Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bermuka dua
"Ya memang... rata rata bengkel motor kalau sewa di ruko lebih mahal, mas kalau ngga mereka memang bangun ruko sendiri. Kamu tau sendirikan bengkel motor selain kotor juga berisik."
"Iya sih, bingung aku Geng belum dapet sewa ruko. Duit juga ngepres. Mancing yuk... budrek aku."
"Males, hari ini banyak kerjaan aku."
"Kerjaan apa?"
"Aku belum mandi, sarapan, ngelamun pagi, ngelihat update bokep terbaru, ngelamun siang, ngopi, makan siang, cokli, tidur siang... padetlah pokoknya jadwalku hari ini." Jawab Sugeng.
"Duwancoookk..!!! Hahahaha.... tak lihat lihat hidup kamu happy banget geng, tanpa beban."
"Cangkemmu tanpa beban.. aku loh tiap lihat KTP langsung darah tinggi. Udah jelek, masih muda tapi kelihatannya tua, seumur hidup lagi."
"Wkwkwkwk... iya ya... hahaha... tapi jujur penampilan kamu waktu masih bisu sama sekarang beda banget Geng, sumpah aku ngga bohong... spill skincarenya apa geng?"
"Skincare?...... Extra Joss."
"Hahahaha...." mereka berdua tertawa terbahak bahak.
"Aku mau kepasar nanti, beli pakan burung sama pakan ikan... kamu mau ikut nggak? Dari pada budrek dan ngga ada kerjaan..."
"Hmm... bolehlah Geng, aku juga mau lihat lihat siapa tahu ada kios kosong yang mau di sewain deket pasar. Ya udah buruan mandi sana!"
Siang itu Sugeng dan Sodri pergi kepasar... selesai membeli makan Sugeng mentraktir Sodri makan di sebuah warung nasi. Mereka berdua makan di situ.
"Aku bener bener iri sama hidup kamu Geng?" Ucap Sodri.
"Ya udah tukeran, istirmu buat aku." Jawab Sugeng.
"Kucluk kamu ya..."
"Makanya syukurin apa yang udah kamu punya, mas.. gak suka aku di puji puji kayak begitu."
"Hmmm... aku lagi butuh duit geng, kamu punya tabungan ngga?"
"Bukan aku ngga niat bantu mas, Aku masih punya banyak urusan dan rencana, mas. Aku gak punya banyak duit. Aku aja rencananya mau buat warung di depan rumah nunggu panen nila."
"Bilang aja pelit, kalau emang niat bantu bisah tuh jual kambing kambingnya dia masih muda pengeluaranya dikit pasti punya tabungan, emang dasarnya pelit pantes aja dulu bisu." Ucap Sodri dalam hatinya.
"Hmmm gitu ya... aku mau jual RX kingku Geng. Kalau kalau ada kenalanmu yang cari, info in ya, geng." Ujar Sodri.
"Iya gampang itu..."
"Kamu kok kepikiran ternak kenari Geng? Dapet link dari mana?"
"Kan aku punya banyak kenalan pemain burung gantangan.. ya aku lakuin apa yang bisa aku jual aja, mas. Males aku mikir yang susah susah. Kenari bahan jual capek udah beres. Mending aku ternak itu dari pada ternak ayam, atau bebek udah bau gampang ilang lagi."
"Iya juga ya, salut aku sama kamu geng... penuh inspiratif. Aku yakin kamu bakalan sukses geng." Puji Sodri.
"Hmmm... muji lagi.. males aku dengernya."
Sebulan kemudian di sore hari tepat pukul empat sore sebuah mobil pick up berwarna hitam, masuk ke dalam rumah Sugeng.
Terlihat di bak mobil tersebut tong drum plastik berwarna biru tua dan beberapa fiber box berwarna kuning.
Sugeng yang sedang di samping rumah memberi makan nilanya pun datang menghampiri ke halaman setelah mendengar deru mesin mobil dan suara klakson.
Ya ternyata itu adalah mobil penjual ikan yang akan membeli ikan nila Sugeng. Ada tiga orang pria yang keluar dari dalam mobil.
Sore itu panen di lakukan, mereka bersama sama memanen dan langsung menimbang hasil panen dan membayar cash ikan ikan itu.
Hingga mau menjelang maghrib mereka selesai, mereka bersantai melakukan pembayaran sembari menikmati kopi.
Sebelum maghrib pembeli itupun pamit pulang.
"Kena harga berapa, geng?" Tanya neneknya.
"Sembilan ribu nek."
"Murah banget geng, di pasar loh sekilo 17-18 ribu/kg orang jualnya, kalau udah siangan baru turun 13-15 ribu/kg." Ucap ibunya.
"Ya emang segitu harga yang di tawari, aku udah cek beberapa peternak juga Nek."
"Terus dapet duit berapa, geng?"
"5,7 juta nek.. tapi baru di kasih 5 juta, soalnya dia cuma bawa uang segitu, dia pikir bakalan cukup ternyata kurang."
"Terus yang 700?"
"Besok nek, buat nenek. Kalau orangnya dateng simpen aja duitnya buat nenek."
"Weh... makasih geng." Jawab neneknya begitu senang.
Ke esokan harinya Sugeng pergi ke toko bangunan ia memesan dua rit pasir beberapa sak semen asbes plastik dan kanal rangka baja ringan serta rengnya.
Siang hari material material itu di antar kerumah Sugeng.
Neneknya yang melihat Sugeng begitu bangga, ia tak menyangka Sugeng benar benar serius mewujudkan apa yang dia katakan.
"Seriusan kamu geng mau buka warungnya?"
"Ya seriuslah Nek, kalau aku buka warung aku yakin bakalan rame."
"Kamu ngga beli bibit nila lagi geng?"
"Nantilah Nek, tak kosongin seminggu dulu kolamnya, mau kuganti airnya."
"Oh gitu ya.."
"Oh ya nek, ada kenalan tukang nggak?"
"Lah... itu Pak Jito yang dulu kamu pernah kerja jadi kuli ngikut dia bangun sarang walet itu aja ngapa Geng?"
"Nggak lah nek kalau dia. Kerjanya lelet banyakan duduk, ngopi sama ngobrol aja orangnya. Udah tua juga kurang tenaganya."
"Iya juga ya... anu kalau ngga Lek Bambang aja dia kan juga tukang."
"Iya ya, kok lupa aku. Ntarlah abis maghrib aku kerumahnya main, tanya tanya bisa ngga."
Setelah maghrib Sugeng pergi menuju kerumah Lek Bambang yang jaraknya sekitar dua perempatan dari rumahnya.. mungkin sekitar 200 meteran.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum." Ucap Sugeng sembari terus menerus mengetuk pintu rumah yang belum di cat itu.
"Walaikumsalam..." suara seorang gadis terdengar dari dalam rumah, pintu terbuka menampilkan seorang gadis berhijab.
Gadis itu tampak sedikit terkejut melihat yang hadir adalah Sugeng.
"Ma.. mas Sugeng cari siapa ya?" Tanya gadis itu.
"Ehh.. Tiara udah gede kamu ya? Hahaha mas inget waktu itu pernah nolongi kamu di kejar kejar anjing depan gereja... hahaha.." Sugeng tertawa mengingat kejadian yang menurutnya sangat lucu itu.
Tiara hanya tersenyum kaku, "jirrr.... ganteng banget! Ini beneran Mas Sugeng cucunya Nenek Ratmi? Apa kembarannya ya? Ngga mungkin, dia loh inget pernah nolong aku waktu di kejar kejar guguk depan gereja. Tapi beda banget jirrr dulu dekil, item..." batin Tiara.
"Lek Bambang ada, Ra?"
"Eh... iya iya ada, bentar aku panggilin dulu. silahkan masuk m.. mas.."
Tiara kembali masuk ke dalam rumah, sementara Sugeng duduk di teras rumah sembari menyalakan rokok memandangi jalanan setapak di depannya.
Sugeng menghisap rokoknya dalam dalam dan menghembuskannya.
"Kenapa Tiara mandang aku gitu banget, ya?" Batin Sugeng ya Sugeng menyadari tatapan dalam Tiara.