NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tekad Menyelamatkan Panti

Sambil menenteng belanjaan dengan tangan gemetar, ia mempercepat langkah menuju pintu utama.

Tepat di tengah halaman, Fahmi sudah berdiri sembari membagikan nasi kotak kepada anak-anak. Tawa riang bocah-bocah itu terdengar begitu nyaring, seolah-olah kedatangan sang pemilik kafe adalah pesta yang mereka tunggu-tunggu.

Pemandangan itu membuat Bayu merasa kalah satu langkah lagi. Dengan gerakan pelan, ia meletakkan kantong belanjaannya di atas meja dapur, terasa tak berarti dibanding keriuhan di luar.

"Gue kira lo nggak dateng hari ini," sapa Fahmi sembari memberikan kotak nasi terakhir kepada pengurus panti.

Mendengar itu, Bayu hanya tersenyum tipis. Ia berusaha keras menyembunyikan rasa minder yang kembali merayap naik saat menatap deretan kotak makanan yang tampak jauh lebih mewah.

"Kemarin kafe gue lagi rame, jadi ada rezeki lebih buat bagi-bagi ke sini," lanjut Fahmi, menjelaskan alasannya tanpa perlu diminta siapa pun.

Tak lama kemudian, suara azan magrib berkumandang membelah kesunyian senja yang kian pekat. "Alhamdulillah, udah buka! Ayo semuanya cuci tangan dulu!" seru Nayla lantang, mengaburkan pemikiran Bayu yang sedang berkecil hati karena lagi-lagi ia telah kalan satu langkah dari Fahmi.

Mereka semua segera duduk melingkar di atas tikar plastik guna membatalkan puasa bersama-sama. "Kak Bayu, aku mau telur yang gede!" teriak si kecil Rio sambil menarik ujung kaus Bayu.

"Sabar, Rio. Semua dapet bagian yang sama, jangan berebut," sahut Bayu sambil membagikan piring. Keributan kecil mulai pecah saat anak-anak lain berebut sendok di dekat bakul nasi.

Nayla tertawa kecil melihat keriuhan itu, meski wajahnya tampak pucat karena kelelahan. "Ayo duduk yang rapi. Kalau masih berisik, Kak Nayla nggak kasih kerupuknya," ancamnya lembut.

Seketika suasana menjadi sedikit lebih tenang meskipun suara denting sendok tetap bersahutan ramai. "Nah, gitu dong. Anak panti harus disiplin meski lagi laper," puji Bayu pelan.

Meski rasa lapar sudah menyiksa, Bayu mengunyah makanannya dengan perasaan hambar. ‘Gimana bisa gue kenyang kalau masa depan tempat ini masih kegantung?’ batinnya gelisah.

Matanya sesekali melirik ke arah Nayla yang telaten melayani anak-anak di seberang. "Nayla, kamu makan juga. Jangan cuma urusin piring mereka aja," tegur Bayu dengan nada khawatir.

Nayla mendongak dan memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Iya, Bay, ini juga mau makan kok habis nyuapin si kembar," jawabnya pelan, berusaha agar Bayu tidak cemas.

Wanita itu tampak tenang, namun gurat kelelahan yang nyata tetap terpancar dari wajah ayunya. Nayla menanggung beban yang sama beratnya dengan Bayu namun dia tidak pernah terlihat mengeluh. Itulah yang membuat Bayu semakin merasa bersalah dengannya.

Tiba-tiba, salah satu anak menumpahkan air minum hingga membasahi ujung tikar plastik. "Aduh, maaf Kak, aku nggak sengaja!" seru bocah itu ketakutan sambil mencoba mengelapnya dengan tangan kosong.

"Nggak apa-apa. Ambil lap di dapur sana, cepetan ya," perintah Fahmi lembut agar suasana tidak menegang.

Menyaksikan kewibawaan Fahmi, Bayu seketika merasa kerdil. Cara sahabatnya itu mencairkan ketegangan nampak begitu natural, seolah menegaskan bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar perbedaan nasib.

Di mata Bayu, kini terbentang jurang martabat yang mustahil diseberangi hanya dengan modal otot atau sisa harga diri yang kian menipis.

Kesigapan Fahmi dalam mengayomi anak-anak panti dengan kelembutan tulus kian menyudutkan posisi Bayu. Ia merasa seperti orang asing yang hanya sanggup berdiri di tepian, menelan pahitnya kenyataan pahit malam itu.

Betapa pun besarnya upaya yang ia lakukan seharian, semua itu seakan tenggelam dalam bayang-bayang sosok Fahmi, pria yang nampak jauh lebih sempurna, baik bagi Nayla maupun seluruh penghuni rumah ini.

Begitu santap malam usai, mereka bergegas merapikan sisa bungkus makanan ke dalam kantong plastik besar. "Ayo cepet, jangan biarin semut dateng!" perintah Bayu sambil mengikat plastik dengan kencang.

Di sudut ruang tengah, pandangan Bayu tertuju pada Nayla yang sedang berbicara dengan dua pengurus panti. Seketika, raut wajah Nayla berubah menjadi sangat muram. Bayu bisa melihat matanya yang sudah gelap seolah siap menumpahkan seluruh air di dalamnya.

Apa surat peringatan ketiga udah dateng secepet ini? batin Bayu sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.

Bahu Nayla bergetar kecil, seolah sedang menahan beban yang teramat berat di pundaknya.

Niat Bayu untuk menghampiri dan memberikan dukungan mendadak terhenti. Sosok Fahmi bergerak jauh lebih gesit, sudah berdiri tepat di hadapan Nayla sebelum Bayu sempat melangkah satu inci pun.

Sambil terpaku, Bayu menatap punggung Fahmi yang nampak begitu kokoh. Dia punya segalanya buat jadi pahlawan di sini, sedangkan gue cuma pengganggu, pikir Bayu pahit.

Entah apa yang dibicarakan oleh Fahmi, namun Nayla nampak sedikit lebih tenang setelah mendengar beberapa kalimat penenang dari mulut sahabat lamanya itu.

Bayu menundukkan kepala sembari menatap ujung kakinya yang kotor terkena debu jalanan desa. Uang hasil kerjaku tadi cuma butiran debu dibanding utang ratusan juta itu, gumamnya dalam hati.

"Lagi ngapain diem di sini, Kak?" Suara cempreng anak panti terkecil mendadak menariknya kembali ke kenyataan.

"Ah, nggak apa-apa. Kakak cuma lagi ngitung bintang," jawab Bayu sambil memberikan usapan pelan di kepala bocah itu.

Ia lantas berjalan menuju gudang belakang guna menaruh peralatan yang belum sempat dibersihkan. Gudang ini jauh lebih cocok buat orang kayak gue daripada ruang tengah yang terang itu.

Sambil bersandar pada dinding papan yang lapuk, ia mendengarkan setiap detak jantungnya sendiri. "Gue emang nggak berguna," gumamnya lirih melalui bibir yang terasa sangat kering.

Tangannya merogoh saku celana, meraba sisa uang hasil kerja keras seharian yang terasa sangat tipis. ‘Bahkan buat bayar bunga bank sebulan aja pun nggak akan cukup,’ pikirnya dengan mata terpejam erat.

Dari luar, suara tawa Fahmi yang sedang bercanda dengan anak-anak masih terdengar sangat jelas. "Ayo, siapa yang mau denger cerita robot?" seru Fahmi disambut sorakan meriah.

Bayu merasa terasing di tempat yang seharusnya ia anggap sebagai rumah untuk pulang. Alih-alih menyerah, otaknya mulai bekerja keras menyusun strategi baru yang lebih berisiko.

‘Gue butuh proyek besar. Arsitektur atau draf konstruksi skala nasional, bukan sekadar recehan,’ tegasnya dalam hati.

Begitu halaman panti mulai sepi dan motor Fahmi sudah tidak ada, Bayu akhirnya melangkah keluar. Ia berjalan menuju dapur untuk menaruh karung beras yang tadi dibelinya di pasar desa. Di sana, Nayla nampak sedang mencuci gelas di wastafel kayu yang bocor.

"Nay, ini berasnya ditaruh di mana?" tanya Bayu dengan suara yang sedikit kaku.

Nayla menoleh sedikit lalu memberikan anggukan kecil tanpa menghentikan aktivitas mencucinya. "Taruh di sudut lemari aja, Bay. Makasih ya buat berasnya," ucap Nayla dengan nada datar.

Hanya anggukan singkat yang mampu Bayu berikan sebelum ia bergegas berbalik menuju pintu keluar. "Sama-sama. Aku balik dulu," pamitnya singkat tanpa berani menatap mata wanita itu lebih lama.

Setiap langkah meninggalkan panti malam itu terasa seperti berjalan di atas paku panas yang membara.

‘Aku bersumpah, Nay, air mata kamu nggak akan jatuh lagi cuma karena urusan uang sialan ini,’ janjinya dalam hati.

1
Esti 523
bayu ini knp sih hatiny A batu bgt
Esti 523
alah2 kok bisa ya 🤭
Esti 523
syemangad ka ka,1 vote buat ka2
falea sezi
uda bay g usah urus cinta dlu heeh urus ibumu bahagiakan ibumu pasti jodoh dateng deh nanti
falea sezi
nah itu bahagia kan ibu lo. dulu baru mikir orang lain ini malah mikir bahagia in cwek. lain demi dapet simPATI dihh elo. itu oon bayu
falea sezi
entah benci bgt sifat bayu ini iri dengki yg buat usaha lo. hancur
falea sezi
berbuat baik itu yg iklas bayu ini berbuat baik pengen di puji dihh itu ria bayu
Hary Nengsih
bayu terlalu onsesi seharusnya ibu nya dulu d urusin baru yg lain
falea sezi
harusnya krja keras buat bahagia kan ibu lo bayu astagaa bukan pengen kaya demi cwek hadeh fikiran yg tolol ne si bayu ibu mu lo uda tua waktunya istirahat bukan jd buruh cuci
Velyqor: Bayu udah cukup bikin emosi kak? 😂
total 1 replies
falea sezi
kayak fahmi berbuat baik itu ikhlas hasilnya baik gk kayak lu berbuat baik kok cm. pengen di liat cwek
falea sezi
sombong ngeyel pengen berasa wah g liat kemampuan laki. bloon
falea sezi
pantes bangkrut durhaka sama. ibunya tts sombongnya ampun kapok.
Hary Nengsih
semangat bayu berubah menjadi lebih baik
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!