Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 JALAN MENUJU PUSAT ARUS
Rombongan bergerak saat fajar belum sepenuhnya lahir.
Bendera Kekaisaran Yin berkibar di depan barisan, kain emasnya memantulkan cahaya pucat pagi. Di belakangnya, pasukan dari wilayah Utara melangkah dalam formasi rapi—tidak cepat, tidak lambat, namun cukup berat untuk membuat tanah bergetar halus.
Chen Long berada di barisan tengah.
Ini bukan pertama kalinya ia meninggalkan wilayah Utara, namun ini pertama kalinya ia berjalan menuju ibu kota dengan perintah kekaisaran di tangan. Tidak sebagai pengamat. Tidak sebagai cadangan. Melainkan sebagai bagian dari arus utama.
Dan ia merasakannya—tekanan yang tak kasatmata, seperti udara yang menebal semakin dekat ke pusat dunia.
“Wilayah Selatan menutup jalur sungai utama,” lapor seorang perwira sambil berkuda di sisi Chen Hao.
“Alasan resmi: pengamanan logistik kekaisaran.”
Chen Hao sang Raja Utara terdiam tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya keras seperti batu perbatasan yang telah ia jaga selama puluhan tahun.
“Dan Wilayah Barat?” tanyanya akhirnya.
“Raja Zhong mengirimkan utusan. Mereka menawarkan ‘perlindungan tambahan’ di jalur hutan peri.”
Nada perwira itu berhati-hati.
Chen Hao mendengus pelan. “Perlindungan yang menuntut izin lewat.”
Itu bukan tawaran. Itu klaim kuasa.
Chen Long mendengarnya dengan jelas. Ia bisa merasakan perubahan kecil dalam langkah pasukan nya bukan ketakutan, melainkan ketidaknyamanan. Semua orang di barisan ini tahu: perjalanan ini bukan sekadar menuju ibu kota.
Ini adalah uji siapa yang berhak mengawal kekaisaran.
Di kejauhan, tembok kota kecil pertama mulai terlihat sebuah pos penghubung dagang dan pemukiman sipil. Asap tipis naik dari cerobong rumah-rumah kayu.
Atau setidaknya… seharusnya begitu.
Ketika rombongan mendekat, Chen Long mencium bau besi hangus.
“Asapnya salah,” katanya tanpa sadar.
Yin Sunxin, yang berkuda sejajar beberapa langkah darinya, langsung menegang. “Bukan dapur.”
Teriakan pertama terdengar sebelum mereka memasuki gerbang.
Pasukan berhenti serempak.
Apa yang mereka temukan di dalam bukan pertempuran besar dan tidak ada kawah, tidak ada reruntuhan benteng. Justru itu yang membuatnya lebih buruk.
Rumah-rumah masih berdiri. Jalanan masih utuh.
Namun tubuh-tubuh berserakan, seperti ditinggalkan begitu saja.
Pedagang. Anak-anak. Penjaga kota tingkat rendah.
Tidak ada luka senjata biasa. Dada mereka menghitam dari dalam, wajah membeku dalam ekspresi kaget seolah sesuatu merenggut kehidupan mereka tanpa memberi kesempatan berteriak.
“Qi mereka… disedot,” gumam seorang kultivator pengawal.
Chen Long turun dari kudanya.
Begitu kakinya menyentuh tanah, nadi di lengannya berdenyut kasar. Retakan yang selama ini terasa samar kini menyengat tajam, seolah merespons sesuatu yang baru saja lewat.
Ia berlutut di samping seorang anak kecil. Tubuhnya dingin, namun tidak membusuk.
Serangan ini masih baru.
“Tidak ada simbol iblis,” lapor prajurit lain. “Tidak ada tanda ritual.”
Chen Hao akhirnya turun dari kudanya. Aura Raja Utara menyebar pelan cukup untuk membuat para prajurit berdiri lebih tegak.
“Ini bukan serangan acak,” katanya.
“Ini pesan.”
Belum selesai kalimat itu, suara terompet terdengar dari arah selatan kota.
Rombongan lain memasuki gerbang.
Bendera mereka berbeda dan bergambar lambang wilayah Selatan, disertai segel otoritas kekaisaran yang lebih besar dari yang seharusnya.
Seorang jenderal turun dari kudanya, langkahnya mantap, matanya langsung menyapu pasukan Utara.
“Raja Chen Hao,” katanya, nada sopan namun dingin.
“Wilayah ini kini berada di bawah pengamanan pasukan Selatan sesuai dekrit darurat. Mohon pasukan Utara mundur”
“Dekrit darurat tidak memberi hak mencabut perintah pemanggilan utama,” potong Chen Hao.
Udara di antara mereka menegang.
Jenderal Selatan tersenyum tipis. “Perlindungan sipil adalah prioritas. Kekaisaran tidak ingin… tumpang tindih komando.”
Chen Long berdiri.
Ia tidak ikut bicara, namun tatapan jenderal itu sempat berhenti padanya—sepersekian detik terlalu lama.
Dan di momen singkat itu, Chen Long tahu:
Mereka tidak hanya melihat korban.
Mereka melihat kesempatan.
Yin Sunxin melangkah setengah langkah ke depan, suaranya tenang namun tajam.
“Korban ini mati sebelum pasukan mana pun tiba. Jika ini perlindungan, kalian datang terlambat.”
Senyum jenderal Selatan menipis. “Putri kekaisaran terlalu cepat menyimpulkan.”
Chen Long merasakan sesuatu bergerak di balik kulitnya.
Bukan amarah. Bukan duka.
Melainkan kesadaran pahit bahwa “umpan” telah memakan korban pertamanya dan dunia manusia mulai saling menuding, tepat seperti yang diinginkan musuh.
Di kejauhan, angin bertiup membawa aroma yang sama seperti di perbatasan Utara bertahun-tahun lalu.
Aroma yang tidak akan pernah ia lupakan.
Bab ini berakhir bukan dengan pertempuran,
melainkan dengan satu kepastian sunyi:
Perjalanan menuju ibu kota sudah ternodai darah rakyat.
Dan dari titik ini, tidak ada satu pun pihak yang benar-benar bersih.
Gerbang kota ditutup sebelum matahari mencapai puncak langit.
Keputusan itu diumumkan atas nama pengamanan darurat kekaisaran, namun semua orang tahu: gerbang tertutup berarti kendali informasi. Tidak ada pedagang keluar. Tidak ada pengungsi masuk. Yang tersisa hanyalah kota kecil yang berubah menjadi wadah bisu bagi kematian.
Pasukan Utara dan Selatan ditempatkan di dua sektor berbeda hanya dipisahkan oleh garis patroli kekaisaran yang netral hanya di atas kertas.
Chen Long berdiri di halaman gudang tua yang dijadikan pos medis darurat. Tubuh-tubuh korban disusun rapi, ditutupi kain kasar. Jumlahnya bertambah sejak pagi.
“Total tiga puluh tujuh,” lapor seorang tabib militer dengan suara serak.
“Sebelas meninggal setelah gerbang ditutup. Tidak ada luka baru. Qi mereka… runtuh dari dalam.”
Chen Long menatap tangan tabib itu. Sedikit bergetar.
“Gejalanya sama?” tanya Chen Hao.
“Ya. Seperti sesuatu menyentuh inti hidup mereka lalu pergi.”
Tidak ada residu energi yang tersisa—atau lebih tepatnya, semua residu telah disapu bersih.
Yin Sunxin berjongkok di dekat salah satu korban dewasa. Matanya tertutup, telapak tangannya hampir menyentuh dada mayat itu, namun berhenti setipis helai rambut.
“Ini bukan serangan liar,” katanya. “Pola hisapnya konsisten. Terukur.”
“Pemburu,” gumam Chen Hao. “Bukan perusuh.”
Seorang perwira Selatan muncul dari balik barisan, membawa gulungan segel. “Wilayah Selatan akan mengambil alih penyelidikan. Demi efisiensi.”
Chen Hao menoleh perlahan. Tatapannya dingin.
“Efisiensi apa yang memerlukan penyingkiran saksi?” tanyanya.
Perwira itu tersenyum tipis. “Kami mencegah kepanikan.”
Pada saat yang sama, teriakan kembali terdengar dari sisi timur kota.
“Korban lagi!”
Semua mata tertuju ke sana.
Chen Long bergerak lebih dulu. Ia berlari melewati gang sempit, diikuti Yin Sunxin dan dua pengawal. Mereka menemukan seorang pria tua tergeletak di depan rumahnya, napasnya tersengal, mata terbuka lebar.
“Bukan… mereka…” bisiknya sebelum mati.
Chen Long berlutut. Begitu tangannya menyentuh tanah, nadi retaknya kembali bereaksi kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Ada sensasi dingin yang cepat memudar, seperti bayangan yang baru saja menyingkir.
Yin Sunxin berdiri, wajahnya mengeras.
“Serangan terjadi saat kota dalam pengawasan penuh.”
Itu kalimat sederhana. Namun implikasinya mematikan.
“Artinya,” lanjutnya, “pelaku bisa bergerak tanpa terdeteksi oleh pasukan resmi.”
Atau…
Chen Long menoleh ke arah bendera Selatan yang berkibar di menara pengawas.
Atau dilindungi olehnya.
Malam turun cepat. Terlalu cepat.
Api obor menyala di sepanjang jalan utama, namun cahaya itu justru membuat bayangan di gang-gang semakin dalam. Di balai kota, rapat darurat digelar Raja Utara, perwakilan Selatan, dan utusan kekaisaran duduk menghadap peta kota.
“Korban bertambah karena keterlambatan koordinasi,” kata utusan kekaisaran datar.
“Kekaisaran akan mengirim pasukan tambahan. Sementara itu, semua operasi lapangan dihentikan.”
“Dihentikan?” Chen Hao menekan telapak tangannya ke meja. “Kita sedang diburu.”
“Justru itu,” balas sang utusan. “Tanpa komando tunggal, kita memperbesar celah.”
Chen Long menyadari sesuatu di peta itu.
Tanda korban terdapat titik merah kecil dan membentuk pola. Bukan acak. Bukan menyebar.
Mereka membentuk garis… menuju jalur utama ke ibu kota.
“Ini bukan sekadar pembunuhan,” kata Chen Long pelan namun jelas.
“Ini penanda jalan.”
Semua mata tertuju padanya.
“Setiap korban berada di titik yang memaksa pasukan berpindah posisi,” lanjutnya.
“Mereka memancing kita untuk mengunci kekuatan di kota-kota kecil.”
Hening.
Yin Sunxin melangkah maju. “Dan selama kita sibuk saling mengatur otoritas… jalur ke ibu kota justru dibiarkan terbuka atau kacau.”
Utusan kekaisaran menatap mereka tajam. “Itu tuduhan serius.”
“Ini peringatan,” jawab Chen Hao. “Bukan tuduhan.”
Namun keputusan telah dibuat sebelum rapat itu dimulai.
Pasukan tambahan dikirim. Komando diperketat. Informasi dibatasi.
Dan tepat seperti yang dikhawatirkan Chen Long.
Saat tengah malam, api besar menyala di distrik barat kota.
Bukan serangan iblis.
Melainkan kerusuhan warga yang panik, dipicu rumor dan ketakutan.
Korban sipil kembali berjatuhan.
Dari atap gudang, Chen Long memandang kota yang terbakar sebagian. Dadanya terasa berat, bukan karena luka, melainkan karena kesadaran bahwa umpan ini bukan hanya memancing iblis.
Ia memancing kesalahan manusia.
Di tempat yang sangat jauh, di balik kabut hitam, sebuah tawa pelan bergema.
Rencana berjalan dengan rapi.
Dan jalur menuju ibu kota… kini benar-benar retak.
...BERSAMBUNG...
...****************...