Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. AMSALIR
Liang merasakan dinginnya logam yang menekan kulit lehernya. Ia tahu, jika ia bersuara, penyamarannya akan terbongkar, pelayan itu ternyata memiliki kemampuan bela diri tingkat tinggi.
Dengan gerakan kilat, Liang menyentakkan kepalanya ke samping, menghindari mata pisau sembari menyikut ulu hati Dali dengan keras. Terkejut dengan serangan balasan yang begitu cepat, Dali terhuyung mundur, namun ia segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan rendah yang mengincar kaki Liang.
Wush!
Liang melompat mundur, menjaga jarak. Ia tidak ingin membalas serangan secara brutal karena takut suaranya atau gaya bertarungnya yang khas akan dikenali. Namun, Dali tidak memberinya ruang bernapas. Gadis itu menerjang maju dengan pisau khususnya yang berkilat, gerakannya lincah dan mematikan.
"Tunjukkan wajahmu, Tikus!" desis Dali sembari mengayunkan belatinya ke arah dada Liang.
Liang menangkis serangan itu dengan lengan bajunya yang dilapisi pelindung besi tipis. Bunyi dentingan logam cring! bergema di gang sempit itu. Liang menyadari bahwa jika pertarungan ini berlanjut lebih lama, penjaga patroli kota akan datang dan mereka berdua akan tamat.
Mengambil risiko besar, Liang meraih sebuah pot tanah liat di dekatnya dan melemparkannya ke arah Dali. Saat Dali menghancurkan pot itu dengan tangkisannya, Liang menggunakan kesempatan itu untuk melakukan serangan tipuan. Ia seolah-olah akan menerjang maju, namun justru melakukan salto ke belakang, memanjat dinding yang tinggi dengan cepat.
"Berhenti!" teriak Dali, mencoba mengejar.
Namun, Liang lebih cepat. Ia melepaskan beberapa bola asap kecil dari sakunya ke tanah. Boom! Asap pekat berwarna abu-abu seketika menutupi pandangan Dali. Di tengah kepulan asap itu, Liang melesat pergi melompati atap-atap rumah warga, menghilang di kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak.
Dali terbatuk-batuk, mengayunkan tangannya untuk menghalau asap. Saat pandangannya kembali jernih, gang itu sudah kosong. Ia mendengus kesal, menyarungkan kembali pisau khususnya di balik pinggang.
"Siapa orang itu? Gerakannya bukan seperti penjaga istana biasa," gumam Dali dengan napas memburu. Ia segera merapikan pakaiannya, menyadari bahwa misinya malam ini terganggu oleh sosok misterius yang hampir saja mengacaukan segalanya.
Dali mematung di kegelapan gang, menatap ke arah atap tempat sosok misterius tadi menghilang. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia tahu, jika ia memaksakan diri menemui mata-mata Zhen Yi sekarang, ia bisa saja diikuti lagi dan membongkar seluruh rencana rahasia majikannya.
"Sial, aku harus kembali. Terlalu berisiko," gumam Dali. Ia memutuskan untuk membatalkan pertemuan itu dan segera menyelinap kembali ke istana melalui jalan tikus yang biasa ia gunakan.
---------------------------
Keesokan paginya, suasana istana yang biasanya tenang mendadak berubah mencekam. Suara lonceng kematian berdentang pelan, disusul dengan pengumuman yang mengejutkan semua penghuni istana belakang.
Selir Ling telah meninggal dunia.
Kabar yang beredar mengatakan bahwa Selir Ling tidak kuat menahan luka akibat hukuman cambuk yang diberikan Kaisar semalam. Luka-lukanya terlalu dalam, dan nyawanya tak tertolong saat fajar. Seluruh pelayan tertunduk lesu, dan suasana duka menyelimuti paviliun-paviliun selir.
Namun, di Paviliun Utama, suasananya sangat berbeda. Permaisuri Zi-Wei sedang dikuasai amarah yang luar biasa.
Prang!
Sebuah cangkir keramik mahal hancur berkeping-keping setelah dilempar oleh Permaisuri ke lantai. Para pelayan di sekitarnya langsung bersujud ketakutan, tak berani mengangkat kepala.
"Zhen Yi ... dasar rubah betina!" teriak Permaisuri Zi-Wei dengan wajah memerah. "Hanya karena mulut manisnya, Kaisar sampai tega memberikan hukuman cambuk yang mematikan pada Selir Ling! Dia sengaja menyingkirkan satu per satu orang di istana ini!"
Permaisuri mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dia pikir dia sudah menang karena disayang Kaisar?" desis Permaisuri dengan nada dingin. "Dia tidak tahu siapa yang dia lawan. Jika dia ingin bermain kotor, aku akan menunjukkan padanya bagaimana rasanya kehilangan segalanya."
Permaisuri Zi-Wei duduk kembali di kursinya, matanya menatap tajam ke arah pintu, seolah-olah ia sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih kejam untuk membalas dendam atas kematian Selir Ling.
Suasana duka sangat terasa di pelataran istana. Peti mati Selir Ling yang dihiasi kain putih diletakkan di tengah-tengah, dikelilingi oleh para pejabat dan seluruh penghuni istana belakang yang tertunduk diam.
Zhen Yi datang dengan pakaian berkabung yang sederhana, namun tetap terlihat anggun. Matanya tampak sembab dan merah, seolah-olah ia telah menangis semalaman karena kehilangan seorang saudari.
"Yang Mulia ... ini sungguh menyedihkan," bisik Zhen Yi dengan suara bergetar di samping Kaisar.
Kaisar yang melihat kesedihan itu segera merangkul bahu Zhen Yi, membiarkan wanita itu menyandarkan wajahnya di dadanya. "Sudahlah, jangan terus menyalahkan dirimu. Ini adalah ganjaran atas perbuatannya sendiri. Kamu terlalu berhati lembut, Zhen Yi."
Zhen Yi hanya terisak pelan dalam pelukan Kaisar. Namun, di balik wajahnya yang tersembunyi, matanya tetap dingin dan waspada. Ia tahu Permaisuri Zi-Wei sedang menatapnya dengan tatapan yang bisa membunuh dari kejauhan.
Tiba-tiba, keheningan acara itu pecah oleh suara langkah kaki yang berlari kencang.
"Pembunuh! Kamu pembunuh!"
Ru Xuan, muncul dengan rambut berantakan dan wajah yang basah oleh air mata. Ia berlari menerobos barisan penjaga dan langsung menghampiri Zhen Yi dengan penuh amarah.
"Gara-gara kamu! Ibuku meninggal karena kamu, Zhen Yi!" teriak Ru Xuan histeris. Ia mencoba meraih baju Zhen Yi dan menjambaknya, namun para pengawal segera menahannya.
Zhen Yi tersentak kaget dan mundur selangkah, bersembunyi di balik lengan Kaisar dengan wajah ketakutan. "Tuan Putri ... apa yang kau katakan? Aku tidak bermaksud ..."
"Jangan pura-pura suci!" raung Ru Xuan lagi. "Kau sengaja menghasut Ayahanda agar menghukum Ibuku dengan kejam! Kau ingin Ibuku mati supaya kau bisa menguasai istana ini sendirian! Kau wanita licik!"
Kaisar yang melihat putrinya mengamuk di depan umum merasa martabatnya terganggu.
"Cukup, Ru Xuan! Jaga bicaramu!" bentak Kaisar.
"Tapi Ayah, dia yang membunuh Ibu!" Ru Xuan terus berteriak sambil menunjuk-nunjuk wajah Zhen Yi yang kini mulai meneteskan air mata palsu semakin deras.
"Bawa Putri Ru Xuan kembali ke kamarnya! Dia sudah kehilangan akal sehatnya karena berduka," perintah Kaisar dengan nada dingin.
Para pengawal pun menyeret Ru Xuan pergi meski gadis itu terus meronta dan memaki-maki Zhen Yi. Sementara itu, Zhen Yi hanya menunduk lemas, terlihat sangat terguncang oleh tuduhan itu.
Di sudut lain, Permaisuri Zi-Wei hanya tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Ia tahu, benih kebencian telah tertanam sempurna di hati Ru Xuan, dan itu bisa menjadi senjata yang bagus baginya nanti