Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Kegelapan di dalam gudang tua itu terasa begitu pekat, namun bagi Freya, kegelapan adalah kawan yang menyembunyikan gerak-geriknya. Di tengah rasa sakit yang berdenyut di kaki dan bibirnya yang pecah, otaknya mulai bekerja dengan dingin. Ia teringat masa-masa sekolah dulu, saat ia sering dianggap remeh karena lebih memilih ekskul Pramuka daripada klub kecantikan.
“Simpul mati itu mengunci, Freya. Tapi simpul hidup punya celah jika kau tahu di mana harus menariknya,” suara pelatih Pramukanya terngiang di telinga.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak terdengar, Freya mulai menggerakkan pergelangan tangannya secara ritmis. Ia merasakan gesekan tali tambang yang kasar membakar kulitnya, namun ia tidak berhenti. Ia mencari ujung tali yang sedikit longgar. Dengan bantuan jari-jemarinya yang lentur—terbiasa memegang kuas dalam posisi sulit—ia mulai mengulik simpul di belakang kursi kayu itu.
Keringat dingin membasahi keningnya. Setiap kali tali itu berderit, jantungnya serasa mau copot. Namun, setelah perjuangan yang terasa seperti berjam-jam, ia merasakan ikatan itu mengendur.
Sedikit lagi...
Srak.
Tali itu luruh ke lantai semen. Freya menghela napas lega, namun ia tidak langsung berdiri. Ia memijat pergelangan tangannya yang membiru, mengembalikan aliran darahnya. Kakinya yang masih cedera terasa kaku, namun adrenalin telah mematikan rasa sakit itu untuk sementara.
Freya berdiri dengan sangat hati-hati. Kursi kayu itu berderit pelan, membuatnya mematung selama beberapa detik, memastikan tidak ada yang terbangun. Ia mendekati celah pintu besi yang sedikit terbuka.
Di luar ruangan penyekapan, di sebuah area luas yang dulunya mungkin ruang produksi pabrik, tiga orang penculik tampak sedang beristirahat. Dua orang tidur mendengkur di atas tikar lusuh, sementara satu orang lagi duduk bersandar di dinding dengan sebuah botol minuman keras di sampingnya. Pria itu tampak terkantuk-kantuk, kepalanya sesekali terangguk.
Di atas meja kayu yang rapuh tak jauh dari mereka, Freya melihat sebuah benda yang sangat ia butuhkan: sebuah ponsel. Bukan miliknya, melainkan milik salah satu penjaga itu.
Gue harus ambil itu, batin Freya mantap.
Ia mulai berjinjit. Setiap langkahnya terasa seperti menapak di atas duri. Ia memanfaatkan suara tetesan air hujan yang mulai turun di luar untuk menyamarkan langkah kakinya. Langkah demi langkah, ia mendekati meja itu. Tangannya yang gemetar perlahan menjangkau ponsel tersebut.
Tiba-tiba, salah satu penjaga yang tidur merubah posisi tidurnya dan bergumam tidak jelas. Freya membeku, menahan napas sampai dadanya terasa sesak. Setelah penjaga itu kembali mendengkur, Freya menyambar ponsel itu dan segera berbalik.
Freya tidak kembali ke ruangannya. Ia melihat sebuah jendela pecah di sudut gudang yang tertutup oleh tumpukan kardus. Dengan sisa tenaganya, ia memanjat tumpukan itu, mengabaikan rasa perih di kakinya yang kembali berdenyut hebat. Ia berhasil merangkak keluar melalui jendela, jatuh ke atas tanah becek yang dingin.
Hujan turun semakin deras, membantu menyembunyikan sosoknya di tengah kegelapan hutan tua. Freya berlari—lebih tepatnya pincang dengan cepat—menjauhi gudang itu sejauh mungkin. Ia tidak tahu arah, ia hanya mengikuti instingnya untuk menjauh dari sumber bahaya.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit menembus semak belukar, ia melihat cahaya remang-remang dari sebuah pemukiman warga di balik pepohonan. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan layar ponsel curiannya. Beruntung, ponsel itu tidak terkunci.
Sinyalnya sangat lemah, timbul tenggelam di bawah guyuran hujan. Freya segera membuka aplikasi pesan dan mengetik nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Nomor Kaisar.
Pesan: Ini aku Freya... Aku berhasil kabur. Aku nggak tahu ini di mana, tapi ada gudang tua di belakangku. Aku kirim lokasi sekarang. Kai, tolong... Ethan gimana?
Dengan jari yang kaku karena kedinginan, ia menekan fitur share live location. Lingkaran biru di layar ponsel itu berputar-putar, seolah sedang berjuang melawan cuaca buruk, sampai akhirnya muncul tulisan: Sent.
Freya sampai di sebuah rumah kayu kecil yang terletak paling ujung di desa tersebut. Seorang ibu tua yang sedang terbangun karena suara hujan terkejut melihat seorang gadis dengan baju sobek dan wajah penuh luka berdiri di depan pintunya.
"Neng? Ya Allah, Neng kenapa?!" tanya ibu itu panik.
"Bu... tolong saya..." bisik Freya sebelum tubuhnya nyaris ambruk. Ibu itu dengan sigap menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam, menyelimutinya dengan kain tebal dan memberinya segelas air hangat.
Di dalam rumah yang sederhana itu, Freya terus menggenggam ponsel tersebut, menanti balasan yang akan menentukan hidupnya.
Sementara itu, di Rumah Sakit Kerajaan, suasana mencekam perlahan mulai mencair. Dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
"Keluarga Pangeran Ethan?"
Kaisar, yang saat itu baru saja hendak menarik kerah baju Kholid untuk dibawa ke ruang interogasi, langsung menoleh. Permaisuri Ratna berdiri dengan harapan besar di matanya.
"Kondisi Pangeran Ethan sudah mulai stabil," ujar dokter itu. "Pendarahannya sudah benar-benar berhenti dan tanda-tanda vitalnya menguat. Meskipun masih dalam pengaruh obat bius, dia sudah melewati masa kritisnya. Ini adalah keajaiban."
Permaisuri Ratna jatuh terduduk di kursi sambil mengucap syukur berkali-kali. Namun, Kaisar tidak sempat merayakan kabar itu. Ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Ia merogohnya, dan matanya melebar saat melihat nama pengirim pesan dari nomor asing, namun pesan pembukanya sangat jelas: "Ini aku Freya..."
Detik berikutnya, sebuah peta muncul dengan titik biru yang berkedip-kedip di sebuah area perbukitan yang dikenal sebagai Desa Sunyi—wilayah yang memang berdekatan dengan pabrik tua keluarga Kholid.
Kaisar menoleh ke arah Kholid yang kini tampak pucat pasi melihat ekspresi Kaisar yang berubah dari duka menjadi haus darah yang terarah.
"Ethan sudah stabil," ujar Kaisar dengan suara dingin yang menusuk. "Dan sekarang, aku sudah tahu di mana bidadariku berada."
Kaisar memberikan kode pada pasukan khusus yang sudah bersiaga di lobi rumah sakit. "Ke Desa Sunyi sekarang! Jangan ada yang selamat dari para penculik itu, dan bawa Kholid ke sel isolasi bawah tanah. Aku yang akan menyelesaikannya setelah aku membawa Freya pulang."
Kaisar berlari menuju helikopter yang sudah menunggu di atap rumah sakit. Di tengah gemuruh baling-baling, ia menatap pesan Freya di layar ponselnya.
"Tunggu aku, Freya. Sedikit lagi," bisiknya penuh janji.
Malam ke-30 belum berakhir. Dan bagi mereka yang berani menyentuh Freya, fajar mungkin tidak akan pernah datang lagi bagi mereka.