Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Selamat Datang di Kisaran
Bab 24: Selamat Datang di Kisaran
Bus akhirnya melambat secara signifikan saat memasuki kawasan inti kota Kisaran. Suara desis rem angin yang tajam beradu dengan kebisingan pedagang asongan yang mulai mengerubungi pintu bus bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti. Secara geografis, mereka hanya berpindah sejauh empat puluh lima kilometer dari Tanjungbalai, namun bagi Rafi, atmosfer di sini terasa jauh lebih mengintimidasi.
"Kisaran! Kisaran! Inti kota! Irian! Irian!" teriak kondektur bus sambil memukul-mukul bodi bus dari arah pintu yang sudah terbuka lebar.
Rafi segera berdiri. Ia tidak ingin terjebak di tengah kerumunan penumpang yang akan berebut keluar.
Ia melirik Nisa yang juga mulai berdiri sambil merapikan tas kecilnya. Ada gurat lega di wajah gadis itu, seolah-olah berhasil selamat dari "neraka" berjalan bernama bus bumel adalah sebuah prestasi besar.
"Ayo, Nis. Hati-hati barangnya jangan sampai ketinggalan," ujar Rafi dengan nada yang ia usahakan tetap stabil, meski jantungnya berdegup kencang karena adrenalin.
Lantai bus yang licin dan berdebu menjadi rintangan pertama. Rafi melangkah lebih dulu, membelah kerumunan penumpang yang mulai merangsek ke arah pintu. Bau solar, bau keringat, dan aroma debu jalanan berkumpul di satu titik sempit itu. Rafi berhenti tepat di depan anak tangga bus yang tinggi—sebuah desain kendaraan yang sama sekali tidak ramah bagi wanita yang memakai rok atau sepatu cantik.
Ia melompat turun ke aspal yang panas. Suhu di luar ternyata tidak jauh berbeda dengan di dalam bus, namun setidaknya ada oksigen yang lebih segar. Begitu kakinya memijak bumi, Rafi segera berbalik badan. Ia memposisikan dirinya tepat di samping pintu bus, menjadi "benteng" agar penumpang lain tidak menyenggol Nisa saat gadis itu hendak turun.
"Nis, pelan-pelan. Tangganya tinggi kali ini," kata Rafi sambil mengulurkan tangan kanannya.
Nisa sempat ragu sejenak. Ia melihat ke arah anak tangga, lalu menatap tangan Rafi. Detik itu, waktu seolah berjalan melambat secara mikroskopis di mata Rafi. Ia melihat Nisa menarik napas panjang, lalu meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Rafi.
Kulit Nisa terasa dingin—mungkin karena tadi ia terus-menerus mengusap tisu basah—kontras dengan tangan Rafi yang hangat dan sedikit lembap. Rafi mencengkeram jemari Nisa dengan mantap, memberikan tumpuan beban yang kokoh.
Ia merasa seperti seorang ksatria yang sedang membantu permaisuri turun dari kereta kencana, meskipun realitanya mereka hanya turun dari bus ekonomi yang bodi sampingnya sudah mulai berkarat.
Begitu Nisa mendarat dengan selamat di sampingnya, Rafi tidak langsung melepaskan genggamannya. Ia membiarkannya selama satu detik ekstra—sebuah tindakan bawah sadar yang menurut logikanya adalah "protokol keamanan", namun secara emosional adalah bentuk kepuasan batin.
"Makasih ya, Rafi," bisik Nisa. Suaranya hampir tenggelam oleh suara klakson bus yang meminta
jalan.
"Sama-sama. Kita minggir dulu ke sana, di sini bahaya banyak motor," sahut Rafi.
Mereka berjalan menuju trotoar yang tidak terlalu rata di depan deretan ruko. Rafi memposisikan dirinya di sisi luar, membatasi Nisa dari hiruk-pikuk lalu lintas Kisaran yang mulai padat oleh kendaraan bermotor di jam makan siang.
Rafi melakukan audit visual cepat. Kemeja flanelnya? Masih rapi, meski ada bercak keringat sedikit di punggung yang tertutup tas ransel.
Sepatunya? Ia melirik ke bawah dengan cemas. Lem Alteco-nya masih setia menyatukan sol sepatu hitamnya. Tidak ada kejadian memalukan seperti sepatu menganga di depan Nisa.
Dompetnya? Ia menepuk saku belakang. Masih tebal.
Secara teknis, Bagian 1 dari rencana besarnya (Bab 1-24) telah terlaksana dengan tingkat keberhasilan 90%. Satu-satunya variabel yang gagal dikendalikan hanyalah suhu panas di dalam bus.
"Panas banget ya, Kisaran?" Nisa mengibas-ngibaskan tangannya, menatap ke arah
keramaian kota.
"Iya, Nis. Tapi tenang, tujuannya udah di depan mata. Itu dia," Rafi menunjuk ke arah sebuah bangunan besar yang mendominasi pemandangan di kejauhan. Sebuah papan nama berukuran raksasa dengan tulisan yang sangat familiar bagi masyarakat Asahan dan sekitarnya:
IRIAN SUPERMARKET & DEPT. STORE.
Bagi orang Jakarta, mungkin itu hanya sebuah toko ritel biasa. Namun bagi remaja Tanjungbalai seperti Rafi, tempat itu adalah simbol kemewahan sementara, tempat di mana AC selalu dingin, lantai selalu mengkilap, dan aroma makanan cepat saji menggoda setiap kantong yang sedang tipis.
"Yuk," ajak Rafi.
Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar. Rafi menyadari bahwa cara mereka berjalan sekarang sedikit berbeda. Tidak ada lagi jarak canggung selebar satu meter. Mereka berjalan lebih dekat, bahu mereka sesekali bersentuhan secara alami seiring dengan langkah kaki yang seirama.
Rafi merasa dadanya membusung sedikit lebih lebar. Di Tanjungbalai, ia adalah si anak penyendiri yang mengetik tugas orang demi uang receh.
Namun di sini, di trotoar kota Kisaran ini, ia merasa menjadi seseorang yang punya tujuan. Seseorang yang memegang kendali atas hari ini.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 10.55 WIB. Sesuai jadwal.
"Nis, lapar nggak? Mau langsung makan atau jalan-jalan sebentar di dalam?" tanya Rafi, mencoba memberikan opsi secara demokratis, meskipun secara finansial ia sangat berharap mereka tidak memesan menu tambahan yang
mahal.
"Dinginan dulu deh, Rafi. Keringatku belum kering ini," jawab Nisa sambil tertawa kecil.
"Oke, siap. Kita masuk ke dunia AC."
Saat mereka berdiri di depan gerbang area parkir, Rafi melihat cermin besar di sebuah toko kacamata. Ia melihat pantulan dirinya dan Nisa.
Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi, setidaknya dalam imajinasi Rafi yang optimis.
Rafi menyentuh dompetnya untuk terakhir kalinya sebelum memasuki area mall. Ia merasakan gumpalan uang itu, hasil dari celengan ayam yang pecah (Bab 1) dan ribuan baris ketikan yang melelahkan (Bab 4). Hari ini bukan lagi tentang penderitaan; hari ini adalah tentang eksekusi.
Rafi dan Nisa melangkah mantap menuju pintu masuk otomatis mall. Rafi menarik napas panjang, menyiapkan mentalnya untuk transisi dari dunia aspal yang panas ke dunia mewah yang dingin.
"Selamat datang di tantangan sebenarnya, Rafi," bisiknya dalam hati.