Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima Belas
Ruangan itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Arsenio memandang ke arah jendela, tempat cahaya siang masuk menyinari lantai keramik sederhana.
Rahangnya sedikit mengeras. Seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi tertahan di ujung lidah.
“Saya .…” Ia berhenti sejenak, lalu menarik napas pelan. “Saya memilih Hanin atas rekomendasi seseorang, Ustaz.”
Ustaz Hamid menatapnya tenang. “Rekomendasi?”
“Iya.”
“Siapa?”
Arsenio tidak langsung menjawab. “Seorang kerabat.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya menjelaskan, tapi cukup untuk membuat Ustaz Hamid memahami bahwa pemuda ini tidak datang tanpa alasan.
Beliau mengangguk pelan, lalu berkata dengan hati-hati, “Nak, sebenarnya akan lebih baik jika yang mengajarimu juga seorang pria.”
Arsenio sedikit mengernyit. “Maksud Ustaz?”
“Kamu dan Hanin bukan mahram.” Kalimat itu diucapkan lembut, tapi jelas.
Arsenio terdiam sesaat. Ia tampak tidak tersinggung, justru seperti sudah memikirkan kemungkinan itu.
“Saya mengerti, Ustaz.”
Ustaz Hamid melanjutkan, “Belajar agama itu bukan hanya soal niat baik, tapi juga menjaga adab dan batas.”
Arsenio mengangguk perlahan. “Saya tidak akan melewati batas.”
Sorot matanya mantap ketika ia berkata lagi, “Saya tahu sedikit mengenai agama, Ustaz. Saya paham tentang menjaga jarak.”
Ustaz Hamid menatapnya lekat. Dari sikap Arsenio yang sopan, Ustaz Hamid berpikir kalau pria itu bukanlah orang jahat.
“Saya datang bukan untuk hal lain,” lanjut Arsenio. “Saya hanya ingin belajar. Dan saya percaya … Hanin bisa mengajarkan dengan cara yang saya butuhkan.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi ada keyakinan di dalamnya.
Hening beberapa detik. Akhirnya Ustaz Hamid menghela napas pelan.
“Baiklah,” ucap beliau.
Arsenio sedikit mengangkat wajahnya.
“Tapi ada syarat dari kami juga.”
“Tentu, Ustaz.”
“Kamu tidak boleh belajar berdua dengan Hanin.”
Arsenio langsung mengangguk. “Saya setuju.”
“Kamu akan ditemani oleh Aisyah.”
“Aisyah?”
“Santri di pondok ini. Dia juga membantu dalam kelas tahsin.”
Arsenio mengangguk lagi. “Tidak masalah.”
Ustaz Hamid tersenyum tipis. “Jadi pembelajaran akan dilakukan bertiga. Demi menjaga adab.”
“Saya memahami itu, Ustaz.”
“Kalau begitu,” lanjut Ustaz Hamid, “kita sepakati.”
Percakapan mereka berlanjut pada hal-hal teknis. Sebuah perjanjian sederhana pun dibuat.
Arsenio akan membantu pembiayaan pembangunan musala baru dan penambahan ruang kelas.
Sebagai gantinya atau lebih tepatnya sebagai bagian dari niatnya sendiri, ia akan mulai belajar mengaji di pondok ini mulai besok.
Setelah semuanya disepakati, Arsenio berdiri. Pria itu tersenyum.
“Terima kasih atas kepercayaannya Ustaz.”
“Semoga niat baikmu dimudahkan Allah.”
Arsenio menunduk hormat. “InsyaAllah, saya akan datang besok untuk mulai belajar.”
Ia pun pamit. Langkahnya keluar dari ruang tamu pondok terdengar tenang.
Mobil hitam itu kembali meninggalkan halaman pesantren. Santri kecil yang tadi melihatnya datang kini kembali berbisik.
“Dia siapa ya?”
“Kayaknya orang penting deh.”
Tak ada yang tahu bahwa kehadiran pemuda itu akan membawa perubahan yang tak hanya menyentuh bangunan pondok, tapi mungkin juga hati seseorang di dalamnya.
Setelah Arsenio pergi, Ustaz Hamid tidak langsung kembali ke aktivitasnya.
Beliau justru meminta seorang santri memanggil Hanin dan Aisyah. Tak lama, keduanya sudah berdiri di depan beliau.
Hanin datang dengan langkah tenang, membawa buku catatan. Aisyah di sampingnya tampak sedikit penasaran.
“Ada apa, Ustaz?” tanya Hanin lembut.
Ustaz Hamid tersenyum. “Tadi ada tamu.”
Aisyah langsung menebak, “Yang datang pakai mobil hitam itu ya, Ustaz?”
Ustaz Hamid mengangguk kecil. “Namanya Arsenio.”
Hanin hanya mendengar tanpa reaksi berarti.
“Ia datang dengan niat membantu pembangunan musala dan penambahan ruang kelas.”
Keduanya langsung terkejut. “Serius, Ustaz?” tanya Aisyah.
“Iya.”
Hanin ikut menatap. “MasyaAllah .…”
“Tapi,” lanjut Ustaz Hamid, “Dia juga punya permintaan.”
Hanin dan Aisyah saling pandang.
“Dia ingin belajar mengaji di sini.”
“Itu bagus,” kata Aisyah cepat.
“Iya,” sahut Hanin.
Ustaz Hamid lalu menatap Hanin. “Dan dia ingin diajar langsung olehmu.”
Kalimat itu membuat Hanin membeku sesaat.
“... Saya?”
“Iya.”
Hanin tampak bingung. “Kenapa harus saya, Ustaz?”
Ia bahkan terdengar agak ragu. Kenapa pria itu memilihnya.
“Bukankah ada ustaz atau santri pria yang jauh lebih fasih bacaannya?”
“Itu juga yang saya tanyakan tadi,” jawab Ustaz Hamid.
“Lalu?” tanya Aisyah penasaran.
“Dia maunya sama kamu.”
Hanin terdiam. “Apa dia mengenal saya, Ustaz?” tanyanya pelan.
Ustaz Hamid menjawab, “Katanya dia mengenalmu dari kerabatnya.”
Kerabat. Satu kata itu langsung memantik rasa penasaran di hati Hanin.
“Kerabat siapa?” tanya Hanin hampir tanpa sadar.
Ustaz Hamid menggeleng. “Dia tidak menjelaskan lebih jauh.”
Hening sejenak. Lalu beliau berkata dengan lembut, “Saya sudah setuju dengan syarat kalian tidak belajar berdua. Aisyah akan mendampingi.”
Aisyah langsung mengangguk. “Siap, Ustaz.”
Hanin pun mengangguk, meski pikirannya masih penuh tanda tanya.
“Belajar akan dimulai besok,” lanjut beliau.
Setelah memberikan beberapa wejangan tentang menjaga adab, niat, dan batas, pertemuan itu pun selesai.
Hanin dan Aisyah pamit kembali ke kamar. Langkah mereka pelan menyusuri koridor pondok yang mulai teduh menjelang sore.
“Gimana menurutmu?” tanya Aisyah sambil menoleh.
Hanin menggeleng kecil. “Aku juga belum tahu.”
“Kerabat katanya?”
“Iya .…”
Mereka berjalan beberapa langkah lagi. Hanin memandang halaman pondok yang mulai sepi.
Di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berputar. Siapa pria itu? Dan siapa kerabat yang merekomendasikannya?
Ia merasa ada sesuatu yang belum ia pahami. Sesuatu yang mungkin akan terjawab mulai besok.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??