Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARIS YANG TAK TERLIHAT
Barcelona sore itu terlalu indah untuk balapan.
Langit biru bersih. Angin laut tipis. Tribun penuh warna.
Tapi Julian tahu, lintasan yang terlihat indah sering kali menyimpan cara paling kejam untuk menjatuhkan seseorang.
Ia berdiri sendirian di belakang garasi Ducati. Tidak ada kamera di sini. Tidak ada mikrofon. Hanya suara samar mesin tim lain dan detak jantungnya sendiri.
Musim resmi sudah berjalan dua race. Ia stabil. Konsisten. Dipuji karena matang.
Dan itu justru membuatnya gelisah.
Ia tidak datang untuk jadi “stabil”.
Ia datang untuk melihat sejauh mana dirinya bisa melangkah.
Marco mendekat tanpa suara.
“Kau kelihatan seperti orang yang mau berperang,” katanya.
Julian tersenyum tipis. “Mungkin memang begitu.”
“Jangan kejar sesuatu yang belum waktunya.”
Julian menatap lintasan.
“Aku cuma ingin tahu… batas asliku di mana.”
Marco tidak langsung menjawab. Ia tahu ekspresi itu. Bukan ambisi kosong. Bukan ego. Itu ekspresi orang yang merasa dirinya masih menyimpan sesuatu.
“Kalau kau mau dorong,” kata Marco akhirnya, “dorong dengan kepala, bukan dengan amarah.”
Julian mengangguk pelan.
Grid Barcelona selalu terasa sempit.
Pembalap berdiri rapat. Mesin meraung lebih liar. Udara lebih panas. Rival Italia itu berdiri dua baris di depan Julian kali ini.
Ia tidak menoleh.
Tapi Julian tahu ia sadar.
Lampu merah menyala satu per satu.
Dan untuk pertama kalinya musim ini, Julian merasa… lapar.
Bukan karena ingin mengalahkan orang lain.
Tapi karena ia ingin melihat apakah dirinya yang sekarang benar-benar lebih kuat dari masa lalunya.
Lampu padam.
Start kali ini berbeda.
Julian tidak membuka gas sehalus biasanya. Ia lebih tegas. Lebih berani. Motor sedikit mengangkat di depan sebelum turun kembali.
Masuk tikungan pertama, ia tidak mengorbankan posisi seperti biasanya.
Ia menahan rem lebih dalam.
Lebih lama.
Ban depan bergetar sepersekian detik.
Itu batasnya.
Ia tahu.
Tapi ia tetap masuk.
Motor miring tajam. Lutut hampir menyeret lebih keras dari biasanya. Dan ia keluar tikungan satu posisi lebih maju.
Di pit wall, Marco langsung menegakkan badan.
“Itu bukan gaya biasanya…”
Lap ketiga, Julian sudah di grup tiga besar.
Barcelona bukan sirkuit yang mudah untuk overtake bersih. Tapi Julian mulai mengambil racing line yang lebih agresif. Ia menutup celah lebih cepat. Membuka gas lebih awal.
Rival Italia mulai sadar.
Di tikungan cepat Campsa, rival itu mencoba menekan dari luar. Mereka sejajar sepersekian detik, dua motor miring hampir menyentuh.
Angin berteriak di helm mereka.
Julian tidak mundur.
Untuk pertama kalinya musim ini, ia tidak memberi ruang ekstra.
Dan mereka keluar sejajar.
Tribun meledak.
Lap keenam.
Julian merasakan sesuatu yang lama tidak ia rasakan.
Adrenalin yang lebih liar.
Michael di dalam dirinya bangkit.
Di tikungan La Caixa yang lambat, ia melihat celah kecil di sisi dalam. Terlalu kecil untuk manuver aman.
Versi Julian yang sekarang akan menunggu.
Versi lamanya? Masuk.
Ia masuk.
Rem ditekan dalam. Motor sedikit goyah. Ban belakang hampir kehilangan garis.
Sepersekian detik terasa seperti satu menit penuh.
Rival terkejut. Penonton berdiri.
Dan entah bagaimana — motor itu tetap tegak.
Ia keluar tikungan di depan.
Di pit wall, Marco tidak tersenyum.
Ia tahu itu manuver hebat.
Tapi itu juga terlalu dekat dengan bencana.
Lap delapan.
Tubuh Julian mulai membayar harga.
Agresif berarti lebih banyak tekanan di tangan, bahu, dan leher. Napasnya lebih pendek. Jantungnya lebih keras.
Ia memimpin untuk pertama kalinya musim ini.
Dan justru di situ pikirannya menjadi terlalu ramai.
Jangan jatuh.
Jangan bodoh.
Ini bukan wildcard.
Ini musim resmi.
Di tikungan cepat sebelum straight, ban belakang sedikit slide lebih panjang dari biasanya.
Bukan highside.
Tapi peringatan.
Julian merasakan motor hampir lepas dari kendali.
Dan untuk sepersekian detik… ia takut.
Bukan takut kalah.
Takut kehilangan kesempatan untuk hidup seperti sekarang.
Takut mengecewakan Clara.
Takut membuat ibunya menangis lagi seperti dulu.
Ia mengendurkan gas.
Sedikit saja.
Dan itu cukup membuat rival kembali mendekat.
Lap terakhir.
Mereka berdua.
Saling membaca. Saling menunggu.
Rival Italia mencoba satu serangan terakhir di tikungan panjang terakhir sebelum finish. Masuk dari luar, lebih cepat, lebih nekat.
Julian punya dua pilihan:
Tutup keras dan ambil risiko tabrakan.
Atau terima bahwa hari ini bukan tentang menang.
Ia memilih garis bersih.
Rival melewati.
Julian tidak mengejar dengan putus asa.
Ia membuka gas stabil. Keluar tikungan dengan bersih.
Finish.
P2.
Parc fermé terasa sunyi bagi Julian.
Podium. Tepuk tangan. Kamera. Flash.
Ia berdiri di sana, trofi perak di tangan, tapi pikirannya masih di tikungan La Caixa.
Ia hampir jatuh.
Ia hampir kehilangan kendali.
Dan ia menyadari sesuatu.
Ia tidak ingin menjadi Michael lagi.
Ia ingin menjadi Julian yang berani — tapi utuh.
Malam itu, di balkon hotel Barcelona, Clara berdiri di sampingnya.
“Kau berbeda hari ini,” katanya pelan.
Julian mengangguk.
“Aku mencoba jadi orang yang dulu.”
“Dan?”
Julian tersenyum tipis.
“Aku lebih suka jadi aku yang sekarang.”
Clara menyandarkan kepalanya di bahunya.
“Kau tahu yang paling bikin aku bangga?”
“Apa?”
“Kau bisa menang. Tapi kau memilih pulang.”
Julian menatap kota yang berkilau di bawah.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti:
Batas bukan sesuatu yang harus ditembus setiap saat.
.
.
Barcelona malam itu tidak sekeras siang tadi.
Tidak ada suara mesin. Tidak ada komentator. Tidak ada ribuan orang meneriakkan namanya.
Hanya Julian dan Clara di balkon hotel, ditemani angin laut yang lembut dan lampu kota yang berpendar seperti gugusan bintang jatuh.
Julian melepas jam tangannya, meletakkannya di meja kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa waktu benar-benar berjalan pelan.
“Kau hampir jatuh tadi,” kata Clara pelan.
Bukan nada marah. Bukan juga menyalahkan.
Hanya takut yang masih tersisa.
Julian tersenyum tipis. “Kau lihat?”
“Aku selalu lihat.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, dada Julian terasa hangat.
Ia menyandarkan tubuh di pagar balkon, memandang ke bawah. “Lucu ya… ribuan orang teriak waktu aku overtake. Tapi satu orang yang diam begini justru bikin aku lebih deg-degan.”
Clara tertawa kecil. “Pembalap MotoGP takut sama satu perempuan?”
“Aku takut kehilangan hal yang penting.”
Clara menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Ada jarak kecil di antara mereka. Bukan jarak fisik — tapi jarak yang selalu ada ketika seseorang belum berani mengucapkan sesuatu dengan jelas.
“Kau tahu,” Clara berkata pelan, “orang-orang lihat kamu sebagai pembalap yang tenang, dewasa, disiplin. Mereka nggak tahu betapa kerasnya kamu melawan dirimu sendiri setiap lap.”
Julian terdiam.
Ia jarang membiarkan orang melihat sisi itu.
“Kadang aku masih dengar suara itu,” katanya pelan. “Yang bilang aku harus lebih cepat. Lebih nekat. Lebih berani dari batas.”
“Suara masa lalu?”
Julian mengangguk.
Clara melangkah mendekat. Tangannya menyentuh pergelangan tangan Julian.
“Boleh aku egois sedikit?”
Julian menatapnya.
“Kalau kamu mau nekat, nekatlah untuk bahagia. Bukan untuk membuktikan sesuatu.”
Angin laut berhembus pelan.
Julian tidak tahu sejak kapan Clara jadi satu-satunya orang yang bisa menenangkannya hanya dengan kalimat sederhana.
Beberapa hari kemudian mereka kembali ke Italia.
Rumah keluarga Julian di pinggiran Bologna berdiri megah, tapi tidak terasa dingin. Taman luas, pohon zaitun berjajar, suara air mancur kecil yang selalu disukai ibunya.
Ayahnya, Alejandro Ortega, menyambut dengan pelukan singkat namun kuat.
Ibunya, Sofia Ortega, mencium pipinya dengan senyum bangga.
“P2 itu bagus,” kata ayahnya sambil menepuk bahu. “Tapi yang lebih penting kau pulang tanpa cedera.”
Julian tersenyum. Ia tahu dulu ayahnya mungkin akan berkata lain. Dulu kemenangan adalah segalanya.
Sekarang tidak lagi.
Makan malam keluarga berlangsung hangat. Pembicaraan ringan, tawa kecil, cerita masa kecil yang entah kenapa selalu muncul tiap musim balap berjalan.
Clara ikut duduk di sana. Tidak canggung. Tidak seperti tamu.
Ibunya bahkan beberapa kali melempar tatapan penuh arti pada Julian.
Dan Julian pura-pura tidak sadar.
Malam itu, setelah semua orang tidur, Julian berjalan keluar ke taman belakang.
Clara sudah duduk di bangku kayu dekat kolam kecil.
“Kau kabur juga?” Julian bertanya pelan.
“Bukan kabur. Menunggu.”
Julian duduk di sebelahnya.
Untuk beberapa menit mereka hanya diam. Suara serangga malam mengisi ruang yang tenang.
“Kau tahu,” Clara berkata pelan, “aku nggak takut kamu jatuh.”
Julian mengerutkan kening.
“Aku takut kamu berubah jadi orang yang nggak aku kenal.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari crash apa pun.
Julian menoleh.
Clara menatap lurus ke depan. “Aku jatuh cinta sama Julian yang tahu kapan harus berhenti. Yang tahu batasnya bukan karena lemah, tapi karena dia peduli.”
Kata itu.
Jatuh cinta.
Tidak diucapkan dengan dramatis. Tidak dengan musik latar. Hanya keluar begitu saja, seperti kebenaran yang terlalu lama disimpan.
Julian merasakan detak jantungnya naik lebih cepat daripada di grid start.
“Clara…”
Ia tidak pandai bicara tentang perasaan. Ia bisa menjelaskan teknik late braking, trail braking, corner entry, sampai rasio gir dengan detail. Tapi ini?
Ini jauh lebih sulit.
“Aku nggak mau jadi orang yang cuma hidup untuk balapan,” katanya pelan. “Aku mau punya sesuatu yang bikin aku ingin pulang.”
Clara menatapnya.
Julian menghela napas, lalu tersenyum kecil.
“Dan akhir-akhir ini… alasan itu kamu.”
Tidak ada kembang api.
Tidak ada hujan.
Hanya keheningan yang berubah jadi hangat.
Clara mendekat. Pelukan mereka tidak terburu-buru. Tidak penuh hasrat. Hanya erat dan tenang.
Seperti dua orang yang akhirnya berhenti lari.
Seminggu kemudian, berita mulai ramai.
Media Italia menyebut Julian sebagai “The Controlled Fire”.
Pembalap muda yang berani tapi tidak bodoh.
Rivalnya mulai memberi komentar yang berbeda. Tidak lagi meremehkan.
“Dia tidak lagi seperti wildcard,” kata rival Italia dalam wawancara. “Dia tahu kapan harus menyerang.”
Julian membaca berita itu tanpa reaksi berlebihan.
Ia sudah tidak mengejar pengakuan seperti dulu.
Tapi satu pesan dari Clara malam itu membuatnya tersenyum:
Bangga sama kamu. Bukan karena podium. Tapi karena kamu tetap kamu.
Julian menutup ponselnya.
Musim masih panjang.
Tekanan akan datang lagi.
Mungkin crash. Mungkin konflik tim. Mungkin kontroversi.
Tapi sekarang ia tahu satu hal:
Ia tidak balapan sendirian.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kemenangan bukan lagi tentang garis finish.
Melainkan tentang siapa yang menunggunya di baliknya.