NovelToon NovelToon
Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.

Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.

Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.

Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.

Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Di Bawah Payung Biru

Keesokan harinya, di Pagi hari langit di atas Universitas Cakrawala tampak muram pagi itu. Awan kelabu berarak rendah, menelan cahaya matahari yang seharusnya memberikan kehangatan. Udara terasa lembap dan dingin, membawa aroma tanah yang khas sesaat sebelum hujan turun.

Liana berdiri di tengah lapangan basket terbuka. Karena beberapa mata kuliah hari ini mendadak kosong akibat dosen yang berhalangan hadir, ia memutuskan untuk menggunakan waktu luangnya untuk berlatih. Ia sadar, kemampuannya masih jauh di bawah standar yang ditetapkan Justin. Ia tidak ingin menjadi beban, apalagi ia ingin membuktikan bahwa dirinya layak berada di tim.

Duk. Duk. Duk.

Suara pantulan bola basket di semen lapangan yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang menemani Liana. Ia mencoba melakukan dribble antara dua kaki, lalu melakukan jump shot. Keringat mulai membasahi dahinya, beradu dengan suhu udara yang semakin menurun.

Namun, seolah semesta sedang ingin menguji keteguhan hatinya, petir menyambar pelan di kejauhan. Tak butuh waktu lama, butiran air raksasa mulai jatuh dari langit. Dalam hitungan detik, hujan deras langsung mengguyur tanpa ampun.

"Eh! Hujan!" pekik Liana kaget.

Ia refleks mengangkat kedua tangannya di atas kepala, berusaha melindungi wajahnya dari terpaan air yang sangat deras. Ia menengadah ke langit, melihat ribuan tetes air yang jatuh menghujam bumi. Tubuhnya mulai basah, dan ia berniat lari menuju lobi fakultas yang berjarak sekitar dua puluh meter darinya.

Namun, tiba-tiba dunia di atas kepala Liana mendadak menjadi teduh. Suara hantaman air hujan tidak lagi mengenai tangannya, melainkan menabrak sesuatu yang berbahan kain tebal. Liana tertegun. Ia melihat sebuah payung biru tua yang lebar kini memayunginya dari atas.

Liana perlahan menoleh ke belakang. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri tepat di belakangnya.

Justin.

Laki-laki itu berdiri dengan wajah datarnya yang khas, satu tangannya memegang gagang payung dengan kokoh, memastikan tubuh mungil Liana tertutup sepenuhnya dari air hujan. Bahu Justin sendiri tampak sedikit basah karena ia lebih mementingkan posisi payung di atas kepala Liana.

"Lo ngapain di sini? Udah tau mendung, masih aja di tengah lapangan," suara Justin terdengar berat, bersaing dengan suara bising hujan yang menghantam payung.

Liana hanya bengong. Ia terpaku menatap mata tajam Justin yang kini terlihat sedikit... khawatir? Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Justin ia menunjukkan perhatian sekecil itu kepada seorang perempuan di kampus. Biasanya, Justin adalah tipe orang yang akan berjalan melewati orang yang kehujanan tanpa menoleh sedikit pun.

Di lantai tiga gedung Fakultas Ekonomi, tepatnya di sebuah ruang kelas yang memiliki jendela kaca besar menghadap ke arah lapangan, Kaila berdiri terpaku. Ia seharusnya fokus pada presentasi teman sekelompoknya di depan kelas, namun matanya tak bisa berpaling dari pemandangan di bawah sana.

Ia melihat sepupunya—Justin—sedang berdiri di bawah satu payung dengan seorang gadis. Gadis yang kemarin ia ajak bicara di lapangan.

Kaila menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Tidak ada yang tahu di kampus ini bahwa Kaila dan Justin adalah sepupu dekat. Itulah alasan mengapa Kaila sangat berani beradu argumen dengan Justin; ia tahu sifat keras kepala sepupunya itu dan tahu bagaimana cara menghadapinya. Namun, melihat Justin rela memayungi seorang mahasiswi baru di tengah hujan deras adalah pemandangan yang sangat langka bagi Kaila.

"Justin, Justin... Jadi ini alasan lo belakangan ini agak aneh?" gumam Kaila pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun di kelas itu.

Kembali ke tengah lapangan. Liana masih diam membatu, membuat Justin merasa sedikit geram. Justin mengibaskan tangan kirinya yang bebas di depan wajah Liana.

"Woi. Bengong lagi? Bisa denger gue nggak?" tegur Justin.

Liana tersentak, ia mengerjapkan matanya cepat-cepat. "Eh, i-iya Kak! Maaf. Tadi saya cuma... cuma mau latihan sebentar karena kelas kosong."

"Latihan nggak harus bikin diri sendiri sakit. Ayo masuk, sebelum lo masuk angin," perintah Justin tanpa menunggu jawaban.

Ia mulai melangkah menuju lobi fakultas, namun tetap menjaga posisi payungnya agar Liana tidak terkena setetes air pun. Selama perjalanan singkat itu, jarak mereka sangat dekat. Liana bisa mencium aroma parfum Justin yang bercampur dengan aroma hujan yang segar. Bahu mereka sesekali bersentuhan, menciptakan debaran yang jauh lebih kencang daripada suara guntur di atas sana.

Begitu sampai di lobi fakultas yang kering, Justin melipat payungnya dengan sekali hentak, lalu mengibaskannya untuk membuang sisa air.

"Terima kasih, Kak Justin. Maaf jadi merepotkan," ucap Liana sambil menunduk, merasa sangat tidak enak karena melihat bahu kanan Justin basah kuyup.

Justin tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju deretan loker di pojok lobi, membuka salah satunya dengan kunci yang ia ambil dari saku celana. Ia merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah jaket hoodie berwarna abu-abu gelap miliknya yang tampak masih hangat dan wangi.

Tanpa berkata-kata, Justin menyodorkan jaket itu ke arah Liana.

"Pake. Baju lo basah," ucapnya singkat.

Liana membelalak. "Eh? Enggak usah Kak, beneran. Saya nggak apa-apa kok, nanti juga kering sendiri."

"Pake, Liana. Gue nggak mau anggota UKM gue absen latihan cuman karena flu. Ambil," Justin menekankan kata-katanya dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Liana akhirnya menerima jaket itu dengan tangan gemetar. Saat jarinya bersentuhan dengan kain jaket tersebut, ia bisa merasakan sisa kehangatan dari tubuh Justin yang tertinggal di sana. Jaket itu terasa besar di tangan Liana, sangat besar.

"Makasih banyak, Kak... Saya... saya bakal balikin jaket ini secepatnya. Saya cuci dulu ya," ucap Liana malu-malu.

Justin hanya mengangguk tipis. Ia berniat pergi, namun langkahnya terhenti saat Liana memanggilnya lagi.

"Kak Justin!"

Justin menoleh. "Apa lagi?"

"Ehm... buat balikin jaketnya nanti... saya harus hubungin Kakak ke mana? Maksud saya, saya minta nomor telepon Kakak boleh? Biar saya bisa kasih tau kalau jaketnya udah siap dikembalikan," tanya Liana dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa tenaganya.

Justin menatap Liana cukup lama. Suasana lobi yang sepi membuat keheningan di antara mereka terasa sangat intens. Akhirnya, Justin merogoh ponselnya, menyebutkan serentetan angka dengan cepat yang langsung dicatat oleh Liana di ponselnya dengan jemari yang gemetar hebat.

"Udah?" tanya Justin.

"Sudah, Kak. Makasih."

"Ya. Gue ke perpus dulu," ucap Justin datar.

Justin berbalik dan berjalan menjauh, langkahnya tenang menyusuri koridor lobi menuju arah perpustakaan pusat. Liana berdiri mematung di sana, mendekap jaket abu-abu besar itu di depan dadanya. Ia menghirup aroma yang tertinggal di kain jaket itu—aroma Justin yang maskulin dan menenangkan.

Liana melihat punggung Justin secara perlahan menghilang dari pandangannya, tertelan oleh belokan koridor. Ia menatap layar ponselnya, di mana sebuah kontak baru bernama "Kak Justin" kini terpampang nyata.

Di luar, hujan masih turun dengan derasnya, namun bagi Liana, cuaca dingin pagi itu mendadak terasa begitu hangat. Detik ini, ia sadar bahwa ia baru saja melangkah selangkah lebih jauh ke dalam dunia Justin. Sebuah dunia yang ternyata tidak sedingin kelihatannya.

1
nesha
🤭🤭
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Kostum Unik
Justin Timberlake jealous /Slight/
Kostum Unik
Justin Timberlake.. Jgn cemburu kan kamu yg minta putus. Apapun alasannya ttp kalian sudah putus. Biarkan Liana memulai hidup baru. Dan buat Liana move on jgn naif jgn baper
Azalea Qziela
mulai muncul saingan justin😄
Reni Anjarwani
cemburu justin
Elprasco
😍💪
Widya Ekaputri
semangatttt!!!😍
SarSari_
iyaa...aku pun juga sama penasarannya sama liana🫣 halo kakak ..aku mampir di novelnya kakak ..mampir juga ya di novel aku. mkasih....🤗
Celine
Keren Author, lanjut thor
MayAyunda
keren👍👍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Azalea Qziela
bagus KK,, ditunggu crazy up nya👍
Azalea Qziela
semangat kak😍💪
Veline: Terimakasih udah Mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!