Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Samudra Darah dan Ujian Kesabaran
Perjalanan menuju benua seberang bukanlah perkara mudah. Ranu, Ki Sastro, dan Ki Ageng Jagat kini berada di atas sebuah kapal kayu besar yang telah diperkuat dengan rajah pelindung oleh Ki Ageng.
Di depan mereka membentang Samudra Darah, sebuah wilayah perairan yang airnya berwarna merah pekat bukan karena darah sungguhan, melainkan karena tingginya kandungan mineral purba dan energi negatif yang terjebak di dasar laut.
"Den Ranu, apakah kita benar-benar harus melewati jalur ini?" tanya Ki Sastro sambil berpegangan erat pada pinggiran kapal. Wajahnya agak kehijauan karena mabuk laut. "Hamba merasa perut hamba lebih kacau daripada saat melawan bandit-bandit Mahesa."
Ranu, yang sedang duduk santai di ujung haluan kapal sambil memancing—menggunakan benang cahaya tanpa kail—menoleh sedikit. "Sastro, jika kau ingin menjadi pendekar tingkat tinggi, kau harus bisa menaklukkan perutmu sendiri. Anggap saja guncangan ombak ini seperti tarian bidadari langit yang sedang mengajakmu bercanda."
"Bercanda bagaimana, Den? Bidadarinya seolah-olah ingin mencabut nyawa hamba lewat tenggorokan!" keluh Sastro sebelum akhirnya kembali muntah ke arah laut.
Ki Ageng Jagat yang sedang bermeditasi di tengah kapal membuka matanya. "Gusti Ranu, hamba merasakan ada sesuatu yang mendekat dari bawah permukaan. Energinya sangat tajam, mirip dengan hawa pedang yang kita temukan di gerbang kota."
Ranu menarik benang cahayanya. "Kau benar, Pak Tua. Sepertinya salah satu dari Tujuh Bayangan itu sudah tidak sabar untuk menyapa kita. Mereka pikir menyerang di tengah laut adalah ide yang cemerlang."
Tiba-tiba, air laut yang merah itu terbelah. Sebuah ledakan air membubung tinggi, dan dari dalamnya melesat sesosok pria yang mengenakan jubah abu-abu dengan topeng perak menutupi wajahnya. Pria itu berdiri di atas air seolah-olah tanah padat. Di tangannya terdapat sepasang pedang pendek yang melengkung.
"Wira Candra!" teriak pria itu, suaranya bergema menembus suara ombak. "Aku adalah Bayangan Ketujuh: Sang Pembelah Ombak. Kepalamu adalah tiket bagiku untuk naik ke Alam Dewa!"
Ranu berdiri, merapikan jubah birunya yang sedikit basah terkena percikan air. "Naik ke Alam Dewa? Dengan kemampuan berdiri di atas air saja? Paman, kau butuh lebih dari sekadar kursus berenang untuk bisa melihat gerbang langit."
"Jangan banyak bicara, bocah!" Sang Pembelah Ombak menerjang. Ia bergerak secepat kilat, menciptakan pusaran air raksasa di sekeliling kapal. Pedang pendeknya menebas dengan kecepatan yang tak kasat mata.
TRANG! TRANG! TRANG!
Ki Ageng Jagat mencoba menghalau dengan tongkatnya, namun ia terlempar mundur oleh tekanan energi yang begitu besar. "Gusti, dia memiliki tetesan darah dewa! Kekuatannya berada di puncak Ranah Setengah Dewa!"
Ranu melangkah maju. Saat pedang sang bayangan hendak membelah dadanya, Ranu hanya menggunakan dua jarinya untuk menjepit bilah pedang tersebut.
"Teknikmu lumayan, tapi niatmu kotor," ucap Ranu dingin. "Kau meminjam kekuatan dari Amangkrat yang bahkan tidak berani turun sendiri ke bumi. Itu artinya, kau hanyalah budak dari seorang pengecut."
"Tutup mulutmu!" Sang Pembelah Ombak melepaskan energi ledakan dari tubuhnya.
Ranu tidak bergeming. Bintang kelima di punggungnya bersinar terang, menciptakan perisai transparan yang menelan seluruh ledakan tersebut. "Sastro, pegangan yang kuat. Aku akan meminjam air ini sebentar."
Ranu mengangkat tangan kanannya ke langit. "Jurus Bintang Kelima: Arus Pembalik Takdir!"
Seketika, samudera merah di sekeliling mereka berhenti bergejolak. Dalam satu detik berikutnya, air laut itu naik ke atas, membentuk naga raksasa yang melilit tubuh Sang Pembelah Ombak. Pria bertopeng itu meronta, namun air tersebut kini memiliki berat seperti ribuan ton besi.
"Wira Candra... kau... kau benar-benar telah memulihkan otoritasmu!" rintih Sang Pembelah Ombak sebelum akhirnya tubuhnya remuk oleh tekanan air dan ia tenggelam ke dasar samudera paling dalam.
Suasana kembali tenang. Kapal kembali melaju dengan normal. Ki Sastro terduduk lemas di dek kapal.
"Den Ranu... itu tadi mengerikan sekali," bisik Sastro.
Ranu kembali duduk di posisinya semula dan mulai memancing lagi. "Itu baru bayangan ketujuh, Sastro. Yang terlemah di antara mereka. Masih ada enam lagi, dan mereka pasti sedang menunggu kita di daratan benua seberang."
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya, Den?" tanya Ki Ageng Jagat.
Ranu menatap ufuk barat di mana matahari mulai tenggelam. "Kita akan menuju Kuil Matahari Tenggelam. Di sana terdapat Lonceng Sukma, kunci untuk membuka bintang keenamku. Tapi aku merasa, di kuil itu, bukan hanya para bayangan yang menunggu, tapi juga bagian dari ingatanku yang sengaja dikunci oleh pengkhianat itu."
Ranu kemudian menoleh ke arah tas bekal milik Sastro. "Tapi sebelum itu... Sastro, apakah kau masih punya sisa dendeng sapi? Bertarung dengan air tadi membuatku merasa sangat lapar."
Ki Sastro hanya bisa menghela napas panjang sambil merogoh tasnya. "Dewa atau manusia, sepertinya Anda memang tidak bisa dipisahkan dari urusan perut, Den Ranu."
Kapal terus membelah samudera merah, menuju daratan asing yang penuh dengan misteri dan bahaya. Ranu Wara, atau Sang Hyang Wira Candra, kini semakin dekat dengan kekuatannya yang sesungguhnya. Namun, ia juga tahu bahwa setiap bintang yang terbuka akan membawa tanggung jawab dan musuh yang jauh lebih kuat.
......................