NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: DURI YANG MENYAKITI DIRI SENDIRI

Pagi berikutnya, matahari Jakarta menyengat lebih awal dari biasanya. Juliet terbangun dengan perasaan tidak tenang. Bayangan mata tajam tukang kebun baru itu seolah menghantuinya sepanjang malam. Ia merasa terhina, namun di saat yang sama, ada rasa penasaran yang menggelitik logikanya. Bagaimana mungkin seorang pria dengan pakaian lusuh berani menatapnya seolah-olah dia hanyalah gadis biasa, bukan pewaris tunggal kekaisaran bisnis Wijaya?

Juliet berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan celana pendek denim dan kaos putih tipis—pakaian yang jarang ia gunakan kecuali saat ia merasa ingin memberontak. Ia ingin melihat apa yang dilakukan si sombong itu pada mawar-mawar kesayangan ibunya.

Saat ia melangkah ke taman, pemandangan di depannya membuatnya terpaku. Gaara tidak sedang menyiram bunga. Pria itu sedang menggali parit kecil di sekitar area mawar Juliet Rose. Tubuhnya bersimbah keringat, kaos hitamnya kini menempel ketat memperlihatkan lekuk otot punggungnya yang bergerak ritmis setiap kali cangkul kecilnya menghujam tanah.

"Apa yang kau lakukan?! Kau akan merusak akarnya!" teriak Juliet sembari berlari menghampiri.

Gaara tidak berhenti. Ia hanya melirik sekilas dari balik bahunya. "Tanah ini mati, Nona. Terlalu banyak bahan kimia dari tukang kebun Anda sebelumnya. Akarnya tercekik. Saya harus memberi mereka ruang untuk bernapas."

"Tapi kau menggali terlalu dalam! Jika mawar itu mati pagi ini, aku akan memastikan kau tidak akan mendapatkan pekerjaan di mana pun di kota ini!"

Gaara meletakkan cangkulnya. Ia berdiri perlahan, menghapus keringat di dahinya dengan lengan baju. Ia melangkah mendekati Juliet, membuat gadis itu refleks mundur satu langkah. Aroma tanah, keringat, dan sesuatu yang maskulin menyerbu indra penciuman Juliet.

"Anda selalu mengancam, ya?" suara Gaara rendah, hampir seperti bisikan. "Apa uang memang membuat orang jadi sehebat itu dalam menakut-nakuti?"

Juliet mendongak, menantang tatapan itu. "Uang memberiku kendali. Dan di sini, aku adalah pemegang kendalinya."

Gaara terkekeh pelan—sebuah suara yang terdengar kasar namun entah kenapa terasa hangat di telinga Juliet. "Kendali? Anda bahkan tidak bisa mengendalikan kebahagiaan Anda sendiri, Nona. Saya melihat cara Anda menatap ponsel tadi malam di balkon. Anda terlihat seperti tawanan di istana ini."

Plak!

Tangan Juliet melayang ke pipi Gaara. Napasnya memburu. Berani-beraninya pria ini mencampuri urusan pribadinya?

Hening sejenak. Gaara tidak membalas. Ia hanya memalingkan wajahnya sedikit akibat tamparan itu, lalu perlahan kembali menatap Juliet. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya rasa iba yang membuat Juliet semakin merasa kecil.

"Jika itu membuat Anda merasa lebih memegang kendali, silakan lakukan lagi," ucap Gaara tenang. "Tapi biarkan saya menyelesaikan pekerjaan saya. Mawar ini tidak punya waktu untuk drama Anda."

Juliet terpaku. Tangannya terasa panas dan gemetar. Ia ingin memaki, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia berbalik dan melangkah pergi dengan perasaan campur aduk—malu, marah, dan... rasa bersalah yang asing.

Di sudut lain rumah mewah itu, dari balik jendela lantai dua sayap kiri, sepasang mata memperhatikan kejadian tadi dengan saksama. Vina, sepupu Juliet yang sudah menginap selama seminggu, menyesap kopi mahalnya dengan senyum penuh arti.

"Tukang kebun itu... menarik juga," gumam Vina.

Vina selalu merasa iri pada Juliet. Juliet punya segalanya: kekayaan, kasih sayang paman mereka, dan tunangan sesempurna Adam. Bagi Vina, merusak apa yang dimiliki Juliet adalah hobi yang menyenangkan. Dan melihat bagaimana Juliet bereaksi terhadap tukang kebun baru itu, Vina tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Vina segera turun ke taman. Ia sengaja mengganti pakaiannya dengan gaun musim panas yang cukup terbuka di bagian bahu. Dengan langkah gemulai, ia menghampiri Gaara yang kembali sibuk dengan tanahnya.

"Hai, tampan. Haus, ya?" suara Vina dibuat semaniz mungkin. Ia membawa segelas jus jeruk dingin.

Gaara mendongak. Ia melihat Vina, namun ekspresinya tetap datar. "Terima kasih, tapi saya sedang bekerja."

"Oh, ayolah. Juliet memang sedikit... kasar. Jangan dimasukkan ke hati. Dia memang begitu pada semua orang rendahan," Vina sengaja menekankan kata 'rendahan' sambil mengamati reaksi Gaara.

Gaara menerima gelas itu, namun ia tidak meminumnya. Ia meletakkannya di atas pembatas beton. "Saya tahu posisi saya, Nona. Tidak perlu diingatkan."

Vina tertawa kecil, tangannya dengan berani menyentuh lengan Gaara yang kotor terkena tanah. "Aku suka pria yang tahu posisi. Tapi terkadang, posisi bisa berubah, kan? Namaku Vina. Aku bukan pemilik rumah ini, jadi aku lebih santai."

Gaara menarik lengannya dengan halus. "Senang bertemu Anda, Nona Vina. Tapi mawar-mawar ini lebih butuh perhatian saya sekarang."

Vina sedikit terkejut dengan penolakan itu, namun ia justru semakin tertantang. Pria ini punya harga diri yang tinggi, sesuatu yang jarang ia temukan pada pria-pria kelas bawah.

Malam harinya, rumah besar itu terasa mencekam bagi Juliet. Ayahnya sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, meninggalkannya bersama Vina yang terus-menerus membicarakan Gaara di meja makan.

"Jul, tukang kebun barumu itu... dia tidak terlihat seperti orang miskin biasa, ya? Caranya bicara, tatapan matanya... dia punya aura yang berbeda," ucap Vina sambil memotong daging steak-nya.

"Dia hanya tukang kebun yang sombong, Vina. Jangan berlebihan," jawab Juliet pendek.

"Sombong atau menarik? Aku melihatmu menamparnya tadi pagi. Kenapa? Apa dia mencoba menggodamu? Atau justru sebaliknya?"

Juliet membanting garpunya ke atas piring porselen. "Hentikan, Vina! Aku tidak punya waktu untuk membicarakan orang seperti dia."

Juliet bangkit dan berjalan menuju taman. Ia butuh udara segar. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat lampu kecil menyala di area mawar Juliet Rose.

Gaara masih di sana. Di bawah temaram lampu taman, pria itu terlihat sedang menyelimuti pangkal batang mawar dengan semacam kain jerami. Ia melakukan itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah sedang menyelimuti bayi yang sedang tidur.

Juliet terdiam di kegelapan, memperhatikannya dari jauh. Ia teringat kata-kata ibunya dulu: "Bunga akan tumbuh cantik jika ia tahu dia dicintai."

Selama ini, Juliet hanya menganggap mawar itu sebagai benda koleksi. Ia tidak pernah benar-benar mencintainya seperti ibunya mencintai mereka. Dan sekarang, seorang asing melakukan itu untuknya.

Tiba-tiba, ponsel Juliet berdering. Nama 'Adam' muncul di layar. Juliet menarik napas panjang dan menggeser tombol hijau.

"Halo, Adam?"

"Juliet, Sayang. Maaf aku baru menelpon. Bagaimana kabarmu? Aku baru saja bertemu dengan perancang perhiasan di sini. Aku ingin menambah beberapa karat pada berlian di cincin pernikahan kita nanti. Kamu suka, kan?"

Suara Adam terdengar begitu jauh. Begitu... materialistis. Di depan mata Juliet, ada seorang pria yang tangannya berlumuran tanah demi menyelamatkan setangkai bunga, sementara di seberang telepon, tunangannya bicara tentang karat berlian.

"Ya, Adam. Apa pun yang kamu suka," jawab Juliet hambar.

"Bagus. Oh ya, ayahmu bilang ada tukang kebun baru di rumah? Pastikan dia tidak merusak apa pun. Orang-orang seperti itu biasanya ceroboh."

Juliet melirik ke arah Gaara. Pria itu baru saja berdiri, meregangkan punggungnya yang pegal, dan menatap ke arah bulan.

"Dia tidak ceroboh, Adam. Dia... berbeda," ucap Juliet lirih.

"Apa maksudmu?"

"Bukan apa-apa. Sudah ya, aku lelah. Selamat malam."

Juliet menutup telepon tanpa menunggu jawaban. Ia merasa dadanya sesak. Ia melihat Gaara mulai berjalan menuju paviliun kecil di belakang rumah, tempat tinggal sementaranya.

Tanpa sadar, Juliet melangkah mengikuti. Ia ingin minta maaf soal tamparan tadi pagi, atau setidaknya, ia ingin tahu kenapa pria seperti Gaara mau menjadi tukang kebun di rumahnya.

Namun, di tengah jalan, ia melihat Vina keluar dari balik pohon besar, mencegat jalan Gaara. Vina membisikkan sesuatu yang membuat Gaara berhenti. Juliet tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia melihat Vina memberikan sebuah bungkusan kecil pada Gaara.

Hati Juliet mencelos. Rasa cemburu yang tidak seharusnya ada menyerang secara tiba-tiba. Apa mereka sudah sedekat itu?

Juliet mengepalkan tangan, duri-duri kecemburuan mulai tumbuh di hatinya, lebih tajam dari duri mawar mana pun di taman itu. Ia segera berbalik kembali ke rumah, memutuskan bahwa besok, ia akan membuat hidup Gaara lebih sulit lagi.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!