Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Dia kabur bersama ibunya, meninggalkanku dalam kesengsaraan seperti ini," ucap Hendrik dengan suara serak yang penuh kebencian.
Arga mematung. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. "Apa?" tanya Arga, suaranya nyaris tak terdengar, tertahan di kerongkongan.
Hendrik mengangguk perlahan, tatapannya kosong. "Iya, dia sudah pergi. Tiga tahun lalu, seorang pria dengan mobil mewah datang menjemput. Dia membawa Yura dan Esti. Kepergian mereka... sepertinya memang sudah direncanakan dengan rapi. Esti bahkan sudah menceraikanku tepat sebelum mereka menghilang."
Lantai yang dipijak Arga terasa goyah. Tubuhnya oleng, seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Ia mundur satu langkah dengan lunglai, namun sebelum ia jatuh, sepasang tangan mungil menahan pundaknya dengan kokoh. Itu Ayu.
"Pak Arga! Anda tidak apa-apa?" tanya Ayu. Suara cempreng yang biasanya memenuhi rungu Arga kini terdengar penuh kecemasan.
Hendrik mendengus, memberikan pukulan terakhir. "Lupakan Yura, Arga. Dia mungkin sudah hidup bahagia sekarang."
Arga meremas kemeja di bagian dadanya yang terasa dihantam godam tak kasatmata. Sesak. Ucapan Hendrik tentang Yura yang berbahagia dengan pria lain terasa lebih menyakitkan daripada kenyataan bahwa gadis itu menghilang.
Benarkah itu? Arga bertanya pada sunyi di dalam batinnya. Lalu, apa arti penantianku yang membeku selama bertahun-tahun ini? Apakah aku hanya menjaga hati yang bertepuk sebelah tangan.
Arga berbalik tanpa sepatah kata pun. Langkah kakinya berat, seolah tiap jengkal lantai yang ia injak terbuat dari lumpur hisap yang menariknya jatuh. Ia mengabaikan Hendrik dan istrinya, meninggalkan ruangan yang kini terasa menyesakkan itu.
Ayu setengah berlari menyusul, langkah kecilnya berusaha mengimbangi tungkai panjang Arga yang melangkah lebar nan kaku. Begitu mereka sampai di samping mobil, Arga hanya berdiri mematung, menatap kosong ke arah aspal.
"Pak? Pak Arga? Jangan mematung begitu, dong. Bapak kelihatan seperti manekin mahal yang baterainya habis," cerocos Ayu, suaranya memecah keheningan yang mencekam.
Arga tidak menyahut. Tatapannya masih dingin, namun ada retakan besar di sana.
"Aduh, Pak, dengar ya. Tadi itu... si Bapak Hendrik itu cuma bicara dari satu sisi. Orang kalau lagi patah hati atau ditinggal pergi itu memang suka melebih-lebihkan drama. Siapa tahu pria bermobil mewah itu cuma sopir taksi online premium, kan? Atau mungkin itu sepupunya yang baru pulang dari luar negeri? Kita nggak pernah tahu sebelum lihat sendiri!"
Ayu terus mengoceh sambil membukakan pintu mobil untuk Arga, seolah ia adalah asisten pribadi sekaligus bodyguard emosional.
"Lagipula, lihat diri Bapak. Tinggi, tampan, kaya raya ya, walaupun sedikit galak dan kalau bicara suka bikin orang darah tinggi,tapi masa Bapak mau kalah sama cerita yang belum tentu benar? Kalau saya jadi Yura, saya pasti mikir seribu kali mau meninggalkan pria yang seleranya setinggi langit begini. Ayolah, Pak! Tarik napas... buang. Tarik... buang. Jangan sampai wajah gantengnya karatan cuma karena gosip lama!"
Arga menoleh perlahan. Untuk pertama kalinya, tatapan tajamnya bertemu dengan mata Ayu yang bulat dan bersinar penuh semangat.
"Kau tidak bisa diam sebentar saja?" tanya Arga, suaranya rendah dan serak.
Ayu berkacak pinggang, menatap Arga berani. "Tidak bisa! Kalau saya diam, Bapak pasti bakal tenggelam dalam pikiran suram itu. Tugas saya kan memotret proyek, tapi kalau bosnya kelihatan seperti mau pingsan begini, hasil fotonya pasti jadi horor semua. Jadi, pilih mana: saya diam tapi Bapak stres, atau saya bicara sampai telinga Bapak panas tapi Bapak lupa sama rasa sakitnya?"
Sudut bibir Arga berkedut sangat tipis,nyaris tidak terlihat. Kehangatan aneh menyelinap di antara rasa sesak di dadanya. Kecerewetan Ayu yang biasanya mengganggu, entah bagaimana, terasa seperti jangkar yang menahannya agar tidak hanyut lebih jauh.
Angin malam berembus dingin, menerbangkan beberapa helai rambut Ayu yang menutupi wajahnya. Arga masih bergeming, namun napasnya mulai terdengar berat,seperti seseorang yang sedang berjuang agar tidak hancur berkeping-keping.
Ayu yang baru saja ingin melanjutkan omelannya tentang "manfaat makan es krim saat sedih", tiba-tiba terhenti. Kalimatnya tertahan di ujung lidah saat ia melihat bahu Arga yang kokoh itu sedikit bergetar.
Tanpa peringatan, Arga melangkah maju. Satu langkah yang menghapus jarak di antara mereka.
Grep.
Kedua lengan panjang Arga melingkar erat di bahu Ayu. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu, membiarkan aroma parfum jeruk dari pakaian Ayu memenuhi indra penciumannya. Arga memeluknya seolah Ayu adalah satu-satunya dahan pohon yang bisa ia pegang sebelum jatuh ke jurang terdalam.
Ayu membeku. Seluruh sistem di otaknya seolah mengalami shutdown mendadak.Tubuhnya terasa berat, namun detak jantungnya sendiri jauh lebih berisik dari apapun.
Tangannya yang tadi sibuk bergerak lincah kini menggantung kaku di udara. Lidahnya yang biasanya tak bisa berhenti bicara, mendadak kelu. Ia bisa merasakan napas hangat Arga yang putus-asa di bahunya, juga detak jantung pria itu yang memukul-mukul dadanya sendiri dengan irama yang kacau.
"Diamlah..." bisik Arga, suaranya pecah dan sangat rapuh. "Sebentar saja. Biarkan aku seperti ini."
Ayu tidak membalas. Ia tidak bisa. Ia hanya berdiri mematung di tempat yang sangat sepi, membiarkan dirinya menjadi sandaran bagi pria arogan yang baru saja kehilangan dunianya. Di saat itu, Ayu sadar, di balik setelan jas mahal dan tatapan tajam itu, Arga hanyalah seorang pria yang hatinya sedang hancur lebur menjadi abu.
Keheningan itu terasa semakin pekat, seolah waktu sengaja melambat hanya untuk mereka berdua. Arga tidak juga melepaskan pelukannya, malah semakin menenggelamkan wajahnya, mencari perlindungan dari badai kenyataan yang baru saja menghantamnya.
Ayu masih mematung. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Arga bisa mendengarnya melalui jas mahalnya. "P-Pak Arga..." cicit Ayu pelan, suaranya bergetar antara bingung dan cemas.
Perlahan, Arga melonggarkan pelukannya. Ia menarik diri hanya beberapa inci, namun tangannya tidak lepas dari bahu Ayu. Ia menunduk, menatap dalam ke mata Ayu yang bulat dan jernih,mata yang tidak menyimpan rahasia, sangat berbeda dengan dunianya yang penuh kepalsuan.
Napas Arga terasa hangat di wajah Ayu, berbau kopi dan kesedihan yang mendalam. Tatapan pria itu tidak lagi tajam seperti biasanya; kali ini, ada kerentanan yang begitu telanjang. Ada rasa sakit, amarah pada masa lalu, dan kebutuhan mendesak untuk merasakan sesuatu yang nyata.
"Pak, Anda benar-benar perlu istirahat. Ayo saya antar.."
Kalimat Ayu terputus. Arga tidak bisa lagi mengendalikan badai di dalam dirinya. Pikirannya tentang Yura, Hendrik, dan rasa sakit selama tiga tahun itu seolah terbakar habis saat ia melihat bibir Ayu yang terus bergerak. Ia butuh sesuatu untuk menghentikan kebisingan di kepalanya.
Dan detik berikutnya....
Hmptttt...
Bersambung.....
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it