Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Di sudut kamar yang paling terpencil di mansion Gonzales, cahaya matahari senja menembus jendela, menyinari tumpukan sketsa dan gulungan kain sutra.
Leonor Kaia sedang menekuni detail sulaman pada sebuah gaun couture rancangannya.
Di usia 22 tahun, Leonor adalah mahasiswi terbaik di fakultas desain mode universitas mereka, sebuah pencapaian yang bagi dunia luar sangat luar biasa, namun di rumah ini, itu dianggap sebagai hobi yang membuang-buang waktu.
Leonor memiliki rambut hitam panjang yang selalu tertata rapi, mencerminkan sisi feminin yang kuat. Namun, kecantikannya selalu terasa salah di mata ayahnya, David Gonzales.
"Leonor, turun sekarang. Makan malam akan dimulai," suara ketus pelayan terdengar dari balik pintu.
Leonor menarik napas panjang. Makan malam di rumah ini bukanlah saat untuk berbagi cerita, melainkan panggung pemujaan bagi satu orang saja.
Meja makan panjang itu terbuat dari marmer Italia, namun suasananya sedingin es. David Gonzales duduk di ujung meja dengan wibawa pengusaha nomor empat di Los Angeles. Di sisi kanannya duduk sang istri ketiga, dan di sampingnya adalah Ethan, putra kesayangan yang baru berusia 21 tahun.
Di sisi lain, Leonor duduk berdampingan dengan Aurora, putri dari istri pertama David. Aurora, yang juga berusia 22 tahun, adalah mahasiswi jurusan Performance akting. Mereka berdua, meskipun cantik dan berbakat di bidang masing-masing, hanyalah dekorasi di mata David sang ayah.
"Bagaimana kuliah bisnismu hari ini, Ethan?" tanya David, suaranya yang biasanya berat dan menekan, tiba-tiba melunak penuh kebanggaan.
"Lancar, Ayah. Dosen memuji analisaku tentang pasar properti di Downtown. Aku yakin bisa membantu di kantor pusat musim panas ini," jawab Ethan dengan nada jemawa.
David tertawa lebar, sebuah suara yang jarang didengar Leonor. "Bagus! Itulah anakku. Seorang laki-laki harus memegang kendali. Kau adalah pewaris tunggal kerajaan Gonzales. Jangan seperti kakak-kakakmu yang hanya tahu cara menghabiskan uang untuk kain atau sandiwara panggung."
Leonor menunduk, jarinya meremas serbet di bawah meja. Aurora di sampingnya hanya bisa menatap piringnya dengan tatapan kosong, sudah terbiasa dengan penghinaan halus itu.
"Ayah," Leonor memberanikan diri bersuara. "Minggu depan adalah fashion show ku. Aku akan menampilkan koleksi utamaku. Jika Ayah ada waktu..."
"Desain baju?" David memotong kalimatnya bahkan sebelum Leonor menyelesaikannya. Tatapannya beralih pada Leonor, dingin dan meremehkan.
"Kau menghabiskan biaya kuliah mahal hanya untuk menjadi penjahit? Mengapa kau tidak bisa setidaknya belajar akuntansi seperti yang kulakukan dulu? Setidaknya Aurora, meski dia hanya bermain peran, dia masih bisa berguna untuk citra publik keluarga."
David meletakkan garpunya dengan denting yang keras. "Tapi kau, Leonor... kau bahkan tidak membawa nama Gonzales. Kau lahir sebagai pengingat bahwa ibumu, gadis miskin itu tidak bisa memberiku apa yang kucari."
Hati Leonor mencelos. Ibunya, yang meninggal saat ia berusia 11 tahun, selalu menjadi sasaran kebencian David karena status sosialnya yang rendah dan karena hanya melahirkan seorang anak perempuan.
"Ethan adalah masa depan," lanjut David sambil menepuk bahu putranya. "Dia belajar bisnis di kampus yang sama dengan kalian, tapi dia membawa beban yang jauh lebih mulia. Kalian berdua hanyalah menunggu waktu sampai ada pria dari keluarga kaya yang mau menikahi kalian."
Setelah makan malam, Leonor dan Aurora berdiri di balkon lantai dua, menatap lampu-lampu Los Angeles yang berkilauan.
"Dia tidak akan pernah melihat kita, Leo," bisik Aurora pahit. "Mau sejuta kali aku masuk TV atau sejuta kali kau memenangkan penghargaan desain, di matanya kita hanya kegagalan karena kita bukan laki-laki."
Leonor membelai rambut panjangnya yang tertiup angin. "Aku tidak mengerti bisnis, Aurora. Aku tidak tahu cara membaca grafik saham atau melakukan akuisisi. Tapi aku tahu cara menciptakan sesuatu yang indah. Apakah itu benar-benar tidak berharga?"
"Bagi David Gonzales? Tidak," jawab Aurora. "Kecuali keindahan itu bisa ia jual untuk menambah digit di rekening banknya."
Malam itu, Leonor kembali ke meja kerjanya. Dia melihat sketsa gaun pengantin yang sedang ia kerjakan. Meskipun ayahnya membencinya, meskipun dia hidup tanpa marga Gonzales di belakang namanya, Leonor tahu satu hal, kreativitasnya adalah miliknya sendiri.
Dia mungkin tidak akan pernah menjadi pewaris perusahaan properti raksasa, tapi dia adalah ratu di dunianya sendiri, dunia warna, tekstur, dan bentuk.
Di kampus besok, saat dia berpapasan dengan Ethan yang selalu dikelilingi asisten dan kemewahan, Leonor akan tetap berjalan dengan kepala tegak.
Dia adalah Leonor Kaia. Kaia Adalah Nama Ibunya, Tanpa harta David, tanpa validasi sang ayah, dia akan tetap menjahit jalannya sendiri menuju kesuksesan, meski harus dimulai dari selembar kain sisa di rumah yang tidak pernah menganggapnya ada.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍