Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
"Saya terima nikah dan kawinnya Zeanisa Azahra binti Abdul Aziz dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Rekaman suara yang diberikan Papanya 8 tahun yang lalu, kembali bergema di kepala Naka.
Brakk
Ia menendang nakas hingga beberapa barang yang ada di atasnya jatuh. Belum puas, ia tendang lagi sambil berteriak keras. Wanita di foto yang dikirimkan Jeremi adalah Zara, itu artinya, tak salah lagi, Zara adalah Zea.
"Bangsat kamu Ze, bangsat!"
Brakk brakk brakk
Lelah mengamuk, Naka terduduk di lantai, meremat dadanya yang terasa nyeri. Dulu, ia meyakinkan diri sendiri jika semua itu palsu, Zea tak mungkin secepat itu menikah setelah meninggalkannya. Tapi sekarang, ia percaya, mengingat sudah ada Arka yang duduk di kelas satu SD, yang kemungkinan berusia 7 tahun. Luka yang sudah hampir tertutup, kembali menganga lebar. Siapa yang tak sakit hati, ditinggal demi 1 milyar, dan satu bulan kemudian sudah menikah dengan orang lain.
Zea melanjutkan hidup dengan baik, sementara dia berkali-kali menjalin hubungan selalu gagal, gara-gara tak berhasil benar-benar mencintai kekasihnya, alias gagal move on. Dan sekarang, saat mereka bertemu kembali, Zea pura-pura tak mengenalnya. Memori beberapa tahun yang lalu kembali menari di kepala Naka.
"Lihatlah Naka, wanita yang kamu cintai, yang kamu bilang tulus, dia telah menikah dengan laki-laki lain. Kamu masih meratapinya," Very tersenyum kecut. "Sementara dia sudah memulai hidup baru, dengan laki-laki lain dan dengan uang 1 milyar. Wow, dia patut mendapatkan penghargaan pemeran wanita terbaik. Dia cocok jadi aktris," terkekeh pelan.
"Gak mungkin, itu pasti rekaman palsu. Aku tidak percaya Ze sudah menikah."
"Astaga Naka," Very geleng-geleng, menepuk-nepuk bahu Naka. "Cinta boleh, bodoh jangan. Wanita seperti dia tak pantas kamu cintai hingga seperti ini. Laki-laki tidak boleh menangis, apalagi hanya demi wanita murahan."
Telapak tangan Naka mengepal kuat, dadanya bergemuruh setiap mendengar Papanya menyebut Zea murahan. Ada rasa tak terima, meski mungkin memang seperti itu.
"Setelah bisa melihat nanti, kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih segalanya dari Zea, jadi tak usah kamu terlalu meratapi kepergiannya. Kalau saja kamu tahu, wajahnya juga sebenarnya tidak terlalu cantik, hanya imajinasi kamu saja yang terlalu ketinggian. Membayangkan dia secantik bidadari."
Naka hanya diam, dia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Keyakinanya masih kuat, Ze wanita yang tulus. Ze tidak mungkin menikah dengan orang lain, apalagi mereka baru berpisah 1 bulan.
Very membungkuk, mendekatkan bibirnya pada telinga Naka yang saat itu duduk di atas ranjang, lalu berbisik. "Papa ingin memberi tahu sesuatu, percaya atau tidak, Zea juga pernah beberapa kali tidur dengan Papa."
Jeder
Mulut Naka menganga lebar, matanya melebar sempurna dan nafasnya memburu. Ia menggeleng cepat, "Enggak, gak mungkin."
"Zea itu murahan, demi uang, apapun akan dia lakukan, termasuk membuka seluruh pakaian dan melebarkan kedua kakinya."
...----------------...
Mumpung tidak ada pembeli, Zara mengambil tasnya, menghitung tabungan yang akan ia pakai untuk membelikan Arka sepeda besok. Ia tersenyum setelah tahu jumlah uangnya terkumpul hampir 2 juta. Akhir-akhir ini jualannya memang lumayan ramai. Sebenarnya ada tabungan lain, tapi tak mau ia ambil, buat jaga-jaga kalau ada kondisi darurat.
Selain uang tabungan yang lumayan banyak, ia juga senang karena setelah Naka pergi hari itu, pria itu tak lagi muncul hingga 3 hari ini. Semoga saja, Naka memang tidak mencurigainya, atau memang sudah move on dan tak peduli. Demi apapun, ia tak mau lagi berurusan dengan laki-laki itu. Gara-gara kebodohannya di masa muda yang masih labil, terlena karena cinta, ia banyak sekali kehilangan, termasuk kehilangan orang tercintanya, ibunya.
Melihat sebuah motor berhenti di depan stannya, ia langsung menyimpan kembali uang ke dalam tas, berdiri, tersenyum menyambut pelanggan. "Iya, Mas, mau es teh apa?"
Laki-laki di depannya terlihat masih bingung, membaca daftar varian es teh yang sudah dilengkapi dengan harga. "Ini aja Mbak, es teh ori jumbo."
"Baik, tunggu sebentar."
Dengan bersemangat, Zara membuatkan pesanan. Setelah pria itu pergi, pembeli terus datang silih berganti. Melihat banyaknya pembeli, Zara jadi penasaran, sudah jam berapa sekarang. Ia kaget saat melihat jam di ponselnya, ternyata sudah jam 12 lebih. Arka, kenapa anak itu belum pulang? Biasanya paling lambat, pukul 11.15 WIB, Arka sudah tiba karena sekolahnya dekat, hanya sekitar 5 menit jalan kaki.
Jam 1 lebih, saat sudah tak ada pembeli, Zara buru-buru menutup stannya. Sambil membawa motor, ia pergi ke sekolah Arka. Melihat sekolah sudah sepi, perasaannya makin tidak enak. Ia langsung menuju kelas Arka, kosong, tak ada satupun anak disana. Seperti orang bingung, Zara mengecek kelas yang lainnya. Semuanya kosong, sudah tak ada satu anak pun di sekolah, karena yang paling terakhir pulang anak kelas 5 dan 6, itu pun jam 12 siang.
"Nyari siapa, Bu?" tanya penjaga sekolah yang kebetulan baru selesai bersih-bersih toilet.
"Nyari Arka, Pak. Arka, kelas satu A," sahutnya dengan suara bergetar, panik.
"Kelas satu sudah pulang sejak jam 11 tadi, Bu."
"Baiklah kalau begitu Pak, terimakasih."
Zara mengetik pesan di grup wali murid, menanyakan apakah Arka ada main di rumah mereka. Sambil menunggu jawaban, ia kembali ke booth, siapa tahu Arka sudah ada disana. Namun harapannya musnah, Arka tidak ada. Beberapa orang sudah membalas pesannya di grup, dan semua mengatakan jika tidak ada Arka di rumah mereka.
Zara mengirim pesan pada wali kelas Arka, menanyakan jika saja tahu, namun beliau juga tidak tahu, mengatakan jika semua anak sudah pulang jam 11 tadi, termasuk Arka.
"Ndi, Andi!" teriak Zara sesampainya di halaman bengkel.
"Ada apa, Ra?" Andi mengernyit melihat ekspresi Zara yang seperti orang ketakutan, wajahnya pucat, dan matanya berkaca-kaca.
"Arka. Apa Arka disini?" Arka memang sering bermain di bengkel milik Andi.
"Enggak," Andi menggeleng. "Aku gak lihat Arka sama sekali hari ini."
"Arka belum pulang, Ndi," tangis Zara akhirnya pecah, hingga menjadi pusat perhatian orang yang ada disana.
"Kamu sudah cek di sekolahnya?"
Zara yang sesenggukan hanya menjawab dengan anggukan.
"Di tempat teman-temannya?"
"Gak ada Ndi, Arka gak ada dimana-mana."
"Di rumah?"
"Gak mungkin dia jalan kaki sampai rumah, jauh." Zara memang memilih sekolah yang dekat dengan tempat jualan karena seharian ada disana. Rumah mereka lumayan jauh dari lokasi jualan, dia jadi harus antar jemput kalau sekolah disana.
"Tenang dulu," Andi mengusap lengan Zara. "Ayo, kita cari Arka sama-sama." Andi mencuci tangan lebih dulu, ganti baju lalu mengambil kunci motor, berkeliling menemani Zara mencari Arka
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣