NovelToon NovelToon
Tanda Huruf 'S' & Misteri Kayu Ilegal

Tanda Huruf 'S' & Misteri Kayu Ilegal

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.

Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.

Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 (six)

Hutan Kemuning pada dini hari tanggal 11 Januari 2026 tampak seperti lautan kabut yang tak berujung. Di dalam bunker persembunyian yang tersembunyi di bawah akar pohon-pohon purba, Detektif Ratna Sari berdiri diam di depan sebuah cermin retak. Ia menatap bayangannya sendiri seorang wanita yang tiga hari lalu masih mengenakan seragam kebanggaan dengan lencana perak di dada, kini hanyalah seorang buronan dengan wajah lelah dan pakaian hitam yang kotor oleh lumpur sungai.

Tiga hari telah berlalu sejak penemuan jasad tanpa wajah itu. Tiga hari yang menghancurkan seluruh hidupnya.

"Minumlah, Bu," suara Teguh terdengar serak. Ia menyodorkan segelas kopi instan panas yang uapnya mengepul lemah. "Ibu belum tidur sejak kita melompat dari kapal tongkang itu."

Ratna menerima gelas itu tanpa menoleh. "Bagaimana aku bisa tidur, Teguh? Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat wajah Bambang di dermaga itu. Aku melihat pengkhianatan di matanya. Dan aku terus memikirkan Mbah Mansur."

Di sudut ruangan yang remang-remang, Mbah Mansur duduk meringkuk di atas dipan bambu. Pria tua itu tampak menyusut, seolah beban hidupnya telah menggerus daging dari tulangnya. Ia tidak lagi bicara. Tangannya terus memilin ujung tas pemulungnya yang sudah robek tas yang seharusnya berisi kue ulang tahun pada tanggal 9 Januari kemarin.

"Mbah," panggil Ratna lembut sambil mendekat. "Mbah harus makan sedikit."

Mbah Mansur mendongak, matanya merah dan bengkak. "Tanggal sembilan sudah lewat, Bu Detektif," bisiknya dengan suara yang pecah. "Dua hari yang lalu... anak itu... si Kecil... dia pasti menunggu di depan pintu. Dia pasti mengira kakeknya lupa. Dia tidak tahu kakeknya sedang diikat dan dipukuli di dermaga itu. Saya gagal, Bu. Saya gagal jadi kakek yang baik."

"Itu bukan kesalahan Mbah," Teguh menimpali dengan nada emosional. "Orang-orang jahat itu yang menjauhkan Mbah dari mereka. Kita akan perbaiki ini, Mbah. Saya janji."

Hening sejenak, hanya suara deru generator di luar bunker yang terdengar. Namun, ketenangan itu pecah ketika Hendra masuk dengan terburu-buru, membawa sebuah laptop militer yang terhubung dengan jaringan satelit ilegal.

"Kita punya masalah besar," kata Hendra tanpa basa-basi. "Bambang tidak menunggu kita melakukan pergerakan. Dia melakukan serangan duluan."

Hendra memutar sebuah rekaman video dari kamera pengawas tersembunyi yang ia pasang di sekitar Kampung Kemarin. Di layar kecil itu, terlihat suasana mencekam. Empat mobil SUV hitam tanpa pelat nomor mengepung gubuk milik Mbah Mansur. Sekelompok pria berpakaian taktis, bersenjata lengkap, mendobrak pintu kayu yang rapuh itu.

"TIDAK! ITU MEREKA!" Mbah Mansur menjerit, berdiri dengan kaki yang gemetar hebat.

Di layar, terlihat menantu Mbah Mansur diseret keluar sambil menggendong si Kecil yang menangis histeris. Si Sulung, bocah laki-laki berusia tujuh tahun, mencoba menendang kaki salah satu petugas, namun ia dengan kasar dilempar ke dalam mobil van. Hanya dalam hitungan detik, gubuk itu kosong. Mobil-mobil itu melesat pergi meninggalkan kepulan debu.

"Kenapa mereka dibawa, Pak Hendra? Kenapa?!" Mbah Mansur meraung, ia jatuh berlutut di depan Hendra, mencengkeram kaki pria itu. "Ambil saja nyawa saya! Jangan sakiti anak-anak itu! Mereka tidak tahu apa-apa soal kayu atau kartu memori itu!"

Hendra menatap Ratna dengan tatapan tajam. "Bambang baru saja mengirim pesan lewat tindakan ini. Dia tahu Mbah Mansur adalah satu-satunya saksi sipil yang bisa merusak narasinya di pengadilan nanti. Dengan menyandera cucunya, dia memastikan Mbah Mansur akan bungkam selamanya atau muncul untuk memberikan kesaksian palsu yang menyudutkan kalian berdua."

Ratna mengepalkan tinjunya hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Di mana mereka sekarang?"

"Rumah Aman di Kaki Bukit Hijau," jawab Hendra. "Secara administratif, itu adalah vila pribadi milik Surya Atmadja, pemilik PT. Silva Maju. Tapi secara de facto, itu adalah penjara bawah tanah untuk siapa saja yang menghalangi Proyek Sapu Kayu. Penjagaannya dua kali lipat lebih ketat dari biasanya karena Bambang tahu kita akan datang."

Ratna menarik napas panjang, mencoba mengendalikan badai amarah di dalam dadanya. Ia berbalik menatap peta topografi yang membentang di atas meja. "Teguh, kemari."

Teguh mendekat, wajahnya menunjukkan tekad yang sama kerasnya dengan Ratna.

"Kita tidak bisa menyerang pabrik kayu di Situs S.K.-1 jika cucu Mbah Mansur masih di tangan mereka," ujar Ratna dengan nada taktis. "Bambang akan menggunakan mereka sebagai tameng manusia begitu kita mulai meledakkan pabrik itu. Kita harus mengeluarkan mereka lebih dulu."

"Tapi Bu," sela Hendra, "jika kita menyerang Rumah Aman itu dulu, pasukan di pabrik akan langsung bersiaga penuh. Kita akan kehilangan unsur kejutan untuk menghancurkan manifest kayu ilegal mereka."

"Makanya kita akan melakukan dua serangan secara bersamaan," sahut Ratna. "Teguh, kau adalah penembak jitu terbaik di angkatanmu. Kau dan Hendra akan pergi ke Bukit Hijau. Gunakan taktik gerilya. Hendra punya pengacau sinyal, gunakan itu untuk mematikan komunikasi mereka selama sepuluh menit. Dalam sepuluh menit itu, kalian harus sudah masuk, mengambil anak-anak, dan keluar."

"Lalu Ibu?" Teguh mengerutkan kening. "Ibu tidak mungkin menyerang Situs S.K.-1 sendirian. Di sana ada Selina, ada Bambang, dan setidaknya dua puluh pengawal bersenjata."

"Aku tidak akan menyerang untuk menang, Teguh," Ratna menatap asistennya itu dengan mata yang berkilat. "Aku akan menyerang untuk mengalihkan perhatian. Aku akan masuk dari sisi timur, tempat tangki bahan bakar solar mereka berada. Aku akan membuat kembang api terbesar yang pernah dilihat Sukamaju. Begitu ledakan terjadi, Bambang pasti akan memerintahkan sebagian besar pasukannya di Bukit Hijau untuk bergerak ke pabrik, mengira bahwa kita melakukan serangan besar-besaran di sana."

"Itu bunuh diri, Bu!" Teguh memprotes keras. "Ibu akan menjadi target tunggal bagi seluruh pasukan mereka!"

"Hanya jika mereka bisa menangkapku, Teguh," Ratna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Hendra, berikan aku bahan peledak C4 yang kau sebutkan tadi. Dan aku butuh baju penyamaran unit taktis mereka. Jika aku bisa menyusup ke dalam barisan mereka di tengah kekacauan, aku punya peluang."

Mbah Mansur merangkak mendekati Ratna, memegang ujung jaketnya. "Bu Detektif... jangan mati. Cucu saya butuh melihat orang baik seperti Ibu tetap hidup."

Ratna berlutut di depan pria tua itu, menghapus air mata di pipi Mbah Mansur yang kasar. "Mbah, ulang tahun si Kecil memang sudah lewat dua hari. Tapi saya berjanji, besok pagi, kita akan tiup lilin bersama di bunker ini. Mbah harus percaya pada Teguh dan Hendra."

Ratna berdiri, mengenakan rompi taktis hitamnya. Ia memasang berbagai peralatan di ikat pinggangnya: belati, magasin cadangan, dan kartu memori yang ia bungkus dalam plastik kedap air. Ia mengikat rambut hitamnya sangat kencang, menanggalkan segala sisa kelembutan dari wajahnya.

"Hendra, siapkan mobil tua itu. Kita bergerak dalam tiga puluh menit," perintah Ratna.

Selama sisa waktu itu, suasana bunker dipenuhi dengan bunyi peralatan logam yang saling beradu. Hendra memberikan arahan terakhir tentang titik buta kamera pengawas di Rumah Aman Bukit Hijau. Teguh memeriksa senapan runduknya dengan teliti, sementara Ratna memetakan rute pelarian di dalam kepalanya.

"Ingat," kata Ratna saat mereka bersiap di depan pintu keluar bunker. "Tujuan utama adalah anak-anak. Jangan terlibat dalam baku tembak yang tidak perlu. Begitu anak-anak aman, segera kembali ke sini. Aku akan menemui kalian di titik pertemuan kedua di pinggir sungai jika aku berhasil keluar."

"Ibu pasti berhasil keluar," Teguh menegaskan, suaranya bergetar oleh emosi.

Ratna menatap kedua rekannya itu untuk terakhir kalinya, lalu menatap Mbah Mansur yang melambai lemah. Tanpa kata-kata lagi, ia mengenakan masker hitamnya dan melangkah keluar menuju kegelapan hutan yang lembap.

Di luar, hujan mulai turun lagi, membasahi dedaunan Hutan Kemuning. Ratna berlari menembus rimbunnya semak, napasnya berirama dengan detak jantungnya yang memompa amarah. Di kejauhan, ia bisa melihat kerlip lampu dari pabrik pengolahan kayu ilegal jantung dari Proyek Sapu Kayu yang telah menumpahkan begitu banyak darah.

"Satu nyawa untuk satu pohon," bisik Ratna pada dirinya sendiri. "Kalian pikir kalian bisa menebang segalanya tanpa pembalasan? Malam ini, hutan ini akan menuntut balik."

Perang secara resmi telah dimulai. Ratna Sari, detektif yang kini menjadi bayangan, bergerak sendirian menuju maut demi menebus ulang tahun seorang anak yang terampas oleh keserakahan manusia.

1
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
bikin tegang dan bikin penasaran saja apa yang akan ratna lakukan🤔
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
akhirnya selamat tapi tantangan masih di depan mata masih perlu banyak perjuangan
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
ratna semoga bisa ketemu kode yang di berikan ibunya aihhh othor pinter amat bikin readers tegang
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
si buta mengorbankan diri demi negara sungguh kehormatan bagi si buta, ternyata ibu nya ratna menghilang masih hidup
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
sungguh sangat menegangkan mereka menghadapi penjahat yang sangat susah di Lumpuhkan penuh dengan bahaya
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
masih banyak misi yang harus ratna perjuangan ini sudah masuk internasional terlalu bahaya
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
pintar sekali ya siska para penjahat benar-benar cerdik semoga ratna bisa keluar dan selamat
❤️⃟Wᵃf🤎Vella☘𝓡𝓳●⑅⃝ᷟ◌ͩѕ⍣⃝✰
benar keluarga memang harus tau terlebih itu istrinya
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
waduh ketahuan semoga mereka bisa keluar mereka dalam bahaya
❤️⃟Wᵃf🤎Vella☘𝓡𝓳●⑅⃝ᷟ◌ͩѕ⍣⃝✰
kenapa komandan bersikap begini harusnya ikut andil dalam menyikapi masalah bukan malah marah2
❤️⃟Wᵃf🤎Vella☘𝓡𝓳●⑅⃝ᷟ◌ͩѕ⍣⃝✰
waduh niat mencari untuk bisa menghasilkan makanan malah menemukan mayat
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
parfum nya kok sama wanginya tanda apa ya itu aihhh othor bikin penasaran sama tanda S itu🤔
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
baru saja bernapas lega ternyata masih ada rahasia di balik S
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
akhirnya mereka selamat tapi sepertinya itu belum selesai selina masih ada di luar bahay masih mengancam walau bambang tertangkap
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
suasana yang menegangkan semoga ratna hendra semuanya selamat
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
Siskaa setannn,anak kecil pun gak mau dilepas /Panic/
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
yok² kabur dulu Ratna sebelum kalian ditangkap oleh para setan berwujud manusia itu 😨
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
Ratna gesit juga ya pintar bisa menyelinap ke dalam gak salah jadi polisi semoga berhasil melaporkan para penjahat
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
pliss moga aja mereka bertiga selamat dah,bahkan kalo Ratna bergerak Siska malah udah berada di situ
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
wah gak nyangka ibu nya Ratna masih hidup+dia adalah kunci utama bagi Ratna dan teguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!