Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
“Berdirilah lebih tegak atau kau akan terlihat seperti pelayan yang tersesat di istananya sendiri.”
Raina berdiri di tengah ruang rias pribadi dengan melipat tangan di depan dada. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Alisha dari pantulan cermin besar yang berlapis emas.
Di atas meja rias, berjejer puluhan kuas rias dan botol parfum yang harganya bisa membiayai hidup satu desa di pesisir selama setahun.
Raina baru saja mendatangkan tiga pelatih etiket terbaik di Jakarta untuk membentuk Alisha dalam waktu enam jam.
“Aku bukan pelayan, Nyonya Sagara,” jawab Alisha sambil memperbaiki posisinya.
“Kau adalah calon istri putraku,” sahut Victoria dengan nada datar.
“Setidaknya secara formal di depan para pemegang saham.”
“Aku tidak butuh pelatihan ini untuk sekadar berdiri di samping Damian,” kata Alisha tegas.
Raina melangkah mendekat dan menyentuh bahu Alisha dengan ujung jari yang kaku.
“Pesta ulang tahun Sagara Group malam ini bukan sekadar pesta. Ini adalah medan perang. Jika kau salah memegang garpu atau salah menyapa duta besar, kau akan menghancurkan citra yang dibangun keluarga ini selama tiga generasi.”
“Aku tahu cara bersikap sopan tanpa harus menjadi robot,” balas Alisha.
Raina menunjuk sebuah gaun yang tergantung di sudut ruangan. Gaun itu berwarna emas metalik dengan taburan kristal yang sangat berat dan mencolok. Potongannya sangat ketat dan terlihat sangat tidak nyaman untuk dipakai bergerak.
“Pakai gaun itu!” perintah Raina. “Itu adalah rancangan desainer ternama Paris yang khusus aku pesan untukmu.”
Alisha menatap gaun itu dengan tatapan tidak suka. Baginya, gaun itu tampak seperti sangkar mewah yang akan mencekik nafasnya. Ia beralih menatap sebuah kotak kayu yang ia bawa sendiri dari kamarnya.
“Aku akan memakai gaun buatanku sendiri,” ujar Alisha.
Raina tertawa pendek yang terdengar sangat menghina.
“Gaun jahitan tangan dari desa nelayan? Kau ingin mempermalukan Damian di depan seluruh kolega bisnisnya?”
“Jahitan ini adalah harga diriku.”
Alisha membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah gaun berwarna biru samudra yang sangat dalam. Bahannya adalah sutra murni yang jatuh dengan sangat anggun. Tidak ada kristal yang berlebihan. Hanya ada detail bordir tangan yang sangat halus di bagian pinggang yang menyerupai ombak kecil. Gaun itu sederhana namun memiliki keanggunan yang tidak bisa dibeli dengan label desainer manapun.
“Ini penghinaan terhadap seleraku.” Raina menatap gaun itu dengan jijik.
“Ini adalah identitas ibunya Arka,” sahut Alisha sambil berdiri tegak.
Raina tidak menjawab lagi. Ia berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah kaki yang menghentak keras di lantai marmer. Ia memberikan isyarat pada para penata rias untuk segera menyelesaikan tugas mereka.
Alisha menarik nafas panjang. Ia tahu bahwa malam ini akan menjadi debut yang paling berat dalam hidupnya.
Dua jam kemudian, Grand Ballroom Hotel Sagara sudah dipenuhi oleh ribuan tamu undangan. Wangi sampanye dan aroma cerutu mahal bercampur dengan suara musik orkestra yang megah. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya ke segala penjuru. Damian Sagara berdiri di dekat tangga utama dengan balutan tuksedo hitam yang sangat pas. Wajahnya tampak tegang saat ia melihat ke arah tangga atas.
Pintu terbuka dan Alisha muncul di sana. Seluruh ruangan mendadak menjadi sunyi. Alisha berjalan menuruni tangga dengan gaun biru samudranya. Ia tampak seperti dewi laut yang sedang tersesat di tengah daratan. Keindahannya yang bersahaja justru membuatnya terlihat paling mencolok di antara wanita-wanita lain yang memakai perhiasan berlebihan.
Damian terpaku. Ia mengulurkan tangannya saat Alisha mencapai anak tangga terakhir.
“Kau terlihat sangat berbeda,” bisik Damian dengan mata yang berkilat kagum.
“Apakah itu artinya buruk?”!tanya Alisha ragu.
“Itu artinya aku tidak ingin pria lain menatapmu terlalu lama malam ini,” jawab Damian.
Damian membimbing Alisha menuju pusat ruangan. Mereka disambut oleh jajaran petinggi perusahaan dan pejabat pemerintahan. Alisha berusaha mengikuti protokol yang diajarkan, meskipun ia merasa sangat tidak nyaman dengan semua perhatian tersebut. Di tengah keramaian itu, Alisha merasakan sebuah tatapan tajam yang seolah ingin melubangi punggungnya.
Clarissa Aditama berdiri di balik pilar besar dengan segelas anggur merah di tangannya. Ia mengenakan gaun merah yang sangat berani. Begitu Damian menjauh sebentar untuk menyapa seorang kolega, Clarissa langsung mendekati Alisha.
“Hebat juga aktingmu, Alisha,” bisik Clarissa tepat di samping telinga Alisha.
“Aku tidak sedang berakting, Clarissa,” jawab Alisha tanpa menoleh.
Clarissa tertawa pelan. “Kau pikir Damian benar-benar mencintaimu? Kau pikir pengakuan calon istri itu tulus?”
“Apa maumu?” Alisha menatap Clarissa dengan tenang.
“Aku hanya ingin memberitahumu kenyataan yang pahit.” Clarissa meneguk anggurnya sedikit.
“Damian sudah menyiapkan dokumen hak asuh penuh untuk Arka. Dia hanya butuh pernikahan formal ini untuk melegalkan status Arka di mata hukum internasional.”
Alisha merasakan jantungnya berdenyut kencang. “Kau bohong.”
“Begitu dokumen itu ditandatangani setelah pernikahan, kau akan disingkirkan,” lanjut Clarissa dengan seringai kemenangan. “Kau akan diberi sejumlah uang dan dikirim kembali ke desa nelayanmu tanpa Arka. Damian tidak akan membiarkan wanita kelas bawah sepertimu menjadi ibu dari pewaris tunggal Sagara selamanya.”
“Damian tidak mungkin sejahat itu pada ibu dari anaknya,” kata Alisha mulai bergetar.
“Dia adalah seorang Sagara, Sayang.” Clarissa menyentuh lengan Alisha dengan sinis. “Di dunia ini, kami tidak mengenal cinta. Kami hanya mengenal kepemilikan. Dan Arka adalah milik berharga yang harus ia amankan dari pengaruhmu.”
Clarissa berlalu dengan senyum puas. Alisha merasa dunianya seolah sedang runtuh. Ia menatap ke arah Damian yang sedang tertawa bersama ayahnya Clarissa di kejauhan. Apakah semua perhatian Damian selama ini hanyalah siasat untuk merebut Arka darinya?
Alisha mencoba mencari udara segar ke arah balkon yang sepi. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria bertubuh tambun dengan setelan jas abu-abu menghalangi jalannya. Pria itu memegang cerutu yang masih menyala.
“Halo, Alisha.” Suara pria itu terdengar serak dan sangat akrab di telinga Alisha.
Alisha membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Pria itu adalah Hendra. Mantan atasannya di butik Jakarta enam tahun lalu. Pria yang telah mencuri desain-desain terbaik Alisha dan mengklaimnya sebagai miliknya sendiri. Pria yang juga menjadi alasan mengapa Alisha melarikan diri ke pesisir dengan kondisi hancur.
“Tuan Hendra?” bisik Alisha dengan ketakutan yang nyata.
“Aku terkejut melihatmu di sini.”
Hendra melangkah maju. “Aku tidak tahu pelayan kecilku yang pandai menjahit itu sekarang menjadi calon ratu Sagara.”
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Alisha dengan suara gemetar.
“Aku tamu undangan resmi Sagara Group.” Hendra tersenyum licik.
“Bisnis konveksiku sekarang menjadi pemasok utama seragam untuk seluruh anak perusahaan mereka.”
“Pergilah dari hadapanku,” kata Alisha tegas.
Hendra justru tertawa keras. “Jangan begitu sombong, Alisha. Aku masih menyimpan semua catatan tentang bagaimana kau memohon pekerjaan padaku dulu. Aku juga tahu rahasia tentang mengapa kau menghilang secara mendadak enam tahun lalu.”
“Kau tidak tahu apa-apa,” balas Alisha.
“Oh, aku tahu banyak hal.” Hendra mendekatkan wajahnya yang berbau alkohol.
“Jika Damian tahu bahwa calon istrinya pernah terlibat skandal pencurian bahan kain di butikku, apakah dia masih akan mencintaimu? Citra Sagara sangat bersih, Alisha. Mereka tidak suka noda.”
“Kau yang mencuri desainku, Hendra! Kau yang memfitnahku!” teriak Alisha tertahan.
“Siapa yang akan percaya pada penjahit miskin sepertimu?” sahut Hendra santai. “Dengarkan aku. Aku butuh kontrak eksklusif dengan Sagara Group selama sepuluh tahun ke depan. Kau harus membujuk Damian untuk menandatanganinya.”
“Aku tidak akan melakukannya,” jawab Alisha.
“Kalau begitu, besok pagi semua bukti fitnah yang sudah aku siapkan akan sampai ke meja dewan direksi,” ancam Hendra. “Aku akan membongkar masa lalu kelammu sebagai pencuri dan penipu. Kau akan ditendang dari rumah ini bahkan sebelum kau sempat memakai cincin pernikahan.”
Hendra menepuk bahu Alisha dengan kasar sebelum melangkah kembali ke dalam keramaian pesta.
Alisha berdiri terpaku di kegelapan balkon. Air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung. Di dalam sana, musik masih terdengar riang. Ribuan orang sedang merayakan kesuksesan keluarga Sagara. Namun, di sini, Alisha merasa sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam.
Ia merasa terkepung dari segala arah. Di satu sisi, ada Clarissa yang memperingatkannya tentang pengkhianatan Damian. Di sisi lain, ada Hendra yang mengancam akan menghancurkan reputasinya dengan kebohongan masa lalu. Alisha menatap langit malam Jakarta yang tanpa bintang. Ia menyadari bahwa mahkota biru yang ia pakai malam ini benar-benar terbuat dari duri.
“Alisha? Kenapa kau di sini sendirian?” Suara Damian terdengar dari arah pintu balkon. Pria itu melangkah mendekat dengan ekspresi cemas. Ia melihat bahu Alisha yang berguncang karena isakan yang tertahan. Damian langsung memegang bahu Alisha dan membalikkan tubuh wanita itu.
“Apa yang terjadi? Siapa yang mengganggumu?” tanya Damian dengan nada yang sangat protektif.
Alisha menatap mata Damian. Ia ingin menceritakan semuanya. Ia ingin bertanya tentang dokumen hak asuh itu. Ia ingin bertanya tentang Hendra. Namun, suaranya seolah tersangkut di tenggorokan. Ia melihat ribuan tamu di belakang Damian yang sedang mengawasi mereka.
“Aku hanya lelah, Damian,” jawab Alisha sambil menghapus air matanya dengan cepat.
Damian mengerutkan kening. Ia tahu Alisha sedang berbohong. Ia menatap ke arah kerumunan tamu dan melihat Hendra sedang menatap mereka dengan senyum penuh arti dari kejauhan. Damian menyipitkan matanya. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat salah sedang terjadi di bawah hidungnya.
“Kita akan pulang sekarang,” ujar Damian tegas.
“Tapi pestanya belum selesai,” protes Alisha.
“Persetan dengan pestanya.” Damian merangkul pinggang Alisha dengan erat.
“Tidak ada yang boleh membuatmu menangis di rumahku sendiri.”
Damian menuntun Alisha melewati kerumunan tamu tanpa memedulikan tatapan heran dari semua orang.
Raina Sagara mencoba menghalangi mereka di pintu keluar, namun Damian hanya melewatinya begitu saja dengan tatapan dingin.
Di dalam mobil yang melaju pulang, keheningan terasa sangat mencekam. Alisha menatap keluar jendela, sementara Damian mencengkeram kemudi dengan sangat kuat. Mereka berdua tahu bahwa malam debut yang indah ini baru saja berubah menjadi awal dari perang besar yang akan melibatkan masa lalu, rahasia, dan pengkhianatan yang lebih dalam dari yang pernah mereka bayangkan.
Alisha menyentuh bordiran ombak di gaunnya. Ia merasa ombak itu kini benar-benar sedang menyeretnya ke tengah samudra yang sangat luas dan gelap. Dan kali ini, ia tidak tahu apakah Damian Sagara adalah penyelamatnya atau justru hiu yang sedang menunggu waktu untuk memakannya hidup-hidup.