Ajudan menghampiri.
"Buta mata lo?" Fattah segera mengangkat Aqqela dan menggendong tubuh tidak berdaya gadis itu.
Fattah menatap papanya, "Aku bawa dia."
Setelah mengatakannya, Fattah beranjak pergi. Dia berhenti sejenak membenarkan posisi Aqqela di gendongannya dan berjalan lagi menuju ke mobil.
"Panggil kepolisian! Hilangkan semua bukti yang sekiranya mengarah ke kita! Termasuk soal kita yang sempat mengirim chat ancaman ke putrinya. Buat polisi percaya bahwa ini memang murni tindakan bunuh diri!" perintah Jordan tegas.
"Baik tuan."
Mata Jordan melirik jasad Reksa tidak jauh darinya dengan helaan napas kasar.
Benar-benar merepotkan.
Belum di bunuh, dia sudah inisiatif mati duluan.
***
Limosin hitam itu masih melaju cepat di Jakarta Pusat.
Fattah merunduk melihat Aqqela yang masih pingsan dengan kepala gadis itu di pahanya.
Tubuh Aqqela yang dingin, Fattah tutup dengan kemeja hitam milik ayahnya. Masih ada sisa-sisa air mata di pipi Aqqela, yang segera di usap Fattah dengan tangan.
"Sorry!" Serak, Fattah bersuara pada akhirnya.
Fattah tau dia sudah berubah menjadi monster sekarang.
Tapi satu hal, Fattah hanya ingin mencari keadilan untuk kematian Sandrina.
Tindakan yang dirinya dan ayahnya lakukan cukup salah. Mereka melakukan pengancaman agar Michael mengakui kejahatannya dan merekam bukti percakapan mereka. Fattah tau, tanpa harus mengotori tangannya, Michael tetap akan mati karena hukum negeri ini.
Dia seorang hakim licik yang melakukan pembunuhan berencana terhadap saksi dan membebaskan tersangka pelecehan seksual. Dia bisa di jerat pasal berlapis dengan pidana paling berat adalah hukuman mati.
Tapi sayangnya, Michael nekat melompat dari rooftop berniat untuk kabur, tepat saat dia hampir mengakui kejahatannya. Tapi naas, dia justru tewas di tempat.
"Dia mungkin emang ayah yang hebat buat lo," kata Fattah memandang Aqqela yang masih pingsan.
Fattah mendesah kasar dan memandang ke jendela luar, "Tapi dia pembunuh cewek gue," lanjutnya pelan.
Sekitar dua puluh menit, Limosin hitam itu tiba di sebuah rumah megah di Jakarta Pusat.
Rumah kedua keluarga Fernandez, sementara rumah utama mereka di Jakarta Selatan.
"Saya bantu tuan muda." Ajudan membuka pintu, meminta tubuh Aqqela agar di berikan.
"Nggak perlu. Siapin air hangat aja!" ucapnya singkat, di angguki patuh.
Dengan pelan-pelan, Fattah menggendong tubuh Aqqela keluar dari dalam mobil menuju ke dalam rumah. Melewati dua pelayan yang berniat menyapa, tapi di urungkan saat Fattah memberi isyarat agar diam.
Mereka mengangguk dan memperhatikan anak majikan mereka yang membawa gadis asing itu menaiki tangga menuju kamar utama.
"Air hangat saja tuan muda?" tanya ajudan.
"Sekalian baju. Oh ya, bi!" Kebetulan pelayan lain muncul.
"Iya, den?"
"Gantiin baju Aqqela! Cuci bersih bajunya, habis itu langsung bakar!"
Wanita 50 tahun itu mengerutkan kening melihat banyak darah di baju gadis itu. Tapi dia mengangguk patuh, "Baik, den."
Aqqela masih terlelap, dengan wajahnya bersandar di dada bidang Fattah. Sebelum akhirnya Fattah membaringkan tubuhnya di atas kasur dan melepaskan sandalnya.
Fattah keluar kamar, membiarkan baju Aqqela di gantikan pelayannya.
Dia memilih duduk dan menunggu di sofa depan kamar sambil mengusap wajahnya kasar.
"Tuan muda tidak berganti pakaian? Baju anda kotor sekali," kata ajudan.
Fattah merunduk, baru sadar jika bajunya juga kotor terkena darah.
"Ck, sial."
Jijik sekali karena darah pembunuh itu menempel di bajunya.
Dia langsung beranjak pergi, "Kalau dia bangun, jangan biarin Aqqela keluar, kalau gue belum kasih perintah!"
"Baik!" Ajudan mengangguk patuh sesuai perintah.
***
Sepasang mata coklat itu terpejam. Wajahnya mendongak dan berdiam diri di bawah kucuran air shower yang menyiram tubuhnya.
Dada bidang, dengan ABS perutnya sudah tercetak sempurna di usianya yang masih 17 tahun terlihat basah.
Aqqela... Aqqela...
Namanya Aqqela.
Tangis kehancuran gadis itu tadi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
Fattah mengusap wajahnya kasar.
"Persetan! Gue nggak peduli sama kehancurannya."
Karena setahun lalu, dia mengalami hal yang sama. Jauh lebih menyakitkan.
Fattah mendesah kasar. Tubuhnya benar-benar lebih rilex sekarang.
Setelah mandi, dia segera berganti baju menjadi celana pendek dan kaos putih. Melangkah ke kamar yang di tempati Aqqela.
"Gimana, bi?"
"Masih belum sadar, den. Apa perlu bibi panggilkan dokter?"
Fattah mengangkat alis, menjulurkan tangan menyentuh kening Aqqela. Suhunya normal.
"Nggak perlu. Bibi boleh keluar."
Bi Nur langsung berbalik badan dan keluar setelah menutup pintu.
Meninggalkan Fattah yang duduk di tepi kasur sambil meraih baskom berisi air hangat.
"Gue nggak nyangka kalau lo beneran se-ngerepotin ini," decak Fattah sambil memeras handuk kecil.
Sialan memang.
Dan kenapa dia harus melakukan ini?
Fattah menyeka setiap inci kulit Aqqela yang kotor terkena bekas darah dengan handuk yang di celupkan ke air hangat dulu.
"Bokap lo mati terlalu cepet. Padahal gue belum puas nindas dia," kata Fattah kesal menatap Aqqela yang terlelap.
Pada akhirnya, orang-orang seperti Michael bukan lawan yang sulit untuk di kalahkan oleh dia dan ayahnya.
Fattah menghembuskan napas panjang, memandang Aqqela tak senang.
"Mending lo cepetan bangun, deh. Gue males ngurusin lo."
Terus menggerutu, tapi tangannya tetap telaten melakukan tugasnya untuk membersihkan tubuh Aqqela.
***