NovelToon NovelToon
REINKARNASI ALKEMIS SUCI

REINKARNASI ALKEMIS SUCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: ARIYANTO

Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.

Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.

Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.

Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.

Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.

bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Malam perjamuan yang penuh dengan desing pengkhianatan itu akhirnya mereda, meninggalkan aroma kehancuran di antara piring-piring porselen yang pecah. Gagak Hitam telah diseret keluar dalam kondisi hancur, namun ketegangan di dalam ruangan justru berpindah ke dalam benak Lin Qingyan.

Lin Qingyan berdiri di balkon gedung, membiarkan angin kencang Shanghai menerpa wajahnya. Di sampingnya, Xue Xiao berdiri tegak, memandang ke arah cakrawala kota yang tak berujung. Pemuda itu tidak tampak bangga setelah baru saja menjatuhkan salah satu pembunuh paling berbahaya di dunia bawah. Ia justru tampak... asing.

"Master Xue," panggil Qingyan pelan. "Sekali lagi, terima kasih. Anda terus menyelamatkan keluarga kami dari racun-racun busuk ini."

Xue Xiao tidak menoleh. Ia hanya menatap lampu-lampu jalanan yang merambat seperti pembuluh darah cahaya. "Racun adalah hal yang lumrah, gadis kecil. Di mana ada kekuasaan, di situ ada racun. Hanya saja, manusia di dunia ini terlalu gemar menggunakan cara-cara yang berisik dan tidak elegan."

Lin Qingyan tersentak. Ini bukan pertama kalinya Xue Xiao mengucapkan frasa itu. Sejak mereka masih berada di gubuk bambu, Xue Xiao terus-menerus memisahkan dirinya dengan realitas yang ada.

"Master... maaf jika saya lancang," Qingyan memberanikan diri melangkah lebih dekat, menatap profil samping wajah Xue Xiao yang sekeras pahatan giok. "Sejak awal, Anda terus menyebut 'dunia ini'. Anda mengatakannya seolah-olah Anda adalah pengamat dari luar. Seolah-olah... Anda tidak menganggap diri Anda bagian dari kami."

Xue Xiao terdiam. Heningnya begitu panjang hingga Qingyan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang karena rasa penasaran yang meluap.

"Kenapa Anda menyebutnya begitu?" desak Qingyan lagi. "Apakah bagi Anda, Shanghai, teknologi kami, dan kami semua hanyalah tempat persinggahan sementara? Apakah Anda... berasal dari tempat yang sangat jauh hingga dunia kami terasa begitu kecil?"

Xue Xiao perlahan menoleh. Sorot matanya bertemu dengan mata cokelat gelap Qingyan yang penuh dengan tanda tanya. Namun, alih-alih jawaban yang melegakan, Qingyan justru merasakan sebuah jarak yang lebih lebar dari Samudra Pasifik.

"Jangan mencoba menggali apa yang tidak seharusnya kau ketahui, Lin Qingyan," ucap Xue Xiao dengan nada yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Qingyan meremang. "Siapa aku dan dari mana aku berasal bukanlah urusanmu. Fokuslah pada tugasmu sebagai pemandu ku, dan jangan biarkan rasa penasaranmu melampaui batas yang sudah aku tetapkan."

Qingyan tertegun. Ia merasakan penolakan yang begitu telak. Biasanya, pria akan merasa tersanjung jika ia menunjukkan ketertarikan, namun Xue Xiao justru memperlakukannya seperti gangguan yang harus diredam.

"Apakah dia sangat membenci wanita sehingga sulit untuk terbuka? Atau apakah dia memiliki rahasia yang dapat mengguncang dunia? Bah.. Bah! Apa yang aku pikirkan, rahasia besar apa yang mungkin dimiliki olehnya. Seseorang yang hidup di hutan dan bahkan kebingungan ketika melihat tekhnologi modern." Lin Qingyan bergumul dengan pikirannya sendiri.

Tapi meskipun ia mencoba meremehkan Xue Xiao, fakta bahwa ia tinggal di kedalaman Shennongjia, dan beberapa kemampuan yang sudah ia tunjukan adalah nyata. Dan sikapnya yang dingin bukannya membuatnya menjauh, sikap dingin Xue Xiao justru menjadi bahan bakar yang membakar rasa penasarannya hingga ke titik puncak. Belum pernah ada pria yang begitu sulit ditaklukkan, bukan dengan pesona, tapi dengan rahasia.

Xue Xiao berpaling kembali ke arah kota, meninggalkan Qingyan dalam keheningan yang menyesakkan. Di dalam pikirannya, bayangan Yin Meilin, wanita yang pernah ia cintai dan mengkhianatinya muncul sekilas. Ia melihat cara Qingyan menatapnya, cara wanita itu mencoba mendekat, dan ia hanya melihat pengulangan sejarah yang berpotensi menghancurkannya kembali.

Semua wanita sama, pikir Xue Xiao pahit. Mereka mendekat dengan rasa penasaran, hanya untuk mengambil apa yang mereka butuhkan dan akan menusuk mu saat kau mulai lengah.

Di kejauhan, Kapten Arga mengamati mereka dari balik pintu kaca. Ia melihat Lin Qingyan yang biasanya angkuh kini tampak linglung dan terpaku pada punggung Xue Xiao. Cemburu di hati Arga kini telah berevolusi menjadi obsesi untuk membongkar siapa sebenarnya Xue Xiao.

"Dia bukan manusia biasa," gumam Arga pada Doni yang berdiri di sampingnya. "Cari tahu semua hal tentang dia. Jika dia tidak punya identitas resmi, aku akan menggunakan otoritas kepolisian untuk menangkapnya sebagai imigran gelap atau teroris. Kita lihat seberapa hebat dewa hutan itu saat berada di balik jeruji besi."

Malam itu berakhir dengan Lin Qingyan yang tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di kamarnya, menatap botol ramuan Xue Xiao yang masih tersisa. Ucapan "dunia ini" terus bergema di kepalanya. Ia segera menyalakan laptopnya dan mulai mencari legenda tentang "Manusia Abadi" atau "Kultivator" dalam sejarah kuno China.

Ia mulai merasa bahwa Xue Xiao bukan sekadar orang dari pedalaman, melainkan sesuatu yang jauh lebih legendaris. Dan ia bertekad, apa pun taruhannya, ia akan menjadi orang pertama di dunia ini yang berhasil meruntuhkan tembok es sang Alkemis Abadi.

Cahaya biru dari layar laptop memantul di pupil mata Lin Qingyan, memberikan kesan pucat pada wajahnya yang biasanya berseri. Jari-jemarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang semakin lama semakin tidak sabar.

“Manusia Abadi,” “Rahasia Alkemis Shennongjia,” “Kultivasi Energi.”

Setiap hasil pencarian yang muncul justru membuat dahi Qingyan semakin berkerut. Ia mengklik satu per satu tautan yang muncul di halaman pertama mesin pencari, namun yang ia temukan hanyalah kekecewaan. Sebagian besar adalah forum diskusi penggemar novel fantasi, artikel blog yang penuh teori konspirasi tidak berdasar, atau promosi gim daring bertema pendekar pedang.

"Sial," umpatnya pelan sembari menyandarkan punggung ke kursi beludru miliknya. Ia menutup paksa belasan tab yang terbuka. "Apa yang aku harapkan? Pria terbang yang membelah gunung hanya ada di cerita dongeng sebelum tidur. Aku pasti sudah gila karena terlalu banyak menghirup sisa asap di perjamuan tadi."

Ia menatap botol ramuan kecil dari Xue Xiao yang tergeletak di atas meja. Warnanya yang bening namun memancarkan aura aneh seolah mengejek logika Qingyan. Kemampuan Xue Xiao menjatuhkan Gagak Hitam tanpa satu pun peluru meleset dari tubuhnya bukan sekadar keberuntungan. Itu adalah presisi yang mustahil bagi manusia biasa.

Dalam keputusasaan yang mulai menggerogoti logikanya, sebuah nama terlintas di benaknya. Kakek.

Jika ada orang yang menyimpan arsip tentang hal-hal yang tidak masuk akal di dunia ini, itu adalah Lin Jianhua. Sang patriark keluarga Lin itu telah melewati banyak zaman dan mengoleksi rahasia yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis manapun.

Qingyan meraih ponselnya dan menekan nomor pribadi kakeknya. Meski jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, ia tahu kakeknya sering terjaga untuk bermeditasi atau sekadar membaca kitab kuno.

Panggilan itu diangkat pada nada ketiga. "Qingyan? Belum tidur di jam sepagi ini mengapa kau menelpon kakek?"

Suara berat dan tenang sang kakek membuat napas Qingyan sedikit lebih teratur. "Kakek... ini tentang Xue Xiao. Pemuda yang kubawa dari pedalaman."

Qingyan terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. "Apakah mungkin... seseorang bisa hidup di luar batas logika kita? Aku mencari tentang Kultivator atau Manusia Abadi di internet, tapi semuanya terasa seperti omong kosong."

Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. Ada jeda yang cukup lama sebelum Kakek Lin kembali bersuara, suaranya kini merendah, penuh dengan nada peringatan.

"Buang istilah Kultivator itu dari kepalamu, Qingyan. Itu hanyalah bumbu cerita untuk orang awam agar mereka bisa bermimpi. Namun..." Kakeknya berhenti sejenak. "Dunia ini jauh lebih luas daripada yang bisa ditangkap oleh sensor satelit atau logika sains modern mu."

Qingyan menahan napas. "Maksud Kakek?"

"Ada mereka yang menyebut diri mereka sebagai Seniman Beladiri Kuno. Mereka bukan dewa, tapi mereka menguasai teknik pernapasan dan manipulasi energi internal yang sudah punah dari catatan sejarah resmi. Keberadaan mereka sangat misterius, mereka hidup di antara kita, namun di dimensi sosial yang sama sekali berbeda. Mereka tidak mengejar harta atau jabatan, tapi mengejar batas tertinggi potensi manusia."

Kakek Lin berdeham, nadanya berubah menjadi lebih serius. "Jika Xue Xiao memang bagian dari Dunia Tersembunyi itu, maka rasa penasaranmu adalah hal yang berbahaya, Qingyan. Mereka adalah api, dan kita hanyalah ngengat yang tertarik pada cahayanya. Sekali kau terlalu terlibat, kau tidak hanya akan terbakar, tapi bisa berubah menjadi abu."

Qingyan terpaku menatap layar laptopnya yang kini sudah gelap. Kata-kata kakeknya tidak membuatnya takut, melainkan justru memberikan konfirmasi yang ia butuhkan. Xue Xiao bukan sekadar orang pedalaman yang tertinggal zaman. Ia adalah sisa-sisa kejayaan kuno yang berjalan di tengah hutan beton Shanghai.

1
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!