Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Menyamar di Tengah Kerusuhan
Langit belum sepenuhnya terang ketika Haneen sudah bangun. Dia tidak butuh tidur lama. Tiga jam cukup untuk memulihkan tenaga. Di luar gudang, suara ayam berkokok terdengar samar, tertutup oleh suara gemuruh dari kejauhan. Kota Kabut Perak tidak sedang bangun. Kota ini sedang kacau.
Haneen membangunkan Yan Ling dengan menggoyang bahu wanita itu pelan. "Bangun. Rencana berubah."
Yan Ling langsung melek. Insting bertarungnya aktif seketika. Dia berdiri, merapikan jubah, dan memakai kembali topeng penyamarannya. Wajahnya yang tadi bergelombang kembali muncul. Topeng itu masih aktif. Aura mereka juga masih tersamarkan pil yang ditelan semalam.
"Ada apa?" tanya Yan Ling sambil memeriksa pedangnya. Dia mendengar suara ledakan samar dari arah pusat kota. ‘Boom!’
"Rencana kita berhasil lebih cepat dari dugaan," jawab Haneen singkat. Dia berjalan ke celah dinding gudang, mengintip keluar. "Penjaga Kota dan Serikat Naga Merah sudah saling serang. Jalanan penuh dengan warga yang berlarian."
"Jadi kita keluar sekarang?"
"Ya," kata Haneen sambil menutup celah intip. Dia menoleh pada Yan Ling. "Kita akan keluar lewat gerbang utama."
Yan Ling melotot. "Gerbang utama? Pasti dijaga ketat. Mereka akan periksa setiap orang yang keluar."
"Justru karena mereka periksa setiap orang, kita harus jadi bagian dari 'setiap orang' itu," jelas Haneen. Dia mengambil dua jubah cokelat kusam dari tas. "Pakai ini. Tutupi kepala. Jangan kelihatan seperti seorang kultivator. Kita harus terlihat seperti warga biasa."
Yan Ling mengerti. Dia pakai jubah itu. Pedangnya disembunyikan di dalam gulungan tikar yang dibawa di punggung. Mereka sekarang terlihat seperti dua pedagang kecil yang mau kabur dari kerusuhan.
"Misi sistem sudah selesai," kata Haneen dalam hati. Notifikasi baru muncul di kepalanya.
[Misi Selesai: Provokasi Konflik. Hadiah: 5000 IP + Senjata Energi Ringan.]
Haneen simpan item baru itu untuk nanti. "Ayo. Ikut arus aorang-orang itu. Jangan menonjol."
Mereka keluar dari gudang. Suasana jalanan kacau balau. Asap hitam membubung dari beberapa bangunan. Warga berlarian membawa tas dan anak mereka. Ada yang menangis. Ada yang teriak memanggil keluarga.
Haneen dan Yan Ling menyatu dengan kerumunan. Mereka tidak lari terlalu cepat, tidak juga terlalu lambat. Mereka ikut bersandiwara dengan ikutan panik seperti warga lainnya. Haneen terus pantau sistem.
[Peringatan: Tiga aura tingkat Tinggi terdeteksi di area Gerbang Utara. Jarak: 800 meter.]
"Mereka ada di gerbang," bisik Haneen tanpa menggerakkan bibir. "Pemburu sekte bekerja sama dengan penjaga kota."
"Kita balik?" tanya Yan Ling tegang.
"Tidak ada jalan lain. Gerbang lain sudah ditutup," jawab Haneen. "Kita harus lolos dari depan mata mereka. Ikut saja."
Mereka terus berjalan. Semakin dekat ke gerbang, semakin padat orang. Penjaga kota berdiri di atas tembok gerbang. Mereka bawa tombak. Wajah mereka tegang. Di samping mereka, ada tiga orang berbaju putih. Pemburu dari Sekte Pedang Langit.
Mereka punya alat pendeteksi aura. Setiap orang yang mau keluar harus lewat di depan alat itu.
"Antre!" teriak salah satu penjaga. "Jangan dorong-dorong!"
Haneen dan Yan Ling masuk ke antrean. Jantung Yan Ling berdegup kencang. Dia takut alat itu mendeteksi aura asli mereka yang sudah disamarkan pil. Pil itu cuma bertahan tiga hari. Apa kalau ada alat tingkat tinggi, samaran itu tembus?
Haneen tenang. Dia hitung jarak. Lima puluh meter. Tiga puluh meter. Sepuluh meter.
Saat giliran mereka hampir tiba, Haneen lihat sesuatu. Di samping gerbang, ada tumpukan gerobak barang yang ditinggal pemiliknya karena panic. Ada gerobak jerami. Ada gerobak kayu.
Haneen punya ide. Dia panggil sistem diam-diam. [Beli: Pengalih Perhatian Suara. Harga: 100 IP.]
Item kecil berbentuk koin muncul di saku Haneen. Dia aktifkan. Koin itu getar halus.
Tiba-tiba, dari arah belakang antrean, terdengar suara ledakan kecil. ‘Duar!’
Orang-orang kaget. "Ada serangan!" teriak seseorang.
Kekacauan terjadi. Antrean hancur. Orang-orang lari kocar-kacir karena takut ada bom atau serangan lagi. Penjaga kota panik. "Tahan posisi! Jangan ada yang keluar dulu!"
Pemburu sekte juga bingung. Mereka lihat ke arah sumber suara. Alat pendeteksi mereka gangguan karena banyak aura panic yang bercampur aduk.
"Sekarang," bisik Haneen pada Yan Ling.
Mereka tidak lari. Mereka justru jalan cepat tapi tetap membungkuk, seolah-olah ikut terbawa arus warga yang saling dorong-dorongan. Mereka lewat di samping alat pendeteksi saat penjaga sedang sibuk menenangkan warga.
Karena keributan, penjaga tidak sempat scan mereka satu per satu. Alat itu cuma bunyi ‘nging’ biasa karena aura pil penyamaran mereka memang terlihat seperti warga biasa tingkat rendah.
Mereka berhasil lewat garis gerbang. Satu langkah. Dua langkah. Keluar dari batas kota.
Haneen tidak berhenti. Dia tarik lengan Yan Ling. "Jalan cepat. Jangan lari. Kalau lari, mereka akan curiga."
Mereka jalan cepat menjauh dari gerbang. Masuk ke antara pepohonan di pinggir jalan. Baru setelah jarak cukup jauh, mereka mulai lari kecil masuk ke hutan.
Suara teriakan dari gerbang masih terdengar. "Tutup gerbang! Jangan ada yang keluar!"
Tapi sudah terlambat. Haneen dan Yan Ling sudah hilang di balik semak belukar.
Mereka berhenti saat sudah benar-benar aman. Haneen lepas jubah cokelatnya. Yan Ling juga lakukan hal yang sama. Napas mereka lega.
"Kita lolos," kata Yan Ling. Dia masih tidak percaya. "Tadi hampir saja. Aku kira kita ketahuan."
"Kunci lolos bukan cuma kekuatan," kata Haneen sambil bersihkan debu dari bajunya. "Tapi waktu. Dan sedikit bantuan kepanikan warga."
Yan Ling tersenyum tipis. "Kau selalu punya cara."
Haneen tidak jawab. Dia cek sistem lagi.
[Misi Baru: Kembali ke Sekte. Deskripsi: Masuk kembali ke Sekte Pedang Langit tanpa ketahuan. Hadiah: 10000 IP + Teknologi Penyamaran Tingkat Tinggi.]
Sepuluh ribu poin. Itu jumlah besar. Tapi misinya juga jauh lebih sulit. Masuk ke sarang musuh yang sekarang pasti sudah siaga penuh.
"Kita butuh transportasi," kata Haneen. "Jalan kaki ke sekte butuh waktu dua minggu. Kita tidak punya waktu sebanyak itu."
"Kita cari kuda?" tanya Yan Ling.
"Bukan kuda," jawab Haneen. Dia lihat ke langit. Ada beberapa titik hitam terbang jauh di atas. "Pedang terbang. Atau kapal udara dagang."
"Kita tidak bisa naik itu tanpa ketahuan," kata Yan Ling. "Mereka pasti periksa identitas."
"Aku punya ide," kata Haneen. Matanya berbinar. "Tapi butuh persiapan. Kita cari kota kecil dulu di sebelah utara. Kita butuh pakaian baru dan informasi jadwal kapal."
"Siap," jawab Yan Ling. Dia sudah percaya penuh pada rencana Haneen.
Mereka mulai jalan masuk lebih dalam ke hutan. Di belakang mereka, Kota Kabut Perak masih asap mengepul. Perang kecil yang mereka mulai akan berubah jadi berita besar di seluruh benua. Nama "Ren dan Lin" mungkin sudah jadi buronan, tapi wajah asli mereka tidak ada yang tahu.
Haneen pikir tentang langkah selanjutnya. Sekte Pedang Langit. Masih ada tetua korup lain yang belum tersentuh. Masih ada rahasia Song Wei yang belum terungkap sepenuhnya. Dan sekarang, ada Serikat Naga Merah yang mungkin akan memburu mereka juga karena gagal misi.
Musuh makin banyak. Tapi Haneen tidak takut. Dia agen. Dia terlatih bekerja dalam tekanan.
"Haneen," panggil Yan Ling tiba-tiba.
"Apa?"
"Terima kasih," kata Yan Ling pelan. "Kalau tidak ada kau, aku mungkin sudah mati waktu di sekte. Atau tadi di gerbang."
Haneen tidak menoleh. Dia tetap jalan ke depan, membelah semak. "Kita partners. Kau juga selamat kan nyawaku beberapa kali. Itu hitungan wajar."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi," potong Haneen. Suaranya tegas tapi tidak kasar. "Fokus ke jalan. Kita masih di wilayah berbahaya. Pemburu sekte mungkin punya anjing pelacak."
Yan Ling tersenyum di balik topengnya yang sudah dilepas. Dia tahu Haneen tidak suka bicara soal perasaan. Tapi dia tahu Haneen peduli. Itu cukup buat Yan Ling.
Mereka terus jalan. Hutan semakin lebat. Cahaya matahari tersaring daun-daun pohon. Suara burung terdengar damai, kontras dengan kekacauan kota yang mereka tinggalkan.
Tiba-tiba, Haneen berhenti. Dia angkat tangan, tanda diam.
Yan Ling langsung diam. Dia pegang gagang pedangnya. "Ada apa?"
"Ada jejak kaki di tanah" bisik Haneen. Dia jongkok, menyentuh tanah. Ada bekas tapak kaki di lumpur. Besar. Bukan manusia.
"Monster hutan?" tanya Yan Ling.
"Bukan," jawab Haneen. Dia lihat pola tapak itu. "Ini sepatu bot militer. Ada patroli di area ini."
"Patroli siapa?"
"Entah Penjaga Kota yang perluas area, atau orang Naga Merah yang cari kita," jawab Haneen. Dia berdiri. "Kita ubah arah. Mengkir ke timur. Hindari jalur datar."
"Mereka akan tahu kita lewat sini?"
"Mungkin. Tapi kita bikin jejak palsu," kata Haneen. Dia ambil sebuah alat dari sistem. Bentuknya seperti cap kaki kecil. Dia injakkan alat itu ke tanah di arah yang berlawanan.
"Jejak itu akan terlihat seperti ada orang lari ke barat," jelas Haneen singkat. "Mereka akan kejar arah sana. Kita ke timur."
Yan Ling kagum. "Alat apa itu?"
"Alat biasa," jawab Haneen menghindari pertanyaan. Dia tidak mau jelaskan detail sistem. "Ayo. Cepat."
Mereka belok ke timur. Meninggalkan jejak palsu yang mengarah ke barat. Dalam waktu setengah jam, mereka dengar suara orang berlari di kejauhan. Arah barat.
"Mereka tertipu," bisik Yan Ling.
"Untuk sementara," kata Haneen. "Mereka akan sadar cepat. Kita harus sudah jauh sebelum itu."
Mereka lari lebih cepat. Melompati akar pohon. Menghindari ranting. Tubuh mereka sudah terlatih. Tidak ada keluhan lelah.
Sore harinya, mereka sampai di tepi hutan. Di depan mereka, terlihat sebuah kota kecil. Bukan kota besar seperti Kabut Perak. Hanya kota perdagangan biasa.
"Kita istirahat di sana," kata Haneen. "Cari informasi kapal. Lalu istirahat."
"Apakah aman?" tanya Yan Ling.
"Tidak ada tempat yang aman seratus persen," jawab Haneen. "Tapi kita punya topeng baru.”
“Dan poin sistem cukup untuk beli alat darurat.” Lanjutnya dalam hati.
Haneen cek saldo. Masih banyak sisa poin. Dia bisa beli alat komunikasi, alat racun, atau alat ledak kalau perlu.
"Malam ini kita cari penginapan murah," putus Haneen.
"Baiklah" jawab Yan Ling.
Mereka masuk ke kota kecil itu. Warga setempat tidak tahu ada kerusuhan besar di kota sebelah. Mereka hidup tenang. Haneen dan Yan Ling bisa berbaur dengan mudah.
Haneen pilih penginapan di sudut gelap. Tidak ada CCTV spiritual. Tidak ada penjaga ketat. Cocok untuk orang yang mau hilang.
Dia sewa satu kamar untuk mereka berdua. Lebih murah, dan lebih mudah jaga saling backs-up.
Masuk kamar, Haneen langsung tutup jendela. Dia pasang alarm getar di pintu.
"Kau istirahatlah lebih dulu," perintah Haneen. "Bangun tengah malam. Kita cek pelabuhan diam-diam."
"Baik," jawab Yan Ling. Dia langsung duduk bersila, mulai meditasi untuk pulihkan energi spiritual.
Haneen tidak meditasi. Dia duduk di dekat pintu. Matanya terbuka. Tangannya dekat pistol. Dia jaga shift pertama.
Di luar, angin malam berhembus. Suara jangkrik terdengar nyaring. Kota kecil ini tidur nyenyak. Tidak tahu ada dua badai berjalan yang sedang istirahat di penginapan reot mereka.
Haneen pikir tentang misi kembali ke sekte. Itu akan jadi misi tersulit. Masuk ke tempat yang sudah tahu wajah mereka (meski sekarang sudah diganti topeng). Tempat yang punya banyak pendeteksi aura.
Tapi Haneen punya satu keunggulan. Musuh mengira dia akan lari jauh. Mereka tidak akan duga dia akan balik lagi ke sumber masalah.
"Serangan balik terbaik adalah yang tidak terduga," gumam Haneen.
Yan Ling buka mata sebentar. "Kau tidak tidur?"
"Aku yang jaga," jawab Haneen. "Kau istirahat saja."
"Kita gantian nanti," kata Yan Ling. "Kau juga butuh tidur."
Haneen angguk kecil. Dia hargai kepedulian Yan Ling. Tapi dia tahu dia tidak bisa tidur nyenyak sampai mereka benar-benar aman dari pemburu sekte.
Waktu berjalan lambat. Empat jam terasa seperti empat menit bagi Haneen yang sedang waspada. Tapi akhirnya, dia membangunkan Yan Ling.
"Kita gantian," kata Haneen. Dia berbaring di lantai beralaskan tikar.
"Siap," jawab Yan Ling. Dia ganti posisi duduk di dekat pintu.
Haneen pejamkan mata. Dia tidur cepat. Di dalam mimpinya, dia masih menyusun strategi. Peta musuh. Jalur patroli. Jadwal kapal.
Besok pagi, langkah baru akan dimulai. Menuju Sekte Pedang Langit. Menuju kebenaran yang lebih besar. Dan Haneen sudah siap menghadapinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like,komen dan share 😁