NovelToon NovelToon
Genius Modern Dinegeri Kuno

Genius Modern Dinegeri Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Ruang Ajaib / Fantasi Wanita
Popularitas:470.1k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Qing Lizi, seorang yatim piatu berprofesi sebagai dokter militer genius yang menguasai banyak hal. Selain cantik, ia juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya.

Gadis berusia 30 tahun yang gemar akan tantangan, memilih bergabung dengan pasukan militer negara setelah mendapat lisensi kedokterannya.

Saking geniusnya, Qing Lizi sudah meraih gelar dokter specialis diusia dua puluh empat tahun.

Kariernya berjalan mulus, bermacam misi telah ia jalani, hidup mapan, banyak teman, digandrungi puluhan pria.

Sayangnya Qing Lizi tak berumur panjang. Ia harus kehilangan nyawa saat bertugas dinegara berkonflik bersama tentara perdamaian.

Namun bukannya pergi kesurga atau neraka, jiwa Qing Lizi malah pindah keabad kuno, menempati tubuh seorang gadis berusia sepuluh tahun.

Suatu hari, Qing Lizi mendapat anugerah sebuah cicin ajaib yang memberinya banyak keutungan.

Bagaimanakah kisah perjalanan Qing Lizi dikehidupan keduanya ini..?

Apa fungsi cincin ajaib yang melingkar dijari manis Qing Lizi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Qing Jian Kembali

Gang rumah tiga sekawan pagi ini ramai riuh oleh para buruh bangunan yang berkerja kompak sejak pagi tadi.

Mulai dari pembongkaran, hingga pembangunan gubuk darurat untuk tempat tinggal tiga keluarga sementara waktu.

Kali ini rumah tiga sekawan akan dibangun lebih luas, memakai lebih dari setengah lahan pekarangan yang dipunya.

Ketiga rumah itu juga nantinya dilengkapi perapian serta oven pemanggang sesuai permintaan Qing Lizi.

Rumah Siheyuan dengan halaman seluas seratus meter, dikelilingi delapan bangunan.

Untuk kamar masing-masing anggota keluarga dibuat berukuran 50 x 50, begitu pula ruang makan dan bilik mandi.

Sedangkan dapur dibuat paling besar, karena sekalian untuk gudang pangan.

Ruang tamu dan makan dibangun dengan luas 70 x 50.

Dihalaman tengah akan dibuat gazebo multi fungsi.

Untuk rumah Qing Lizi dibagian belakang ditambah satu bangunan dapur dan gudang produksi gula serta tiga varian kecap.

Kemarin malam nenek Qing diminta oleh cucunya membeli tanah kosong seluas tiga ratus meter disamping rumah mereka.

Sebab itu sekarang keluarga Qing bisa merenovasi rumah dua kali lipat lebih besar, dan masih menyisakan beberapa meter untuk bertani.

Jika digabungkan dengan kebun belakang, keluarga Qing sekarang memiliki tanah selebar satu hektare.

Sosok pemuda tampan, berbadan tegap setinggi 182cm, berjalan gagah dengan mata berselimut kerinduan, menuju kekediaman Qing.

Dibahu pemuda itu ada gembolan kain kasa yang sepertinya berisi pakaian. Dipunggungnya pedang bersarung kulit rusa.

Dia adalah Qing Jian, yang memilih mengundurkan diri menjadi prajurit guna mengurus sang ibu.

Langkah lebar Qing Jian terhenti, matanya lurus bingung menatap rumahnya yang sedang dibongkar.

"Hei, bukankah itu Qing Jian..!" seru salah satu buruh bangunan, menunjuk kearah pemuda yang dimaksud.

Semua mata sontak berpaling.

"Iya, itu Qing Jian..!"

Paman Su berlari menghampiri "Jian, kau kembali..?"

"Paman Su, apa kabar...?" Qing Jian membungkuk.

"Ah, seperti yang kau lihat." paman Su menepuk bahu pemuda yang sejak dulu amat disukai putrinya itu.

"Paman, ini----

"Ah, ibu dan kakak perempuanmu yang merencanakan perbaikan rumah kalian. Untuk sementara mereka sekarang tinggal diladang keluarga Jang bersama keluarga Huang."

Netra elang Qing Jian meruncing "mereka...?"

Paman Su menghela nafas sendu "segera temui ibu dan kakak perempuanmu, biar mereka saja yang menjelaskan."

Qing Jian mengangguk "kalau begitu aku pamit dulu paman, terimakasih..!"

Qing Jian melangkah tergesa dengan guratan cemas penuh tanda tanya.

Kenapa kakaknya tinggal bersama sang ibu...

Apa yang terjadi saat ia pindah tugas...

Ketika sampai diladang keluarga Jang, Qing Jian melihat tiga gubuk bambu berdiri sejajar.

Dibawah pohon willow nan rindang. Sang ibu, kakak dan bibi Huang serta Jang, sedang bersenda gurau sembari menjahit kain yang tempo hari dibeli.

Mata Qing Jian memanas, ia amat merindukan ibu juga kakak dan keponakan perempuannya.

Dua tahun Qing Jian bergulat dalam kebimbangan, memilih antara ibu atau cita-cita.

Hingga tiga bulan lalu, akhirnya ia mantap memilih sang ibu dan menyerahkan plakat jabatan komandan pasukan berpedang.

Qing Jian mengusap satu garis airmata dipipinya, lalu gegas mendekat.

Mata nenek Qing sontak terarah pada sang putra, saat mendengar langkah pemuda itu menuju padanya.

"Jian...!" pekik nenek Qing berdiri kaget, melepaskan kain dan jarum dari genggaman.

Qing Jia terjingkat, begitu juga bibi Huang dan Jang.

"Ibu...!"

"Jian...!" seru nenek Qing dan Qing Jia bebarengan.

Qing Jian merentangkan kedua tangan kokohnya. Ibu dan kakak perempuan langsung lari menubruk tubuhnya.

"Jian, kau kembali nak..!" ucap terisak nenek Qing memeluk erat tubuh tinggi sang putra.

"Ya, aku kembali dan tidak akan pernah pergi lagi." sahut Qing Jian membalas pelukan ibu dan kakaknya.

"Kenapa tidak pernah mengirim pesan, hanya uang saja yang datang. apa kau pikir kami ini hanya butuh hartamu..?" oceh parau terbata Qing Jia, menepuk punggung kekar sang adik.

Qing Jian terkekeh, menyedot ingus yang nyaris meleleh dari hidungnya.

"Uang itu sama saja pesan dariku."

"Mana bisa begitu..?"

"Tentu bisa..! jika uangku masih datang, itu tandanya aku baik-baik saja."

Pelukan terlerai, berlanjut dengan saling membelai wajah dan menyeka airmata.

Qing Jian menyapa bibi Huang dan Jang, lalu duduk bersama.

Qing Jia menyuguhkan teh serta panekuk kucai dan roti almond buatan Qing Lizi.

"Kenapa kakak tinggal dengan ibu..?" tanya Qing Jian yang tak lagi bisa menahan rasa penasarannya.

Keempat wanita kompak menghela nafas, sebelum akhirnya mereka bergantian menceritakan kejadian seminggu lalu.

"Keparat...!" umpat geram Qing Jian dengan wajah menghitam seram.

"Tak perlu marah, biarkan saja mereka. Aku justru malah bersyukur karena akhirnya bisa pergi dari neraka itu."

"Lalu sekarang dimana Lizi'er..? dia tidak apa-apa kan..?"

Qing Jia tersenyum, mengusap lengan sang adik "berkat Huang Feng yang menghabiskan semua simpanan uangnya, keponakanmu itu baik-baik saja. Bahkan sakit bawaannya sekarang sembuh total."

"Benarkah..?" tanya berseri dan lega Qing Jian.

Empat wanita berbeda generasi mengiyakan.

"Nanti aku akan mengganti uang adik Feng."

Bibi Huang menggeleng cepat "tidak perlu, keponakanmu sudah menggantinya, bahkan jauh lebih banyak."

Mata Qing Jian menyipit.

Qing Jia menceritakan soal kemampuan yang dimiliki Qing Lizi setelah mendapatkan mimpi ketika sekarat.

Nenek Qing, bibi Jang dan Huang ikut menimpali dengan berapi-api.

Qing Jian tergelak, ia jelas bangga dengan pencapaian sang keponakan yang terkenal penyakitan namun amat ia sayangi.

Ketika mereka masih asik berbincang, tiga sekawan muncul dari balik pepohonan hutan.

Ditangan Lizi dan Jiayi, bertengger tiga kelinci dan tiga burung pegar.

Sementara dipunggung Huang Feng, terdapat keranjang besar berisi Shan Zha dan Jujube.

"Woah, sepertinya kalian baru saja bersenang-senang dihutan ya..?" kelakar Qing Jian, berdiri bersedekap gagah menyambut.

Dada Qing Lizi berdebar, matanya berkabut nanar. Itu perasaan si pemilik tubuh asli yang amat merindukan sang paman kesayangan.

"Paman Jian...!" seru Lizi berlari dengan pipi yang sudah basah air mata.

Burung dan kelinci ditangan gadis itu terbang terlempar.

Huang Feng reflek bergerak menangkapnya.

Qing Jian tertawa, memeluk tubuh sang keponakan yang jauh lebih tinggi dari dua tahun lalu.

"Paman...!" isak Qing Lizi.

"Ya, ini paman..!" sahut Qing Jian mengecup pucuk kepala sang keponakan.

"Paman jahat, kenapa pergi lama sekali..?"

"Paman ingin menjadi jenderal besar, jadi harus pergi."

Qing Lizi menegakkan kepala, memandang wajah tampan berwibawa Qing Jian.

"Berarti nanti paman akan pergi lagi..?"

Qing Jian tegas menggeleng "paman sudah tidak ingin menjadi jenderal, paman mau dirumah saja bersama kalian."

Wajah cantik Qing Lizi berbinar, bibir ranumnya melebar riang.

"Sungguh..?"

"Ya...!" Wing Jian mengangguk.

"Yei...!" sorak Qing Lizi, melompat tinggi lalu memeluk pamannya lagi.

Tawa bahagia pecah disana.

Huang Feng dan Jang Jiayi kebagian juga pelukan sayang dari Qing Jian.

Mereka bersama-sama menyiapkan makan malam. Para lelaki membersihkan hewan buruan, sedangkan para wanita memasak.

1
Memyr 67
𝖾𝖼𝗂𝗒𝖾 𝗉𝖽𝗄𝗍 𝗒𝗈𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖺 𝗃𝗂𝖺𝗇
Memyr 67
𝗃𝖾𝗅𝖺𝗌 𝖻𝖾𝖽𝖺 𝗃𝖺𝗎𝗁. 𝖽𝗂 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗇𝗀 𝖼𝗎𝗒𝖺𝗇, 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝗃𝖺𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝖻𝗎𝖽𝖺𝗄. 𝖽𝗂 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗋𝖺𝗍𝗎. 𝖺𝗇𝗍𝖺𝗋𝖺 𝗋𝖺𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝗎𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝖽𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗍 𝗃𝖺𝗎𝗁 𝗄𝖺𝗇𝗀 𝖼𝗎𝗒𝖺𝗇, 𝗀𝗈𝖻𝗅𝗈𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗅𝖺𝗄𝗂.
Babe Babe
sepertinya ceritanya menarik
SENJA
udah mau mati masih aja jahat astaga 😤🤮
SENJA
bener juga sih 🤣
Babe Babe
aku baru baca
SENJA
jahat perdana mentri, memang pantes disiksa 😤
Memyr 67
𝗁𝖾𝗁𝖾𝗁𝗁 𝗂𝗋𝗂 𝖽𝖾𝗇𝗀𝗄𝗂 𝖺𝗃𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗋𝖾𝗇𝖺 𝗃𝖺𝗁𝖺𝗍 𝖺𝗃𝖺, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗂𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝖻𝗎 𝗊𝗂𝗇𝗀 𝗅𝗂𝗓𝗂, 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍
Memyr 67
𝗆𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗇𝖼𝗂 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖺𝗉𝖺? 𝖽𝗂𝖺 𝗄𝖺𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗍𝖺𝗎 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗍𝖾𝗇𝗍𝖺𝗇𝗀 𝗅𝗂𝗓𝗂 𝗌𝖾𝗄𝖺𝗋𝖺𝗆𝗀
Memyr 67
𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝗉𝖺 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗍𝗂𝗇𝗀 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗌𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀 𝗍𝗒𝗉𝗈 𝗍𝗎𝗅𝗂𝗌 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺. 𝖻𝗂𝗄𝗂𝗇 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗋𝖾𝖺𝖽𝖾𝗋.
Shena R
Kerana uang ada lah segalanya 🤭🤭🤭
Memyr 67
𝗎𝗅𝖺𝗋 𝗉𝗎𝗍𝗂𝗁 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖺𝗁𝗄𝗈𝗍𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗁. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗂𝗁 𝖽𝗈𝗇𝗀. 𝖻𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝖺 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺. 𝗁𝖾𝗁𝖾
Shena R
Wow💪😍🤭
Datu Zahra
Terharu, Lizi baik banget ❤️❤️❤️
Osie
lizi mau donk satu pil nya buat benerin jari tanganku yg putus pasca laka lantas
miss blue 💙💙💙
aq ampe lupa sama ibunya lizy 😭😭😭
@Mita🥰
lanjut thor 😍😍😍
Atik Kiswati
lnjt....
Wiwin Ma Vinha
bikin🥺🥺 nih cerita eps kali ini
Datu Zahra
ada liagi weh portal teleportasi, ah katrok kalian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!