Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Aku Akan Menikahinya
Tanpa menunggu siapa pun, Fasha langsung mengambil sendok dan melahap makanan di atas meja dengan rakus, bahkan sebelum yang lain sempat meraih piring mereka.
“Apa kalian tidak makan? Aku sangat lapar. Aku ingin makan. Aku tidak pernah merasa kenyang setiap hari,” ucapnya dengan mulut masih penuh.
“Fasha, jangan mengada-ada. Kita di rumah, mana mungkin tidak ada cukup makanan?”
Suara ibu tirinya terdengar dingin.
Melihat wajah Jane yang berubah dari pucat menjadi semakin pucat, Fasha justru merasa puas.
“Di sana memang tidak cukup makanan. Aku masih lapar.”
Seolah untuk menegaskan ucapannya, perut Fasha berbunyi pelan. Wajahnya sedikit mengernyit, tangannya menekan perut yang terasa kram dan nyeri. Ia tampak begitu menyedihkan.
Namun Fasha tetap menyipitkan mata, tak peduli dengan penampilannya. Ia mengambil hidangan daging dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Pipinya menggembung seperti hamster yang sedang menimbun makanan. Ia hampir tidak mengunyah, hanya terus menumpuk makanan di piringnya.
“Fasha, perilaku macam apa itu?!”
Suara tajam Jane membuat Fasha tersedak. Tubuhnya bergetar, batuk kecil terdengar dari bibirnya.
“Diam.”
Satu kata itu keluar dari mulut Harlan dengan nada dingin.
Jane terkejut, menatap Harlan dengan tidak percaya. Ia hendak membalas, tetapi sebelum sempat bicara, tamparan sudah mendarat di pipinya.
Tidak terlalu keras, namun cukup membuat saraf Jane tersentak.
“Kau memukulku?” teriak Jane. “Kau benar-benar memukulku? Seharusnya kau memukul anak bodoh itu, bukan aku!”
Tamparan kedua menyusul.
“Kalau bukan karena kejadian ini, aku bahkan tidak akan tahu kalau Fasha kelaparan di rumah,” bentak Harlan. “Apa kau memukulnya? Kau berhati batu! Bagaimanapun juga dia anak tirimu!”
“Anakku?” Jane tertawa tajam. “Kau tahu betul siapa yang memukulnya dan siapa yang tidak memberinya makan!”
Jane bukan wanita yang mudah ditindas. Ia langsung menjambak rambut Harlan dan membalas menamparnya.
Namun tenaga mereka jelas berbeda. Harlan mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
Jane menatapnya dengan mata merah penuh kebencian, lalu—tanpa peduli tempat dan situasi—ia membalik meja makan sebelum berlari keluar dengan marah.
Piring dan mangkuk jatuh berantakan. Sup dan saus tumpah membasahi lantai.
“Tuan Sander, saya mohon maaf atas pemandangan memalukan ini,” kata Harlan dengan napas tersengal. “Disiplin keluarga kami memang kurang.”
Sander bahkan belum sempat duduk dengan benar. Ia menatap kekacauan itu dengan wajah dingin.
“Kau sendiri yang menjadikan ini sebagai bahan tertawaan.”
Nada suaranya datar, namun menusuk.
Kuah sup mengenai pakaian Harlan, membuat jas mahal itu basah dan lengket. Ia berdiri kaku seperti badut yang tak tahu harus berbuat apa.
Ia tak bisa pergi, tapi juga tak berani berbicara.
“Tuan Harlan,” lanjut Sander pelan, “kalau Anda ingin menjadi badut, setidaknya pilih waktu yang tepat.”
Wajah Harlan menegang. Namun tak ada pilihan lain selain menelan harga diri.
“Tuan Sander, ini semua kesalahan saya. Saya minta maaf. Kami akan segera pamit dan berkunjung lagi lain waktu.”
Mata Fasha berbinar puas.
Ayahnya telah mempermalukan dirinya sendiri, dan ia menikmati setiap detiknya.
Sander melirik sekilas lantai yang berantakan, lalu duduk dengan tenang di sofa utama. Wajahnya tetap dingin, tanpa sedikit pun emosi.
“Paman, itu kursi Kakek,” tegur Dante–keponakan Sander
Tongkat George mengetuk lantai dengan bunyi keras.
Para petugas kebersihan langsung bergerak semakin pelan.
Wibawa kepala keluarga Carter yang diremehkan di depan umum membuat ekspresi George mengeras.
"Perusahaan kita bisa bertahan sampai sekarang karena usahaku," katanya dingin. “Kalau kau tidak puas, silakan tutup sendiri kontrak bernilai ratusan juta itu.”
Sejak Sander dewasa dan masuk ke perusahaan, George perlahan tersingkir.
Bukan karena ia pensiun—melainkan karena disingkirkan oleh putranya sendiri.
Seperti yang dikatakan Sander saat menjabat sebagai ketua:
"Jika sudah tua, lebih baik ayah mengundurkan diri."
George sudah berusia tujuh puluh tahun.
Dan itu benar-benar tua.
Suasana kembali membeku.
Fasha duduk di samping Sander dengan santai. Dengan hati-hati, ia mencubit ujung pakaiannya, jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh tangan pria itu.
“Suamiku, tanganmu kotor dan bau. Biar aku bersihkan.”
Sander menoleh menatapnya. Jarinya sedikit menegang, lalu ia mengambil tisu basah dari meja.
“Orang-orang ini memang kotor,” gumamnya.
Mata Fasha berbinar. Ia tersenyum, alisnya melengkung lembut. Lesung pipit kecil muncul di pipi kanannya.
Senyumnya… entah kenapa, terasa manis.
Fasha mengambil tisu dan menyeka tangan Sander dengan sangat patuh.
Satu.
Dua.
Tiga…
Tepat tujuh kali. Tidak lebih, tidak kurang.
Bagi orang lain, itu tampak seperti perhatian biasa.
Namun Fasha tahu.
Dalam novel, Sander punya kebiasaan obsesif-kompulsif yang membuatnya melakukan semuanya tepat tujuh kali.
Itu adalah rahasia kecil… yang hanya dia ketahui oleh Fasha.
Rasa puas mengalir dalam dada Fasha. Bibirnya sedikit terangkat tanpa bisa ditahan.
'Aku bisa saja melakukan apapun untuk kamu Sander.. tapi kenapa kamu terlalu dingin sih..'
“Paman, bagaimanapun juga, Kakek adalah kepala keluarga. Ini sudah keterlaluan,” kata Dante dengan kesal.
“Oh.”
Satu kata itu langsung menghancurkan kesabaran Dante.
Rasanya seperti meninju kapas—tidak ada efek apa pun.
Bahkan Fasha hampir ingin tertawa.
Siapa pun pasti tak akan senang jika dipaksa menikah. Apalagi sekarang ia dianggap gadis bodoh.
Dalam cerita aslinya, George tidak pernah benar-benar menganggap Sander sebagai anaknya. Pernikahan dengan keluarga Fasha hanyalah cara untuk mempermalukannya.
Namun yang dipikirkan Sander tidak penting.
Yang penting, George puas.
George menahan amarahnya dan berkata pelan,
“Sander, pernikahanmu dengan Fasha sudah disepakati. Tidak perlu terburu-buru. Bangun dulu perasaan kalian.”
Sander menatapnya tajam.
“Apakah aku punya hak untuk bicara dalam urusan hidupku sendiri? Tidak bukan? Aku akan menikahinya..”