NovelToon NovelToon
PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."

Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.

Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.

Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ZONA MERAH SANG MAESTRO

di teras rumahnya yang asri di Bandung, udara dingin malam itu terasa menusuk, namun Nadine tetap bergeming. Di tangannya, pemutar musik kecil pemberian Ghava terasa hangat. Dengan ragu, ia menekan tombol play dan memasang earphone.

Suara petikan gitar akustik yang lembut dan jujur memenuhi telinganya. Tak lama kemudian, suara bariton Ghava yang khas—suara yang biasanya terdengar tegas di studio, kini terdengar begitu rapuh dan tulus—mulai mengalun.

"Untuk asisten yang lebih sering mengatur hidupku daripada jadwal kerjaku... Untuk dia yang berdiri paling depan saat dunia melempari aku dengan batu..."

Nadine menutup matanya. Air matanya seketika luruh membasahi pipi. Lagu itu bukan lagu megah dengan aransemen rumit yang biasa Ghava buat untuk penyanyi papan atas. Ini adalah lagu sederhana tentang rutinitas mereka; tentang kopi yang terlalu pahit, tentang balapan kursi roda dengan Reka, dan tentang bagaimana kehadiran Nadine perlahan mengisi "ruang kosong" di hati Ghava.

Liriknya berlanjut: "Kamu bilang kamu adalah ruang kosong yang ingin menemani sunyiku... Tapi bagiku, kamu adalah rumah yang bahkan belum sempat aku masuki sepenuhnya. Jangan pergi terlalu jauh, karena pelindungmu ini sekarang sedang kehilangan arah."

Di akhir rekaman, musik itu berhenti, namun rekaman tidak mati. Terdengar helaan napas panjang Ghava yang berat, seolah ia sedang bicara pada dirinya sendiri namun berharap Nadine mendengar.

"Na... maaf saya telat bilang ini. Saya nggak cuma butuh asisten. Saya butuh kamu. Pulang ya, kalau kamu sudah siap. Saya bakal tunggu di depan pintu rumah itu, sampai kamu sendiri yang buka kuncinya."

Nadine terisak pelan, mendekap pemutar musik itu di dadanya. Di saat yang sama, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Itu adalah Ayahnya yang membawakan selimut. Beliau melihat putrinya menangis sambil memegang erat benda pemberian pria yang paling beliau hindari saat ini.

Nadine tersentak, dengan cepat ia menghapus air mata di pipinya dan melepas earphone dari telinganya. Ia menatap Ayahnya yang berdiri di sana dengan wajah tenang namun penuh otoritas.

"Mas Surya sudah masukkan lamaranmu ke kantor di daerah Asia Afrika, katanya Senin nanti temennya pengen kamu datang," ucap Ayah Nadine sambil menyampirkan selimut ke bahu putrinya.

Nadine terdiam. Asia Afrika adalah kawasan perkantoran sibuk di jantung kota Bandung. Sangat dekat, sangat aman, dan sangat jauh dari hingar-bingar industri musik Jakarta yang telah melukainya.

"Ayah... Senin besok?" tanya Nadine lirih.

"Iya. Pekerjaan kantoran biasa, Na. Masuk jam delapan, pulang jam lima. Nggak ada wartawan, nggak ada lembur sampai subuh, dan yang paling penting... nggak ada batu melayang," lanjut Ayahnya, ada nada getir sekaligus sayang dalam suaranya. Beliau melirik pemutar musik di tangan Nadine. "Ayah cuma mau kamu hidup tenang. Sudah cukup kemarin Ayah hampir kehilangan detak jantung lihat kamu di televisi."

Nadine menunduk, meremas pemutar musik itu di balik selimutnya. Ia tahu ini adalah bentuk kasih sayang orang tuanya yang ingin melindunginya, tapi setiap kata dari lagu Ghava tadi masih terngiang jelas di kepalanya.

"Jangan pergi terlalu jauh, karena pelindungmu ini sekarang sedang kehilangan arah."

"Iya, Yah. Senin Nadine datang ke sana," jawab Nadine akhirnya, meski hatinya terasa seperti dicubit. Ia tidak punya kekuatan untuk mengecewakan pria tua di depannya yang sudah rela menempuh perjalanan Bandung-Jakarta dalam kondisi panik luar biasa demi menjemputnya.

Ayahnya mengangguk puas, mengusap kepala Nadine sebentar sebelum masuk kembali ke dalam rumah.

Nadine kembali sendirian di teras. Ia membuka ponselnya, melihat daftar kontak. Nama "Mas Ghava (Studio)" masih di sana. Ia ingin mengirim pesan, ingin bilang kalau ia harus mulai bekerja di tempat baru, tapi ia teringat ucapan kakaknya bahwa ia tidak boleh berhubungan lagi dengan industri itu.

Nadine mengalihkan pandangannya dari teras menuju ruang tamu. Di sana, di dinding utama, terpajang foto besar Surya dengan seragam kepolisiannya yang gagah. Sorot mata kakaknya di foto itu seolah sedang mengawasinya, mengingatkannya bahwa keputusan keluarga adalah mutlak.

"Aku rindu Mas... tapi kalau aku hubungi kamu, entah apa yang akan dilakukan Kakakku," bisik Nadine lirih.

Ia tahu betul watak Surya. Sebagai seorang polisi, kakaknya itu sangat protektif dan tidak segan-segan menggunakan ketegasannya jika menyangkut keselamatan adik perempuan satu-satunya. Jika Nadine nekat menghubungi Ghava, Surya bisa saja melakukan hal yang lebih ekstrem daripada sekadar mengirim surat resign—mungkin mendatangi studio Ghava lagi dengan peringatan yang lebih keras.

Nadine menarik napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya. Ia kembali menatap pemutar musik pemberian Ghava. Lagu itu masih berputar di kepalanya, namun kenyataan di depannya jauh lebih rumit.

Senin di Asia Afrika, Bandung. Itu adalah dunia baru yang dijanjikan keluarganya. Dunia yang aman, namun terasa sangat sepi tanpa celotehan Reka atau omelan perfeksionis dari Ghava.

Sementara itu, di Jakarta, Ghava sedang duduk di ruangannya yang gelap. Ia menatap layar ponselnya yang tidak menampilkan notifikasi apa pun dari Nadine. Ia merasa ada yang tidak beres. Firasatnya mengatakan bahwa Nadine sedang dipaksa untuk melangkah ke arah yang berbeda.

"Mbak Yane," panggil Ghava lewat sambungan telepon. "Tolong cari tahu lewat relasi kita di Bandung. Mas Surya itu dinas di mana dan apa rencana mereka buat Nadine. Gue nggak bisa diem aja kalau dia bener-benar dipaksa berhenti dari hidup gue."

Ghava tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang kakak yang punya "wewenang" dan prinsip keamanan yang sangat tinggi.

"Mas Surya jabatannya ga main main ghav, liat di google aja ada, makanya dia ngamuk adeknya jadi korban"ucap Mbak Yane

Ghava terdiam seribu bahasa. Ia segera meraih ponselnya dan mengetikkan nama Surya Atmadja di kolom pencarian. Matanya membelalak saat melihat deretan artikel berita dan profil resmi kepolisian yang muncul.

Benar kata Mbak Yane. Kakak Nadine bukan sekadar polisi biasa; ia memiliki jabatan strategis di jajaran perwira menengah dengan rekam jejak yang sangat tegas. Foto-foto Surya saat memimpin operasi lapangan atau memberikan keterangan pers menunjukkan aura otoritas yang sangat kuat. Tidak heran jika pria itu bisa masuk ke ruangan Ghava dan meletakkan surat resign dengan cara yang begitu mengintimidasi.

"Gila..." gumam Ghava sambil menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Pantas saja kemarin dia tenang banget pas ngadepin gue. Dia nggak butuh gertakan buat bikin orang segan."

"Makanya, Ghav," Mbak Yane menghela napas di ujung telepon. "Dia nggak mau Nadine ada di lingkungan kita bukan karena dia benci musik, tapi karena bagi dia, kita ini 'zona merah'. Dia biasa ngadepin penjahat, dan dia nggak mau adiknya jadi korban sampingan dari masalah selebriti yang menurut dia nggak penting."

Ghava terdiam cukup lama, menatap foto Surya di layar ponselnya, lalu beralih menatap noda darah yang masih samar di lantai studionya.

"Mbak... kalau gue nyerah sekarang, gue bakal kehilangan Nadine selamanya, kan?" tanya Ghava lirih.

"Kalau kamu maju serampangan, kamu bukan cuma kehilangan Nadine, tapi bisa-bisanya kena pasal atau setidaknya kena semprot habis-habisan sama kakaknya di kantor polisi," balas Mbak Yane setengah bercanda namun memperingatkan.

Ghava menarik napas dalam-dalam. "Gue nggak akan maju serampangan. Kalau Mas Surya mainnya pake wibawa dan aturan, gue juga bakal pake cara itu. Gue bakal beresin Selya secepat mungkin secara hukum biar nggak ada celah buat dia bilang lingkungan gue bahaya."

Nadine terpaku di depan meja resepsionis yang estetik itu. Ia baru saja hendak menyerahkan berkas administrasinya ketika seorang wanita dengan blus sutra berwarna pastel dan aura yang sangat tenang menghampirinya. Wajahnya cantik, tipe kecantikan yang klasik dan teduh, sangat berbeda dengan Selya yang tajam dan agresif.

"Nadine, ya? Adiknya Mas Surya?" tanya wanita itu dengan suara yang selembut sutra.

Nadine mengangguk ragu. "Iya, Mbak. Saya staf baru di bagian kreatif."

Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan banyak cerita. "Saya Amara, manajer operasional di sini. Saya baru baca CV kamu tadi pagi, dan sejujurnya saya kaget melihat nama perusahaan terakhir tempat kamu bekerja."

Amara melangkah lebih dekat, menatap Nadine dengan tatapan yang sulit diartikan—antara simpati dan nostalgia.

"Kamu mantan asisten Ghava, kan? Dunia memang sempit... saya mantan pacarnya. Mantan pacar yang dia tinggalkan tepat sebelum dia bertemu Selya," ucap Amara tenang, namun sukses membuat jantung Nadine seolah berhenti berdetak.

Nadine tertegun. Ia pernah mendengar nama Amara sesekali dari bisikan Mbak Yane, tentang seorang wanita dari masa lalu Ghava yang "pergi dengan baik-baik" sebelum badai Selya menghancurkan pria itu.

"Mbak... Amara?" suara Nadine hampir tidak keluar.

"Jangan tegang begitu," Amara terkekeh pelan sambil menepuk bahu Nadine. "Saya sudah lama move on. Tapi melihat kamu di sini, apalagi setelah berita heboh kemarin... saya tahu kenapa Surya begitu keras kepala menarik kamu pulang. Dia nggak mau kamu berakhir seperti saya, atau lebih buruk lagi, seperti Ghava yang hancur karena industri itu."

Amara kemudian menatap perban kecil yang masih menempel di kening Nadine. "Masih sakit? Ghava pasti merasa sangat berdosa sekarang. Dia itu pria yang baik, hanya saja dia seringkali menarik masalah tanpa dia sadari."

Nadine merasa dunianya berputar. Di sini, di kantor yang seharusnya menjadi tempat "pelariannya", ia justru bertemu dengan bagian dari masa lalu pria yang sangat ia rindukan.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
lnjut banyakk
Pa Muhsid
jangan jangan mantan nana nih kalo iya sikat ghav na jangan kasih kendor
falea sezi
di kubur gmn gav kenyataan lu dlu. pcrn ma. nadin sering tidur bareng kan hmmmmm km. itu g cocok buat Nadine pantes surya ngotot gk. kasih restu wong qm bukan cowok baik dih/Puke/
falea sezi
g rela deh klo dpet gava laki. bekas dih
falea sezi
berarti gava ma selya uda sering nganu dih g sepolos yg q bayangin
falea sezi
cwek ga tau malu si selya
falea sezi
baru nyimak
yoke oktaviansyah
💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!