NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17. Hari terakhir kontrak

Kalender di ponsel Sakira menandai satu tanggal dengan warna abu-abu pucat.

Tiga hari lagi.

Hanya tiga hari sebelum kontrak itu berakhir.

Kontrak yang awalnya ia anggap sebagai penyelamat—jalan keluar dari masalah keuangan, tekanan hidup, dan masa lalu yang rumit. Kontrak yang dulu terasa aman karena jelas batasnya. Ada awal. Ada akhir. Tidak ada perasaan yang seharusnya ikut campur.

Namun kini, angka di kalender itu terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang belum siap ia hadapi.

Perpisahan.

Atau mungkin… awal yang lebih menakutkan.

Hubungan Sakira dan Rafael kembali terlihat “normal” di mata kantor. Profesional. Jarak terjaga. Percakapan sebatas pekerjaan. Tidak ada lagi pesan singkat larut malam. Tidak ada kiriman kopi favorit tanpa nama pengirim.

Dan justru itulah yang membuat Sakira sadar—kehilangan tidak selalu datang dengan pertengkaran. Kadang ia datang dengan kesepian yang rapi.

Rafael pun berubah. Ia tetap tenang, tegas, dan karismatik seperti biasa, tetapi Sakira bisa melihat perbedaannya. Pria itu menjadi lebih pendiam. Lebih tertutup. Seolah setiap kata yang ingin diucapkan harus melewati pertimbangan panjang.

Mereka sama-sama berpura-pura kuat.

Padahal, keduanya sama-sama takut.

Sore itu, Sakira menerima email dari bagian legal.

Subjek: Pengakhiran Kontrak Kerja Sama Pribadi

Tangannya gemetar saat membuka lampiran. Isinya dingin, formal, tanpa emosi.

Kontrak akan berakhir pada pukul 23.59, sesuai kesepakatan awal. Tidak ada kewajiban lanjutan dari kedua belah pihak.

Sakira menutup laptopnya perlahan.

Selesai.

Begitu saja.

Di ruangannya, Rafael berdiri lama di depan meja kerja. Kontrak yang sama tergeletak di hadapannya. Ia telah membaca ulang setiap pasal—mencari celah, mencari alasan untuk menunda, mencari pembenaran untuk melawan akal sehatnya sendiri.

Tidak ada.

Kontrak itu bersih. Jelas. Dan kejam dalam kesederhanaannya.

Ia bisa saja memperpanjangnya. Dengan satu tanda tangan. Satu kalimat formal.

Namun itu berarti ia kembali bersembunyi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafael tidak ingin bersembunyi lagi.

Malam sebelum hari terakhir kontrak, hujan kembali turun. Kota tampak buram di balik kaca jendela apartemen Rafael. Ia berdiri di sana cukup lama, memegang ponselnya, menimbang pesan yang sudah ia ketik… lalu ia hapus lagi.

Akhirnya, ia menekan kirim.

Rafael:

Besok malam, jam delapan.

Restoran kecil di seberang taman kota.

Jika kamu mau datang—bukan sebagai bagian dari kontrak.

Pesan itu terkirim.

Tak ada jawaban.

Menit demi menit berlalu. Rafael meletakkan ponselnya terbalik, mencoba tidak berharap terlalu tinggi.

Namun harapan adalah sesuatu yang sulit dikendalikan.

Sakira membaca pesan itu berulang kali.

Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu tempat yang dimaksud Rafael—tempat sederhana, jauh dari citra CEO dan dunia korporasi.

Tempat yang jujur.

Ia menutup mata.

Jika ia datang, maka ia harus siap mendengar sesuatu yang mungkin mengubah segalanya.

Jika ia tidak datang, maka ia harus siap hidup dengan penyesalan.

Malam itu, Sakira hampir tidak tidur.

Hari terakhir kontrak tiba.

Di kantor, suasana terasa aneh. Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun intuisi Sakira mengatakan—ini adalah hari di mana ia harus memilih.

Menjelang pulang, Rafael memanggilnya ke ruangannya untuk terakhir kali sebagai “rekan kontrak”.

Tidak ada sekretaris. Tidak ada berkas. Hanya mereka berdua.

“Kita hampir selesai,” ucap Rafael tenang.

Sakira mengangguk.

“Ya.”

“Aku ingin mengucapkan terima kasih,” lanjutnya. “Untuk semua yang kamu lakukan. Untuk keberanianmu menerima kesepakatan yang… tidak mudah.”

Sakira tersenyum tipis.

“Aku juga belajar banyak.”

Ada jeda panjang.

“Apa pun keputusanmu setelah ini,” kata Rafael pelan, “aku tidak akan menyesal pernah mengenalmu.”

Kata-kata itu terdengar seperti perpisahan.

Dan itu menyakitkan.

Jam menunjukkan pukul 19.45.

Sakira berdiri di depan cermin apartemennya. Ia tidak berdandan berlebihan. Hanya gaun sederhana, rambut terurai, wajah yang jujur.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri.

“Ini bukan kontrak,” bisiknya. “Ini pilihan.”

Pukul delapan kurang lima menit, Sakira melangkah keluar.

Rafael sudah duduk di restoran kecil itu. Tidak memakai jas. Tidak ada aura CEO. Hanya seorang pria yang tampak gugup, menunggu seseorang yang berarti.

Saat Sakira masuk, Rafael berdiri spontan.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada kata.

Hanya perasaan yang akhirnya menemukan ruang.

Mereka duduk berhadapan. Lampu temaram. Suara hujan yang mulai reda.

“Aku tidak akan bertele-tele,” ucap Rafael akhirnya. “Kontrak kita berakhir malam ini.”

Sakira mengangguk.

“Aku tidak ingin memperpanjangnya,” lanjut Rafael. “Aku juga tidak ingin memaksamu memilih.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Tapi aku mencintaimu. Bukan sebagai peran. Bukan sebagai kesepakatan. Dan jika setelah ini kamu memilih pergi… aku akan menghormatinya.”

Hening.

Sakira menatap meja. Tangannya bergetar.

“Sejak kapan?” tanyanya lirih.

“Sejak aku takut kehilanganmu.”

Air mata menggenang di mata Sakira.

“Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan,” katanya. “Aku bukan dari duniamu. Aku tidak sempurna.”

Rafael tersenyum lembut.

“Aku tidak jatuh cinta pada kesempurnaan.”

Sakira menutup mata. Napasnya bergetar.

“Aku takut,” akunya. “Takut jika ini nyata… dan akhirnya menyakitkan.”

Rafael mengangguk.

“Aku juga.”

Ia mengulurkan tangannya—tidak menyentuh, hanya menunggu.

“Tapi untuk pertama kalinya, aku ingin memilih meski takut.”

Sakira membuka mata.

Dan akhirnya, ia meletakkan tangannya di atas tangan Rafael.

“Aku juga.”

Jam menunjukkan pukul 23.59.

Kontrak itu berakhir.

Namun di meja kecil restoran itu, dua hati justru memulai sesuatu yang tidak tertulis.

Tanpa tanda tangan.

Tanpa klausul.

Tanpa batas waktu.

Hanya keberanian.

Dan cinta yang akhirnya diakui.

Jam telah melewati tengah malam ketika mereka akhirnya melangkah keluar dari restoran kecil itu. Hujan benar-benar berhenti, menyisakan udara dingin yang bersih dan trotoar basah memantulkan cahaya lampu kota. Dunia terasa lebih tenang—seolah memberi mereka ruang untuk bernapas setelah keputusan besar yang baru saja dibuat.

Sakira berjalan di sisi Rafael. Tidak bergandengan tangan. Tidak juga menjaga jarak. Keduanya seperti masih belajar ritme baru—tanpa kontrak, tanpa peran, tanpa skrip yang harus diikuti.

“Rasanya aneh,” ucap Sakira pelan.

“Aneh bagaimana?” tanya Rafael.

“Seperti berdiri di tepi sesuatu yang belum pernah aku kenal.” Ia tersenyum kecil. “Takut, tapi juga… lega.”

Rafael mengangguk. “Aku sudah lama hidup dengan rencana dan kontrol. Malam ini rasanya seperti melangkah tanpa peta.”

Mereka berhenti di depan taman kota. Lampu-lampu kecil menyala redup, bangku-bangku kosong, dan angin malam menggerakkan dedaunan. Rafael menoleh pada Sakira, ragu sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati.

“Bolehkah aku menemanimu pulang?”

Sakira menatapnya. Dalam tatapan itu, ada kejujuran yang belum pernah mereka izinkan sebelumnya.

“Boleh. Tapi bukan sebagai CEO,” katanya lembut.

“Sebagai Rafael,” jawabnya, tersenyum.

Di perjalanan, mereka berbicara tentang hal-hal sederhana—tentang buku favorit Sakira, tentang masa kecil Rafael yang jarang ia ceritakan pada siapa pun, tentang mimpi-mimpi kecil yang dulu terasa terlalu remeh untuk diucapkan.

Sakira menyadari sesuatu: cinta tidak selalu datang dengan ledakan. Kadang ia hadir sebagai percakapan pelan di mobil, sebagai keheningan yang nyaman, sebagai rasa aman yang tumbuh perlahan.

Sesampainya di depan apartemen Sakira, mereka berhenti. Mesin mobil dimatikan. Keheningan turun di antara mereka—bukan canggung, tapi penuh makna.

“Aku tidak ingin terburu-buru,” ucap Rafael. “Kita bisa berjalan pelan. Aku tidak akan menuntut apa pun.”

Sakira mengangguk. “Terima kasih. Aku… butuh itu.”

Rafael membuka pintu mobil untuknya. Saat Sakira melangkah keluar, ia berhenti sejenak, menoleh.

“Rafael?”

“Ya?”

“Aku tidak menjanjikan akhir yang indah,” katanya jujur. “Tapi aku ingin mencoba.”

Rafael tersenyum, hangat dan tulus.

“Itu lebih dari cukup.”

Mereka berpisah malam itu tanpa pelukan. Tanpa ciuman. Namun ada sesuatu yang tertinggal—rasa percaya yang mulai berakar.

Hari-hari berikutnya membawa tantangan yang nyata.

Di kantor, perubahan sikap Rafael tidak luput dari perhatian. Ia tetap profesional, namun keputusannya kini lebih transparan. Jarak dengan Sakira dijaga di ruang publik, bukan karena takut, melainkan karena hormat.

Namun isu tak bisa sepenuhnya dibungkam.

Bisik-bisik kembali muncul. Pertanyaan tak langsung dilemparkan. Sorot mata penuh rasa ingin tahu mengikuti langkah Sakira di koridor.

Suatu siang, Sakira dipanggil ke ruang HR.

“Kami ingin memastikan posisi Anda aman,” kata perwakilan HR dengan nada formal.

“Namun Anda perlu tahu, hubungan personal dengan atasan—meski tidak lagi terikat kontrak—akan terus diawasi.”

Sakira mengangguk. “Saya mengerti.”

Keluar dari ruangan itu, lututnya terasa lemas. Ia menyadari, memilih cinta berarti siap menerima konsekuensi. Dan keberanian tidak selalu terasa kuat; kadang ia terasa rapuh.

Rafael menunggunya di lorong. Ia tidak bertanya apa pun. Hanya menatapnya, membaca kegelisahan di wajah Sakira.

“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “aku di sini.”

Itu bukan janji kosong. Itu pilihan.

Malam itu, Sakira kembali membuka buku catatan. Kali ini, ia menulis dengan tangan yang lebih tenang.

Kontrak berakhir.

Tak ada lagi pasal yang melindungi atau membatasi.

Yang ada hanya pilihan—datang dan tinggal, atau pergi dan melupakan.

Aku memilih tinggal, meski takut.

Ia berhenti, lalu menambahkan satu kalimat terakhir.

Jika cinta ini menyakitkan, biarlah ia jujur sejak awal.

Sakira menutup buku itu, menaruhnya di laci, dan tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun—bahkan dari dirinya sendiri.

Beberapa hari kemudian, Rafael mengumumkan keputusan besar dalam rapat direksi.

Ia menetapkan kebijakan baru tentang konflik kepentingan, transparansi, dan batasan profesional—lebih ketat dari sebelumnya. Keputusan itu mengejutkan banyak pihak, namun sulit dibantah.

Di akhir rapat, ia berkata tenang, “Perusahaan ini harus berdiri di atas integritas, bahkan jika itu berarti saya sendiri harus diawasi.”

Itu bukan pengorbanan. Itu komitmen.

Sakira mendengar kabar itu dari kejauhan. Dadanya hangat—bukan karena status, melainkan karena keberanian untuk bertanggung jawab.

Malamnya, mereka bertemu lagi. Bukan di restoran. Bukan di kantor. Hanya berjalan kaki di trotoar, berbagi cerita kecil, tertawa pelan.

“Kita mungkin tidak akan mudah,” kata Sakira.

Rafael mengangguk. “Tapi kita nyata.”

Sakira berhenti melangkah, menatap Rafael. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia mengulurkan tangannya lebih dulu.

Rafael menggenggamnya—pelan, hati-hati, seolah memahami bahwa ini bukan akhir cerita, melainkan awal yang rapuh namun jujur.

Di bawah lampu jalan yang redup, mereka berdiri tanpa kata.

Tanpa kontrak.

Tanpa peran.

Hanya dua orang yang memilih untuk saling mencoba.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

Bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!