"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdagangan di Ruang VIP
Dunia Nathan runtuh. Pemutusan kerja sama dari Allegra Group adalah hukuman mati bagi perusahaannya. Putus asa dan kehilangan akal sehat, Nathan tidak lagi melihat Kyra sebagai istri, melainkan sebagai koin terakhir untuk berjudi.
"Dandani dirimu seindah mungkin, Kyra. Malam ini kita bertemu Tuan Wijaya. Ini satu-satunya cara agar ibumu tetap punya atap di kepalanya!" ancam Nathan, mengabaikan fakta bahwa ia sedang menyeret istrinya ke sarang serigala.
Kyra, yang belum tahu bahwa ibunya sudah aman di Singapura, hanya bisa menuruti dengan air mata yang ia telan dalam-dalam. Ia memakai gaun hitam yang elegan namun terasa seperti kain kafan baginya.
Club VIP "The Abyss", Pukul 23.00 WIB.
Suasana ruangan VIP itu sangat eksklusif, namun bagi Kyra, bau cerutu dan alkohol di sana terasa menyesakkan. Tuan Wijaya—seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan mata yang terus memelototi dadanya—sudah menunggu.
"Ah, Nathan. Kamu memang tahu cara menyenangkan rekan bisnismu," gumam Wijaya sambil menjilat bibirnya.
Nathan tertawa menjilat. "Tentu, Tuan. Saya tinggal dulu sebentar ke toilet. Silakan nikmati waktu kalian."
Begitu Nathan melangkah keluar, terdengar suara klik yang dingin. Pintu itu dikunci dari luar. Kyra tersentak, ia berlari menuju pintu namun gagangnya tidak bisa diputar.
"Mas! Mas Nathan! Buka!" teriak Kyra panik.
"Percuma, Manis. Dia sudah menyerahkanmu padaku sebagai ganti rugi kontrak yang gagal," Wijaya berdiri, melepaskan ikat pinggangnya.
"Jangan mendekat! Saya lapor polisi!" teriak Kyra, namun Wijaya sudah lebih dulu menerjangnya.
Kyra melawan dengan sisa tenaganya, ia mencakar wajah Wijaya. Plakk! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kyra hingga sudut bibirnya robek dan berdarah. Tubuh kecilnya terdorong ke sofa beludru.
"Jangan jual mahal! Suamimu saja sudah tidak menginginkanmu!" Wijaya menindih tubuh Kyra, merobek bagian bahu gaun Kyra hingga kainnya terjuntai.
Kyra menangis sejadi-jadinya, meronta saat mulut menjijikkan Wijaya mulai menciumi lehernya dengan paksa. Ia merasa dunianya berakhir malam ini. Ia merasa dikhianati oleh setiap pria yang pernah ia kenal—kecuali satu nama yang ia sebut dalam hatinya.
Juno... tolong aku...
BRAKK!
Bukan pintu depan yang terbuka, melainkan pintu rahasia di balik rak buku yang merupakan akses VIP khusus pemilik club. Empat pria berbadan tegap masuk, dan di tengah-tengah mereka, berdiri Herjuno Allegra dengan mata yang memancarkan aura membunuh.
Melihat Kyra yang robek bajunya dan berdarah di bibir, Juno kehilangan kendali diri.
"LEPASKAN DIA!" suara Juno menggelegar seperti guntur.
Sebelum Wijaya sempat bereaksi, Juno sudah melompat. Ia meraih botol minuman keras yang ada di meja dan menghantamkannya tepat ke kepala Wijaya. PRANG! Wijaya langsung ambruk tak sadarkan diri di atas lantai yang dingin.
Juno tidak berhenti. Ia ingin terus menghajar pria itu, namun suara isakan Kyra menghentikannya.
"Juno... hiks... Juno..."
Juno segera melepas jas mahalnya, menyampirkannya ke bahu Kyra yang terbuka, menutupi tubuh wanita itu sepenuhnya. Ia menggendong Kyra dengan protektif, mendekapnya erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Aku di sini, Ra. Maafkan aku... aku telat beberapa detik," bisik Juno dengan suara yang sangat dalam dan penuh penyesalan.
Juno memberi kode pada anak buahnya. "Urus sampah ini. Dan pastikan Nathan tidak tahu siapa yang datang. Biarkan dia mengira istrinya kabur."
Juno membawa Kyra keluar lewat jalur pribadi menuju mobilnya yang sudah menunggu. Di luar, Nathan masih berdiri di depan pintu utama, menanti "hasil" transaksi dengan wajah gelisah, sama sekali tidak tahu bahwa istrinya baru saja dibawa pergi oleh pria yang kekuasaannya ribuan kali lipat darinya.
Namun, di dalam mobil yang melaju kencang, Kyra tidak tenang. Ia meringkuk di pojok kursi, memeluk jas Juno seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra. Matanya kosong, bibirnya yang berdarah terus bergumam pelan.
"Aku kotor, Jun... Dia menyentuhku... Nathan menjualku... Dia suamiku, tapi dia menjualku seperti barang..."
"Enggak, Ra. Kamu enggak kotor. Kamu korban," sahut Juno, tangannya berusaha meraih jemari Kyra, namun Kyra justru menarik diri, ketakutan.
Begitu sampai di penthouse, Juno segera menghubungi dokter pribadinya. "Dokter, segera ke sini. Ada luka fisik dan... trauma berat. Cepat!"
Namun, saat Juno sedang berbicara di telepon, Kyra berjalan dengan langkah limbung menuju kamar mandi. Ia mengunci pintu dari dalam sebelum Juno sempat mencegahnya.
Di dalam kamar mandi, Kyra menyalakan shower dengan suhu paling dingin. Ia tidak melepas pakaiannya yang robek; ia membiarkan air mengguyur seluruh tubuhnya. Di bawah kucuran air, Kyra mulai menangis histeris. Ia mengambil sabun dan mulai menggosok lehernya—tempat di mana bibir menjijikkan Wijaya tadi menempel—dengan sangat kasar.
"Pergi! Hilang! Najis!" jerit Kyra.
Ia menggosok kulit lehernya menggunakan kuku hingga memerah dan lecet. Ia merasa seolah bau Wijaya dan bau busuk pengkhianatan Nathan masih menempel di pori-porinya.
"Aku jijik! Aku benci diriku sendiri!" teriaknya lagi, disusul jeritan pilu yang menyayat hati.
Juno yang berdiri di depan pintu kamar mandi bisa mendengar setiap jeritan dan suara gesekan kulit itu. Hati Juno terasa seperti diremas tangan tak kasat mata. Ia tidak tahan. Dengan satu tendangan kuat, Juno mendobrak pintu kamar mandi itu.
Ia melihat Kyra terduduk di lantai shower, basah kuyup, dengan leher yang sudah hampir berdarah karena terus digosok.
"Kyra! Berhenti!" Juno menerjang masuk, tidak peduli bajunya ikut basah. Ia menangkap kedua tangan Kyra yang masih berusaha menggosok lehernya.
"Lepas, Juno! Aku kotor! Biarkan aku bersih-bersih!" Kyra meronta, matanya liar penuh trauma. "Nathan menjualku... Dia bilang aku cuma barang... Aku nggak pantas buat kamu, Juno!"
Juno menarik Kyra ke dalam pelukannya di bawah guyuran air shower. Ia membiarkan Kyra memukul dadanya, membiarkan Kyra meronta sampai tenaganya habis.
"Dengar aku, Kyrania Ruella!" suara Juno menggelegar, namun penuh getaran emosi. "Kamu tidak pernah kotor. Sedetik pun tidak! Yang kotor itu Nathan! Yang najis itu Wijaya! Kamu tetap dewi yang aku puja sejak kita di sungai dulu. Kamu suci, Ra... Darahmu suci!"
Kyra akhirnya lemas. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Juno, tangisnya berubah menjadi isakan kecil yang memilukan. "Tapi dia menyentuhku, Jun... hiks... rasanya jijik sekali..."
Juno mematikan kran air, lalu mengambil handuk besar dan membungkus tubuh Kyra. Ia menggendong Kyra keluar, mendudukkannya di tepi tempat tidur. Dengan sangat lembut, Juno mengambil kapas dan cairan antiseptik, lalu mulai membersihkan luka di sudut bibir Kyra dan lecet di lehernya.
"Sakit?" tanya Juno lembut saat kapas itu menyentuh luka Kyra.
Kyra menggeleng pelan. "Lebih sakit di sini, Jun," ia menunjuk dadanya.
Juno menatap mata Kyra, lalu ia mencium keningnya lama sekali. "Mulai besok, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu tanpa izinmu. Aku akan memastikan Nathan Sagara memohon kematian karena sudah berani memperlakukanmu seperti ini."
Juno mengambil ponselnya, ia melihat pesan masuk dari asistennya: 'Ibu Kyrania sudah mendarat di Singapura, sedang dalam perjalanan ke Mount Elizabeth.'
"Ra, lihat aku," Juno menunjukkan pesan itu. "Ibumu aman. Kamu tidak perlu takut lagi pada ancaman pria itu. Kamu bebas."
Kyra menatap layar ponsel itu, lalu menatap Juno. Untuk pertama kalinya setelah malam yang mengerikan itu, secercah harapan muncul di matanya. Namun, rasa sakit akibat dikhianati suami sendiri masih menyisakan trauma mendalam.
"Juno... jangan tinggalkan aku malam ini," bisik Kyra ketakutan.
"Aku tidak akan pernah pergi, Ra. Aku sudah menunggumu belasan tahun, aku tidak akan membiarkanmu sendirian sekarang," janji Juno. Ia menyelimuti Kyra, menjaganya sampai dokter datang, sementara di dalam kepalanya, rencana penghancuran Nathan Sagara sudah berjalan dengan kecepatan penuh.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/