Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA LALU KAKEK LI
Seminggu setelah serangan malam itu...
Desa Qinghe perlahan kembali normal. Anak-anak kembali bermain di jalan. Ibu-ibu kembali berbelanja di pasar. Para petani kembali ke sawah.
Tapi Wei Chen tahu, normal itu semu.
Setiap malam, dia duduk di beranda rumahnya, mengawasi kegelapan. Tangannya selalu siap meraih pedang pendek yang sekarang selalu ada di sampingnya. Matanya selalu awas, mencari gerakan mencurigakan.
Mei Ling sering terbangun di tengah malam, melihat Wei Chen masih duduk di luar. Kadang dia keluar, membawakan selimut, duduk di sampingnya tanpa bicara. Hanya menemani.
Malam ini, Mei Ling keluar lagi. Membawa dua cangkir teh hangat.
"Kau belum tidur?" tanyanya pelan.
"Tidak bisa."
Mei Ling duduk, menyandarkan kepala di bahu Wei Chen. "Aku juga."
Mereka diam. Menikmati kehangatan teh di tengah dinginnya malam.
"Chen... Kakek Li itu siapa sebenarnya?" tanya Mei Ling tiba-tiba.
Wei Chen menoleh. "Kenapa tanya?"
"Aku tidak tahu. Tapi setelah malam itu..." Mei Ling menggigit bibir. "Dia bukan orang biasa. Dia terlalu kuat untuk sekadar kakek-kakek di desa."
Wei Chen mengangguk. "Dia memang bukan orang biasa."
"Kau tahu ceritanya?"
"Sebagian."
Mei Ling menatapnya. "Cerita padaku."
Wei Chen diam. Lalu, "Besok. Aku akan tanya langsung padanya."
---
Esok paginya, Wei Chen dan Mei Ling pergi ke rumah Kakek Li.
Pria tua itu sedang duduk di beranda, seperti biasa. Tapi kali ini, dia tidak mengunyah sirih. Dia memandangi hutan di kejauhan dengan tatapan kosong.
"Nak Wei, Nok Mei." Dia tersenyum melihat mereka. "Mari, duduk."
Mereka duduk. Wei Chen langsung ke inti.
"Kakek, aku mau tahu masa lalumu."
Kakek Li diam. Matanya berubah — dari ramah menjadi sendu.
"Sudah lama tidak ada yang tanya," katanya pelan. "30 tahun."
"Aku ingin tahu," kata Wei Chen. "Bukan karena penasaran. Tapi karena... musuh mungkin datang. Dan aku harus tahu apa yang kita hadapi."
Kakek Li mengangguk. "Kau benar." Dia menarik napas panjang. "Baik. Aku cerita."
---
"Namaku Li Feng," dia memulai. "50 tahun lalu, aku adalah tetua termuda di Klan Naga Hitam."
Mei Ling terkesiap. "Klan Naga Hitam?"
Kakek Li tersenyum pahit. "Iya. Bukan klan kecil, bukan klan menengah. Tapi salah satu klan terkuat di timur."
Dia melanjutkan, "Aku naik cepat. Di usia 50, aku sudah mencapai level Pencari Dao. Di usia 80, aku level Jiwa Lahir Baru. Orang-orang bilang aku jenius. Mungkin benar."
"Apa yang terjadi?" tanya Wei Chen.
"Ambisi." Kakek Li menghela napas. "Aku terlalu ambisius. Aku ingin jadi pemimpin klan. Tapi pemimpin saat itu — Naga Hitam Ketiga — adalah pamanku sendiri. Dia tua, keras, tapi adil."
"Aku tantang dia. Itu hak setiap tetua. Tapi..." Matanya meredup. "Aku kalah."
"Kalah?"
"Bukan kalah biasa. Aku dihancurkan." Kakek Li menunjukkan tangannya yang keriput. "Dia bisa bunuh aku. Tapi karena aku masih keluarga, dia hanya merusak meridianku. Kultivasiku mundur drastis. Dari Jiwa Lahir Baru, jatuh ke Pencari Dao. Dan tidak bisa naik lagi."
Mei Ling mengusap air mata. Tidak sadar dia menangis.
"Aku diusir. Dihina. Nama dihapus dari silsilah." Kakek Li tersenyum pahit. "Aku mengembara 20 tahun. Hampir mati beberapa kali. Sampai akhirnya... aku sampai di desa ini."
"Kenapa pilih desa ini?" tanya Wei Chen.
"Karena di sini aku menemukan keluarga." Matanya hangat menatap Mei Ling. "Adik perempuanku — neneknya Mei Ling — sudah lama tinggal di sini. Dia terima aku. Merawat aku. Memberi aku alasan untuk hidup."
Mei Ling memegang tangan Kakek Li. "Kakek... aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa." Kakek Li tersenyum. "Itu masa lalu. Sekarang aku cuma kakek tua yang jaga desa."
"Tapi Kakek masih kuat," kata Wei Chen. "Malam itu, Kakek hancurkan 50 orang sendirian."
"50 orang biasa." Kakek Li menggeleng. "Tapi kalau Hartono kirim kultivator selevelku... aku tidak bisa jamin."
Wei Chen diam. Ini informasi penting.
"Siapa musuh Kakek dulu?" tanyanya.
Kakek Li mengerutkan kening. "Musuh?"
"Di Klan Naga Hitam. Yang mungkin masih dendam."
Kakek Li diam. Lalu, "Naga Hitam Keempat — pemimpin sekarang — adalah keponakanku. Dulu kami dekat. Tapi setelah aku kalah... dia tidak pernah hubungi aku."
"Jadi dia bukan musuh?"
"Bukan. Tapi juga bukan teman."
Wei Chen mengangguk. "Kalau di klan lain?"
Kakek Li berpikir. "Klan Bunga Naga? Dulu mereka klan kecil. Tidak punya masalah denganku. Tapi sekarang..."
"Apa?"
"Mereka mungkin dengar cerita. Tentang pengkhianat Klan Naga Hitam yang tinggal di desa kecil." Kakek Li menatap Wei Chen. "Kalau Hartono bisa yakinkan mereka bahwa aku ancaman... mereka bisa jadi lawan."
Wei Chen diam. Ini rumit.
"Tapi Klan Bunga Naga sudah jadi mitra kita," kata Mei Ling.
"Mitra bisnis. Bukan mitra perang." Kakek Li menggeleng. "Kalau ada pilihan antara untung besar dan membunuh ular di rumput, mereka bisa pilih yang kedua."
Wei Chen mengangguk. "Aku mengerti."
---
Sore harinya, Wei Chen duduk di kantor bersama Lim Xiu.
Menceritakan semuanya.
Lim Xiu mendengar dengan serius. Wajahnya tegang.
"Jadi... musuh potensial kita bisa bertambah."
"Bisa."
"Dan Kakek Li mungkin jadi target."
"Mungkin."
Lim Xiu menghela napas. "Kita harus lindungi dia."
"Bukan dia yang harus kita lindungi." Wei Chen menatapnya. "Tapi desa ini. Mei Ling. Semua orang."
"Caranya?"
Wei Chen diam. Lalu, "Kita bangun sistem keamanan. Pagar. Pos jaga. Pelatihan untuk pemuda desa."
"Mahal."
"Aku punya uang."
Lim Xiu mengangguk. "Baik. Aku atur."
---
Malam harinya, Wei Chen kembali ke rumah.
Mei Ling sudah menunggu dengan makan malam. Wajahnya lebih tenang dari pagi.
"Chen, setelah dengar cerita Kakek Li, aku... bersyukur."
"Bersyukur kenapa?"
"Bersyukur kita punya dia." Mei Ling tersenyum. "Dia jaga aku selama ini. Tanpa dia, mungkin aku sudah mati."
Wei Chen mengangguk. "Kita beruntung."
Mereka makan diam-diam. Tapi ada kehangatan di antara mereka.
Setelah makan, mereka duduk di beranda. Bulan mulai muncul di ufuk timur.
"Chen... aku sayang Kakek Li."
"Aku tahu."
"Aku juga sayang kau."
Wei Chen menoleh. Wajah Mei Ling merah di bawah cahaya bulan.
"Aku juga sayang kamu."
Mei Ling tersenyum. Memeluknya.
Malam itu, mereka berpelukan lama. Tidak bicara. Hanya merasakan kehangatan satu sama lain.
Di luar, angin berembus pelan. Membawa janji badai yang masih jauh. Tapi malam ini, mereka tidak peduli.
Mereka punya satu sama lain.
---
Chapter 21 END.
---