"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14. Getaran di Balik Rahasia
Mobil van putih itu melaju dengan sangat kencang di bawah guyuran hujan yang sangat lebat. Yuki Nakamura memegang kemudi dengan kedua tangan yang terlihat sangat gemetar. Dia terus menatap kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan hitam yang membuntuti mereka.
Di kursi belakang, Hana Tanaka memeluk buku catatan hitam itu dengan sangat erat ke dadanya. Jantungnya masih berdegup dengan sangat kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Akane Sato sibuk mematikan semua perangkat siaran langsung yang tadi dia gunakan di rumah keluarga Fujiwara.
Ren Ishida mencoba mengatur napasnya yang masih terasa sangat sesak setelah aksi pelarian yang sangat menegangkan itu. Suasana di dalam van terasa sangat sunyi dan hanya terdengar suara wiper mobil yang bergerak dengan sangat cepat.
Kaito Fujiwara duduk di sudut paling belakang van dengan wajah yang terlihat sangat pucat pasi. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup oleh rintik air hujan yang sangat deras. Dia baru saja mengkhianati ayahnya sendiri demi sebuah keadilan yang selama ini dia cari.
Perasaan bersalah dan perasaan lega bercampur menjadi satu di dalam pikiran Kaito yang sangat kacau saat ini. Hana menatap Kaito dengan tatapan yang sangat sedih dan juga penuh dengan rasa empati yang sangat mendalam. Dia tahu bahwa apa yang baru saja dilakukan oleh Kaito adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar sekali.
Hana ingin mendekati Kaito namun dia merasa ragu karena suasana di dalam mobil masih terasa sangat kaku.
Yuki mengarahkan mobil tersebut menuju ke sebuah gudang tua yang terletak di pinggiran sungai Sumida. Gudang itu adalah tempat penyimpanan peralatan olahraga milik paman Ren yang sudah lama tidak digunakan lagi. Lokasinya sangat tersembunyi dan jauh dari pantauan kamera pengawas milik pihak kepolisian kota Tokyo.
Yuki memarkir mobil dengan perlahan dan segera mematikan lampu depan agar tidak menarik perhatian orang sekitar. Mereka semua turun dari mobil dengan langkah yang sangat cepat sambil membawa barang bawaan mereka masing-masing.
Dinginnya angin malam langsung menusuk kulit mereka yang masih basah karena terkena air hujan di rumah Kaito tadi.
Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang terletak di bagian belakang gudang tua tersebut. Ruangan itu hanya berisi beberapa kursi kayu yang sudah mulai lapuk dan sebuah meja bundar yang besar.
Ren segera menyalakan sebuah lampu pijar kecil yang memberikan cahaya temaram ke seluruh penjuru ruangan. Yuki meletakkan laptopnya di atas meja dan segera melakukan pemeriksaan terhadap jaringan internet di sekitar sana.
Dia ingin memastikan bahwa tidak ada sinyal pelacak yang menempel pada perangkat elektronik yang mereka bawa saat ini. Akane duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya ke dinding kayu yang terasa sangat dingin dan lembap.
Hana meletakkan buku catatan hitam itu di tengah meja dengan tangan yang masih terlihat sedikit bergetar. Semua mata tertuju pada buku tua itu seolah buku tersebut adalah sebuah benda yang sangat keramat.
Mereka tahu bahwa isi dari buku ini bisa meruntuhkan seluruh sistem gacha kehidupan yang sangat tidak adil. Namun mereka juga sadar bahwa buku ini membawa ancaman yang sangat besar bagi keselamatan nyawa mereka.
Kaito berdiri di dekat pintu masuk sambil terus menatap ke arah luar melalui celah kecil yang ada di sana. Dia masih merasa waspada dan takut jika anak buah ayahnya berhasil menemukan lokasi persembunyian mereka saat ini.
Hana berjalan perlahan menuju ke arah Kaito yang masih berdiri diam seperti sebuah patung kayu yang kaku. Dia menyentuh bahu Kaito dengan sangat lembut dan mencoba untuk memberikan kekuatan moral bagi temannya itu.
Kaito menoleh dan Hana bisa melihat ada air mata yang mulai menggenang di sudut mata pemuda tersebut. Hana tidak mengucapkan sepatah kata pun namun dia segera memeluk Kaito dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.
Kaito akhirnya tidak bisa menahan perasaannya lagi dan dia mulai menangis sesenggukan di bahu Hana Tanaka. Ini adalah pertama kalinya Kaito menunjukkan sisi lemahnya di depan teman-teman yang sangat dia percayai tersebut.
Akane dan Yuki hanya terdiam melihat momen tersebut dengan perasaan yang sangat haru dan juga sangat sedih. Mereka mendekat dan ikut memegang tangan Kaito sebagai tanda bahwa mereka akan selalu ada di sampingnya.
Ren membawakan beberapa botol minuman hangat yang dia temukan di dalam tas kecil miliknya sejak tadi sore. Mereka semua duduk melingkar di lantai gudang yang dingin sambil menikmati minuman hangat tersebut bersama-sama.
Tawa kecil mulai terdengar dari bibir Akane saat dia menceritakan kepanikan wajah para penjaga rumah Haruo tadi. Suasana yang tadinya sangat tegang perlahan mulai mencair dan berubah menjadi sebuah momen kebersamaan yang sangat hangat.
"Kita sudah berhasil melakukan hal yang sangat luar biasa malam ini," ujar Ren Ishida dengan nada bangga.
Hana tersenyum sambil mengusap air matanya sendiri menggunakan ujung lengan bajunya yang masih sedikit basah. Dia merasa sangat beruntung karena memiliki sahabat yang sangat berani dan juga sangat setia seperti mereka semua.
Hana memberikan sepotong cokelat kepada Kaito untuk membantu menenangkan pikiran Kaito yang masih terlihat sangat kacau. Kaito menerima cokelat itu dan dia mulai bisa tersenyum sedikit meskipun matanya masih terlihat sangat merah.
Persahabatan mereka terasa semakin kuat setelah mereka melewati sebuah peristiwa yang sangat membahayakan nyawa mereka berlima. Mereka berjanji untuk tidak akan pernah saling meninggalkan apa pun rintangan yang akan mereka hadapi nanti.
Setelah suasana mulai tenang, mereka kembali berkumpul di sekitar meja kayu untuk melihat isi dari buku hitam tersebut. Hana membuka halaman pertama dengan sangat hati-hati agar tidak merusak kertas yang sudah mulai menguning itu.
Mereka menemukan deretan nama pejabat tinggi dan juga nama-nama pengusaha kaya yang ada di seluruh Jepang. Di samping nama-nama tersebut terdapat angka-angka yang menunjukkan jumlah uang suap yang telah mereka berikan kepada Haruo.
Yuki segera mengambil foto setiap halaman buku tersebut menggunakan kamera ponselnya yang memiliki resolusi sangat tinggi. Dia ingin memiliki salinan digital sebagai cadangan jika buku fisik tersebut hilang atau pun berhasil dicuri kembali.
Namun, ada satu hal yang membuat mereka semua merasa sangat terkejut dan juga merasa sangat terpukul sekali. Mereka menemukan nama beberapa guru dari sekolah mereka sendiri tertulis di dalam daftar penerima dana ilegal tersebut.
Ternyata guru-guru yang selama ini mereka hormati juga ikut terlibat dalam memanipulasi nilai para siswa di sekolah. Hana merasa sangat kecewa karena dia pernah menganggap guru-guru tersebut sebagai pahlawan di dalam hidupnya yang sulit.
Sistem gacha kehidupan ternyata sudah merusak moral orang-orang yang seharusnya mendidik generasi muda dengan penuh kejujuran. Mereka menyadari bahwa musuh mereka jauh lebih banyak dan juga jauh lebih dekat daripada yang mereka duga.
"Bahkan wali kelas kita sendiri ada di dalam daftar ini," bisik Yuki Nakamura dengan nada suara penuh kecewa.
Akane merasa sangat marah dan dia ingin segera menyebarkan foto-foto tersebut ke media sosial miliknya sekarang juga. Dia ingin seluruh dunia tahu bahwa sistem pendidikan mereka sudah dikelola oleh sekelompok penjahat yang sangat serakah.
Namun, Hana segera menahan tangan Akane dan meminta Akane untuk tetap bersabar dan juga tetap tenang. Mereka harus merencanakan langkah selanjutnya dengan sangat matang agar bukti ini tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Jika mereka bertindak terburu-buru maka pihak Haruo pasti akan mencari celah untuk menghancurkan kredibilitas bukti tersebut. Mereka harus menjadi lebih pintar dan juga harus menjadi lebih strategis daripada para koruptor tersebut.
Malam semakin larut dan suhu udara di dalam gudang tua tersebut menjadi semakin dingin serta semakin menggigit tulang. Mereka mulai merasa cemas tentang apa yang akan terjadi saat mereka berangkat ke sekolah esok pagi nanti.
Haruo Fujiwara pasti sudah menyadari bahwa buku catatannya telah hilang dan dia pasti akan mencari pelakunya. Kaito adalah orang yang paling terancam karena dia adalah satu-satunya orang yang memiliki akses masuk ke rumah tersebut.
Hana merasa sangat khawatir jika ayah Kaito akan menggunakan kekuasaannya untuk mencelakai Kaito secara fisik maupun hukum. Mereka harus mencari cara untuk melindungi Kaito dan juga melindungi diri mereka masing-masing dari kemarahan Haruo.
Ren mengusulkan agar mereka tidak pulang ke rumah masing-masing untuk sementara waktu demi keamanan bersama mereka semua. Mereka bisa menginap di gudang ini karena paman Ren tidak akan datang berkunjung dalam waktu dekat ini.
Yuki segera menghubungi ibunya melalui pesan singkat dan mengatakan bahwa dia sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah teman. Hana juga melakukan hal yang sama meskipun dia merasa sangat tidak enak karena harus berbohong kepada ibunya yang sakit.
Namun, ini adalah pilihan yang paling aman yang bisa mereka ambil untuk saat ini demi keselamatan bersama. Mereka mulai menyusun kursi-kursi kayu menjadi tempat tidur darurat yang sangat sederhana dan juga sangat tidak nyaman.
"Aku takut jika kita tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupan normal kita lagi," ucap Akane Sato lirih.
Hana memegang tangan Akane dan mencoba untuk memberikan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Dia mengatakan bahwa mereka sedang melakukan hal yang benar dan kebenaran akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Meskipun mereka merasa sangat takut namun mereka tidak merasa menyesal telah mengambil keputusan yang sangat besar ini. Mereka adalah remaja yang berani menantang raksasa demi masa depan teman-teman mereka yang selama ini tertindas.
Tidur mereka malam itu tidaklah nyenyak karena setiap suara kecil dari luar gudang membuat mereka terbangun dengan waspada. Mimpi mereka dipenuhi oleh bayang-bayang kegelapan namun ada secercah cahaya persahabatan yang tetap menyinari hati mereka.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mereka terbangun dengan tubuh yang terasa sangat pegal dan juga sangat kaku. Hana mencuci wajahnya dengan air sungai yang terasa sangat dingin untuk menyegarkan pikiran dan juga menyegarkan jiwanya.
Mereka berkumpul kembali untuk membahas rencana apa yang akan mereka lakukan saat sampai di sekolah nanti. Mereka memutuskan untuk tetap berangkat ke sekolah agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak guru dan juga pihak keamanan.
Buku catatan hitam itu tetap disimpan oleh Hana di dalam tas sekolahnya yang sudah dia modifikasi secara khusus. Yuki memasang aplikasi pelacak lokasi di semua ponsel mereka agar mereka bisa saling memantau keberadaan satu sama lain.
Kaito terlihat jauh lebih tenang sekarang meskipun wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa kesedihan yang sangat mendalam dari malam tadi. Dia berjanji akan tetap bersikap biasa saja saat bertemu dengan ayahnya atau pun saat bertemu dengan orang suruhan ayahnya.
Kaito akan berpura-pura tidak tahu apa-apa mengenai hilangnya buku catatan hitam yang sangat berharga tersebut dari rumah. Mereka semua mengenakan seragam sekolah mereka masing-masing yang sudah mulai terlihat sedikit kusut dan juga sedikit kotor.
Sebelum meninggalkan gudang tua tersebut, mereka melakukan pelukan kelompok sekali lagi sebagai tanda sebuah komitmen perjuangan. Mereka tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat menentukan bagi masa depan mereka dan juga bagi masa depan bangsa.
"Ingatlah bahwa kita berlima adalah satu tim yang tidak akan pernah bisa dipisahkan," tegas Hana Tanaka dengan penuh semangat.
Hana merasa ada sebuah kekuatan baru yang muncul dari dalam dirinya saat dia melihat wajah teman-temannya yang penuh tekad. Dia tidak lagi merasa sebagai gadis miskin yang lemah dan juga tidak memiliki harapan hidup yang jelas.
Hana adalah seorang pejuang yang sedang membawa kunci perubahan bagi jutaan anak muda yang ada di negaranya. Dia melangkah keluar dari gudang dengan kepala yang tegak dan juga dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Mereka berjalan menuju stasiun kereta api dengan langkah yang sangat kompak dan juga sangat teratur seperti sebuah barisan. Matahari pagi menyambut mereka dengan sinarnya yang hangat seolah memberikan dukungan bagi perjuangan suci yang mereka lakukan.
Perjalanan di dalam kereta bawah tanah terasa sangat berbeda dari perjalanan-perjalanan yang pernah mereka lakukan sebelumnya di pagi hari. Mereka tidak banyak berbicara namun mereka saling bertukar pandang yang penuh dengan makna dukungan satu sama lain.
Hana melihat seorang anak kecil yang sedang belajar dengan tekun di samping ibunya yang terlihat sangat lelah bekerja. Dia merasa semakin yakin bahwa apa yang mereka lakukan akan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak kecil tersebut.
Rasa haru menyelimuti hati Hana saat dia membayangkan dunia tanpa sistem gacha yang penuh dengan tipu daya dan kecurangan. Dia ingin setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih impian mereka tanpa harus melihat status sosial orang tua.
Kaito sesekali mencuri pandang ke arah Hana dan dia merasa sangat bersyukur karena telah bertemu dengan gadis sehebat Hana Tanaka. Tanpa kehadiran Hana, Kaito mungkin masih akan terjebak di dalam kehidupan mewah yang penuh dengan kepalsuan dan juga kehampaan.
Hana telah mengajarkan kepada Kaito tentang arti sebuah kejujuran dan juga tentang arti sebuah pengorbanan yang sangat tulus. Kaito berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan selalu melindungi Hana dari segala macam bahaya yang mungkin akan muncul.
Meskipun dia belum berani mengucapkannya secara langsung namun perasaannya terhadap Hana sudah tumbuh dengan sangat kuat sekali. Cinta remaja mereka tumbuh di tengah-tengah badai konflik sosial yang sangat hebat dan juga sangat menantang ini.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, mereka melihat ada beberapa mobil hitam mewah yang terparkir di dekat pintu masuk utama sekolah. Beberapa orang pria berpakaian jas rapi terlihat sedang berbicara dengan kepala sekolah di depan lobi utama gedung sekolah.
Hana merasakan sebuah firasat buruk mulai muncul di dalam pikirannya saat melihat pemandangan yang tidak biasa tersebut. Dia segera merapatkan tas sekolahnya dan memberikan kode kepada teman-temannya untuk tetap bersikap sangat tenang dan waspada.
Mereka melangkah masuk ke dalam area sekolah dengan detak jantung yang kembali berdegup dengan sangat kencang dan tidak beraturan. Tantangan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai saat mereka menginjakkan kaki di gedung tempat mereka menimba ilmu.
Guru wali kelas mereka berdiri di depan kelas dengan wajah yang sangat tegang dan juga terlihat sangat gelisah sekali. Beliau menatap ke arah Hana dan juga ke arah Kaito dengan sebuah tatapan yang sangat sulit untuk diartikan maknanya.
Hana tahu bahwa berita mengenai hilangnya buku hitam tersebut mungkin sudah sampai ke telinga beberapa orang di sekolah ini. Namun dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum dia berhasil menunjukkan kebenaran kepada seluruh dunia yang sedang tertidur.
Persahabatan mereka akan menjadi perisai yang paling kuat untuk menghadapi segala macam badai yang akan segera datang menerjang mereka. Babak baru dari perjuangan kelompok lima sekawan telah resmi dimulai di bawah atap sekolah mereka sendiri yang penuh rahasia.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭