Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - HARI NINDI MELAHIRKAN
Kamis dini hari, jam dua lebih sepuluh, Lily terbangun karena suara pintu kamar di lantai atas dibuka keras.
Lalu suara Tante Sari: "Pak! Pak, bangun... Nindi mules!"
Lily duduk di kasurnya di kegelapan kamar. Mendengarkan langkah kaki berat ayahnya di lantai atas, suara lemari yang dibuka tutup, Tante Sari yang berbicara cepat ke telepon.
Dua menit kemudian, suara mobil di garasi.
Lily tidak bergerak dari kasurnya sampai suara mobil menghilang di ujung jalan.
Lalu dia bangkit, memakai sandal, dan berjalan ke dapur untuk merebus air. Bukan karena butuh minum, tapi karena itu yang tangannya minta dilakukan waktu kepalanya sedang memproses sesuatu. Kebiasaan lama.
Rumah kosong kecuali dia dan Bibi Rah yang kamarnya ada di dekat dapur belakang.
Lily berdiri di depan kompor dan menatap api kecil di bawah panci sambil memikirkan satu hal yang belum sempat dia pikirkan dengan jujur sejak dua minggu lalu:
Bayi itu tidak punya salah apa-apa.
Bukan pikiran yang datang karena dia tiba-tiba jadi lebih baik hati ke Nindi atau ke Dimas. Lebih ke pengingat yang muncul sendiri, bahwa di dalam semua perebutan dan pengkhianatan dan permainan kekuasaan yang berlapis-lapis ini, ada satu orang yang belum lahir dan sudah masuk ke dalam situasi yang tidak dia pilih.
Sama seperti Lily waktu kecil.
Air mendidih. Lily menyeduh teh, duduk di kursi dapur, dan tidak melakukan apa-apa selama sepuluh menit kecuali minum perlahan.
Kabar dari rumah sakit datang jam enam pagi, Tante Sari mengirim pesan ke grup keluarga yang Lily ada di dalamnya tapi jarang pernah berkontribusi apapun:
[Nindi melahirkan jam 05.47. Perempuan. Berat 2,9 kg. Sehat. Alhamdulillah.]
Lily membaca pesan itu di dapur sambil mengiris bahan sarapan.
Foto menyusul beberapa menit kemudian, Nindi di ranjang rumah sakit dengan wajah yang kelelahan tapi ada sesuatu di sana yang Lily tidak pernah lihat sebelumnya di wajah saudara tirinya itu. Sesuatu yang lebih lunak dari biasanya. Lebih rapuh.
Dimas ada di foto itu juga, berdiri di samping ranjang dengan ekspresi yang tidak Lily bisa baca dari ukuran foto sekecil itu.
Lily meletakkan ponselnya dan melanjutkan mengiris.
Siang itu, rumah tetap sepi.
Ayahnya tinggal di rumah sakit bersama Tante Sari untuk urusan administrasi. Lily menggunakan waktu itu untuk melakukan sesuatu yang sudah lama dia tunda karena selalu ada yang lebih mendesak.
Dia membersihkan gudang.
Bukan karena perlu, gudang itu tidak ada yang memakai dan tidak ada yang peduli kondisinya. Tapi membersihkan gudang adalah alasan yang sempurna untuk menghabiskan dua jam di sana tanpa ada yang mempertanyakan, dan selama dua jam itu Lily bisa berpikir tanpa gangguan sambil tangannya bergerak memindahkan kardus dan menyapu lantai.
Bibi Rah lewat sekali di depan pintu gudang yang terbuka. Melihat ke dalam. Tidak bilang apa-apa.
Lily menyapu sampai sudut paling belakang.
Di dekat pintu kecil yang tersembunyi itu, Lily berhenti dan duduk di lantai yang sudah agak bersih.
Dia tidak masuk ke ruang rahasia siang ini... terlalu terang, terlalu mudah dilihat kalau ada yang masuk ke gudang tanpa dia dengar. Tapi dia duduk dekat pintu itu dengan punggung bersandar di dinding batu, dan ada semacam ketenangan yang menular dari kedekatan itu. Seperti baterai yang dicharge tanpa perlu dicolok.
Di luar gudang, dunia sedang bergerak tanpa henti.
Pak Syarif sedang menyusun keberatan untuk kantor pertanahan. Hendra bilang target pengajuannya tiga hari lagi, Jumat ini. Surat ahli waris yang Lily tanda tangani Selasa lalu sudah di tangan Hendra dan sedang diverifikasi untuk dilampirkan.
Reinaldo punya enam minggu, dikurangi satu minggu yang sudah terlewat. Lima minggu tersisa.
Dan ada kasus lama yang pernah dilaporkan tapi tidak sampai ke pengadilan, yang Hendra belum selesai mengumpulkan informasinya. Sabtu besok mereka ketemu Pak Syarif lagi.
Terlalu banyak yang berjalan di jalur yang berbeda-beda. Lily mencoba melihat semuanya sebagai satu sistem, bukan satu per satu karena satu per satu terasa seperti padamkan api di satu tempat sambil api di tempat lain tumbuh lebih besar.
Yang paling penting sekarang: keberatan ke kantor pertanahan. Itu yang bisa menghentikan proses pengalihan tanah. Kalau itu berhasil, Reinaldo tidak bisa menutup kepemilikan dalam deadline-nya.
Yang berikutnya: kasus lama. Kalau ada kasus yang bisa dibuka kembali, yang melibatkan nama Mama dan melibatkan orang-orang yang masih hidup dan masih bisa dituntut. Itu bukan hanya soal warisan, itu bisa jadi soal pertanggungjawaban.
Yang paling jauh: rekening Mama yang diblokir. Uang yang seharusnya sudah jadi haknya sejak dia delapan belas tahun.
Jam tiga sore, mobil ayahnya masuk ke halaman.
Bukan hanya ayahnya, Dimas datang juga, kelihatannya langsung dari rumah sakit karena bajunya masih yang tadi di foto. Mereka masuk ke rumah, Dimas langsung ke dapur di mana Lily sedang menyiapkan minum.
"Nindi baik-baik aja?" tanya Lily.
Dimas berdiri di pintu dapur. "Baik. Kelelahan tapi baik." Dia menaruh tasnya di kursi. "Bayinya sehat."
"Bagus."
Hening sebentar.
"Kamu tidak ke rumah sakit," kata Dimas. Bukan tuduhan, lebih ke observasi.
"Tidak ada yang meminta aku perlu pergi ke sana."
"Aku yang memintamu sekarang."
Lily menatapnya dari sudut matanya sambil mengangkat panci. "Nindi butuh istirahat. Terlalu banyak tamu tidak bagus."
"Bukan sebagai tamu." Dimas memilih kata-katanya dengan cara yang membuat Lily tahu ini sudah dia pikirkan sebelum ngomong. "Sebagai... aku tidak tahu. Orang yang ada di sana."
"Posisi itu tidak jelas, Mas."
"Aku tahu." Dia duduk di kursi. Terlihat lebih lelah dari biasanya... bukan lelah fisik, tapi lelah jenis yang tidak hilang setelah tidur. "Banyak hal yang tidak jelas sekarang."
Lily meletakkan gelas teh di depannya tanpa diminta. Kebiasaan yang sudah terlalu lama tertanam untuk dihentikan hanya karena situasinya berubah.
Dimas menatap gelas itu sebentar.
"Terima kasih."
"Jangan diartikan lebih dari itu."
"Aku tidak akan." Dia minum sedikit. "Lily. Waktu kita ketemu hari Minggu lalu, kamu tidak bilang banyak soal apa yang sudah kamu tahu. Tapi aku rasa kamu sudah tahu lebih dari yang kamu kasih tahu ke aku."
Lily tidak menjawab.
"Aku tidak minta kamu percaya aku," lanjut Dimas. "Tapi ada sesuatu yang aku tahan dari kamu waktu itu karena aku belum yakin kamu bisa menggunakannya dengan aman. Sekarang aku rasa kamu sudah bisa."
"Apa?"
Dimas menaruh tangannya di meja. Gestur terbuka, tidak ada yang disembunyikan di telapak tangannya.
"Ada pertemuan antara Reinaldo Mahendra dan ayahmu yang direkam. Bukan sengaja, sistem rekaman kantor yang otomatis aktif. Aku yang menemukan filenya waktu lagi beres-beres server lama."
Lily berdiri lebih tegak.
"Isinya apa?"
"Aku belum dengarkan semuanya. Tapi dari yang sempat aku dengar, ada pembicaraan soal cara memastikan pengalihan aset tidak bisa digugat. Dan ada nama yang disebut."
"Nama siapa?"
Dimas menatapnya langsung. "Nama ibumu. Dan nama orang yang dibayar untuk memastikan dokumen kematiannya tidak memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman."
Udara di dapur terasa lebih berat tiba-tiba.
"Kamu punya filenya?"
"Ada di tempat yang aman. Bukan di sini, bukan di kantor." Dimas berdiri dari kursi. "Aku belum bisa kasih ke kamu langsung, kalau ketahuan sebelum waktunya, itu berbahaya untuk kita berdua. Tapi aku perlu kamu tahu filenya ada."
Lily menarik napas.
"Kenapa kamu mau bantu aku?"
Dimas diam sebentar. Lalu dengan jujur yang terasa mahal:
"Karena aku sudah terlalu lama jadi bagian dari sistem yang salah. Dan karena..." dia berhenti, menggeleng sedikit. "Tidak ada cara untuk menyelesaikan kalimat itu tanpa terdengar seperti minta sesuatu yang tidak layak aku minta."
Lily tidak merespons itu.
"Kapan kamu bisa kasih filenya?"
"Minggu depan. Aku perlu pastikan dulu tidak ada yang mengawasi pergerakanku."
Dimas mengambil tasnya dan berjalan ke pintu dapur. Berhenti sebentar tanpa berbalik.
"Lily. Bayi itu... namanya Wulan."
Lily tidak bergerak selama dua detik penuh.
Nama Mama.
Nindi memberi nama bayinya dengan nama Mama.
Dimas pergi ke ruang keluarga sebelum Lily sempat memutuskan apa yang harus dia rasakan tentang itu.
Bersambung ke Bab 24...