SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 - Dalang dibalik teror 1
Di lain tempat, seorang perempuan terbaring di atas kasur tak berdaya mencoba menahan pria yang terus menggerayangi tubuhnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan, air matanya membasahi sudut matanya, dia Galuh, tubuhnya lelah, area intinya sakit, tapi sialnya dia ingin terus merasakan kenikmatan dari pria-pria berbeda yang ada di sana.
Obat bius bercampur perangsang membuat Galuh tak berdaya menerima segala serangan dari pria-pria di depannya.
"Le-lepaskan saya, ini sakit," pinta Galuh memohon.
"Lanjutkan! Tidak ada yang boleh melepaskan dia sebelum saya perintahkan!" suara berat seseorang menginstruksikan kegiatan di depannya.
Orang itu berpakaian serba hitam serta wajah memakai masker, Galuh melihat lemas ke arahnya, dia ingat sosok itu, sosok yang pernah mengejarnya di kebun teh. Postur tubuhnya sama, tatapannya sama, suaranya juga sama, tapi dia tidak bisa melihat wajahnya.
"Si-siapa kamu?" Dia benar-benar lelah, kedua tangannya di ikat ke sisi ranjang dengan tubuh benar-benar tak berpakaian. Malu, sangat malu melihat keadaannya sekarang, apalagi ada empat pria dewasa yang diyakini pria hidung belang bergantian menikmati tubuhnya.
"Hahaha, kamu ingin tahu siapa saya?" tatapan mata orang itu begitu tajam penuh kebencian. Dia berjalan ke arah samping Galuh, berdiri tegak sedikit menundukkan kepalanya. "Saya tidak suka kamu merebut posisi saya!"
"Ah, le-lepaskan saya."
"Waw, mulut kamu menolak sentuhan dia tapi reaksi tubuhmu begitu terlena menikmatinya."
Air mata Galuh terus menetes, hidupnya benar-benar hancur berantakan, gimana jika Roki tahu? Apa yang akan pria itu lakukan? Selain menceritakannya pasti juga akan menghabisinya.
"Ah, kamu gak sabar lihat saya kan? Baiklah, saya akan menunjukkan wajah saya." Lalu orang itu membuka kain penutup wajahnya.
Deg.
"Caca!"
Mata Galuh terbelalak seperti ingin keluar dari tempatnya, dia tidak percaya sosok yang mengejarnya di kebun teh adalah orang yang mengaku jadi kekasih suaminya. Semakin tidak percaya mendengar suaranya seperti seorang pria, seketika kepalanya terasa pening dengan segala kemungkinan yang ada, suaminya menyukai laki-laki.
"Gimana? Sukses kejutannya? Ini saya, istrinya Roki," kata Caca tersenyum puas melihat wajah kaget Galuh. Bahkan suaranya juga masih besar khas laki-laki macho.
"Ka-kamu." Galuh tidak kuat lagi, dia terus-menerus di gauli secara bergantian membuat dirinya makin jijik sama dirinya sendiri.
"Berhenti!" ucap Caca pada pria yang sedang melepaskan hasratnya pada Galuh.
"Ah, bos, untungnya saya sudah keluar jadi tidak tanggung saat anda meminta berhenti." Orang itu memejamkan lega melepaskan kenikmatan di atas perut Galuh.
Hati Galuh terisis sakit sekarang dia benar-benar tidak punya harga diri lagi, dia memang pernah menjadi salah satu penyebab rumahtangga orang lain berantakan tapi soal berhubungan dia tetap menjalaninya bersama suaminya dalam ikatan sah meski harus menjadi istri siri.
"Hmmm, kalian boleh keluar dan bayaran untuk kalian sudah saya kirimkan sekarang kalian semua pergi dari sini sejauh mungkin."
Keempat orang itu mengangguk, mereka keluar sesuai perintah Caca alias Candra pria yang menjadi kekasih Roki.
Tinggal Caca dan Galuh di dalam kamar hotel yang Caca sewa, dia masih berdiri memperhatikan tubuh Galuh yang sudah ternoda oleh banyak orang.
"Kenapa kamu lakukan ini sama saya? Saya salah apa sama kamu hiks?" Galuh menangis, kedua tangannya masih terikat pada ranjang sehingga mempersulitnya bergerak.
"KARENA KAMU SUDAH MEREBUT KEKASIHKU!" sentak Caca marah, sorot mata penuh kebencian, penuh permusuhan. "ROKI MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN SAYA SAAT KAMU DATANG DENGAN DALIH PERJODOHAN. SAYA TIDAK TERIMA ITU."
Caca mencengkram erat dagu Galuh, kukunya menancap tajam menekan kuat-kuat. "Kamu, kamu sudah membuat orang yang aku cintai berpaling dan saya tidak suka itu!"
Suara beratnya menggelegar penuh kemarahan. Dia benci Galuh, perempuan yang sudah merebut posisinya sebagai istri Roki, dia menyukai pria itu meski diapun seorang pria.
Lagi-lagi Galuh menampakan wajah kagetnya bercampur rasa sakit dari semua yang terjadi belakangan ini.
"Dan saya tidak menyangka kamu licik juga ternyata, menjebak orang lain sayangnya kamu juga ikut terjebak. Rencana di balik rencana dan saya yang sudah meneror kamu di kebun teh."
Pengakuan Caca kembali mengejutkan Galuh. Jadi orang yang berniat membunuhnya adalah kekasih suaminya berarti yang menerornya juga dia.
"Ja-jadi kamu juga yang melemparkan batu dan memberikan kado berisi bangkai tikus padaku?"
"Itu bukan saya, siapa tahu musuh kamu yang lain, tapi tenang saja saya akan membuat mereka bahagia karena melihatmu menderita!" Tawa Caca menggema rencananya akan terwujud.
Membuat Galuh di benci orang, di benci suaminya, hingga berakhir di ceraikan. Dari awal Caca menganggap Galuh musuh karena sudah berhasil membuat Roki mulai berpaling. Dia tidak memikirkan musuh Galuh lainnya, yang dia pikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan Galuh dari kehidupan Roki.
Caca berdiri tegak, memegang ponselnya mengetik sesuatu. "Saya tidak sabar ingin melihat kemarahan Roki, apa dia masih ingin mempertahankan mu setelah tahu perbuatanmu?"
"Kamu mau apa, hah? Kenapa kamu jahat sama saya?! Lepaskan saya! Saya mau pulang! Kamu bajingann! Jahat! H0mo! Kamu banci!" pekik Galuh menjerit frustasi ketika Caca menunjukan rekaman video dirinya sedang dijamah lelaki berbeda.
Senyum jahat pria itu muncul, menekan tombol di ponselnya yang akan menjadi awal kehancuran kehidupan Galuh.
"Terlambat! Sebentar lagi Roki akan menceraikanmu dan dunia akan membencimu!"
Deg.
*********
Dalam sebuah ruangan bernuansa putih berbau obat-obatan terbaring seorang perempuan, di sampingnya duduk laki-laki berparas tampan, tinggi, dan tentunya putih.
Dia Arya dan Andina. Pencariannya membuahkan hasil, Andina di temukan bersama Isan sebelum mereka keluar kota lewat jalur tol. Teman-teman Raka yang berprofesi sebagai polisi berhasil mengamankannya namun Andina masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Gimana Andina sekarang, Ar?" tanya Bunda setelah masuk ke dalam kamar inap Andina. Dia datang bersama Nisa dan juga Syakir.
"Hhuaaa mama." Anak itu meronta dari gendongan Nisa merentangkan kedua tangannya menuju Andina.
Arya berdiri, meraih Syakir lalu duduk disampingnya Andina. "Kata dokter obat tidurnya lumayan tinggi dan kemungkinan Andina akan terlelap seharian, tapi Bunda tenang saja sebab tidak ada efek samping berbahaya dalam obat itu. Hanya efeknya tidur lelap seperti orang tidur pada umumnya, setelah obatnya habis Andina akan sadar juga."
"Syukurlah, kita khawatir sama kondisi Andina," ucap Bunda penuh syukur.
"Terus dimana laki-laki itu, Kak?" tanya Nisa penasaran.
"Dia di kantor polisi bersama Appa dan Rizki."