Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. kepulangan Varel
"Assalamualaikum bunda ayah!, maaf aku telat pulang, pertandingan baru selesai jam 6 lewat." Ucap Inara sambil menyalami kedua orang tuanya.
Begitu pula dengan Kenzo ia juga ikutan menyalami kedua orang tua Inara.
"Maaf! Bunda, Om aku telat mengantar Inara pulang!." Ucap Kenzo bagaimanapun ia tetap minta maaf karena inara pulang bersamanya.
"Tidak apa-apa, bukankah Nara sudah mengatakannya pertandingannya baru selesai." Ucap Bunda Dewi
"Apa kalian sudah sholat maghrib." Ucap bunda Dewi lagi, meskipun bermain lupa waktu jangan sampai meninggalkan sholat wajib, bunda dewi selalu mengingatkan anak-anak tentang wajib sholat.
"Sudah bunda, saat di perjalan kami singgah di mesjid." Ucap Inara lagi, " oh ya bun, aku keatas dulu untuk mandi gerah bangat." Ucap inara lagi.
Ia juga pamitan kepada Kenzo dan ayahnya, lalu ia naik kelantai atas, untuk mandi.
Kenzo juga berencana untuk pulang, karena ia juga ingin mandi dari tadi ia sudah mandi keringat, tubuhnya sekarang benar-benar lengket oleh keringat.
"Bunda, Om, aku juga pamit untuk pulang." Ucapnya lalu ia bangkit dari duduknya saat ingin mengucapkan salam, ia di hentikan oleh ayah Inara.
"Untuk apa buru-buru pulang, rumahmu hanya selangkah dari sini, temani aku mengobrol sebentar." Ucap Ayah Hendry ingin mengajak Kenzzo berbincang-bincang.
"Bang!." Ucap Bunda Dewi ia tidak ingin suaminya itu menakuti Kenzo ia sudah tahu apa yang ingin di sampaikan oleh suaminya.
"Ini urusan sesama pria, kamu siapkan makan malam, nanti kita makan malam bersama mumpung Kenzo ada disini." Ucap Ayah Hendry lagi, lalu ia mengajak Kenzo duduk di teras untuk mengobrol santai.
Sedangkan bunda Dewi pergi kedapur untuk menyiapkan makanan malam, ia memasak lebih karena Kenzo ada disini.
Tidak lama setelah itu ia menyelesaikan memasak memasak, lalu memanggil suaminya dan Kenzo di luar, ia memang sedikit buru-buru memasak karena takut suaminya mengatakan sesuatu kepada Kenzo.
Ia tahu dengan kecemasan suaminya, sebagai orang tua yang memiliki anak gadis, bagaimana tidak risau melihat anak gadisnya selalu dekat dengan pria lain, meski mereka berteman sejak kecil, tapi sekarang mereka sudah besar.
"Makanannya sudah siap, kalian makanlah lebih dahulu, aku memanggil Inara dulu keatas." Ucap bunda Dewi kepada kedua orang pria tua dan muda itu, dia tidak tahu entah apa yang mereka bicarakan di lihat dari raut wajah mereka berdua, biasa-biasa saja tidak ada rasa ketegangan atau ketakutan.
"Apa bang Hendry tidak membicarakan soal Inara." Gumam bunda dewi dalam hati, ia juga penasaran apa yang dibicarakan oleh suaminya kepada Kenzo.
"Mengapa kamu berdiam disitu katanya mau memanggil inara." Ucap Ayah Hendry karena melihat bunda Dewi masih bengong.
"Oh iya, kalian duluan makan tidak usah tunggu kami." Ucap bunda Dewi lalu ia pergi ke lantai atas.
Setelah sampai di lantai atas ia langsung masuk kedalam kamar inara, saat itu inara sedang menyisir rambutnya.
"Bunda, ada apa tumben tidak ketuk pintu." Ucap Inara lalu ia melanjutkan menyisir rambut lurusnya yang panjang.
"Tidak apa-apa, ayok turun untuk makan malam, ayahmu dan kenzo menunggu dibawah." Ucap Bunda Dewi, ia memberitahu Inara tentang suaminya berbicara dengan Kenzo, tetapi ia urungkan karena menurutnya Inara tidak perlu tahu.
"Bang Kenzo belum pulang ya, aku juga sudah selesai ayo bun kita turun, takutnya mereka nunggu lama." Ucap Inara mengajak bundanya turun kebawah.
Mereka sampai di lantai bawah siruangan makan.
"Mengapa kalian tidak makan duluan?." Ucap Bunda Dewi karena melihat mereka masih mengobrol tidak makan.
"Kami menunggumu dan Inara, katanya kita makan bersama kalau kami duluan makan itu bukan makan bersama lagi." Ucap Ayah Hendry santai.
Lalu ia mengambil piringnya, tidak menunggu istrinya yaang mengambilkan, baginya tidak perlu istri yang melayani yang penting istri sudah menjalani hak dan kewajiban sebagai istri.
Akhirnya makan malam berlangsung dengan nikmat, mereka semua makan dengan lahap, karena masakan bunda Dewi sangatlah enak.
Kenzo pamit pulang setelah makan malam selesai, sedangkan ayah inara ia kembali duduk di ruangan keluarga sambil menonton berita.
Inara dan bunda Dewi juga ikutan duduk disana sambil mencerna makanan yang baru masuk kedalam perut.
"Besok adikmu pulang, ayah sudah mengurus surat kepindahannya." Ucap Ayah Hendry tiba-tiba, membuat kedua wanita tua dan muda itu terkejut.
"Huk...huk.." inara terbatuk karena ia sedang makan buah jeruk, ia tidak tertelan air jeruk.
"Mengapa ekspresi kalian seperti itu." Ucap Ayah Hendry lagi, karena melihat anak dan istrinya begitu tekejut saat mendengar kabar darinya.
"Benarkah Varel pulang besok, lalu smp mana dia sekolah?" Ucap Inara ia juga senang mendengar adiknya pulan, karena sudah ada teman bermainnya lagi saat dirumah.
"Dia sekolah smp dekat sini, jadi dia tidak perlu naik angkot saat sekolah, cukup jalan kaki saja." Ucap ayah hendry lagi.
"Saat adikmu dirumah seringlah bermain dengannya, dan jangan terlalu sering bermain dengan kenzo, tidak baik jadi omongannya tetangga." Ucap Ayah hendry lagi.
"Iya ayah aku tahu." Ucap inara dengan lesu, dalam hati ia sangat tidak setuju bila jarang bermain dengan Kenzo,
karena saat inilah kesempatannya bisa berduaan dengan Kenzo, sebelum kenzo memiliki pacar tidak bisa lagi bersama dirinya.
Bila saat itu tiba tidak ada lagi penyesalan dalam hatinya, jika kenzo tidak bisa ia memiliki, dengan beginipun ia sudah senang.
Walau tanpa mengucapkan kata cinta sekarang Kenzo tetap sayang dan memanjakannya, karena itu ia memanfaatnya kesempatan itu.
"Ayah, ibu aku ketas dulu mengerjakan pr." Ucap Inara lalu ia pergi kekamarnya, dengan lesu.
Esok harinya karena hari minggu setelah sholat subuh inara kembali mengulang tidurnya sampai hari terang.
Ia keluar dari kamarnya pukul 8 pagi, sehingga ia tidak tahu kepulangan adiknya. Ia pergi kedapur untuk sarapan, mendengar diruangan keluarga ribut-ribut.
"Bunda, mengapa diruangan keluarga ribut sekali, apa anak-anak main kesini." Ucap Inara lalu ia melanjutkan makan sarapan nya.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari bundanya, selesai makan ia menyelihat sendiri, apa yang terjadi diruangan keluarga.
Saat sampai di sana ia melihat laki-laki muda lebih tinggi darinya, ia terkejut karena lelaki itu sedikit familiar bagi nya.
"Siapa kau?." Ucap Inara saat melihat lelaki itu, saat asyik makan makanan ringan.
Mendengar suara perempuan lelaki itu melihat kearah suara, lalu ia tersenyum, dan berdiri langsung memeluk Inara.
"Uni, apakah kamu sudah lupa padaku." Ucap Varel saat ia memeluk inara. " hanya setahun kita tidak ketemu, tapi uni melupakan ku." Ucapnya lagi.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?