NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir / CEO / Ruang Ajaib
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Panen Besar-Besaran

Minggu pagi, alarm ponsel Suyin berbunyi jam lima subuh. Ia langsung bangun—nggak ada rasa ngantuk sedikitpun. Hari ini adalah hari penting: panen massal untuk memenuhi semua pesanan.

Setelah sholat subuh dan sarapan cepat dengan roti dan susu, Suyin langsung masuk ke ruang dimensi dengan membawa perlengkapan lengkap: gunting panen, keranjang besar, sarung tangan, bahkan topi jerami yang baru dibeli kemarin.

WUSH!

Pemandangan yang menyambutnya bikin Suyin terpana—lagi.

Hampir semua bedengan yang ditanam beberapa hari lalu sekarang SIAP PANEN!

Tomat merah mengkilap menggantung berat di setiap batang. Sawi hijau tumbuh subur dengan daun lebar sempurna. Kangkung berdiri tegak dengan batang gemuk. Bayam lebat. Selada membentuk kepala yang padat dan segar. Bahkan arugula dan kale—sayuran premium—tumbuh cantik dengan daun-daun bergerigi khas.

"Subhanallah..." bisik Suyin, terharu.

Ini hasil kerja kerasnya. Hasil dari ruang dimensi ajaib warisan nenek. Hasil dari keputusan berani yang ia ambil.

"Oke, Suyin. Waktunya kerja!" Ia menepuk pipi sendiri untuk fokus.

Suyin mulai dari zona tomat. Satu per satu buah dipetik dengan hati-hati—hanya yang benar-benar matang sempurna. Merah merata, kulitnya kencang, tidak ada bercak atau memar.

Keranjang pertama penuh. Kedua. Ketiga. Keempat.

Total panen tomat: 45 kilogram!

Suyin membawa semua keranjang ke gudang penyimpanan, meletakkan di rak yang sudah diberi label "TOMAT". Udara di gudang otomatis dingin—seperti kulkas alami—menjaga kesegaran sayuran.

"Teknologi dimensi emang nggak ada duanya," gumamnya sambil tersenyum.

Lanjut ke zona sayuran daun.

Sawi dipetik dari akarnya, dikumpulkan per ikat—satu ikat sekitar 500 gram. Kangkung dipotong batangnya dengan gunting, diikat rapi. Bayam, kale, arugula—semua dipanen dengan telaten.

Waktu terus berjalan. Yang terasa seperti enam-tujuh jam kerja non-stop, di luar baru lewat empat puluh menit.

Total hasil panen hari ini:

Tomat: 45 kg

Sawi hijau: 20 kg (40 ikat)

Kangkung: 18 kg (36 ikat)

Bayam: 12 kg (24 ikat)

Selada romaine: 50 kepala

Selada keriting: 30 kepala

Arugula: 3 kg

Kale: 2 kg

Pak choy: 5 kg (10 ikat)

TOTAL: Lebih dari 135 kilogram sayuran!

Suyin berdiri di tengah gudang penyimpanan yang sekarang penuh dengan rak-rak berisi sayuran segar, menatap hasil kerjanya dengan perasaan campur aduk—bangga, terharu, dan sedikit nggak percaya.

"Aku... aku beneran jadi petani," ucapnya sambil tertawa kecil. "Petani dimensi!"

Tapi pekerjaan belum selesai. Setelah panen, ia harus langsung tanam ulang untuk siklus berikutnya.

Suyin menghabiskan beberapa jam lagi—waktu dimensi—untuk membersihkan bedengan yang sudah dipanen, menggemburkan tanah, dan menanam benih baru. Siklus harus terus berjalan kalau mau supply konsisten.

Kali ini ia tanam variasi yang lebih banyak: tomat cherry (permintaan Bu Lina untuk minggu depan), selada butterhead, Swiss chard, baby spinach, bahkan mulai coba tanam wortel dan bit.

"Makin banyak varietas, makin cepet unlock Level 2," ingatnya sambil menanam.

Setelah semua selesai, Suyin duduk di kursi lipat dekat mata air—ritual favoritnya. Ia minum air ajaib, merasakan kesegaran mengalir ke seluruh tubuh yang lelah.

Matahari di langit dimensi mulai condong ke barat—sore di sini. Tapi di luar... Suyin cek ponsel yang dibawa masuk... baru jam delapan pagi!

"Perfect. Masih banyak waktu untuk packing."

Sebelum keluar, Suyin sempatkan jalan-jalan keliling ruang dimensi. Melihat area-area yang masih kosong, membayangkan apa yang akan ia tanam di sana.

Matanya tertangkap oleh sudut ruang yang agak berbeda—tanahnya lebih gelap, seperti lebih subur dari area lain. Dan di tengahnya ada... tunggul pohon kecil?

"Itu dari mana?" Suyin mendekat dengan penasaran.

Tunggul pohon itu setinggi lutut, dengan batang cokelat tua yang terlihat tua tapi kokoh. Belum ada daun atau cabang—cuma batang polos.

Suyin menyentuhnya—hangat. Bergetar lembut di bawah telapak tangannya.

Tiba-tiba, tulisan bercahaya muncul di udara di depannya:

"Pohon Kehidupan - Level 1. Akan tumbuh seiring perkembangan Ruang Dimensi. Fungsi: Meningkatkan kualitas tanah dan air di area sekitar. Catatan: Pohon ini terhubung dengan jiwa pemilik Ruang."

Suyin terpaku. Pohon Kehidupan? Terhubung dengan jiwanya?

"Makin aneh aja nih ruang dimensi," gumamnya sambil tertawa. Tapi ia suka aneh-aneh kayak gini. Bikin hidup lebih... magical.

Ia memutuskan menyiram pohon itu dengan air dari mata air—siapa tahu membantu pertumbuhannya.

Begitu air menyentuh akar pohon, cahaya lembut berwarna hijau keemasan memancar sebentar dari batangnya. Lalu... sebuah tunas kecil muncul di pucuk batang.

"Woah!" Suyin melompat kaget sekaligus excited. "Tumbuh! Dia tumbuh!"

Ia tersenyum lebar. Satu lagi misteri dari ruang dimensi yang harus ia eksplorasi perlahan.

Dengan perasaan senang, Suyin keluar dari ruang dimensi.

Kembali di apartemen, Suyin langsung kerja mode packaging.

Ia keluarkan semua sayuran dari ruang dimensi—tentunya harus bolak-balik berkali-kali karena jumlahnya banyak banget. Untung waktu di luar hampir nggak berjalan saat ia di dalam ruang.

Ruang tamu apartemen sekarang jadi gudang mini—kardus-kardus berisi sayuran tertata rapi, plastik ziplock berserakan, spidol permanen, label stiker...

Suyin mulai sortir dan packing sesuai pesanan:

Pesanan Bu Lina (Delivery Senin pagi):

10 kg tomat → Dikemas dalam 4 box, masing-masing 2.5 kg

3 kg sawi → 6 ikat

3 kg kangkung → 6 ikat

2 kg bayam → 4 ikat

15 kepala selada romaine

1 kg arugula

Semua dikemas rapi dalam plastik ziplock, diberi label "Lin's Organic Farm" dengan cap stempel kentang yang lumayan rapi. Lalu dimasukkan ke dalam box kardus besar yang sudah ditempeli stiker bertulisan "FRESH ORGANIC VEGETABLES - HANDLE WITH CARE".

Pre-order teman kantor & customer lain:

Suyin menghabiskan hampir empat jam—waktu nyata—untuk packing semua pesanan satu per satu. Setiap paket diberi label nama pemesan, isi, dan berat.

Saat selesai, ruang tamu penuh dengan paket-paket siap kirim. Total ada 23 paket untuk berbagai customer.

Suyin duduk di lantai, dikelilingi paket-paket itu, menatap hasil kerjanya dengan perasaan puas yang luar biasa.

"Aku... aku beneran jadi entrepreneur," ucapnya pelan.

Ponselnya bunyi—pesan masuk dari Bibi Wang.

Bibi Wang: "Suyin, ibu-ibu arisan ada yang mau pesen lagi. Kamu masih ada stok?"

Suyin lihat sisa sayuran yang belum dipacking—masih banyak.

Suyin: "Ada, Bi! Mau pesen apa aja? Sekarang aku udah ada macem-macem: tomat, sawi, kangkung, bayam, selada, bahkan arugula dan kale!"

Bibi Wang: "Wah lengkap! Nanti sore aku ke tempat kamu ya, sekalian liat-liat."

Sore itu, Bibi Wang datang bersama tiga orang ibu-ibu arisan: Ibu Rita, Ibu Santi, dan Ibu Dina—customer setia Suyin.

"Astaga, Suyin! Ini semua hasil panen kamu?!" Ibu Rita takjub melihat tumpukan paket sayuran di ruang tamu.

"Iya, Bu. Baru panen tadi pagi."

"Panen dari mana? Kebun kamu di desa?" tanya Ibu Santi penasaran.

Suyin sudah siap dengan cover story. "Saya ada kerjasama dengan petani organik di daerah Bogor, Bu. Mereka yang nanem sesuai standar saya, saya yang pasarin di Jakarta."

"Ohhh, pantesan bisa produksi banyak gini!" Ibu Dina manggut-manggut. "Pinter ya, masih muda udah punya bisnis!"

Mereka browsing-browsing sayuran yang ada, nyobain ini itu—Suyin kasih sample gratis untuk dicicipi mentah (khusus tomat dan selada).

"Manis banget tomatnya!" seru Ibu Rita sambil ngunyah. "Anak-anak pasti suka!"

"Selada-nya crispy, fresh! Enak banget buat salad!" tambah Ibu Santi.

Akhirnya mereka bertiga pesan total:

15 kg tomat

20 ikat sayuran campur

25 kepala selada

2 kg arugula (penasaran karena belum pernah coba)

Suyin langsung packing pesanan mereka. Total tagihan: Rp 1.150.000—langsung dibayar tunai!

"Mbak Suyin, kalau nanti produksi makin banyak, kabarin ya. Saya mau jadi reseller di komplek sebelah," tawar Ibu Rita.

"Saya juga mau! Di komplek saya banyak ibu-ibu yang doyan sayuran organik tapi males ke pasar," sambung Ibu Dina.

Suyin nggak nyangka. Reseller? Itu artinya... distribusi lebih luas!

"Boleh, Bu! Nanti kita bicarain sistemnya ya."

Setelah ibu-ibu pulang dengan paket sayuran mereka, Suyin langsung hitung-hitungan pemasukan hari ini:

PEMASUKAN MINGGU INI (PROYEKSI):

Pesanan Bu Lina (Senin): Rp 650.000

Pre-order customer: Rp 850.000

Ibu-ibu arisan (hari ini): Rp 1.150.000

TOTAL: Rp 2.650.000 dalam satu minggu!

Belum dipotong biaya operasional—benih, packaging, transport—sekitar Rp 400.000.

NET PROFIT: Rp 2.250.000!

Dua juta lebih dalam seminggu!

Suyin menatap angka itu lama. Ini... ini lebih dari sepertiga gaji bulanannya sebagai desainer interior. Dan ini baru minggu kedua bisnisnya jalan!

"Kalau konsisten kayak gini sebulan..." ia menghitung. "Bisa dapat 8-9 juta bersih per bulan!"

Itu udah lebih dari gajinya!

Suyin berbaring di sofa, menatap langit-langit apartemen dengan perasaan overwhelmed—dalam artian positif.

Hidupnya... benar-benar berubah.

Dua minggu lalu ia cuma desainer interior biasa yang hidup dari gaji pas-pasan, masih trauma kehilangan nenek dan dikhianati mantan tunangan.

Sekarang? Ia punya bisnis yang booming, punya ruang dimensi ajaib, punya... tujuan hidup yang jelas.

"Terima kasih, Nenek," bisiknya sambil menyentuh gelang giok yang hangat di pergelangan tangan. "Entah kenapa kamu kasih aku hadiah ini... tapi aku janji akan memanfaatkannya sebaik mungkin."

Gelang bersinar lembut—seperti memeluknya dari jauh.

Malam itu, Suyin tidur dengan lelah tapi puas. Besok pagi harus bangun lebih pagi untuk delivery ke restoran Bu Lina—first impression harus sempurna!

Tapi di tengah tidurnya, ponsel berdering.

Suyin terbangun, meraih ponsel dengan mata setengah terbuka. Nomor tidak dikenal. Jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Siapa yang telpon semalem ini?

Dengan ragu, ia angkat. "Halo?"

"Suyin? Ini Meifeng."

Suara sepupunya langsung bikin Suyin bangun sepenuhnya. Alarm berbunyi di kepalanya.

"Kak Meifeng? Ada apa nelpon semalem ini?"

"Maaf ganggu. Tapi ini penting." Suara Meifeng terdengar... aneh. Terlalu manis. Terlalu bersemangat. "Aku tadi ketemu sama Pak Tan—appraiser barang antik terkenal. Aku tunjukin foto gelang kamu..."

Suyin langsung duduk tegak. "Kak, aku nggak pernah kasih izin difoto apalagi di-appraisal!"

"Iya, maaf. Aku cuma penasaran aja. Dan ternyata..." Meifeng berhenti sejenak, nada suaranya berubah jadi serius. "Gelang itu SANGAT berharga, Suyin. Pak Tan bilang itu giok kuno dari dinasti Ming. Harganya bisa ratusan juta. Bahkan mungkin miliaran kalau dilelang!"

Jantung Suyin berdebar keras. "Terus kenapa?"

"Aku... aku mau bantu kamu jual. Kita bisa bagi hasil. Kamu dapet uang banyak, bisa buka usaha lebih gede—"

"Nggak." Suyin memotong cepat. "Ini warisan nenek. Nggak akan aku jual."

"Suyin, kamu nggak ngerti! Ini uang MILIARAN! Kamu bisa—"

"Aku bilang NGGAK, Kak. End of discussion." Suyin menutup telpon dengan tangan gemetar.

Ia menatap gelang giok di tangannya—yang sekarang bersinar lebih terang, seolah merespon emosinya.

Meifeng... sudah mulai bergerak.

Dan Suyin tahu—ini baru awal dari masalah yang lebih besar.

1
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi Oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!