Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGARUH ALKOHOL
Malam semakin larut, namun suasana di dalam penthouse terasa begitu sunyi hingga detak jarum jam terdengar seperti dentuman. Keyla, yang merasa jenuh dengan status "tahanan rumah"-nya, akhirnya tertidur di sofa panjang ruang tamu. Televisi masih menyala redup, menampilkan siaran berita yang tak lagi ia tonton.
Sekitar pukul satu dini hari, pintu utama terbuka dengan kasar. Suara langkah kaki yang berat dan tidak beraturan memecah keheningan.
Dipta masuk dengan kemeja yang sudah berantakan. Dasinya entah ke mana, dan kancing atas kemejanya terbuka hingga ke dada. Bau alkohol yang tajam menyeruak dari tubuhnya—pria itu mabuk berat setelah merayakan kesepakatan bisnis besar.
Matanya yang biasanya tajam kini tampak merah dan sayu karena pengaruh wiski, namun saat matanya menangkap sosok Keyla yang tertidur di sofa, tatapannya berubah menjadi lapar.
Ia melangkah mendekat, tersandung sedikit pada meja kopi, namun terus maju hingga ia berdiri tepat di atas tubuh Keyla. Ia menatap kaki jenjang Keyla yang tersingkap dari balik selimut tipis. Hasrat yang selama ini ia tekan dengan logika bisnis, kini meledak tanpa kendali di bawah pengaruh alkohol.
Keyla tersentak bangun saat merasakan hawa panas yang mendekat. Matanya terbuka lebar dan langsung bertemu dengan wajah Dipta yang berada hanya beberapa inci dari wajahnya.
"Dipta? Anda... Anda mabuk?" tanya Keyla dengan suara serak, mencoba duduk namun Dipta segera menekan bahunya kembali ke sofa.
"Kau terlihat sangat cantik saat tidur, Keyla," gumam Dipta, suaranya parau dan berat. Napasnya yang berbau alkohol menerpa wajah Keyla. "Kenapa kau harus menunggu sampai minggu depan? Kenapa tidak sekarang saja?"
Keyla mulai panik. Ia bisa melihat kegelapan yang berbeda di mata Dipta malam ini. "Lepaskan! Anda tidak sadar! Pergi ke kamar Anda dan tidur!"
"Aku sedang di kamarku, Sayang. Dan kau adalah milikku," desis Dipta. Ia mulai menciumi leher Keyla dengan kasar, mengabaikan rontaan tangan kecil gadis itu yang mencoba mendorong dada bidangnya.
"Jangan! Berhenti, Dipta! Aku takut!" jerit Keyla, air mata mulai mengalir di sudut matanya.
Dipta tidak mendengar. Hasrat liarnya telah mengambil alih. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Keyla dan menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan kuatnya.
"Jangan melawan... bukankah ini yang kau inginkan? Menjadi wanita dewasa?" Dipta berbisik di bibir Keyla, tangannya yang bebas mulai meraba pinggang gadis itu dengan tuntutan yang memaksa.
"Tolong... jangan seperti ini," isak Keyla. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak pernah melihat Dipta yang seperti ini—pria itu bukan lagi pengusaha yang dingin dan tenang, melainkan sosok yang asing dan menakutkan.
Dipta terhenti sejenak saat merasakan air mata Keyla membasahi jarinya. Ia menatap wajah Keyla yang pucat pasi karena ketakutan yang nyata. Konflik batin tampak di wajahnya yang mabuk; antara keinginan untuk menuntaskan hasratnya atau menyisakan sedikit harga diri sebagai pria yang berjanji akan menjaganya.
**
Ketegangan di ruang tamu itu memuncak menjadi sesuatu yang gelap dan menyesakkan. Dipta, yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan kekuasaan dan uang, kini kehilangan kendali moralnya. Di dunianya yang kelam, ia terbiasa dengan wanita-wanita yang tunduk dan pasrah—wanita penghibur yang tidak pernah berani mengatakan "tidak" padanya.
Kini, pengaruh alkohol membuat otaknya mengaburkan batas antara wanita-wanita itu dan Keyla.
"Dipta, sakit! Lepaskan!" jerit Keyla saat cengkeraman tangan Dipta di pergelangan tangannya semakin mengencang hingga memerah.
"Diam!" bentak Dipta, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Kau pikir kau siapa? Ayahmu sudah menjualmu padaku! Kau milikku, tubuhmu milikku!"
Keyla terus meronta, kakinya menendang-nendang tak tentu arah. "Aku bukan mereka! Aku bukan wanita-wanita yang biasa Anda sewa!"
Dipta tertawa kasar, suara tawa yang terdengar mengerikan. "Sama saja! Kalian semua sama, hanya menginginkan uangku. Tapi setidaknya mereka tidak berisik seperti kau!"
Ia merenggut jubah tidur Keyla hingga bagian bahunya robek, memperlihatkan kulit porselen yang kini gemetar hebat. Dipta menindih tubuh mungil Keyla dengan seluruh berat badannya, mengunci pergerakan gadis itu hingga Keyla merasa sulit bernapas.
"Jangan... aku mohon..." isak Keyla, suaranya mulai habis karena ketakutan yang teramat sangat.
Dipta mengabaikan tangisan itu. Tangannya bergerak kasar, memperlakukan Keyla tanpa kelembutan sedikit pun, persis seperti cara ia melampiaskan hasrat pada wanita-wanita di kelab malam. Ia tidak peduli pada rasa sakit yang terpancar dari mata Keyla.
"Kau akan belajar cara melayaniku, Keyla. Sekarang atau nanti tidak ada bedanya," desis Dipta parau sembari membuka paksa kancing kemejanya sendiri hingga terlepas berhamburan ke lantai.
Ia mulai menciumi paksa bibir Keyla, mengabaikan gigitan dan penolakan gadis itu. Tangan Dipta bergerak menuju sabuk celananya, membukanya dengan gerakan kasar yang penuh nafsu. Saat ia bersiap untuk menyatukan tubuh mereka secara paksa, Keyla menjeritkan satu kata yang menembus kabut mabuk di otak Dipta.
"AYAH! TOLONG!"
Teriakan lirih namun penuh keputusasaan itu seolah menjadi siraman air es bagi Dipta. Tepat saat ia akan melakukan tindakan yang tak akan pernah bisa ditarik kembali, matanya menangkap ekspresi wajah Keyla.
Gadis itu tidak lagi melawan. Ia hanya terbaring diam, matanya terpejam erat dengan air mata yang terus mengalir, dan tubuhnya yang kecil tampak begitu rapuh di bawah tubuh besarnya. Keyla terlihat seperti seseorang yang sudah mati di dalam.
Dipta membeku. Denyut jantungnya yang liar perlahan melambat. Ia menatap tangannya yang masih mencengkeram bahu Keyla hingga membekas biru. Kilasan ingatannya tentang wanita-wanita penghibur yang ia perlakukan kasar menghilang, berganti dengan bayangan Keyla yang tertawa di kafe seminggu yang lalu.
"Sial..." umpat Dipta pelan.
Ia segera menjauhkan tubuhnya, berdiri dengan sempoyongan, dan mencoba merapikan pakaiannya yang berantakan. Ia menatap Keyla yang masih meringkuk ketakutan di sofa, mencoba menutupi tubuhnya yang terbuka dengan sisa-sisa kain jubahnya.
"Keyla... aku..." Dipta mencoba mendekat, namun Keyla langsung berteriak histeris.
"JANGAN MENDEKAT! PERGI! AKU BENCI ANDA! AKU MEMBENCIMU LEBIH DARI APA PUN!"
Dipta terdiam, rasa mual bukan karena alkohol kini menyerang ulu hatinya. Ia melihat kehancuran di mata gadis yang katanya ingin ia "lindungi". Tanpa sepatah kata pun, Dipta berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya, membanting pintu dengan keras, meninggalkan Keyla yang tergugu dalam tangis di kegelapan ruang tamu.
Keyla merangkak turun dari sofa dengan kaki yang terasa lemas seperti jeli. Setiap inci kulitnya yang baru saja disentuh kasar oleh Dipta terasa panas dan kotor. Dengan tangan gemetar, ia merapatkan sisa jubah tidurnya yang robek, mencoba menutupi tubuhnya yang seolah baru saja dihantam badai.
Langkah kakinya terseret di atas lantai marmer yang dingin. Ia tidak berani menoleh ke belakang, takut jika pria monster itu akan berubah pikiran dan menyeretnya kembali.
Begitu mencapai pintu kamarnya, Keyla masuk dan langsung memutar kunci dua kali. Tidak cukup dengan itu, ia mendorong sebuah kursi berat di depan pintu, napasnya tersengal-sengal, memburu seiring dengan tangisnya yang pecah tanpa suara.
Ia merosot di balik pintu, membenamkan wajah di lututnya. Bayangan wajah Dipta yang merah karena alkohol dan tatapan liarnya terus terngiang.
"Ayah... kenapa Ayah melakukan ini padaku?" bisiknya lirih di antara isak tangis yang menyesakkan dada.
Ia merasa terhina. Bukan hanya karena perlakuan fisik Dipta, tapi karena kesadaran bahwa di mata pria itu, ia memang benar-benar hanya sebuah barang yang bisa diperlakukan sesuka hati. Tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang biasa Dipta beli di kelab malam.
Keyla bangkit dan tertatih menuju kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air dengan suhu paling dingin yang bisa ia tahan. Ia berdiri di bawah kucuran air, masih dengan pakaian yang robek, membiarkan air menghapus bekas air mata dan keringat Dipta dari kulitnya.
Ia menggosok lengannya dengan kasar, terutama di bagian yang memerah bekas cengkeraman tangan Dipta. Ia ingin menghilangkan rasa sesak ini, tapi semakin ia menggosok, semakin ia teringat bagaimana kuatnya tenaga pria itu.
"Aku harus pergi dari sini," gumamnya dengan bibir yang membiru karena kedinginan. "Aku tidak bisa menikah dengannya. Dia akan membunuhku pelan-pelan."
Setelah mengganti pakaian dengan piama yang paling tertutup, Keyla meringkuk di atas tempat tidur besar itu. Ia tidak mematikan lampu. Ia membiarkan seluruh kamar terang benderang, matanya terus terjaga menatap pintu yang terkunci rapat.
Setiap suara kecil dari luar—suara AC atau gemerisik angin di jendela—membuatnya tersentak kaget. Ia merasa seperti buruan yang sedang menunggu pagi hari tiba untuk melihat apakah sang pemangsa masih ada di sana.
***
Bersambung...