Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evolusi di Atas Awan
Hawa dingin yang menusuk tulang itu semakin menebal. Tekanannya mengalir lewat celah-celah papan kayu, merayap ke lantai, dan mencekik udara di dalam kabin Zian. Ini bukan sihir es seperti milik Lin Yue. Ini murni niat membunuh yang sangat pekat, berasal dari seseorang yang sudah mandi darah ribuan kali.
"Bocah, kau merasakannya?" Suara serak leluhur Asura menggema di kepala Zian, nada bicaranya terdengar sangat antusias. "Orang di sebelah kamarmu ini berada di tingkat Raja menengah! Auranya sangat tajam, seperti pedang yang baru diasah!"
"Aku tahu," jawab Zian datar di dalam hati. "Napasnya berat, tapi detak jantungnya sangat pelan. Dia pasti sedang berlatih teknik pernapasan rahasia."
"Menjauhlah dari dinding itu! Tekanannya bisa merusak organ dalammu yang sedang masa pemulihan!" peringat sang leluhur.
Zian justru tersenyum gila. Urat-urat di lehernya menonjol kemerahan. Alih-alih menjauh, dia malah menggeser tubuhnya merapat ke dinding kayu yang berbatasan langsung dengan kabin nomor 14 itu. Dia menyandarkan punggung dan lengan kanannya yang retak tepat di pusat tekanan aura tersebut.
"Kau mau bunuh diri?!" teriak leluhur Asura panik.
"Kau bilang tulangku butuh palu untuk ditempa ulang, kan?" Zian memejamkan mata, menikmati rasa sakit yang mulai merobek kulit lengannya. "Aura orang ini adalah palu yang paling sempurna. Aku akan meminjam tenaganya malam ini."
Krak!
Bunyi retakan tulang terdengar lirih dari lengan kanan Zian. Tekanan aura tingkat Raja dari seberang dinding itu menembus pori-pori kulitnya, menghantam langsung sumsum Tulang Asuranya.
Zian menggigit bibirnya sampai berdarah. Rasa sakitnya sepuluh kali lipat lebih gila dari pukulan Tetua Pembantai tadi siang. Otot-ototnya terasa seperti sedang disayat, dihancurkan, lalu dipaksa menyatu kembali dengan kepadatan yang jauh lebih ekstrem. Darah segar mulai merembes keluar dari pori-pori kulit lengannya, membasahi lantai kayu.
Dia menahan semua siksaan neraka itu tanpa mengeluarkan satu erangan pun.
Tiba-tiba, tekanan mematikan dari sebelah kamarnya berhenti total. Udara di dalam kabin kembali normal.
"Hoo? Kau sengaja menempel di dindingku?" Sebuah suara berat dan serak terdengar sangat jelas dari balik papan kayu. "Kau menyerap auraku?"
Zian membuka sebelah matanya. Dia melirik dinding itu dengan santai. "Auramu lumayan hangat. Pas sekali untuk memijat tulangku yang pegal. Kenapa berhenti?"
Terdengar dengusan tawa pelan dari sebelah. Tawanya terdengar dingin dan penuh arogansi.
"Kau orang pertama dari benua buangan yang berani bicara santai denganku," ucap pemuda misterius itu. "Biasanya, anjing-anjing dari tempat asalmu sudah kencing di celana atau muntah darah hanya karena terkena imbas auraku."
"Mungkin hidungmu bermasalah. Aku tidak mencium bau pesing di kamarku," balas Zian tajam. "Atau mungkin kau sendiri yang belum pernah bertemu manusia sungguhan."
"Nyali yang sangat bagus," puji suara itu, tapi nada bicaranya menyiratkan ancaman maut. "Tapi ingat baik-baik, tikus kecil. Di Benua Tengah, nyali besar tanpa kekuatan cuma akan membuatmu mati lebih cepat. Kau bahkan tidak punya aura kultivasi di tubuhmu."
Zian meremas tangan kanannya perlahan. Tulangnya sudah berhenti berderit. Luka retaknya menutup sempurna. Kulit lengannya kini memancarkan kilau samar seperti baja murni yang baru diangkat dari tungku pandai besi. Lengan kanannya kini terasa seringan kapas, tapi dia tahu daya hancurnya sudah berlipat ganda.
"Kalau begitu, coba saja bunuh aku dari balik dinding ini," Zian memiringkan kepalanya, tersenyum menantang. "Kita lihat tangan siapa yang putus duluan."
Keheningan menyelimuti kedua kabin itu selama beberapa detik. Ketegangan memuncak hingga udara terasa berderak.
"Hahaha! Menarik! Sangat menarik!" tawa pemuda di sebelah meledak keras. "Ingat suaraku baik-baik, Tikus Kecil. Namaku Jian, Pedang Gila dari Sekte Langit Berdarah. Kita simpan pertarungan ini untuk arena turnamen. Aku akan memotong lehermu di depan semua orang."
"Zian," jawab Zian singkat. "Dan kau tidak akan punya kesempatan menarik pedangmu nanti."
Pemuda bernama Jian itu tidak membalas lagi. Hawa keberadaannya kembali tertutup rapat seolah dia menghilang dari ruangan itu. Zian mendengus pelan. Dia berdiri dan meregangkan seluruh tubuhnya. Bunyi persendiannya meletup-letup nyaring, seakan-akan tubuhnya baru saja dilahirkan kembali.
Evolusi Tulang Asura tahap pertamanya sudah selesai.
Zian berjalan ke arah jendela kabin. Sinar matahari pagi mulai menyilaukan mata. Kapal Penembus Awan rupanya sudah terbang semalaman penuh menembus lautan awan yang tebal.
Mata Zian sedikit melebar saat melihat pemandangan di luar kaca.
Benua Tengah benar-benar berada di dimensi yang berbeda. Di bawah sana, daratan membentang luas tanpa ujung. Gunung-gunung melayang di udara, ditahan oleh rantai raksasa yang terbuat dari emas murni. Bangunan sekte dan menara pencakar langit menjulang menembus awan. Monster-monster terbang seukuran kapal perang melintas di kejauhan, memancarkan aura buas yang membuat darah Zian kembali mendidih.
"Ini baru medan perang yang pantas," gumam Zian sambil menyeringai lebar.
TUUUUT!
Terompet kapal berbunyi sangat nyaring, menggetarkan dinding kayu kabin.
"Perhatian para semut sekalian!" Suara Bai Chen tiba-tiba menggema di seluruh penjuru kapal melalui pengeras suara sihir. "Kita sudah memasuki wilayah udara Benua Tengah! Kemasi barang kalian dan berkumpul di geladak utama! Kita akan segera mendarat di Kota Baja!"
Zian menendang pintu kabinnya hingga terbuka. Dia melangkah keluar ke lorong mewah kapal.
Tepat pada saat yang bersamaan, pintu kabin nomor 14 di sebelahnya juga terbuka.
Seorang pemuda berambut perak panjang melangkah keluar. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut jubah hitam pekat. Di punggungnya, melilit sebuah pedang raksasa berwarna merah darah yang diikat dengan rantai besi hitam. Mata pemuda itu berwarna abu-abu mati, memancarkan aura seorang pembunuh berantai.
Itu pasti Jian.
Jian menoleh, menatap Zian dari atas ke bawah. Dia menyeringai mengejek. "Jadi kau tikus kecil yang menempel di dindingku semalaman? Penampilanmu lebih mirip pengemis jalanan daripada petarung."
Zian membalas tatapannya tanpa berkedip. Matanya sedingin es abadi. "Dan kau kelihatan seperti badut yang keberatan membawa besi tua di punggungnya."
Urat di pelipis Jian langsung menonjol. Tangannya perlahan meraih gagang pedang raksasanya. "Kau benar-benar tidak sabar ingin mati pagi ini, ya?"
"Coba saja tarik pedangmu," Zian mengambil langkah maju, memusatkan bobot Tulang Asuranya ke kaki kanan. Lantai kayu di bawah sepatunya langsung retak menahan beban tubuhnya. "Biar kupatahkan bersama lehermu sekarang juga."
Pertarungan fisik sudah di ambang mata. Keduanya siap saling membunuh di lorong kapal.
Namun, sebelum mereka sempat bergerak, Kapal Penembus Awan tiba-tiba terguncang sangat hebat.
BUMMM!
Guncangan itu begitu keras hingga membuat kapal miring curam ke sisi kiri. Kayu dinding lorong berderit seakan mau pecah. Jeritan panik puluhan jenius terdengar dari berbagai arah kabin.
"Apa yang terjadi?!" teriak Jian, melepaskan gagang pedangnya untuk menjaga keseimbangan.
Zian tidak menjawab. Dia langsung berlari kencang menuju pintu keluar yang mengarah ke geladak utama. Jian mendecak kesal dan segera menyusul di belakangnya.
Sesampainya di geladak luar, angin kencang langsung menerpa wajah Zian. Puluhan jenius lainnya sudah berkumpul di sana, saling berpegangan pada pagar kapal dengan wajah pucat pasi penuh teror.
Bai Chen berdiri di ujung geladak depan. Pemuda berjubah perak itu memegang kipas lipatnya dengan sangat erat. Wajahnya yang selalu tersenyum santai kini terlihat sangat tegang dan marah.
Zian melangkah maju menembus kerumunan jenius yang ketakutan itu. Dia berdiri tepat di sebelah Bai Chen dan menatap ke arah depan kapal.
Pemandangan di depan mereka benar-benar menghentikan napas.
Jalur pendaratan Kapal Penembus Awan telah diblokir total. Tiga buah kapal perang es raksasa yang ukurannya lima kali lebih besar dari kapal mereka melayang angkuh di udara, membentuk formasi kepungan. Di lambung ketiga kapal perang itu, tergambar lambang singa es bersayap yang sangat besar.
Lambang Sekte Bintang Es Pusat.
Ratusan pemanah sihir berdiri berjejer di pagar kapal musuh, membidikkan panah elemen mematikan langsung ke arah kapal utusan. Di atas tiang utama kapal terbesar, berdiri sesosok pria tua berjubah merah tua dengan bekas luka codet di wajahnya.
Tetua Pembantai. Dia benar-benar datang mencegat mereka di udara.
"Bai Chen dari Fraksi Langit!" Suara Tetua Pembantai menggelegar menembus angin, membawa tekanan tingkat Raja Puncak yang mengintimidasi. "Serahkan bocah cacat berbaju hitam itu sekarang juga! Kalau kau menolak, kami akan menghancurkan kapalmu dan membunuh semua orang di dalamnya tanpa sisa!"
Puluhan jenius di geladak kapal langsung berbalik menatap Zian dengan sorot mata panik dan menyalahkan. Pangeran Feng yang tangannya diperban bahkan langsung menunjuk ke arah Zian.
"Tuan Utusan! Lempar saja sampah itu keluar!" teriak Pangeran Feng histeris. "Kita semua bisa mati karena dia! Dia penjahatnya!"
"Benar! Buang dia!" sahut jenius lainnya penuh ketakutan.
Bai Chen melirik Zian dari sudut matanya. Utusan Benua Tengah itu menggertakkan gigi menahan amarah karena otoritasnya diinjak-injak oleh sekte ini.
Zian tidak terlihat takut sedikit pun. Dia justru melangkah maju menaiki pagar kayu kapal, berdiri di tempat yang paling tinggi dan terlihat jelas oleh musuh. Angin kencang meniup rambut dan pakaiannya yang compang-camping.
Dia mengangkat lengan kanannya yang baru saja berevolusi, mengepalkan tinjunya erat-erat, dan menunjuk lurus ke arah wajah Tetua Pembantai di kapal seberang.
"Pak Tua!" raung Zian membelah udara, suaranya sarat dengan niat membunuh yang murni dan buas. "Tunggu aku di sana! Aku sendiri yang akan melompat ke kapalmu dan meremukkan kepala tuamu itu sekarang juga!"
cuma tinju asal ajaaa