seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 | Rencana Clarissa yang sebenarnya
happy reading
acara pertunangan afan dan Clarissa berjalan dengan lancar. di mulai dari sambutan hangat oleh keluarga, dilanjutkan pertukaran cincin, serta makan malam, acara tersebut di akhiri dengan sesi foto.
Devi menatap ke arah mereka dengan tatapan sendu, disini semua anggota keluarga Clarissa dan Afan sangat pada menikmati acara tersebut dan sangat bahagia. namun tidak dengan Afan, Devi dapat melihatnya, Afan hanya terpaksa menerima pertunangan ini.
seorang pria paruh baya datang menghampiri devi, "kamu devia?"tanya pria paruh baya itu yang di yakini adalah Lian.
"iya aku Devi, siapa kamu?"
"saya Lian, papah Afan"
mata devi sontak terkejut, kenapa papah Afan menghampiri nya?.
"apakah om mau mengusir saya?" tanya Devi hati hati
Lian terkekeh kecil, "mengapa kamu bisa berfikir seperti itu, devia?"
"terus om nyamperin saya ada apa?"
"saya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu"jawab Lian
kening Devi berkerut, ia tak faham dengan apa yang di ucapkan Lian. perasaan dirinya tak membuat masalah di acara pertunangan Clarissa dan Afan.
Lian yang menyadari kediaman Devi ia lanjut menanyakan sesuatu, "kamu cinta dengan anak saya kan?"
"i-iya om" jawab devi
"perjuangkan cinta mu kepada Afan, Devi"
ia menatap tak percaya kepada Lian, ia seolah diberi lampu hijau.
"serius om?"tanya Devi ragu ragu
"saya serius Devi"jawab Lian
"yess" Devi tersenyum semangat
senyuman Devi tiba tiba luntur, ketika ia mengingat bahwa sebentar lagi Afan dan clarissa akan menikah.
"terus bagaimana dengan Clarissa?"tanya Devi
"'kamu tenang saja, mereka di jodohkan istri saya karna sebuah bisnis"
Devi, mengangguk faham.
setelah keduanya diam beberapa saat, Lian memutuskan untuk bertanya kepada Devi.
"kamu tidak ikut yang lain berfoto?" tanya Lian
"enggak usah deh om, nanti yang ada aku di usir sama Tante voke lagi"jawab devi
"tidak akan"
"tidak akan di usir?"tanya Devi
"kamu kan tamu dev, mana mungkin di usir"
"iya si om, tapi Tante voke benci sama aku"jawab devi
"apa om gak benci sama aku juga?"sambung Devi
"buat apa om benci sama gadis kecil dan baik sepertimu"
"hehe omm bisa aja dehhh"Devi tersenyum kearah Lian, ia tak menyangka ternyata papah Afan cukup baik juga ketimbang istrinya.
mata voke memicing, melihat interaksi antara lian dan Devi. tanpa sepatah kata lagi voke langsung menghampiri keduanya, dan berdiri tepat di samping Lian.
"ngapain kau Devi?" geram voke
"ngapain aku?" tanya Devi
"sedang ngobrol lah sama papanya Afan" lanjutnya
"mas apa kau tau, Devi ini adalah anak dari pembunuh adik aku!" ucap voke pada lian
"yang salah orang tuanya bukan anaknya, jadi buat apa kamu benci sama Devi juga?" tanya Lian
"menurut ku Devi orangnya cukup baik, dan lebih cocok sama Afan. ketimbang perempuan itu, tidak punya sopan santun." ucap Lian
"perempuan yang kau maksud Clarissa?" tanya voke
"tentu saja dia. segera batalkan rencana perjodohan mu itu, voke."
"tidak bisa! Afan dan clarissa cocok, menurut ku! dan aku tidak akan pernah Sudi jika Afan bersanding dengan anak dari sang pembunuh." mata voke melirik tajam ke arah Devi.
"lagian keluarga ku tidak sengaja menabrak adik kesayangan mu tan!"ucap Devi akhirnya
"sengaja atau tidaknya, Saya tidak perduli!"
setelah mengucapkan kata itu, voke langsung pergi meninggalkan keduanya.
"dev, jangan dengarkan apa yang istri saya ucapkan"
Devi hanya mengangguk
"om, apa masih ada harapan antara Afan dan aku bersatu?"
"masih dev, saya akan jadi orang pertama yang mendukung mu"
"trimakasih om"
"sama sama Devi, kalo begitu saya pergi dulu." pamit Lian, dan pergi meninggalkan Devi.
acara sudah selesai, dan kini semua para tamu sudah akan segera pulang.
mata Afan melirik di antara kerumunan itu, matanya tak lepas untuk mencari keberadaan Devi. ia cukup yakin jika Devi belum pulang, firasatnya bilang seperti itu.
dan yang benar saja Devi masih disini. Devi duduk sendirian sambil memegang segelas minuman. Afan ingin menghampiri devi, tetapi jika voke marah? apa perduli nya?. ia sudah menuruti perintah sang mamah, untuk menikahi Clarissa.
Afan dengan cepat langsung berjalan menuju ke arah Devi.
"dev?" panggil Afan, dan Devi langsung menoleh ke arahnya.
"fan ngapain nyusul gue? ntar kalo mamah Lo liat bisa bisa barabe" ucap Devi setengah terkejut, mengapa afan menyusul nya?. tapi disisi lain ia juga senang.
Devi meletakkan gelas yang ia pegang. Afan masih berdiam diri menatap nya, dengan pandangan yang sulit di artikan.
tanpa sepatah kata ia langsung memeluk erat Devi, "dev gue kangen Lo"bisiknya lembut
"kan dari tadi udah ketemu"jawab devi sedikit geli dengan sikap Afan yang seperti ini.
"lepaskan fan, ntar kalo si Mak lampir itu lihat bisa bisa bahaya. nanti dia bakal ngadu ke nyokapnya dan bilang kalo gue rebut calon suaminya" Devi terkekeh di akhir ucapan nya.
"biarin." Afan masih tak mau melepaskan pelukannya, dan malah mempererat nya.
"afann..."panggil devi
"lepasin ini masih di acara Lo" bujuk Devi supaya Afan mau melepaskan nya.
"hm" Afan berdehem, dan melepaskan pelukannya.
"fan Lo sekarang udah jadi tunangan orang, jangan kek tadi lagi yaa?"
Afan mengangguk lesu
"jangan lesu gitulah mukanya, ntar ganteng nya hilang lohhh" goda Devi
"gua selalu ganteng di mata Lo ya kan?"
Devi tersenyum kearah Afan
"kok Lo tau sii?" tanya Devi sambil tersenyum merekah
"jelas tau, gua tau apapun tentang Lo"
"apapun?"
"ya, apapun"
"Lo bentar lagi nikah fann..."
"gua tau, tapi gua gabakal cinta sama nenek lampir itu"
"Lo yakin?"tanya Devi
"ya gue yakin lah"ucap Afan bangga
"ya dehh"
malam harinya, di kediaman Clarissa. semuanya nampak pada bahagia karna hari pertunangan afan dan Clarissa berjalan dengan lancar.
shara selaku, mama Clarissa. tak henti hentinya tersenyum ke arah putrinya, tetapi setelah itu raut wajahnya berubah.
"bagaimana dengan mantan Afan itu Clar?"tanya shara
"aku juga gatau ma, tapi kemungkinan si bakal nyerah ya dia"
Bagas, papa Clarissa. ikut nimbrung pembicaraan yang semakin serius.
"kata mu keluarga baskara itu punya dendam sama keluarga mantan nya Afan?"tanya Bagas
"iya pa, Tante voke punya dendam sama keluarga nya devi. makanya dia gak setuju kalo Afan Deket Deket sama Devi"jawab Clarissa
"terus menurut kamu Afan cinta sama kamu gak clar?" tanya Bagas
"ya, sekarang si belum paa, tapi kan kita tinggal tunggu hitungan hari dan..... bumm pernikahan aku dan Afan akan tiba."
"kita harus singkirkan Devi dulu gak si? kalo enggak, Afan bakalan terus berharap sama Devi dan malah mengabaikan kamu."ucap Shara
"nahh ini yang jadi masalahnya, kita harus singkirkan dia dengan cara apa?"tanya Clarissa
"bangkrut kan perusahaan orangtuanya? setelah bangkrut kamu datang Clar, kehadapan keluarga devi dan tawari bakal bantu perusahaan nya.asalkan Devi mau menjauhi Afan, jika Devi gamau siap siap saja perusahaannya akan bangkrut total." terang Bagas, akan rencana licik nya.
"ide papa keren juga" Clarissa tersenyum puas, akan rencana sang papa yang sangat menakjubkan.
"Keluarga Baskara itu sangat kaya dan berpengaruh, jika Clarissa gagal menikahi Afan, maka perusahaan kitatidak jadi di-akuisisi oleh mereka, dan semua rencana ekspansi bisnis kita akan gagal. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, kita tidak bisa membiarkan Clarissa gagal." ucap Shara ikut menimpali
"kau benar maal..tapi kan jika keluarga baskara tau? apa perusahaan papa bakal hancur juga seperti punya devia?" tanya clarissa
"jangan sampai biarkan mereka tau" jawab papa
Clarissa hanya mengangguk
"clar ingat rencana kamu dekatin Afan hanya untuk bisnis perusahaan, jangan sampai kamu mencintai nya." ucap Shara menatap ke arah Clarissa
"terlambat maa, aku udah terlanjur cinta sama Afan. tapi tenang aja kok, aku juga masih inget rencana awal kita." jawab Clarissa
Clarissa sedari awal, sejak pertama kali bertemu dengan Afan di pesta mamahnya. ia memang terpesona dan jatuh cinta, setelah pesta sang mama Shara selesai. shara berniat akan menjodohkan Clarissa dan Afan untuk bisnis keluarga nya. dan tentu saja Clarissa tak menolak kesempatan emas itu, jadi Clarissa mulai perlahan-lahan mendekati Afan, dan masuk ke SMA yang sama seperti Afan. namun Afan sudah punya kekasih yaitu Devi. disitu Clarissa sangat kesal dan sakit hati, tapi ia teringat dengan rencana keluarga nya. jadi buat apa sakit hati? kan rencana awalnya Clarissa dekati Afan hanya untuk bisnis. bukan cinta ya walaupun Clarissa memang mencintai afan. namun sekarang perasaan itu hilang entah kemana setelah ia berhasil membuat hubungan Afan dan Devi hancur.
Devi mondar-mandir di dalam kamarnya, ia memiliki firasat buruk tentang keluarganya.
"duhh kok perasaan gue gak enak yaa.."gumam Devi sambil terus mondar-mandir.
"duhh...devii.. positif thinking aja dev..."Devi mencoba berfikir positif
"Clarissa gabakal buat ulah lagi kann?"tiba tiba saja devi berfikir, Clarissa akan buat ulah lagi.
"moga aja aman dehhh"
Devi duduk di pinggir ranjangnya, dan mengambil ponselnya. lalu menghubungi Mala dan juga vio di grup mereka bertiga. wajah Mala dan vio langsung muncul di handphone nya.
"gays..gua punya firasat buruk."ucap Devi, membuat Mala dan vio terkejut
"firasat buruk?" tanya keduanya barengan
"iya gays, kek nya si Mak lampir itu mau buat ulah lagi deh..."
"masa si? bukannya dia udah berhasil dapetin Afan dari Lo? buat apalagi dia bikin ulah"ucap mala
"tapi kan mal, firasat gua tuh ngarah ke dia doang. emangnya ada yang sering gangguin kita kecuali Clarissa? enggak kan?"
"di pikir pikir iya juga yaa"jawab vio
"oke deh dev, mendingan kita jaga jaga dulu gak si"
vio mengangguk setuju
"iya"
setelah itu Devi mengakhiri video call nya, dan menaruh handphone nya di nakas. perasaan Devi yang cemas masih belum hilang, dan tiba tiba muncul satu notif di handphone nya.
good night, dev.
"afan?"gumam devi
Devi langsung membalas chatnya,
Good night, too, fan.
afan tersenyum melihat balasan chat devi, hatinya menghangat.
"gak nyangka bentar lagi gua nikah dev..." gumam Afan sambil tersenyum getir
"harusnya gua nikah sama Lo bukan sama orang yang gak gue cinta..."
"kapan mamah bakal restuinn kita?"
"apa mamah bakalan terus terus san memendam benci ke seseorang?"
"aku harap mamah cepet sadar..."
"gua gamau nikah sama dia"
Afan menatap ke tangan nya yang tersematkan cincin pertunangan nya.
"tiga hari lagi..."gumamnya
"pernikahan gue"lanjutnya
tok tok tok
"fan?" panggil Lian dari luar kamar
"iya pah masuk aja"
Lian pun masuk ke dalam kamar Afan, dan melihat anaknya yang melamun di atas ranjangnya. Lian pun langsung mendekat dan duduk di samping Afan.
"fan?"
Afan menoleh ke arah lain
"iya pah?"
"kamu tidak setuju kan dengan pernikahan mu dan clarissa"
Afan menggeleng
"tadi papah ketemu Devi di pertunangan kamu"
"papah gak benci kan sama Devi? kek mamah"
Lian jelas menggeleng, dirinya dan istrinya berbeda.
"bulannya papah awalnya yang dukung rencana balas dendam ini yaa?"tanya Afan
"semakin lama papah sadar kalo itu salah"
"dan itu hanya akan membuat keluarga kita terpecah belah seperti sekarang"
Lian menghela nafas
"fan, kamu tidak ada niatan perjuangkan Devi?"
"papah curiga jika keluarga Clarissa hanya mengincar kekayaan keluarga kita"
Afan menaikkan satu alisnya, jelas tidak faham.
"Clarissa?"
"bukannya mamah temenan sama Tante Shara?"
"memang mamah kamu temenan sama si Shara Shara itu, apa kamu tidak curiga? tiba tiba saja mamanya Clarissa berniat menjodohkan mu dan clarissa"
"iya juga ya pah"
"pah gimana kalo kita tipu mereka kalo perusahaan papah bangkrut"Afan mempunyai ide
"ide kamu bagus, tapi masalahnya ada di mamah kamu"
"mamah kamu bakalan gak setuju, dan bakal nuduh Devi lagi mungkin."
Afan yang kali ini menghela nafas
"tapi aku beneran gamau nikah sama dia pah"
"papah juga gak setuju fan kamu nikah sama dia"
"tapi mau gimana lagi voke tidak setuju"
Afan menghela nafas panjang, beneran sudah tidak ada harapan.