melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah yang tak pernah pergi
Hujan malam itu belum benar-benar berhenti ketika Wulan turun dari angkot di ujung gang sempit tempat ia dan Melda dulu tinggal. Jalanan becek, lampu temaram, suara televisi dari rumah-rumah kecil bercampur dengan aroma gorengan dari warung ujung jalan.
Sudah lama Wulan tidak kembali.
Apartemen yang dulu ia tempati bersama Agung terasa seperti dunia lain. bersih, terang, jauh dari suara seng bocor saat hujan. Kini ia berdiri lagi di depan rumah petak berdinding papan yang catnya mulai mengelupas.
Ia menarik napas, lalu mengetuk pintu.
Pintu terbuka pelan. Melda berdiri di sana dengan kaus longgar dan rambut diikat asal. Wajahnya terkejut.
“Kak…?”
Wulan tidak sanggup menjawab. Matanya sudah lebih dulu basah.
Melda langsung menariknya masuk tanpa banyak tanya.
Rumah itu masih sama. Ruang tamu kecil yang sekaligus jadi ruang tidur, tikar digelar di lantai, lemari kayu tua di sudut ruangan. Atap seng di beberapa bagian ditambal plastik agar tidak bocor.
“Kamu kenapa balik? Apartemenmu gimana?” tanya Melda hati-hati.
Wulan menunduk. “Aku sudah nggak tinggal di sana.”
Melda terdiam. Ia tidak perlu penjelasan panjang. Dari mata kakaknya, ia tahu sesuatu besar telah runtuh.
“Makan dulu,” ucap Melda pelan. “Tadi aku masak sayur bening sama tempe goreng. Sederhana… tapi masih hangat.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Wulan sesak. Setelah semua kemewahan semu yang sempat ia rasakan, yang ia rindukan justru hal seperti ini. makan bersama di lantai, kipas angin berdecit, suara motor lewat depan rumah.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Agung pergi, Wulan tidak tidur sendirian. Ia tidur di sebelah Melda, di atas tikar tipis, dengan suara hujan mengetuk seng.
Dan anehnya, ia merasa sedikit lebih tenang.
Keesokan harinya realitas menamparnya.
Melda bangun pagi-pagi sekali untuk berjualan gorengan di depan gang. Ia sudah melakukannya sejak ibu mereka meninggal dua tahun lalu.
Wulan bangun dan melihat adiknya sibuk mengiris tahu dan mencampur adonan tepung.
“Kamu tiap hari begini?” tanya Wulan lirih.
Melda tersenyum kecil. “Kalau nggak begini kita makan apa, Kak?”
Jawaban itu membuat Wulan merasa bersalah. Selama ini ia tenggelam dalam dunianya bersama Agung, menikmati fasilitas yang bahkan tak pernah ia impikan, sementara Melda berjuang sendirian menjaga rumah.
“Aku bantu,” kata Wulan tiba-tiba.
Melda mengangkat alis. “Kamu? Tanganmu biasa pegang laptop, bukan wajan panas.”
Wulan tersenyum tipis. “Sekarang pegang wajan juga bisa.”
Dan sejak pagi itu, hidup mereka berubah pelan-pelan.
Hari-hari berikutnya diisi dengan kerja keras. Wulan membantu berjualan, lalu mencari pekerjaan tambahan. Ia mencoba melamar sebagai admin toko, asisten di percetakan kecil, bahkan pernah hampir diterima sebagai kasir minimarket.
Tidak mudah.
Beberapa orang mengenal wajahnya dari unggahan lama di media sosial saat ia masih bersama Agung dan foto restoran mahal, pakaian bagus. Mereka berbisik-bisik.
“Dulu kelihatan kaya, kok sekarang begini?”
Wulan menahan malu. Ia tidak menjelaskan apa-apa.
Suatu malam, saat mereka menghitung hasil jualan yang tak seberapa, Melda berkata pelan, “Kak… kamu nggak menyesal?”
“Menyesal apa?”
“Menyesal ninggalin hidup enak itu.”
Wulan terdiam lama.
“Aku nggak pernah punya hidup enak itu mel. Itu cuma numpang. Yang ini…” Ia melihat rumah kecil mereka. “Ini hidupku yang sebenarnya.”
Melda menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya sejak Wulan pulang, mereka tertawa bersama.
Di kota lain, Agung mengetahui kabar tentang Wulan.
Bukan dari Wulan langsung, tapi dari seseorang yang diam-diam masih ia minta mengawasi dari jauh, memastikan Wulan aman.
“Dia sudah pindah. Kembali ke rumah lamanya. Kondisinya… sederhana.”
Agung menutup mata. Hatinya seperti diremas.
Ia membayangkan Wulan kembali ke rumah sempit, membantu berjualan di pinggir jalan. Sementara ia masih berada di gedung tinggi, duduk di ruang rapat berpendingin udara.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya kehilangan cinta namun ia juga merasa gagal sebagai lelaki.
Malam itu ia berdiri di balkon apartemennya yang luas, menatap kota dengan cahaya gemerlap.
Ia sadar satu hal. jika ia benar-benar mencintai Wulan, ia tidak bisa hanya menjauh dan bersembunyi. Ia harus memastikan tidak ada lagi ancaman. Ia harus memutus bayang-bayang keluarganya sepenuhnya.
Dan itu berarti pertarungan yang lebih besar.
Sementara itu, kehidupan Wulan dan Melda semakin kompak.
Mereka mulai berinovasi kecil-kecilan. Wulan membuat poster sederhana dan mengunggah jualan gorengan mereka ke media sosial. Ia memberi nama usaha kecil itu: “Dapur Dua Saudari.”
Tak disangka, beberapa mahasiswa kos di sekitar gang mulai memesan dalam jumlah banyak. Penghasilan mereka perlahan naik.
Suatu sore, saat mereka duduk lelah setelah jualan habis, Melda berkata, “Kak… aku senang kamu pulang.”
Wulan tersenyum. “Aku juga senang kamu nggak pernah menyerah sama hidup.”
Melda menggeleng. “Bukan cuma soal hidup. Aku takut kehilangan kamu. Waktu kamu pergi dulu, rasanya kayak rumah ini ikut kosong.”
Kalimat itu membuat mata Wulan berkaca-kaca.
Ia memeluk adiknya erat.
“Aku nggak akan ninggalin kamu lagi,” bisiknya.
Dan kali ini, janji itu bukan janji rapuh seperti dulu. Itu janji yang lahir dari kesadaran.
Beberapa bulan berlalu.
Usaha kecil mereka berkembang cukup untuk memperbaiki atap yang bocor. Mereka membeli kompor baru. Bahkan bisa menyisihkan sedikit uang tabungan.
Wulan berubah. Ia tidak lagi perempuan yang menunggu pesan dari seseorang yang jauh. Ia menjadi perempuan yang bangun sebelum matahari, yang tangannya bau minyak goreng, yang tersenyum tulus pada pelanggan.
Namun jauh di dalam hatinya, cinta pada Agung belum padam.
Suatu malam, ketika listrik padam dan mereka duduk di depan rumah ditemani cahaya lilin, Melda bertanya pelan, “Kalau suatu hari dia datang lagi, kamu gimana?”
Wulan menatap langit gelap.
“Kalau dia datang sebagai laki-laki yang benar-benar bebas, bukan bayangan keluarganya… aku akan dengar.”
“Dan kalau nggak?”
Wulan tersenyum lembut. “Aku tetap punya kamu. Aku tetap punya hidup yang harus kujalani.”
Melda menyandarkan kepala di bahu kakaknya.
Di gang sempit itu, di antara rumah-rumah sederhana dan suara jangkrik malam, dua saudari itu merasa lebih kuat daripada sebelumnya.
Cinta memang pernah membuat Wulan terbang tinggi.
Tapi kehilangan membuatnya pulang.
Dan di rumah kecil yang hampir runtuh itu, ia menemukan kembali sesuatu yang lebih kokoh dari kemewahan, ikatan darah, perjuangan, dan kebersamaan.
Jika suatu hari Agung benar-benar kembali, ia tidak akan menemukan Wulan yang rapuh.
Ia akan menemukan Wulan yang berdiri di samping wajan panas, dengan tangan kuat dan hati yang tidak lagi bergantung.
Dan di sampingnya, akan selalu ada Melda.
Karena sebelum menjadi perempuan yang dicintai seorang pria, Wulan adalah seorang kakak.
Dan sebelum ia belajar tentang cinta yang besar dan menyakitkan, ia sudah lebih dulu belajar tentang cinta yang sederhana, cinta dua saudari yang bertahan meski dunia tak pernah ramah.
Di rumah kecil itu, di bawah atap yang baru diperbaiki, Wulan tersenyum pada hidupnya yang sederhana.
Ia mungkin kehilangan Agung untuk sementara.
Tapi ia mendapatkan kembali keluarganya.
Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan mereka lagi.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.