NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Hari ini adalah akhir pekan, waktu yang seharusnya menjadi jeda dari hiruk-pikuk dunia. Namun, bagi Kevin, akhir pekan hanyalah perpindahan lokasi kerja. Ia duduk di kebun belakang mansion yang asri, dikelilingi tanaman hias yang tertata simetris.

Di depannya, sebuah laptop menyala, menampilkan deretan angka dan teori ekonomi yang seolah menari-nari mengejeknya. Kevin sibuk dengan tugas kuliahnya, mencoba fokus meski pikirannya sering kali teralihkan oleh bayangan Ashley yang cukup 'penurut' semalam.

​Di sisi lain mansion, Ashley juga tidak bersantai. Wanita itu langsung menghilang di balik pintu kayu jati besar ruang kerjanya, menenggelamkan diri di antara tumpukan dokumen laporan kuartal keuangan Giotech C&T.

Hubungan mereka sering kali terasa seperti dua planet yang mengorbit matahari yang sama namun jarang bersinggungan.

​Kevin bersandar di kursinya, menatap langit biru, lalu menghela napas berat. "Ugh, kenapa kuliah seberat ini? Rasanya otakku mau pecah," gumamnya pada diri sendiri.

​Saat matahari mulai berada di puncak kepala, rasa panas mulai menyengat kulitnya. Kevin memutuskan untuk masuk. Ia memindahkan "kantor daruratnya" ke perpustakaan mansion.

Di sana, ia mengandalkan beberapa buku referensi langka dan dokumen lama milik Ashley yang diarsipkan di salah satu sudut ruangan. Saat sedang asyik membolak-balik halaman, ponselnya berdering.

​Bukan telepon, melainkan notifikasi dari aplikasi baca manga. Judul favoritnya baru saja mengumumkan hiatus. Kevin tertegun menatap layar ponselnya. Ia baru sadar, entah sudah berapa lama ia tidak menyelami hobinya. Sejak memulai kuliah dan dibombardir dengan tugas yang menumpuk, lalu ekspektasi Ashley agar Kevin bisa mengambil alih C&T suatu saat nanti, hidupnya seolah terenggut. Ia bukan lagi Kevin sang remaja yang suka berandalan dan membaca komik; ia adalah "suami" dari seorang ratu bisnis.

​Merasa jenuh, Kevin menutup laptopnya. Ia memutuskan kembali ke kamar utama untuk mengambil sesuatu, namun langkahnya terhenti. Di sana, di atas ranjang king size yang biasanya tertata rapi, ia melihat pemandangan langka: Ashley sedang tidur terlelap.

​Kevin meletakkan laptopnya di meja rias Ashley yang penuh dengan produk kecantikan mahal. Ia mendekati ranjang dengan langkah sangat pelan, seolah takut lantai marmer itu akan berderit. Ia duduk di tepinya, menatap wajah Ashley yang tampak begitu tenang saat tidur-jauh dari kesan dingin dan mengancam yang biasanya ia tunjukkan di kantor.

​Kevin mengusap lembut rambut Ashley, lalu mencium pelipisnya dengan penuh kasih. Sentuhan itu ternyata cukup sensitif bagi Ashley. Ia terbangun perlahan, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya sebelum menangkap sosok Kevin di hadapannya.

​"Ah, kau di sini... bagaimana tugasmu?" suara Ashley terdengar serak, khas orang bangun tidur.

​"Aku sudah menyelesaikannya. Tapi tumben sekali kau tidur siang, Ash. Jangan bekerja terlalu keras, kesehatanmu lebih penting dari angka-angka itu," Kevin menasihati dengan nada lembut.

​"Hmm... aku tidak tahu. Aku hanya merasa sangat mengantuk dan lemas hari ini," jawab Ashley singkat.

​Kevin terkekeh, merasa situasi itu cukup lucu. Seorang Ashley Giovano yang dikenal sanggup terjaga semalaman di kantor demi kesepakatan bernilai miliaran, tiba-tiba menyerah pada kantuk di siang hari. "Ya sudah, tidur lagi saja. Aku akan keluar agar tidak mengganggumu."

​Namun, baru saja Kevin hendak beranjak, sebuah tangan yang lembut namun kokoh menggenggam pergelangan tangannya. Kevin menoleh, menatap Ashley yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Jangan pergi. Temani aku di sini," ucap Ashley dengan nada malas yang terdengar seperti sebuah perintah sekaligus permohonan.

​"Aku tidak ingin mengganggumu, Ash. Kau butuh istirahat total."

​Ashley menggeleng keras kepala. Ia bergeser sedikit, memberikan ruang kosong yang cukup luas di sampingnya. "Berbaringlah di sini. Itu perintah."

​Kevin hanya bisa menurut. Ia melepaskan alas kakinya dan naik ke atas ranjang, memeluk Ashley dari belakang. Ia memposisikan kepalanya di ceruk leher Ashley, menciumi bahu, tengkuk, dan pucuk kepala istrinya berkali-kali. Bau sampo apel yang segar bercampur dengan aroma alami tubuh Ashley selalu berhasil menenangkan saraf Kevin yang tegang.

​Tak butuh waktu lama bagi Ashley untuk kembali terlelap. Dalam pelukan Kevin, ia merasa menemukan tempat paling aman di dunia.

​Beberapa jam kemudian, suara rintik hujan yang mengetuk kaca jendela membangunkan Ashley. Langit sudah berubah kelabu. Ia menggeliat pelan, merasakan beban hangat di punggungnya. Kevin masih di sana, memeluknya erat dalam tidur yang sangat nyenyak.

​Ashley berbalik pelan agar tidak membangunkannya. Ia menatap wajah Kevin cukup lama, lalu terkekeh kecil melihat bibir suaminya yang sedikit terbuka. Ia menyadari sesuatu; Kevin tampak lebih dewasa sekarang. Rahangnya terlihat lebih tegas setelah ia memotong rambutnya beberapa waktu lalu. Ashley menjulurkan jarinya, menelusuri garis rahang itu, lalu naik ke ujung hidung Kevin.

​Sensasi menggelitik itu membuat Kevin mengerang kecil sebelum akhirnya membuka mata. "Ah, kau sudah bangun..." Kevin mengucek matanya dengan sebelah tangan. "Bagaimana tidurmu?"

​"Sangat nyenyak. Mengejutkan sekali aku bisa tidur selama ini," Ashley memeluk Kevin, membenamkan wajahnya di dada pria itu, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi candu baginya.

​Suasana romantis itu tiba-tiba terinterupsi. Ponsel Kevin yang tergeletak di meja nakas bergetar hebat.

Kevin meraihnya dengan malas, mengira itu adalah pesan dari Mike atau grup kelas.

​Namun, saat melihat nama yang tertera di layar, Kevin justru menaikkan alisnya. Nama yang selalu ingin ia hubungi tapi selalu ditolak selama setahun terakhir ini.

​Ibu.

​Kevin tertegun. Ashley menyadari perubahan raut wajah suaminya. "Ada apa? Siapa yang menelepon?"

​"Ibuku..." suara Kevin bergetar. "Dia tidak pernah menjawab teleponku sejak setahun lalu. Kenapa tiba-tiba sekarang?"

​Kevin menggeser tombol hijau. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.

​"Halo?"

​"Kevin..." Suara di seberang sana terdengar parau dan penuh tangis. "Kevin, bagaimana kabarmu, nak? Kau baik-baik saja kan?"

​Kevin memejamkan mata, mencoba menetralkan badai emosi yang bergejolak di dadanya. Suara di seberang telepon itu-suara yang dulu memberinya kehangatan, namun juga suara yang terakhir kali ia dengar saat ia "diserahkan" seperti barang dagangan demi melunasi utang.

​"Ya, aku baik-baik saja, Bu..." jawab Kevin akhirnya. Suaranya rendah, hampir berbisik agar tidak mengganggu suasana tenang di kamar, meski ia tahu Ashley sedang memasang telinga lebar-lebar.

​Keheningan menyelimuti sejenak, hanya terdengar isak kecil yang tertahan dari seberang sana.

​"Apakah... apakah istrimu memperlakukanmu dengan baik, Nak? Dia tidak menyiksamu, kan?" tanya ibunya dengan nada yang sangat khawatir. Ia tahu betul siapa Ashley Giovano-wanita yang reputasinya sebagai "Singa Betina Giotech" mampu membuat nyali siapa pun menciut. Di mata ibunya, Kevin mungkin sedang hidup dalam sangkar emas yang dingin dan penuh ancaman.

​Kevin merasakan pelukan Ashley di dadanya sedikit mengencang saat kata "menyiksa" disebut, seolah wanita itu bisa mendengar percakapan mereka. Kevin mengusap punggung Ashley untuk menenangkannya, lalu menjawab, "Tidak, Bu. Aku baik-baik saja. Aku hidup dengan sangat nyaman setelah menikahinya. Ashley... dia menjagaku lebih dari yang Ibu bayangkan."

​Mendengar pengakuan jujur itu, Kevin bisa mendengar ibunya menghela napas lega, sebuah beban berat seolah terangkat dari pundaknya. "Syukurlah... Maafkan Ibu, Kevin. Ibu tidak berani menerima panggilanmu atau menghubungimu selama setahun ini. Ibu terlalu takut untuk mendengar suaramu karena Ibu pikir kau pasti sangat membenci kami. Ibu pikir kau akan terus menyalahkan kami karena harus menikah dengan orang asing demi kesalahan ayahmu."

​"Sudahlah, Bu. Itu semua sudah berlalu," potong Kevin dengan nada yang lebih lembut, mencoba meredam rasa bersalah sang ibu. "Aku tidak menyesalinya sekarang. Hanya saja... aku sempat sangat kecewa dengan cara Ayah menyelesaikan masalahnya. Tapi, bagaimana keadaan Ayah sekarang? Dia tidak kembali ke kebiasaan lamanya, kan? Dia tidak berjudi lagi?"

​"Tidak, Kev. Sama sekali tidak," suara ibunya terdengar getir. "Ayahmu berubah menjadi pendiam sejak hari kau pergi meninggalkan rumah menuju keluarga Giovano. Dia menjual ponselnya, seolah ingin memutuskan hubungan dengan dunia luar. Kami menghabiskan waktu dengan sibuk bertani di ladang sepanjang hari, hanya untuk mengalihkan pikiran agar tidak terus mengingat betapa hampa rumah ini tanpamu."

​"Hm, baguslah kalau Ayah sudah berubah..." jawab Kevin singkat. Suasana canggung kembali menyelimuti. Setahun adalah waktu yang lama untuk sebuah jarak yang tercipta karena rasa malu dan benci.

​"Kev..." panggil ibunya lagi, kali ini nadanya terdengar lebih memohon. "Apakah kau punya waktu untuk kemari? Bisakah kau berkunjung sebentar saja? Kami... kami sangat merindukanmu, putra ku."

​Kevin terdiam, melirik ke arah Ashley yang kini sudah terduduk di sampingnya. Mata Ashley yang tajam menatap Kevin dengan tatapan menuntut. Meskipun Ashley tidak bisa mendengar seluruh detail percakapan, dia bisa menangkap intonasi Kevin yang melembut. Bagi Ashley yang sedang labil, kelembutan Kevin kepada orang lain-bahkan ibunya sendiri-terasa seperti ancaman bagi atensinya yang sedang tinggi.

​"Siapa yang merindukanmu?" bisik Ashley dingin, suaranya cukup keras untuk didengar oleh ibu Kevin di telepon.

​Kevin tersentak, ia segera menutup lubang mik ponselnya dengan tangan. "Hanya Ibu, Ash. Dia ingin aku berkunjung ke rumah."

​Ashley tidak menjawab, namun wajahnya mendadak mendung. Ia menarik kembali tangannya yang tadi melingkar di pinggang Kevin dan membuang muka. "Oh, jadi kau mau pergi? Kau mau meninggalkanku di sini saat aku sedang merasa tidak enak badan?"

​"Ash, bukan begitu..."

​"Kev? Siapa itu? Apa itu istrimu?" suara ibu Kevin kembali terdengar di telepon, penuh rasa sungkan. "Maaf kalau Ibu mengganggu waktu kalian. Ibu hanya... Ibu hanya terlalu merindukanmu."

​Kevin terjepit di antara dua kepentingan. Di satu sisi, ada ibunya yang sudah setahun memendam rindu dan penyesalan di desa. Di sisi lain, ada istrinya yang luar biasa dominan namun tiba-tiba menjadi sangat rapuh dan manja sore ini.

​"Bu, aku akan bicarakan ini dulu dengan Ashley, ya? Nanti aku hubungi lagi," ucap Kevin berusaha mengakhiri panggilan dengan sopan.

​"Baiklah, Nak. Jaga dirimu. Ibu menyayangimu."

​Setelah panggilan berakhir, Kevin menaruh ponselnya di nakas. Ia menatap punggung Ashley yang kini membelakanginya, terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk. Hujan di luar semakin deras, menciptakan suasana melankolis di dalam kamar mewah itu.

​"Ash..." Kevin mendekat, mencoba menyentuh bahu Ashley.

​"Jangan sentuh aku," gumam Ashley, suaranya terdengar serak. "Pergi saja ke tempat ibumu. Pergi saja dan biarkan aku sendirian di sini."

​Kevin menghela napas, ia menyadari bahwa menghadapi Ashley yang sedang emosional jauh lebih sulit daripada mengerjakan tugas ekonomi tersulit sekalipun. Ia tahu, di balik kemarahan itu, Ashley sebenarnya hanya ingin divalidasi dan diperhatikan.

​"Aku tidak bilang akan pergi sekarang, Ash," bisik Kevin, ia tetap nekat memeluk Ashley dari belakang, menenggelamkan wajahnya di rambut harum istrinya. "Kenapa kau jadi begini? Kau biasanya sangat rasional."

​Ashley berbalik dengan cepat, matanya sedikit berkaca-kaca-sebuah pemandangan yang hampir mustahil terjadi pada Ashley yang biasanya. "Aku tidak tahu! Aku hanya merasa kau akan pergi meninggalkanku."

​Kevin tertegun. Apakah ini benar-benar hanya efek kelelahan kerja, atau ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi di dalam tubuh Ashley?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!