NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Tentang Debu Pasar Loak dan Hal-Hal yang Masih Berfungsi

Pukul empat sore di Bandung adalah saat di mana matahari mulai kehilangan tenaganya dan berubah menjadi cahaya keemasan yang malas. Saya sudah berdiri di depan gerbang sekolah, bersandar pada Si Kumbang yang baru saja saya lap joknya menggunakan sapu tangan. Di kejauhan, saya melihat Senja berjalan keluar. Dia sudah tidak memakai seragam, melainkan sweter kebesaran warna krem yang membuatnya terlihat seperti bungkusan cokelat yang manis.

"Maaf, Bumi. Tadi ada piket kelas sebentar," kata Senja sambil mengatur napas. Suaranya masih kecil, tapi tidak seragu kemarin.

"Santai saja, Senja. Pasar loak tidak akan pindah ke Jakarta cuma gara-gara kita telat sepuluh menit," jawab saya sambil menyodorkan helm cadangan yang biasanya dulu dipakai Kayla. Helm itu harumnya sudah berubah, bukan lagi bau parfum toko kue, tapi bau matahari yang jujur.

Kami membelah kemacetan menuju area stasiun. Di atas motor, Senja tidak banyak bicara. Dia hanya memegang ujung jaket saya dengan sangat hati-hati, seolah-olah jika dia memegang terlalu kencang, saya akan pecah. Berbeda dengan Kayla yang biasanya akan memeluk pinggang saya sambil berteriak menceritakan gosip terbaru di telinga saya sampai saya budek sebelah.

Pasar loak di dekat stasiun adalah surga bagi orang-orang yang merasa dirinya tertinggal oleh zaman. Di sini, segala sesuatu yang dianggap sampah oleh orang modern, justru dihargai sebagai kenangan. Ada radio tua, jam dinding yang jarumnya sudah malas berputar, sampai tumpukan kaset pita yang pitanya sudah sedikit kusut.

"Kamu mau cari kado apa buat Ibu?" tanya Senja sambil menelusuri tumpukan piringan hitam di salah satu lapak.

"Ibu saya suka sekali menyeduh teh sambil mendengarkan lagu lama. Saya mau cari teko keramik yang unik, atau mungkin pemutar kaset yang masih berfungsi," jawab saya.

Kami berjalan menyusuri lorong yang sempit dan berdebu. Senja tampak sangat menikmati suasana ini. Matanya berbinar setiap kali melihat barang yang menurutnya punya nilai seni. Dia sempat berhenti di depan sebuah cermin tua yang bingkainya sudah mengelupas.

"Bumi, lihat cermin ini. Meskipun bingkainya rusak, pantulannya tetap jujur. Dia tidak berusaha menutupi retakan di wajah kita," gumam Senja.

Saya menatap pantulan kami di cermin itu. Kami terlihat seperti dua orang dari masa lalu yang terdampar di masa sekarang. "Itu alasan kenapa saya suka barang lama, Senja. Mereka tidak punya topeng. Apa adanya."

Tiba-tiba, mata saya menangkap sebuah teko keramik berwarna hijau lumut di pojok lapak. Bentuknya klasik, dengan ukiran bunga kecil yang sudah agak pudar. Saya mengambilnya, meraba permukaannya yang kasar.

"Ini bagus, Bumi. Ibu kamu pasti suka," kata Senja meyakinkan.

Saat saya sedang menawar harga dengan pedagangnya, sebuah suara yang sangat saya kenal terdengar dari arah belakang.

"Bumi? Ngapain kamu di tempat kumuh begini?"

Saya menoleh. Itu Kayla. Dia sedang berdiri bersama Arkan. Rupanya mereka juga sedang berada di area stasiun, mungkin habis makan di kafe hits yang tak jauh dari sini. Kayla tampak sangat kontras dengan lingkungan pasar loak ini; dia memakai baju yang sangat rapi dan wangi, sementara saya dan Senja sudah penuh debu.

"Lagi cari kado, Kay. Dan tempat ini tidak kumuh, cuma kurang diseka saja," jawab saya pendek.

Kayla menatap Senja dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tatapannya tajam, seperti sedang menilai kualitas barang dagangan di sini. "Sama Senja? Kamu serius, Bumi? Kamu bawa dia ke tempat penuh debu begini? Nanti kalau dia sesak napas gimana?"

Arkan tersenyum simpul, tangannya masuk ke saku celana. "Mungkin Bumi merasa selera mereka memang sama, Kay. Suka hal-hal yang sudah lewat masanya. Ya kan, Bumi?"

Senja menunduk, dia tampak tidak nyaman. Saya melangkah sedikit ke depan, menutupi posisi Senja dari pandangan Arkan.

"Setidaknya barang-barang di sini punya jiwa, Kan. Tidak seperti barang baru yang mengkilap tapi isinya cuma plastik kosong," kata saya sambil menyerahkan uang ke pedagang teko. "Ayo, Senja. Kita cari tempat minum es cendol saja, di sini udaranya mulai terasa penuh polusi omongan."

Saya menarik tangan Senja—tindakan yang bahkan tidak pernah saya lakukan pada Kayla secara spontan. Saya bisa merasakan tangan Senja yang kecil dan dingin itu sedikit gemetar, tapi dia tidak melepaskannya.

Kami berjalan meninggalkan Kayla dan Arkan yang masih berdiri di sana. Di spion Si Kumbang saat kami hendak pergi, saya melihat Kayla masih menatap kami dengan wajah yang entah kenapa terlihat sangat sedih, bukan marah.

Sore itu berakhir dengan kami duduk di pinggir jalan, minum es cendol di dalam plastik. Senja tertawa kecil melihat kumis santan di bibir saya.

"Terima kasih ya, Bumi. Sudah membela saya tadi," kata Senja.

"Saya tidak membela kamu, Senja. Saya cuma membela kenyataan kalau kamu jauh lebih menyenangkan diajak ke pasar loak daripada mereka," jawab saya jujur.

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa meskipun permukaan saya penuh debu dan retakan, ada orang yang lebih suka menyentuh retakan itu daripada memandangi kilauan emas yang palsu. Kayla mungkin adalah matahari saya yang lama, tapi Senja... Senja adalah cahaya lampu jalanan yang menemani saya pulang saat matahari itu sudah benar-benar tenggelam.

saya yang menyimpan teko hijau itu dengan hati-hati, menyadari bahwa hal-hal yang masih berfungsi dengan baik seringkali ditemukan di tempat-tempat yang paling tidak terduga.

1
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!