NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Perjalanan dimulai sebelum matahari benar-benar terbit.

Langit masih berwarna abu-abu pucat ketika kendaraan tak bertanda itu meninggalkan fasilitas dengan kecepatan stabil, tidak terburu-buru namun juga tidak ragu. Jalanan kota masih lengang, hanya beberapa kendaraan logistik yang bergerak pelan di kejauhan.

Di dalam mobil, suasana sunyi bukan karena tidak ada yang ingin bicara, melainkan karena semua orang sedang menyusun ulang pikirannya masing-masing.

Lucian duduk di depan, memantau peta digital yang terus diperbarui melalui jaringan satelit cadangan. Aidan menyetir dengan fokus penuh, tangannya mantap di kemudi.

Di kursi belakang, Kael menatap jendela tanpa benar-benar melihat pemandangan.

Lyra duduk di samping Damian.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Lokasi yang Raven tandai berada di wilayah perbukitan terpencil, jauh dari pusat kota, jauh dari jalur utama. Di peta, tempat itu terlihat seperti area kosong yang tidak menarik perhatian siapa pun.

“Bangunan lama fasilitas riset,” jelas Lucian tanpa menoleh. “Secara resmi sudah ditutup hampir sepuluh tahun lalu.”

“Secara resmi,” ulang Kael pelan.

Aidan mengangguk tipis.

“Artinya tidak pernah benar-benar kosong.”

Lyra memandang layar kecil di tangannya, menatap koordinat itu berulang kali seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik angka.

“Kau tenang sekali,” katanya tiba-tiba pada Damian.

Damian tidak langsung menjawab.

“Aku fokus,” katanya akhirnya.

Lyra tersenyum tipis.

“Versi tenangmu selalu terdengar seperti itu.”

Damian menoleh sedikit ke arahnya.

“Dan kau?”

Lyra menarik napas dalam.

“Aku tidak takut tempatnya,” katanya pelan. “Aku hanya tidak suka perasaan bahwa dia sudah memperkirakan langkah kita.”

Damian menatap jalan di depan, suaranya rendah namun jelas.

“Dia mungkin memperkirakan bahwa kita datang. Tapi dia tidak bisa memperkirakan bagaimana kita masuk.”

Lyra menyimpan kalimat itu.

Bagaimana kita masuk.

Bukan hanya secara fisik.

---

Bangunan itu muncul perlahan di balik kabut pagi.

Strukturnya besar, beton kelabu dengan jendela-jendela panjang yang sebagian tertutup panel logam. Tidak ada papan nama. Tidak ada tanda aktivitas.

Terlalu sepi.

Aidan memarkir kendaraan cukup jauh dari pintu utama.

Raven, yang ikut melalui komunikasi jarak jauh, berbicara melalui earpiece mereka.

“Pemindaian awal menunjukkan sinyal aktif di bagian inti bangunan. Energi stabil. Tidak terlihat sistem pertahanan berat.”

Kael mendengus pelan.

“Yang terlihat jarang yang paling berbahaya.”

Mereka bergerak masuk dengan formasi alami, bukan kaku seperti militer, tapi terkoordinasi seperti orang-orang yang sudah lama saling memahami ritme.

Pintu utama tidak terkunci.

Itu justru membuat suasana terasa lebih tegang.

Begitu mereka masuk, udara di dalam terasa lebih dingin daripada di luar. Bau logam dan debu lama bercampur samar.

Koridor panjang membentang lurus, lampu-lampu di langit-langit menyala otomatis saat mereka melangkah.

Lyra merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan kenangan.

Lebih seperti gema.

Seolah bangunan itu tidak kosong dari sejarah.

“Tidak ada kamera terbuka,” lapor Lucian sambil memindai jaringan internal lewat perangkat portabelnya. “Tapi sistem pusat aktif.”

“Dia ingin kita sampai ke inti,” kata Aidan.

Damian mengangguk.

“Kita ikuti.”

---

Mereka tiba di ruangan inti yang lebih luas dari dugaan.

Dindingnya tinggi. Panel kaca besar memisahkan ruang kontrol dari area tengah yang kosong.

Di tengah ruangan itu, satu kursi logam berdiri sendiri.

Dan seseorang berdiri di dekatnya.

Orion.

Tidak ada layar. Tidak ada rekaman.

Ia benar-benar ada di sana.

Lyra tidak pernah melihatnya secara langsung sebelumnya. Wajahnya lebih muda dari yang ia bayangkan, tatapannya tenang, hampir ramah.

“Selamat datang,” katanya, suaranya sama persis seperti di rekaman. Stabil, tidak terburu-buru.

Kael bergerak setengah langkah maju, tapi Damian mengangkat tangan kecil, memberi isyarat untuk tetap di posisi.

“Kau tidak membawa pasukan,” kata Damian.

Orion tersenyum tipis.

“Kalau aku ingin perang, ini bukan cara yang efisien.”

Lyra memperhatikan cara Orion memandang mereka. Bukan seperti musuh. Lebih seperti evaluator.

“Kau membuka arsip lama kami,” kata Damian.

Orion mengangguk pelan.

“Aku ingin kalian mengingat apa yang hampir kalian buang.”

Aidan bersuara tenang namun tegas,

“Kami tidak membuang apa pun. Kami memilih.”

Orion mengalihkan pandangannya pada Lyra.

“Dan kau?” tanyanya lembut. “Apa yang kau pilih?”

Lyra melangkah maju sebelum yang lain bisa menahannya.

“Aku memilih untuk tidak dijadikan pembenaran teori seseorang,” katanya, suaranya tidak keras namun jelas.

Orion memiringkan kepala sedikit.

“Menarik. Tapi pilihan tanpa pemahaman lengkap hanyalah reaksi sesaat.”

Damian akhirnya berbicara lagi.

“Berhenti berbicara seolah kami belum memahami sistem yang membentuk kami.”

Orion menatapnya dengan tatapan yang berbeda sekarang — lebih tajam.

“Kau yang paling hampir,” katanya pelan. “Kau hampir menjadi operator paling stabil yang pernah mereka ciptakan. Tanpa keraguan. Tanpa konflik.”

“Tanpa manusia,” jawab Damian datar.

Hening sejenak.

Orion berjalan perlahan ke kursi logam di tengah ruangan.

“Kalian semua berpikir sistem itu mengekang,” katanya. “Padahal sistem itu melindungi dunia dari kekacauan yang tidak bisa diatur oleh emosi.”

Lyra menatapnya tanpa berkedip.

“Dan siapa yang melindungi dunia dari sistem yang menganggap manusia hanya variabel?”

Orion tersenyum tipis lagi.

“Itulah sebabnya aku mengundangmu.”

Lucian, yang tetap memantau jaringan dari belakang, berbisik melalui komunikasi internal,

“Tidak ada sinyal jebakan. Tapi energi di ruangan ini meningkat.”

Raven bersuara dari jauh,

“Inti bangunan mengaktifkan sesuatu.”

Damian menatap Orion.

“Apa yang kau lakukan?”

Orion tidak terlihat terkejut.

“Aku ingin menunjukkan satu hal terakhir sebelum kalian memutuskan untuk menghancurkanku.”

Dinding kaca di belakangnya menyala.

Rekaman baru muncul.

Bukan masa lalu.

Prediksi.

Simulasi masa depan berdasarkan pola perilaku mereka.

Konflik global meningkat. Sistem keamanan runtuh. Kota-kota kacau.

“Tanpa struktur,” kata Orion pelan, “kebebasan berubah menjadi kehancuran.”

Lyra memperhatikan simulasi itu dengan saksama.

“Ini model statistik,” katanya. “Bukan kepastian.”

Orion mengangguk.

“Tentu saja. Tapi probabilitasnya tinggi.”

Damian melangkah maju sekarang.

“Dan solusi versimu adalah menghapus variabel yang tidak stabil.”

“Bukan menghapus,” koreksi Orion tenang. “Menyelaraskan.”

Hening menggantung berat di ruangan itu.

Keputusan ada di titik yang tidak bisa ditunda lagi.

Raven berbicara melalui komunikasi,

“Inti energi bisa dinonaktifkan dari dalam. Tapi hanya satu orang yang bisa masuk ke pusatnya.”

Semua tahu artinya.

Lyra menatap struktur di belakang Orion, lalu pada Damian.

“Kau tahu sistem ini lebih baik,” katanya pelan.

Damian menggeleng.

“Tidak.”

Lyra menatapnya, sedikit terkejut.

“Aku tidak masuk sendiri,” lanjut Damian. “Apa pun yang kita lakukan, kita lakukan bersama.”

Orion mengamati mereka, dan untuk pertama kalinya, senyumnya memudar tipis.

“Kalian masih berpikir ini tentang loyalitas,” katanya pelan. “Padahal ini tentang efisiensi.”

Lyra menatapnya lurus.

“Efisiensi tanpa hati bukan solusi. Itu penundaan masalah.”

Damian mengulurkan tangan sedikit ke arah Lyra. Bukan untuk melindungi. Bukan untuk menarik mundur.

Untuk sejajar.

“Keputusan kita,” katanya pelan.

Lyra mengangguk.

Dan di ruangan itu, di antara sistem, prediksi, dan keyakinan yang saling bertabrakan, satu hal menjadi jelas:

Pertarungan ini bukan tentang siapa yang lebih kuat.

Ini tentang siapa yang lebih percaya pada kemampuan manusia untuk memilih bahkan ketika sistem mencoba menyederhanakannya menjadi angka.

Dan keputusan itu akan mengubah semuanya.

---

1
Cicih Sophiana
Lyra👍👍👍
Cicih Sophiana
Lara dan Damian seperti nya nanti berjodoh
Cicih Sophiana
apa Damian mafia?
Cicih Sophiana
cerita nya seru...cewek yg keren
Cicih Sophiana
Lyra cewek keren...👍
Cicih Sophiana
hadir ach thor...
seperti seru nih...
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
cape aku thor.. kayak aku yang berlari, sembunyi .. hampir kehilangan nyawa😭 kapan giliran dia yang dburu🤣🤣
adisty aulia
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
jebakan demi jebakan kapan mereka yang di depan
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
deg² an thorr
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
keren cerita nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!