Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barikade di Rumah Duka
Gerimis subuh membasahi aspal saat mobil sport hitam Devan mengerem mendadak di depan rumah duka. Ia keluar dengan napas tersengal, kemejanya berantakan, dan wajahnya sepucat kertas otopsi. Seumur hidupnya, Devan adalah pria yang mendasarkan segalanya pada data dan fakta, namun pagi ini, fakta bahwa ia tidak ada saat dunia istrinya hancur adalah satu-satunya data yang tidak sanggup ia proses.
"Ara!" teriaknya saat akan menerjang masuk ke pintu utama.
Namun, langkahnya terhenti secara kasar. Sebuah tangan kekar mencengkeram bahunya dan mendorongnya mundur hingga Devan nyaris terjungkal.
"Jangan berani-berani kau melangkah satu senti pun lagi ke dalam, Devan."
Devan mendongak. Di hadapannya berdiri Alaska Jasper. CEO muda itu tampak sangat kontras dengan Devan; meski matanya sembab, Alaska terlihat tegap dengan setelan jas hitam yang rapi, seolah ia memang sudah bersiap menjaga Ara seumur hidupnya.
"Minggir, Alaska! Itu istriku. Aku harus bertemu Ara!" Devan mencoba merangsek lagi, suaranya parau karena panik.
"Istri?" Alaska tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh penghinaan. "Kau menyebut wanita yang kau biarkan menunggu sendirian di malam ulang tahun pernikahannya sebagai istri? Kau menyebut wanita yang orang tuanya meninggal sementara kau sibuk 'bermain' di hotel sebagai istri?"
"Itu fitnah! Aku ada di ruang operasi!" raung Devan. "Aku tidak tahu soal video itu, aku tidak tahu ponselku mati!"
"Simpan penjelasanmu untuk pengadilan nanti, Dokter," suara Alaska mendingin. "Ara sudah memberikan surat cerainya, bukan? Itu artinya statusmu di sini sudah berakhir."
"Kau tidak punya hak melarangku!" Devan mencoba menepis tangan Alaska, namun beberapa pengawal pribadi Alaska segera maju membentuk barikade.
"Aku punya hak," balas Alaska tenang. "Karena Ara sendiri yang memintaku. Dia bilang, dia tidak ingin melihat wajahmu. Dia bilang, aroma rumah sakit dan formalitasmu membuatnya ingin muntah."
Dada Devan sesak. Ia melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka di belakang Alaska. Di sana, di tengah ruangan yang penuh bunga papan duka cita, ia melihat Ara. Istrinya itu duduk bersimpuh di samping dua peti mati yang tertutup. Ara tampak sangat kecil, sangat rapuh, dengan bahu yang bergetar tanpa suara.
"Ara!" panggil Devan, suaranya pecah. "Ara, dengarkan aku sekali saja!"
Ara tidak menoleh. Ia bahkan tidak bergerak. Sosoknya seolah membeku, telah menutup diri dari dunia luar—terutama dari Devan.
"Cukup, Devan," Merry muncul dari balik pintu, menatap Devan dengan tatapan benci yang murni. "Kau tahu apa yang paling menyedihkan? Saat dokter di sana bertanya siapa keluarga terdekat yang bisa dihubungi untuk otopsi prosedur kecelakaan, Ara hanya diam. Dia pengacara, dia tahu hukum, tapi dia tidak bisa menyebut namamu. Baginya, kau sudah mati bersama orang tuanya semalam."
Merry melemparkan sebuah kantong plastik transparan ke arah dada Devan. Di dalamnya ada jam tangan Devan yang tertinggal di laci meja rias tempo hari.
"Dia tidak mau ada satu pun barangmu yang tersisa di dekatnya. Pergi, Devan. Sebelum aku sendiri yang memanggil polisi untuk menyeretmu atas gangguan di rumah duka."
Devan terpaku di tempatnya berdiri. Hujan mulai turun lebih deras, membasahi kemejanya hingga lekat ke kulit. Ia, sang ahli forensik yang bisa menjelaskan penyebab kematian secara mendetail, kini tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada dirinya sendiri bahwa cintanya—cinta yang selama ini ia simpan di balik sikap kaku dan gengsi—telah mati sebelum sempat ia periksa.
Ia menatap Ara untuk terakhir kalinya sebelum pintu rumah duka ditutup rapat oleh Alaska. Dari celah pintu yang menyempit, Devan melihat Alaska berjalan mendekat ke arah Ara, lalu menyampirkan jasnya ke bahu wanita itu.
Ara tidak menolak. Dia justru menyandarkan kepalanya ke lengan Alaska.
Pintu tertutup. Brak!
Dunia Devan runtuh seketika. Ia jatuh berlutut di atas aspal yang dingin, di bawah guyuran hujan yang seolah ingin mencuci dosa-dosanya yang tak terampuni. Ponsel di sakunya yang baru saja ia hidupkan kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Unknown: "Bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam satu malam, Devano? Ini baru permulaan."
Di bawah pesan itu, terlampir foto hasil laboratorium lama milik orang tua Devan dengan cap 'PALSU' yang besar berwarna merah.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/