"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Jejak Tepung dan Darah
Pagi itu, pelataran parkir belakang Restoran Le Lapin berubah menjadi lautan lampu biru dan merah. Garis polisi kuning membentang, memisahkan kemewahan interior restoran dengan realitas dingin di area logistik. RM berdiri di depan sebuah truk pendingin berlogo kelinci perak, wajahnya kaku tertutup masker medis.
Di sampingnya, tim teknis kepolisian sedang menyisir setiap inci bagian dalam truk yang biasanya digunakan untuk mengangkut wagyu premium dan bahan pangan impor.
"Pindahkan kotak-kotak ini," perintah RM tegas.
Saat kotak kayu berisi daging dipindahkan, RM berlutut. Ia menyalakan senter UV dan mengarahkannya ke sudut lantai baja truk. Di sana, di antara celah sambungan logam yang seharusnya bersih, terdapat residu butiran putih yang halus. Namun, di bawah cahaya UV, butiran itu tidak hanya memancarkan warna putih tepung gandum, melainkan pendaran protein yang jauh lebih gelap.
"Ambil sampel ini," ujar RM kepada petugas forensik. "Gunakan luminol."
Ketika cairan kimia itu disemprotkan, detak jantung semua orang di sana seakan berhenti sejenak. Lantai truk itu mendadak menyala dengan pendaran biru neon yang mengerikan. Pendaran itu membentuk pola seretan yang memanjang dari tengah hingga ke pintu belakang.
"Metode yang cerdas," gumam RM, suaranya terdengar dingin melalui masker. "Dia memindahkan mayat bersamaan dengan bahan makanan. Tidak ada yang akan mencurigai bau amis darah di sebuah truk yang penuh dengan daging mentah. Dan tepung gandum ini... ini digunakan untuk menyerap kelembapan agar jejak cairan tubuh tidak membekas di lantai. Ini bukan sekadar pengiriman, ini adalah sistem pembuangan yang sistematis."
Bukti ini terasa seperti palu godam. Secara logistik, truk ini terdaftar atas nama perusahaan Jungkook. Lokasi GPS-nya pun menunjukkan bahwa truk ini berada di dekat area penemuan korban ke-3 dan ke-4 pada jam-jam krusial.
Beberapa jam kemudian, di ruang interogasi markas kepolisian, Jungkook duduk dengan tenang. Tangannya terborgol di atas meja besi, namun ekspresinya tetap datar, nyaris lembut. Di bahunya, perban putih terlihat sedikit merembeskan darah akibat luka sayatan semalam.
RM masuk dan melemparkan foto-foto hasil laboratorium ke depan Jungkook.
"Tepung gandum dan serum darah manusia, Jungkook-ah. Ditemukan di truk kesayanganmu. Kau mau menjelaskan bagaimana DNA korban ke-4 bisa berpesta di dalam kendaraan logistikmu?" tanya RM, suaranya berat dengan tekanan intimidasi.
Jungkook menatap foto-foto itu tanpa berkedip. Ia kemudian mendongak, menatap RM dengan mata besarnya yang tampak jernih—terlalu jernih untuk seorang tersangka.
"Truk itu dikendarai oleh tiga staf yang berbeda dalam seminggu, Detektif," jawab Jungkook tenang. "Restoran saya menerima pasokan dari berbagai pedagang di pasar pusat. Jika ada darah di sana, bukankah lebih masuk akal jika itu berasal dari daging yang kami olah? Dan soal DNA manusia... bukankah kalian sendiri yang bilang bahwa pelaku sindikat ini sangat licin? Siapa pun bisa masuk ke gudang logistik kami saat malam hari. Kunci gerbang kami sempat dirusak dua minggu lalu, dan saya sudah melaporkannya ke polisi setempat. Kalian punya catatannya, bukan?"
RM menggeram. Ia tahu Jungkook benar. Laporan perusakan gerbang itu ada. Dan secara teknis, belum ada bukti kamera pengawas yang menunjukkan Jungkook sendiri yang mengemudikan truk tersebut pada malam pembuangan mayat.
"Jangan bermain-main denganku," desis RM. "Kau pikir kau bisa lolos hanya karena kau punya alibi?"
Tiba-tiba, pintu ruang interogasi terbuka. Suga masuk dengan wajah frustrasi, memegang sebuah map tipis.
"Hyung, kita harus melepaskannya," bisik Suga pelan.
"Apa?! Kau bercanda?" RM bangkit dari kursinya.
"Hasil uji lab terbaru keluar. Darah yang ditemukan di truk memang mengandung DNA manusia, tapi konsentrasinya terlalu rendah dan tercampur dengan begitu banyak enzim pencernaan hewan dari daging mentah sehingga hakim tidak akan menerimanya sebagai bukti primer," jelas Suga, matanya melirik Jungkook dengan penuh kecurigaan. "Ditambah lagi, pengacara Jungkook baru saja tiba dengan rekaman CCTV dari sebuah pom bensin yang menunjukkan Jungkook sedang berada di bar sejauh 30 kilometer dari lokasi truk saat kejadian pembuangan terjadi."
Jungkook memberikan senyum tipis—hampir tak terlihat. "Saya sudah bilang, saya menghabiskan malam itu untuk menenangkan diri setelah pertengkaran saya dengan Sheril."
Dengan gigi terkatup, RM terpaksa membuka borgol Jungkook. "Kau bebas untuk sekarang. Tapi jangan berani-berani meninggalkan kota. Aku akan mengawasimu setiap detik."
Di luar gedung kepolisian, Sheril sudah menunggu. Ia melihat Jungkook keluar dengan langkah yang sedikit gontai. Tanpa mempedulikan tatapan tajam dari RM dan Suga di ambang pintu, Sheril berlari memeluk pria itu.
"Kook... kau tidak apa-apa?" isak Sheril.
Jungkook membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di leher Sheril. "Aku baik-baik saja, Sayang. Maafkan aku karena membuatmu khawatir. Polisi hanya salah paham soal truk pengiriman."
Namun, saat mereka berjalan menuju mobil, Suga menarik Sheril sebentar ke samping, menjauh dari jangkauan pendengaran Jungkook.
"Sheril, dengarkan aku sekali saja," bisik Suga mendesak. "Jungkook dilepaskan bukan karena dia tidak bersalah, tapi karena dia terlalu pintar dalam menghapus jejak. Darah di truk itu nyata. Tepung gandum itu nyata. Dia menggunakan profesinya sebagai koki untuk menyamarkan bau kematian. Kau sedang tidur dengan seseorang yang tahu persis bagaimana cara membedah makhluk hidup tanpa menyisakan bukti."
Sheril menatap Suga dengan mata sembab. "Lalu kenapa kalian tidak menahannya jika kalian begitu yakin?"
"Karena ada orang dalam yang membantunya, Sheril! V menghapus data penting semalam!" Suga menekan suaranya. "Ada sesuatu yang besar yang sedang terjadi, dan Jungkook berada di tengah-tengahnya."
Sheril terdiam. Ia melihat Jungkook yang berdiri di dekat mobil, menatap mereka dengan ekspresi tenang, namun tangannya yang tersembunyi di saku jaket tampak mengepal kuat.
Di dalam kepalanya, Sheril teringat bau tepung gandum yang sering menempel di baju Jungkook saat pria itu pulang larut malam. Ia selalu berpikir itu adalah aroma kerja keras, aroma roti yang baru dipanggang. Namun kini, setelah mendengar penjelasan RM, aroma itu mendadak berubah di ingatannya menjadi bau yang kering, berdebu, dan menyesakkan—bau yang digunakan untuk menutupi sesuatu yang amis.
"Ayo pulang, Sheril," panggil Jungkook lembut.
Sheril mengangguk pelan pada Suga, lalu berjalan mengikuti Jungkook. Saat mobil melaju pergi, Sheril mencium aroma parfum Jungkook yang biasanya menenangkan, namun kali ini ia merasa ada aroma lain yang samar; bau besi yang tipis, bau darah yang dicuci bersih dengan pemutih.
Jungkook bebas, namun di mata kepolisian, ia kini bukan lagi sekadar koki terkenal. Ia adalah teka-teki yang paling berbahaya yang pernah mereka temui. Seorang pria yang bisa berada di dua tempat sekaligus, dan seorang kekasih yang bisa memelukmu dengan tangan yang mungkin baru saja menaburkan tepung di atas genangan darah.
...****************...