NovelToon NovelToon
Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pernikahan Kilat / Pelakor
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?

"Aku pergi bukan untuk kembali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Cermin retak.

Mirza datang bersama Ribka. Raymond dan Khaty sudah tiba di restoran lebih dulu. Mirza menggandeng lengan ibunya. Menarik kursi dan mempersilahkan Ribka duduk.

Melihat perlakuan Mirza kepada Ribka, hati Khaty seolah disayat sembilu. Sudah bertahun-tahun dia memendam perasaan itu. Cuma mampu menatap Mirza dari kejauhan. Sejuta sesal tidak berguna.lagi. Karena telah membuang anaknya di panti asuhan dulu. Lalu diadopsi oleh Raymond, papanya sendiri.

Sekarang dia telah menikah dengan Raymond. Dia ingin merebut kembali Mirza dan mereka hidup bersatu menjadi sebuah keluarga yang utuh.

'Tapi kenapa Ribka ikut makan malam bersama mereka? Bukankah harusnya Mirza saja yang datang? Kenapa Ribka malah ikut?'

'Mana penampilannya juga berbeda sekarang. Siapa yang mengubah penampilan Ribka. Apakah Mirza atau Ribka sendiri. Ingin manarik perhatian Raymond, ya? Sengaja hendak menggoda suaminya. Awas kamu Bang Ray, kalau sampai tergoda dengan istrimu yang kampungan itu.'

Khaty benar-benar cemburu! Terlebih melihat bagaimana sikap Mirza kepada Ribka.

Ribka dapat merasakan sikap Khaty yang tidak suka dengan kehadirannya. Tapi dia acuh saja. Mirza tersenyum sinis. Melihat istri kedua papanya yang seperti menduduki bara api. Memang itu tujuannya. Memanasi Tante Khaty.

"Ma, aaa," Mirza menyuapkan sepotong daging ke mulut Ribka. Di sela saat makan malam. Ribka ragu membuka mulutnya. Tapi Mirza memaksa. "Enakkan Ma?" tatap Mirza hangat.

Ribka mengangguk dan melirik ke arah Khaty. Khaty mencelos. Pura-pura tidak melihat. Tapi dalam hati cemburu melihat perlakuan Mirza ke ibunya.

'Seharusnya, Mirza melakukan itu kepadaku, bukan ke Ribka.' Khaty melotot ke arah Ribka.

Raymond berdehem. Supaya Mirza menjaga sikapnya. Tapi Mirza tidak peduli.

"Sudah, Mir. Mama bisa suap sendiri." tolak Ribka pura-pura. Padahal dalam hati dia tertawa. Menertawakan Khaty yang terbakar di dalam hati.

'Lihat, betapa Mirza sangat mencintai aku. Padahal kamulah ibu yang telah melahirkannya. Suamiku boleh saja kamu rebut. Tapi Mirza, hati dan cintanya, dengan apa akan kau raih? Rasakan karma atas perbuatanmu yang membuang anakmu dan anakku.' Ribka membatin penuh dendam.

"Oh, ya Mirza. Besok kamu jadi berangkat ke Jakarta?" sela Khaty, mencoba mengalihkan perhatian Mirza.

"Iya, Tante." sahut Mirza datar. Panggilan itu ibarat jarum yang menusuk jantung Khaty.

"Aku ibumu Mirza. Ibu yang melahirkanmu!" teriak Khaty dalam hati.

"Kalau ada hal yang Mirza butuhkan, jangan segan-segan ngabari Tante, ya. Tante pasti berusaha membantu. Iya kan Pi?" Khaty menatap mesra kepada Raymond. Sengaja untuk memanasi hati Ribka.

Akan tetapi sikap Ribka datar saja. Tidak terprovokasi. Malah Raymond yang merasa kesal dengan sikap Ribka yang menurutnya terlalu tenang.

'Benar-benar sudah kukuh mau bercerai, ya.' Batin Raymond.

Bukan hanya Khaty yang terbakar cemburu. Raymond juga tidak suka cara Mirza memperlakukan Ribka.

"Mirza, kamu harus jaga sikap. Jangan sampai orang salah faham melihatmu."

"Memangnya siapa yang cemburu Pa? Ibu kan Mama Mirza. Masa ada orang yang akan salah faham sih."

"Ya, udah. Tapi kamu harus menjaga perasaan Tante Khaty juga. Tante Khaty menganggapmu sebagai anak juga kok. Masak kamu pilih kasih."

"What? Emang Tante Khaty berhak Mirza sayangi. Masih syukur Mirza tidak menuntut Papa dan Tante Khaty. Jadi jangan berharap lebih dari Mirza, deh."

"Jika hanya karena uang yang Tante berikan kemarin. Detik ini juga Mirza kembalikan lagi. Mama sudah merawatku dari kecil. Seandainya Tante yang melahirkan Mirza pun, Mirza tidak akan pernah mengakuinya." ucap Mirza sekenanya.

Duar!

Bagai mendengar guntur di siang hari, Khaty dan Raymond shock mendengar ucapan Mirza.

"Mirza! Kamu ngomong apaan sih!" sentak Raymond.

Ribka juga kaget! Tapi lidahnya kelu untuk menegur Mirza. Ribka dapat bayangkan seperti apa genderang yang bertabuh di hati Raymond dan Khaty.

Penolakan itu. Pastinya sangat menyakitkan. Karena mereka adalah ayah dan ibu kandung Mirza.

"Mirza, kamu kok ngomong begitu Nak?" Ribka mengelus kepala Mirza, akhirnya. Meredam amarah Mirza yang mulai meluap. Apakah Mirza tahu hal yang sebenarnya? Dan kata-kata itu sebagai sindiran? Tapi Mirza tahu darimana? Hati Ribka penuh tanya.

"Mama, dengar sendiri kan? Ucapan Papa yang hendak menggiring Mirza untuk menerima kehadiran Tante Khaty. Lupa kalau mereka telah menghianati Mama dan Mirza."

"Mirza jadi curiga. Rahasia apa yang Papa sembunyikan dari Mirza tentang Tante?" Mirza menatap tajam, seolah mau menelanjangi hati mereka.

Raymond dan Khaty mendadak nervous. Ucapan Mirza menohok mereka tepat di jantung.

Raymond dan Khaty saling pandang sejenak. Apakah ini saatnya membuka rahasia itu? Dengan resiko Mirza akan menghilang dari hadapan mereka karena amarah dan benci?

Bukan itu yang mereka inginkan!

Ribka, juga memandangi Raymond dan Khaty silih berganti. Akankah mereka berani menyingkap rahasia itu? Rahasia yang bukan lagi menjadi rahasia baginya? Karena dia sudah tau hal yang sebenarnya.

"Maafkan Tante Mirza. Bukan begitu maksud Tante. Kami tidak menyimpan rahasia apa-apa dari Mirza. Tante tulus dengan niat Tante, menjadikanmu sebagai anak Tante." Khaty membungkus kembali niatnya hendak mengungkap rahasia itu.Sebab itulah tujuan sebenarnya mengajak makan malam, sebelum Mirza bertolak ke Jakarta.

Hampir saja Ribka terbahak mendengar ucapan itu. Alangkah manisnya. Siapapun akan terharu mendengar kata-kata itu.

"Tidak perlu repot-repot Tante. Semua kasih sayang dan cinta seorang Ibu sudah aku dapatkan dari Mama. Beliaulah cinta pertamaku. Selamanya akan menjadi orang yang aku hormati dan banggakan." Mirza mengusap punggung tangan Ribka.

Khaty tiba-tiba batuk. Nafasnya mendadak sesak. Apa yang barusan diucapkan Mirza adalah harga mati. Hal yang ia takutkan selama ini. Tidak ada ruang baginya di hati Mirza. Anak yang dikandung selama sembilan bulan itu. Nyawa yang telah dia pertaruhkan untuk membawanya melihat dunia ini.

Memang, tidak setetes pun ASInya mengalir di tubuhnya. Ketika masih bayi merah, Mirza sudah diserahkannya ke panti asuhan. Walau setiap waktu selalu dikunjunginya. Bahkan nama itu adalah nama pemberiannya. Dia menjadi salah satu donatur ke panti itu. Hanya agar bisa melihat pertumbuhan bayinya itu.

Mengapa tidak seutas ototnya pun yang merasakan, kalau darah dalam tubuhnya itu. Adalah darah yang sama yang mengalir ditubuh wanita di hadapannya saat ini?

Khaty mengepalkan telapak tangannya. Geram dan rasa sakit datang bersamaan. Tapi tidak mungkin melampiaskannya.

Raymond menyadari gelagat Khaty. Mengerti apa yang bergolak di dadanya saat ini. Tapi dia juga tidak berdaya mau berbuat apa.

Tidak mungkin membuka rahasia itu. Sangat riskan. Bahkan untuk kali lain pun rasanya tidak mungkin. Kecuali ada keajaiban. Mirza mengetahui sendiri rahasia itu. Atau ada seseorang yang menyampaikannya. Tapi resikonya tetap sama. Mirza akan membenci mereka!

Malam itu, apa yang diharapkan Raymond dan Khaty untuk mengubah hubungannya dengan Mirza kandas. Ribka yang sudah mengetahui rahasia itu hanya bisa tertawa dalam hati. Menertawakan Raymond dan Khaty yang menganggap uang bisa membeli segalanya.

Nyatanya uang itu tidak bisa ditukar dengan masa lalu. Hendak mengubah apa yang sudah terlewatkan.

Seperti cermin yang telah retak, meskipun sudah direkatkan kembali. Bayangan siapapun disana tidak akan pernah utuh lagi.***

1
Greenindya
syukurin karma tuh
Linda pransiska manalu: iya Mak. gak mau menghargai menantu.
total 1 replies
Erchapram
Ayo Ribka jadi perempuan yg lebih badas lagi. Jangan mau diinjak2 madesu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!