Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terkubur
## SELAMAT MEMBACA##
Detik-detik di layar bom pada meja Hendra terus berkurang. Merah, berkedip, dan sangat nyata. Arsen segera mengambil komando meskipun wajahnya lebam. "Papa dan Paman Galih, keluar lewat jalur evakuasi belakang! Arkan, Aurora, bawa mereka! Aira dan aku akan mengurus Hendra dan mencari data koordinat terakhir Julian!"
"Aku tetap disini membantu kakak!", tahan Aurora.
"Aku tidak mengizinkan! Cepat bawa mereka keluar sekarang juga", jawab Arsen penuh penekanan. Dia tidak akan membiarkan adik dan orang terdekatnya dalam bahaya, sedikitpun.
"Tapi.....", Aurora ingin membantunya, dia juga tidak ingin kakaknya dalam bahaya.
"Jangan membantah! Kita lanjutkan perdebatan ini lain kali saja. Apa kau tega membiarkan mereka semua dalam bahaya? Tolong, tekan egomu, Aurora", Setelah itu Arsen tidak menghiraukan Aurora yang akan menyela omongannya.
"Rora, dengarkan apa kata Kak Arsen. Kita harus membantu Paman Ankara dan Paman Galih secepatnya", seru Arkan
Helaan napas Aurora terdengar pelan, dalam benaknya dia membenarkan perkataan Arsen. Bahwa dirinya tidak boleh egois ketika dalam situasi darurat seperti ini. Akhirnya Aurora dibantu Arkan membawa Papa serta Paman Galih keluar menuju jalur evakuasi.
*
*
*
Di lorong gedung yang gelap karena blackout, Arkan menemukan sebuah kursi roda rumah sakit di sudut koridor.
"Paman Galih, cepat naik! Aku akan memberikan tumpangan kelas eksekutif!" Arkan berusaha menghibur mereka agar suasana tidak terlalu tegang.
"Arkan, aku ini cuma dikurung, kakiku tidak lumpuh! Aku masih bisa lari!" Bantah Galih sembari mendengus tidak terima, seolah dirinya sudah tua sekali.
"Tapi ini lebih cepat, Paman! Dan lihat, ada tabung oksigen ekstra di belakangnya. Bisa jadi pendorong roket!"
Tanpa menunggu persetujuan, Arkan mendorong kursi roda itu dengan kecepatan penuh yang sudah diduduki Galih karena paksaan. Saat melewati tikungan, kursi roda itu miring dua roda. Aurora yang berlari di samping mereka hanya bisa menepuk jidat.
"Arkan! Hati-hati! Paman Galih bisa mati karena serangan jantung sebelum bomnya meledak!" Bentak Aurora yang gemas dengan tingkah aneh timnya satu ini.
Galih sambil berpegangan erat pada pegangan kursi roda, "ANKARAAAAA! AJARKAN ANAKNYA ALAN INI CARA MENGEREM!"
Ankara berlari di belakang sambil tertawa kecil, "Nikmati saja, Galih! Itu latihan kardio untuk jantung tuamu!"
"Huft....padahal Kak Aira itu anggun dan berwibawa, Pa. Kenapa anaknya Paman Alan dan Bibi Reyna yang satu ini sedikit berbeda, ya?", sempat-sempatnya Aurora bertanya pada Papanya tentang kelakuan random Arkan.
Ankara tertawa kecil, "Mungkin salah ngidam, kali."
Aurora menyimak pernyataan Sang Papa dengan raut wajah yang semakin penasaran, "Bisa sepengaruh itu, Pa?"
"Entahlah", jawab Ankara sekenanya.
Sedangkan sang pelaku masih menjahili Galih dengan tertawa keras, tidak menghiraukan bahwa dirinya menjadi bahan gosip dua orang dibelakang. Kalau Wira tahu ayahnya dijadikan bahan kejahilan Arkan, mungkin sudah di lempar ke Kutub Selatan.
---
Di dalam ruang interogasi, Aira masih menempelkan senjatanya ke kepala Hendra, sementara Arsen mencoba membobol brankas fisik di bawah meja kerja Komisaris tersebut.
"Hendra, di mana lokasi fasilitas Genesis? Katakan, dan aku akan membantumu menjinakkan bom di jantungmu!"
Hendra tersenyum getir, darah merembes dari sela giginya. "Kau terlambat, Arsen. 'Project Genesis' bukan hanya server data. Itu adalah stasiun bawah laut di lepas pantai Kepulauan Seribu. Julian sudah di sana untuk mengaktifkan protokol 'Pembersihan'. Semua catatan dosa aliansi orang tua kalian akan dihapus... bersama dengan pulau itu sendiri."
Aira terkejut, "Maksudmu Julian akan meledakkan stasiun itu? Ada orang di sana, Hendra!"
"Hanya mesin dan rahasia yang tidak boleh dilihat dunia. Pergilah... selamatkan diri kalian. Biarkan aku mati bersama kebusukan yang kubangun." Jawab Hendra dengan nada pasrah.
Arsen berhasil membuka brankas dan mengambil sebuah drive berbentuk silinder. "Aira, kita harus pergi! Sekarang!"
Arsen menarik Aira keluar ruangan tepat saat hitungan mundur mencapai angka sepuluh. Mereka melompat melalui jendela kaca lantai dua, mendarat di atas tumpukan kantong sampah di gang bawah, tepat saat lantai atas markas meledak.
*BOOM!* Api membubung ke langit Jakarta.
Beberapa jam kemudian, tim berkumpul di dermaga pribadi. Namun, karena semua aset mereka dibekukan oleh Hendra sebelum ia mati, Wira hanya bisa menyewa sebuah kapal nelayan modifikasi yang dicat warna merah muda mencolok dengan nama "Sinar Harapan".
"Wira... kenapa warnanya pink? Dan kenapa ada bau terasi yang lebih kuat dari daster Kak Aurora kemarin?" Protes Arkan tiba-tiba.
Wira menjawabnya melalui tablet dari lokasi aman, "Itu satu-satunya kapal yang sistem GPS-nya bisa aku bajak tanpa memicu alarm kepolisian laut! Lagipula, siapa yang akan curiga pada kapal nelayan pink?"
Sedangkan Oliver sibuk mencoba memakai baju selam yang kekecilan. "Arkan, aku rasa tabung oksigenku bocor. Bunyinya seperti peluit wasit sepak bola."
"Sini, aku tambal pakai permen karet!" Arkan mencoba memberikan solusi yang tepat untuk Oliver. Meskipun solusi itu sedikit 'iiyuuhh' jorok.
"Jangan! Biarkan dia memakai cadangan yang benar. Dan Arkan, berhenti mencoba menggoreng kerupuk di dapur kapal! Kita sedang dalam misi infiltrasi bawah laut!" Seru Aurora untuk menyelamatkan Oliver dari solusi gila itu, serta berusaha sabar menghadapi tingkah laku Arkan diluar nalar.
Saat kapal "Sinar Harapan" membelah ombak malam menuju koordinat Genesis, Arsen dan Aira berdiri di anjungan kapal. Angin laut menerpa wajah mereka.
"Hendra bilang Julian akan mengaktifkan protokol pembersihan. Jika stasiun itu meledak di dasar laut, itu akan memicu tsunami kecil dan kebocoran data kimia ke perairan Jakarta." terang Aira.
"Kita tidak akan membiarkan itu terjadi. Aira... tentang apa yang terjadi di London, dan tentang Hendra yang menyebut kita tidak punya kecerdikan orang tua kita..." Jawab Arsen.
Namun, Aira memotong bicara Arsen, menatapnya dalam. "Hendra salah. Kita punya sesuatu yang tidak dimiliki mereka dulu. Kita punya satu sama lain tanpa rasa curiga yang merusak. Arsen, aku minta maaf karena meragukanmu. Tapi berjanjilah, di stasiun bawah laut nanti, kita masuk sebagai partner. Tidak ada perisai, tidak ada pedang. Hanya kita."
"Aku janji. Dan Aira? Jika kita berhasil melewati ini... aku ingin kita membuat pengumuman pertunangan yang bukan bagian dari misi." sembari memegang tangan Aira.
Aira tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Arsen yang masih terasa kaku. "Selesaikan ini dulu, Jenderal. Aku tidak mau bertunangan dengan pria yang bau terasi kapal nelayan."
Arsen tersenyum malu mendengar pernyataan Aira tersebut.
---
Mereka mencapai koordinat. Di bawah permukaan laut yang gelap, terlihat pendar cahaya biru dari fasilitas rahasia Genesis. Arsen, Aira, Aurora, dan Arkan bersiap terjun dengan perlengkapan selam taktis.
"Hati-hati, Kak. Tekanan air di sana sangat tinggi. Dan satu lagi... aku mendeteksi ada kapal selam mini milik Julian sudah tertambat di pintu masuk utama. Dia sudah di dalam." Wira memberi peringatan kepada timnya.
Arsen memberi isyarat jempol. Mereka terjun ke dalam air, menyelam menuju kegelapan. Namun, saat mereka mendekati pintu udara (airlock), sebuah torpedo kecil meluncur dari arah kegelapan.
Arkan berbicara lewat radio bawah air, "Gawat! Ikan besarnya punya rudal! RORA, LAKUKAN SESUATU!"
Aurora melakukan manuver putar balik, menendang torpedo itu dengan sirip selamnya hingga melenceng menabrak karang. Mereka berhasil masuk ke dalam airlock, membuang air, dan berdiri di lorong logam yang canggih.
Tiba-tiba, suara Julian Thorne terdengar melalui intercom fasilitas tersebut.
**Julian:** *"Selamat datang di dasar dunia, teman-teman. Di sini, tidak ada yang bisa mendengar teriakan kalian. Dan di sini, kebenaran tentang siapa yang sebenarnya membunuh kakek kalian akan terungkap."*
Arsen dan Aira saling pandang. Rahasia yang lebih gelap dari dasar laut baru saja terbuka.
-----
Bersambung....