Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Hawa Dingin di Aula Distribusi
Cahaya fajar menyingsing saat Li Jian membasuh tubuhnya di aliran sungai es di belakang Puncak Teratai Luar. Air yang biasanya terasa menusuk tulang kini hanya terasa seperti angin sejuk baginya. Saat kotoran hitam nan lengket itu luruh terbawa arus, kulit Li Jian yang dulunya pucat dan kusam kini tampak lebih padat dan memancarkan kilau sehat.
Otot-ototnya memang tidak membesar secara berlebihan, namun ia bisa merasakan setiap serat dagingnya menyimpan ledakan tenaga yang siap dilepaskan. Pendengarannya menajam; ia bahkan bisa mendengar kepakan sayap serangga di seberang sungai.
"Jangan terlalu lama mengagumi dirimu sendiri," suara Yueyin tiba-tiba memecah keheningan di kepalanya, bernada bosan. "Seni Bintang Pemakan Langit sangat menguras fondasi tubuh. Jika kau tidak segera menstabilkan Dantian-mu dengan ramuan, meridianmu akan menyusut kembali. Kita butuh Rumput Embun Bulan dan Bunga Darah Besi."
Li Jian mengenakan kembali seragam sekte luarnya yang sudah usang dan berlubang. "Bahan-bahan itu tidak murah, Senior. Satu-satunya caraku mendapatkannya adalah menukarkan jatah batu spiritual bulananku di Aula Distribusi... batu yang kemarin dirampas oleh Zhao Feng."
"Kalau begitu, ambil kembali apa yang menjadi hakmu. Jika kau bahkan tidak bisa mengatasi semut-semut fana ini, aku lebih baik kembali tidur selama seribu tahun lagi."
Senyum tipis dan dingin tersungging di bibir Li Jian. Tanpa banyak bicara, ia melangkah menuju Aula Distribusi. Langkahnya kini lebih ringan, seolah gravitasi bumi sedikit kehilangan cengkeramannya pada tubuh pemuda itu.
Aula Distribusi Sekte Luar selalu ramai di pagi hari. Aroma obat-obatan murah dan keringat bercampur di udara. Saat Li Jian melangkah masuk, beberapa murid langsung menyingkir, bukan karena hormat, melainkan karena enggan berdekatan dengan "si sampah pembawa sial".
"Hei, lihat siapa yang datang merangkak! Bukankah itu Li Jian?" seru sebuah suara parau yang sangat dikenalnya.
Sun Qiang, salah satu antek setia Zhao Feng yang ikut memukulinya semalam, berdiri bersandar di meja penukaran. Di tangannya, ia memutar-mutar kantong kain kecil yang sudah sangat dihafal Li Jian. Kantong miliknya.
"Kupikir kau sudah mati membeku semalam," kekeh Sun Qiang sambil melangkah maju, menghalangi jalan Li Jian. "Berani sekali kau menampakkan wajahmu di sini. Kakak Zhao bilang, jatahmu bulan ini dan bulan-bulan berikutnya sudah menjadi miliknya. Enyah dari sini sebelum kupatahkan kakimu!"
Dulu, Li Jian akan menundukkan kepala, menelan ludah, dan berbalik pergi demi menghindari pukulan yang bisa membuatnya terbaring berminggu-minggu. Namun hari ini, ia berdiri tegak bak pedang yang baru ditarik dari sarungnya.
"Kembalikan kantong itu," ucap Li Jian, suaranya tenang namun membawa aura sedingin es.
Sun Qiang tertawa terbahak-bahak, memancing tawa dari beberapa murid lain di sekitarnya. "Apa kau gila? Kau menyuruhku—"
Belum sempat Sun Qiang menyelesaikan kalimatnya, ia melayangkan sebuah tamparan keras ke arah wajah Li Jian. Angin berdesir dari tangannya, menunjukkan bahwa Sun Qiang berada di tahap Pelatihan Tubuh tingkat puncak, selangkah lagi menuju Kondensasi Qi.
Namun, di mata Li Jian yang telah dibasuh oleh energi bulan, gerakan Sun Qiang terlihat sangat lamban dan penuh celah.
Slap!
Bukan suara tamparan di wajah yang terdengar, melainkan suara benturan daging yang tumpul. Seluruh aula tiba-tiba senyap. Mata Sun Qiang terbelalak lebar. Pergelangan tangannya telah ditangkap oleh tangan Li Jian dengan cengkeraman yang menyerupai jepitan besi.
"Lepaskan... bajingan!" Sun Qiang meringis, mencoba menarik tangannya.
Tapi Li Jian tidak bergeming. Ia mengalirkan secuil Qi Bintang Pemakan Langit dari Dantian-nya menuju telapak tangannya. Seketika, suhu di sekitar mereka anjlok drastis. Sebuah lapisan es tipis mulai merambat dari tangan Li Jian ke pergelangan tangan Sun Qiang.
Rasa sakit yang menusuk tulang membuat Sun Qiang menjerit histeris. Tubuhnya merosot hingga ia berlutut di hadapan Li Jian, tak sanggup menahan hawa dingin yang seakan membekukan darahnya.
Dengan tangan kirinya yang bebas, Li Jian merebut kembali kantong kainnya dari tangan Sun Qiang yang gemetar.
"Kondensasi... Kondensasi Qi Tingkat Pertama?!" seru penjaga Aula Distribusi dengan mata melotot. "Bagaimana mungkin si Akar Terkutuk menembus Kondensasi Qi?!"
Bisik-bisik kejut meledak di seluruh ruangan. Li Jian melepaskan cengkeramannya, membiarkan Sun Qiang jatuh tengkurap sambil memegangi tangannya yang membiru karena frostbite (radang dingin).
"Jangan buang waktu dengan sampah," dengus Yueyin di benaknya. "Beli bahan ramuannya sekarang."
Mengabaikan tatapan ngeri dan takjub dari sekelilingnya, Li Jian melangkah ke meja penukaran. Ia meletakkan beberapa batu spiritual dari kantongnya. "Dua batang Rumput Embun Bulan dan satu Bunga Darah Besi. Sekarang."
Penjaga aula, yang masih syok, buru-buru mengambilkan pesanan Li Jian tanpa berani membantah.
Setelah mendapatkan bahan-bahannya, Li Jian berbalik dan berjalan keluar aula dengan tenang. Namun, sebelum ia melewati ambang pintu, Sun Qiang yang masih terkapar berteriak dengan suara serak, "Kakak Zhao tidak akan melepaskanmu, Li Jian! Dia sudah berada di Kondensasi Qi Tingkat Tiga! Kau cari mati!"
Li Jian menghentikan langkahnya sejenak, melirik dari sudut matanya, lalu berkata dengan nada yang begitu datar hingga membuat bulu kuduk berdiri, "Suruh dia datang padaku."
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏