Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Manusia Menjadi Siluman
Rombongan kecil itu melanjutkan perjalanan, menembus lapisan kabut yang semakin pekat seiring mereka bergerak ke arah jantung pegunungan. Namun, suasana di antara mereka telah bermutasi.
Kehangatan persaudaraan semu yang sempat terlihat di gerbang kota kini telah menguap, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan paru-paru.
Tidak ada lagi tawa riuh atau ejekan tentang "si sampah".
Setiap murid kini menjaga jarak yang tidak wajar dari Ye Chenxu. Mereka berjalan dalam formasi yang lebih rapat, seolah-olah sedang berlindung dari badai yang tidak terlihat.
Sesekali, mereka melirik ke arah Ye Chenxu—yang berjalan dengan ketenangan seorang pengamat—dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan samar.
Di mata mereka, pemuda kurus itu bukan lagi Ye Chenxu yang bisa mereka ludahi, melainkan sebuah entitas yang tidak mereka pahami.
Di barisan paling depan, Ye Feng berjalan dengan punggung tegak, namun tangannya terus-menerus meremas gagang pedang peraknya hingga buku jarinya memutih.
Pikirannya seperti pusaran air keruh yang dipenuhi satu obsesi tunggal, Ye Chenxu harus mati.
"Jika dia kembali ke klan dengan kekuatan ini," batin Ye Feng dengan kebencian yang mendidih, "statusku sebagai salah satu murid inti akan hancur. Paman akan kehilangan pengaruhnya. Dan rahasia tentang bagaimana kita menindas cabang keluarganya akan menjadi bumerang."
Bagi Ye Feng, keberadaan Ye Chenxu adalah noda pada masa depannya. Sebuah kesalahan sejarah yang harus segera dihapus sebelum sempat menuliskan babak baru.
Ye Feng tiba-tiba mengangkat tangannya, memberi isyarat agar rombongan berhenti di mulut sebuah lembah yang tampak mengerikan.
Lembah itu dikenal sebagai Lembah Tulang Kelam, sebuah wilayah yang diselimuti oleh aura kematian yang begitu pekat hingga vegetasi di sekitarnya tumbuh hitam dan layu.
Aura di lembah ini sarat dengan energi siluman tingkat menengah. Udara terasa dingin dan berbau logam, pertanda banyaknya darah yang tumpah di sana.
"Kita akan mengambil rute melalui lembah ini untuk menghemat waktu," suara Ye Feng terdengar tenang, namun ada getaran halus dalam nadanya.
Ye Feng menoleh ke arah Ye Chenxu, matanya berkilat di balik bayang-bayang kabut.
“Chenxu, karena kemampuanmu dalam mendeteksi musuh tadi sangat luar biasa, kau maju dulu. Pastikan jalur ini aman untuk murid luar lainnya.”
Itu adalah perintah yang terdengar logis di telinga mereka yang tidak tahu, namun bagi siapa pun dengan sedikit akal sehat, itu adalah hukuman mati.
Ye Feng ingin Ye Chenxu masuk ke dalam jebakan alam dan siluman yang menunggu di sana.
Ye Chenxu menatap mata Ye Feng. Indra Kehampaan-nya bergejolak hebat, menangkap getaran niat jahat yang sangat pekat, seperti tinta hitam yang tumpah ke dalam air jernih.
Dia melihat pembunuhan terencana itu di balik senyum tipis Ye Feng.
Namun, alih-alih menolak, Ye Chenxu hanya mengangguk pelan.
"Baik," jawabnya singkat, lalu melangkah maju, membiarkan dirinya ditelan oleh kabut hitam lembah tersebut.
Di dalam Lembah Tulang Kelam, dunia seolah-olah terhenti. Kabut hitamnya sangat pekat hingga Ye Chenxu hanya bisa melihat beberapa meter di depannya.
Di bawah kakinya, tulang-tulang putih yang sudah rapuh hancur saat diinjak, mengeluarkan suara yang memuakkan. Bau darah tua yang merembes ke dalam tanah bangkit kembali setiap kali angin berhembus.
Tak lama setelah ia masuk, teror yang sesungguhnya muncul.
Dari celah-celah tebing, selusin Kalajengking Hitam merayap keluar. Ekor mereka yang beracun melengkung siap menyengat.
Di atas dahan pohon mati, Monyet Api Ganas berteriak parau, melemparkan bola-bola energi panas ke arahnya. Dari bawah tanah, Ular Tanah Beracun meluncur dengan kecepatan kilat.
Pertarungan terjadi secara bertubi-tubi. Ye Chenxu bergerak seperti hantu di tengah badai. Ia memutar tubuhnya, menggunakan Sutra Kehampaan Awal untuk membiaskan persepsi para siluman tersebut.
Tapi meskipun berhasil membunuh satu demi satu, tubuh fananya mulai mencapai titik jenuh. Luka-luka ringan mulai menghiasi lengannya, dan energi kehampaan di dalam meridiannya terkuras habis-habisan.
Di tengah tekanan maut yang mencekik ini, sesuatu terjadi. Fondasi kultivasinya yang semula goyah kini mulai mengeras di bawah tempaan pertarungan hidup-mati.
Aliran energi di dua meridian utamanya menjadi semakin stabil, semakin dalam, dan semakin selaras dengan jiwanya.
Saat itu Ye Chenxu baru saja menusukkan tangannya ke dada seekor Kalajengking Hitam terakhir ketika sebuah firasat buruk meledak di benaknya. Namun, kelelahan fisiknya membuat reaksinya terlambat sepersekian detik.
SLEBB!!!
Ujung pedang perak yang tajam menembus punggungnya, merobek daging dan keluar melalui dada kirinya. Darah segar muncrat, membasahi tanah yang dipenuhi tulang.
Ye Chenxu terhuyung, lalu berbalik dengan sisa kekuatannya. Di depannya berdiri Ye Feng, wajahnya tidak lagi berpura-pura tenang. Wajah itu kini penuh dengan kegilaan dan kemenangan.
“Maaf, Chenxu ...” Ye Feng berbisik, suaranya parau oleh kebencian. “Dunia ini terlalu kejam untuk orang sepertimu. Kau seharusnya tetap menjadi sampah agar bisa hidup lebih lama.”
Di belakang Ye Feng, para murid lain berdiri mengepung dalam radius melingkar. Wajah mereka pucat pasi.
Beberapa dari mereka memegang senjata dengan tangan gemetar, matanya bergetar antara rasa takut dan rasa terpaksa karena otoritas Ye Feng. Mereka telah menutup semua jalur mundur.
Ye Chenxu jatuh berlutut. Darah terus mengalir dari lukanya, menciptakan genangan merah di bawahnya. Penglihatannya mulai kabur, dunianya meredup menjadi warna abu-abu yang menjemukan.
Kesadarannya seolah-olah tersedot ke dalam lubang hitam yang luas.
Di ambang kepunahan itu, di kedalaman jiwanya yang paling gelap, sebuah suara kuno yang berat dan agung kembali bergema. Suara itu bukan miliknya, namun sangat akrab.
“Apakah kau akan membiarkan semut-semut ini menghancurkanmu lagi? Jika kau ingin hidup, lepaskan batas kemanusiaanmu yang rapuh. Peluklah kehampaan yang sejati.”
Bayangan masa lalu melintas secepat kilat. Ia melihat tubuh ibunya yang kurus dan pucat, yang bekerja sampai mati demi kepingan koin agar bisa menghidupinya.
Sesaat kemudian, suhu di seluruh lembah turun drastis hingga mencapai titik beku.
Kehampaan di dalam diri Ye Chenxu meledak.
Energi gelap yang tidak memiliki warna mulai menyelimuti tubuh Ye Chenxu. Luka di dadanya tidak tertutup, namun darahnya berhenti mengalir, seolah-olah dibekukan oleh kehendak yang lebih tinggi.
Ia berdiri perlahan. Gerakannya kini tidak lagi memiliki beban manusia. Sunyi, cepat, dan sepenuhnya tanpa emosi.
Tatapannya kini bukan lagi milik seorang pemuda sampah, melainkan tatapan Dewa yang memandang rendah pada kefanaan.
Seorang murid luar yang sudah tidak tahan dengan tekanan aura itu mencoba lari ketakutan.
“Monster!” teriaknya.
Namun sebelum teriakan itu selesai, Ye Chenxu sudah berada di belakangnya. Tidak ada suara langkah kaki. Hanya satu gerakan tangan yang sehalus sutra, dan tenggorokan murid itu terbelah dengan rapi.
Darah menodai kabut hitam, menciptakan pemandangan yang mengerikan.
Satu demi satu murid yang mencoba menyerang runtuh tanpa sempat menyadari apa yang menghantam mereka. Namun Ye Chenxu tidak membantai membabi buta.
Dia hanya membunuh mereka yang menghunuskan senjata, dan melumpuhkan mereka yang hanya berdiri membeku karena ragu.
“Kau ... apa yang kau lakukan?!” Ye Feng berteriak, ketakutan kini sepenuhnya menguasai akal sehatnya. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya.
“Tinju Guntur Tiga Lapis!”
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭