NovelToon NovelToon
Benci Tapi Menikah?

Benci Tapi Menikah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Konflik etika
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fareed Feeza

Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

"Bayangkan saja jika di kamar ini tidak ada aku, paling kamu meraung-raung kesakitan sendirian, tentunya bantuan tidak akan datang secepat ini." Ucap Nisa sambil tangannya terus memijat bagian tubuh Gian yang terasa sakit.

"Bawel!"

Nisa sedikit mengeraskan pijitannya karena Gian sama sekali tidak mengucapkan terimakasih karena dia sudah menolongnya.

Rasakan!

"Nisa ... Kau mau membuatku tambah cedera? Seperti sengaja sekali melakukan itu!"

Memang ... Hahaha.

"Oh iya ... Maaf, mungkin cedera mu ada luka di dalamnya." Ucap jam Nisa beralasan.

Gian tak menjawab, dia hanya meringis karena masih merasakan sakit di bagian belakang tubuhnya.

Pijatan lembut Nisa lama kelamaan bisa membawa Gian masuk masuk ke alam tidurnya, Nisa sebenarnya lelah dan capek karena aktivitasnya tadi siang dengan Hari, tapi melihat Gian tidur dengan nyaman Nisa tak tega untuk menyudahi pijatannya.

Sampai pada akhirnya Nisa tak tahan karena matanya terasa berat, Nisa tertidur dengan punggung Gian sebagai bantalnya.

Tengah malam, Gian melenguh karena rasa berat pada punggungnya. "Eugh ... Berat sekali." Keluh Gian, wajahnya melihat ke samping, Nisa dengan posisi duduk dan dia tertidur di atas punggung Gian.

"Pantas saja, ada dia disitu ... Bukannya menyembuhkan, dia malah menambah rasa sakit, bukan hanya bokongku yang sakit, tapi punggungku juga karena di jadikan bantal berjam-jam olehnya."

"Nisa!"

"Nisa! Bangun!" Gian menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan akhirnya Nisa terjaga, wanita itu mengucek sebelah matanya ... Setelah tersadar bahwa dia tertidur di atas punggung Gian, Nisa langsung mundur dengan cepat.

"M-mmm-maaf ... Aku ketiduran."

"Badanku jadi sakit semua, kau harus bertanggung jawab Nis."

"A-aku tidak sengaja, baiklah ... Aku mulai pijat lagi, gimana?"

"Sampai kau tertidur lagi, besok akan aku adukan pada Ibu."

Menyebalkan!

"Iya baiklah."

Gian mulai tertidur karena Nisa lanjut memijatnya, mata Nisa mendadak segar akibat Gian yang membangunkannya.

Tanpa aba-aba suara petir yang keras membuat mereka berdua terkejut. Gian otomatis langsung beranjak dari tidurnya, dia lupa kalau tubuhnya sedang sakit, tapi karena rasa takutnya pada suara petir, Gian mendadak lupa dengan rasa sakitnya.

"Awh ... sakit, aku hanya terkejut ... Bukan takut."

"Dulu ... Ibuku ... meninggal karena ..."

"Stop! Jangan bahas itu ... Aku sudah dengar semua dari om Guntur."

Nisa langsung menunduk, dan tanpa di sangka Gian menarik pergelangan tangan Nisa hingga wanita itu kini berada dalam pelukannya. Ya ... Gian memeluk erat Nisa untuk pertama kalinya.

"Jangan di inget terus, mau sampai kapan sedih setiap denger petir? Kamu fikir di atas sana Ibu kamu gak sedih liat anaknya terus meratapi?"

Anehnya Nisa tidak memberontak, dia malah makin menelusupkan wajahnya ke dada Gian, tangan Gian pun tak tinggal diam, dengan lembut sebelah tangan Gian mengusap rambut panjang Nisa.

Kilat makin menyambar dengan suara kerasnya, Nisa makin mengeratkan tangannya yang melingkar pada tubuh Gian.

Apa dia lupa jika aku adalah seorang pria normal? Aku berhak atas tubuhnya ... Tapi tidak mungkin aku melakukan itu padanya. Batin Gian.

"Nisa ... Ayolah, itu cuma suara petir, kau aman di dalam rumah ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dulu saat kamu tinggal seorang diri di rumah saat ada suara petir seperti ini."

"Aku masuk ke dalam selimut dan menutup tubuhku rapat. Maaf aku reflek ... " Nisa langsung melepas pelukannya pada Gian.

Entah kenapa Gian merasa gelisah saat Nisa melepaskan pelukannya, ingin menahan tapi dia merasa tak pantas, tapi di sisi lain dia tidak mau Nisa terlalu dekat dengannya, khawatir dia tidak bisa mengontrol keinginan alamiah seorang suami pada istrinya.

"Tidurlah, badanku sudah lumayan ... Besok biar aku ke rumah sakit untuk cek semuanya."

Kenapa nada ketusnya tiba-tiba hilang saat berbicara padaku? Batin Nisa.

Pagi harinya ...

Gian tertidur dengan Nisa tanpa penghalang guling di antara mereka, walaupun tidak saling berpelukan ... Posisi mereka sangat berdekatan.

"Eugh ... Nisa, sudah jam 6." Kata Gian berusaha membangunkan dengan mata yang masih tertutup, dia hanya membuka sedikit untuk melihat ke arah jam dinding.

Nisa merentangkan kedua tangannya, rasanya dia belum merasa cukup tidur ... Karena semalam tidur sangat larut.

"Masih ngantuk." Rengeknya.

Tanpa di duga, Gian meletakan tangannya di atas kepala Nisa dan mengacak rambutnya. "Yaudah tidur lagi."

Kesambet apa dia ini? Kenapa sangat berbeda sekali sikapnya? Apa karena nyawanya belum kumpul pagi ini?

Di perlakukan seperti itu membuat Nisa tidak mengantuk lagi, akhirnya dia bangun agar hari-harinya kembali berjalan normal tanpa pertanyaan di dalam hatinya.

Lebih baik aku memasak, Gian berperilaku seperti ini karena dia merasa hutang Budi padaku akibat insiden semalam dan aku memijat tubuhnya hingga larut malam. Setelah bangun dan tersadar ... Dia pasti akan kembali ketus padaku.

30 menit bersiap mandi dan berganti pakaian, Nisa sudah siap untuk menjalani harinya.

"Sudah selesai?" Tanya Gian, pria itu duduk dengan rambutnya yang berantakan.

"S-sudah."

Eh ... Kenapa dia masih ramah?

"Aku mau membantu Ibu, aku keluar duluan." Ucap Nisa.

"Aku mau nasi goreng kuning lagi."

Perkataan Gian membuat Nisa mematung, padahal tangannya sudah mendekati gagang pintu.

"A-apa? N-nasi goreng kuning?"

"Iya ... "

"Baiklah, nanti aku bicara dengan Ibu."

"Rasanya harus sama seperti kemarin."

"Itupun kalau Ibu belum masak." Sahut Nisa lalu pergi keluar kamar.

Tidak ada seorang pun yang berada di dapur, padahal waktu sudah menunjukan pukul 06.30.

"Ibu kemana ya?" Gumam Nisa.

Nisa langsung mengambil alih dapur dengan kecepatan tangannya agar sarapan bisa siap di jam 07.00. Karena Nisa sudah paham betul dimana letak perbumbuan dan bahan masakan lainnya, dia bisa mempersingkat waktu masaknya.

Mungkin Ibu dan ayah kesiangan ... Semoga saja mereka keluar kamar sebelum Gian selesai bersiap, bisa-bisa Gian menolak sarapan jika tahu ini adalah hasil masakanku.

Hampir jam 7, menu sarapan sudah siap ... Tak lupa Nisa menata semua porsi untuk ke empat orang di meja makan. Tak lupa susu hangat favorit Gian yang biasa di sediakan oleh ibunya, kali ini Nisa semua yang menyiapkan.

Nisa mulai gusar saat kedua mertuanya itu belum menampakkan batang hidungnya.

Duh, apa aku ketuk aja kamarnya ya?

Akhirnya Nisa berjalan ke arah kamar mertuanya itu, terlihat pintu yang setengah terbuka, dan memperlihatkan tak ada siapapun di dalam kamar itu.

"Loh kosong? Pada kemana?" Gumam Nisa.

Nisa kembali ke ruang makan, dan alangkah terkejutnya ketika dia melihat Gian sedang duduk sambil menikmati susu hangatnya.

"Ng ... Gian ... "

Gian melihat ke arah Nisa, "Mana Ibu ayah?"

"Entah ... Aku dari tadi cari-cari tapi mereka gak ada."

"Yasudah, biarkan ... Mungkin mereka berolahraga keliling komplek."

Nisa sedikit terkejut, padahal ekspektasi nya Gian akan menolak sarapan ... Tapi ternyata suaminya itu makan tanpa bertanya siapa yang memasak makanannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!