Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9—Kegaduhan di pagi hari
Gerbang sekolah hampir tertutup ketika mobil hitam itu berhenti tepat di depannya. Sinar matahari pagi sudah mulai terang. Suara bel pertama hampir berbunyi. Beberapa siswa yang masih berdiri di sekitar parkiran otomatis menoleh.
Mobil itu terlalu mencolok untuk diabaikan. Bukan mobil guru. Bukan mobil orang tua biasa. Mengilap. Elegan. Sunyi saat mesin mati.
Pintu belakang terbuka, semakin banyak yang menoleh berkata-kata siapa yang akan turun dari mobil itu—lebih tepatnya semua orang tahu bahwa primodia sekolah akan turun sebentar lagi, melihatnya turun dari mobil adalah pemandangan yang indah. Maka dari itu situasi jadi ramai.
Satu, dua, tiga.
Seseorang turun. Rahmat yang turun pertama sepatu hitamnya menyentuh aspal dengan tenang. Seragamnya rapi. Tas digantung di satu bahu.
Sunyi sepersekian detik. Tiba-tiba saja harapan melihat Alya runtuh seketika, malah seorang siswa miskin yang muncul.
Beberapa bertanya-tanya apa yang terjadi, sampai pintu terbuka lagi kali ini Alya yang keluar.
Rambutnya tergerai rapi, terkena cahaya matahari pagi. Seragamnya bersih sempurna. Ekspresinya seperti biasa—tenang, anggun, sulit ditebak. Terlihat begitu indah sampai semua orang melupakan keberadaan Rahmat, tapi langsung tersadar lagi beberapa detik.
Sesuatu gak beres terjadi!
Bisik-bisik meledak seperti korek api di sulut.
“Itu Rahmat kan?”
“Serius? Bareng Alya?”
“Kok bisa!?”
“EH JANGAN BILANG MEREKA TINGGAL SEATAP??”
“Kalau yang itu gak mungkin!”
“Tapi sejak kapan bahkan mereka deket?”
Beberapa siswa bahkan berhenti melangkah hanya untuk memastikan penglihatan mereka tidak salah.
Rahmat bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Memilih cuek saja. Memasukan tangan ke saku, mengecek notifikasi dari sistem.
Orang-orang jadi heran, beberapa iri karena bisa naik mobil bersama idola sekolah, beberapa percaya ini hanya salah lihat alias mata mereka lagi katarak.
Sementara Alya terlihat santai. Ia bahkan sempat tersenyum kecil dan melambaikan tangan ke arah dua temannya yang berdiri tak jauh.
Kontras yang mencolok. Antara siswi paling cantik di sekolah dengn pria … biasa saja, bahkan dibawah standar.
Rahmat berjalan tanpa ekspresi, mendahului Alya. “Kalau gitu aku duluan, ya, Alya!”
“Eh … tunggu,” ucap Alya ia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih atas kejadian tadi malam, tapi Rahmat sudah pergi tidak menampakkan batang hidup.
“Duh dasar!,” gumamnya kesal.
Di sudut pandangannya, sistem muncul tipis.
[Reputasi Sekolah: +15]
[Tingkat Perhatian Publik: Meningkat]
[Potensi Konflik Sosial: 68%]
Ia menghela napas pelan. Potensi konflik ya, entah kenapa dia bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini. Nilainya baru saja melonjak, dan seperti saham—lonjakan selalu menarik predator.
**
Belum sampai ke tangga kelas, langkahnya terhenti. Lima orang berdiri menghadang, formasi setengah lingkaran, mereka terlihat gagah dan dengan wajah sombong seolah berada di atas.
Geng sekolah terkenal ini, berisi lima orang paling berbahaya dan sering dijauhi oleh orang-orang. Rahmat dulu sering ditindas oleh mereka, tapi rahmat yang dulu bukanla yang sekarang!
Mereka adalah pembuat onar, Siswa yang namanya sering muncul dalam bisik-bisik kelas bawah.
Ardi berdiri paling depan. Rambutnya disisir ke belakang. Senyum miring terpasang jelas.
“Wah, wah… Rahmat, ya” katanya pelan tapi cukup keras untuk didengar sekitar. “Naik level sekarang?”
Rahmat diam. Melepaskan earphone yang ia pasang, menatap acuh tak acuh. “Oh, ya. Pagi Ardi.”
Itu yang dijawab sebuah sapaan sopan yang tentu malah mengundang dan bagi mereka ejekkan.
Ardi mengumpat kesal, lima itu merasa aneh dengan perubahan sikap santai Rahmat tiba-tiba.
Ardi melirik ke arah gerbang, ke arah mobil yang tadi pergi. “Sejak kapan lo dekat sama Alya?”
“Hmm, sejak kapan, ya?” Rahmat pura pura bingung dan memegang dagu.
Yang lain ikut tertawa kecil. “Jangan bilang lo pacaran?”
Beberapa siswa mulai menjauh, tapi tetap menonton dari jarak aman.
“Dia lagi-lagi mulai,”
“bodoh banget malah belagu gitu,”
“Teman-teman siap ya, kita bakal lihat penindasan lagi.”
Begitu bisik-bisik yang muncul dan terdengar. Lima orang itu tertawa seolah merasa di atas.
Rahmat menjawab datar, “lagian kenapa sih gak ada urusannya dengan kalian juga,”
Ardi mendekat. Jarak mereka tinggal sejengkal. Ia merasa jengkel dengan sikap Rahmat yang dianggap sok banget, Aromanya campuran rokok dan parfum murah.
“Denger ya,” ucap Ardi lebih pelan namun menusuk. “Cewek kayak dia bukan buat level lo.”
“Oh, oke,” jawab Rahmat tak niat.
“Alya itu bidadari sekolah gak usah ngarep lo bisa dapetin dia.”
Siapa pula yang harapkan dapat tu anak?
“Merusak pandangan tahu gak sih? Dasar miskin, jijik tahu!”
Kalimat itu sengaja diucapkan cukup keras agar terdengar.
Beberapa kepala menoleh.
Rahmat bisa merasakan ini bukan sekadar ejekan.
Ini deklarasi wilayah.
Sistem berbunyi.
[Ding.]
[Misi Terpicu: Pertahankan Harga Diri]
[Hadiah: Skill Dasar – Refleks Fisik +1]
[Kegagalan: Penurunan Reputasi -10]
[Catatan: Hindari Keributan Terlalu Lama]
Rahmat menatap Ardi tanpa emosi. “Kelar bacotnya?”
“Intinya gini kan, kalian cuma iri doang?”
Ardi tertawa, lalu mendorong bahu Rahmat, sebuah dorongan ringan yang penuh niat merendahkan.
Namun itu adalah sebuah kesalahan! Gerakan Rahmat cepat dan bersih.Tangannya menangkap pergelangan Ardi sebelum sempat ditarik kembali.
Putar, tekan ke bawah, sendi terkunci.
“Aaa—!” Ardi meringis spontan. Ia terkejut, cepat! Sejak kapan si culun ini bisa jaga diri?
Semua terjadi kurang dari dua detik.
Orang-orang yang menonton juga melongo terkejut, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Salah satu anggota geng refleks maju dari samping, mengayunkan pukulan.
Rahmat menunduk sedikit.
Tinju itu menyapu udara.
Sikut kanan Rahmat menghantam perut penyerang.
Bukan keras berlebihan.
Tapi tepat.
Udara keluar dari paru-paru lawan dengan suara tertahan.
Dua lainnya maju bersamaan.
Sistem menyala tipis.
[Prediksi Arah Serangan: Kiri – Tendangan]
[Waktu Respon Optimal: 0.4 Detik]
Rahmat melangkah setengah langkah ke belakang, memiringkan tubuh, tendangan hanya menyentuh angin.
Balasan cepat—tendangan rendah ke lutut, penyerang itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
Ardi, yang masih kesakitan mencoba menyerang dengan tangan bebasnya. Emosi membuat gerakan dia kasar dan mudah dibaca.
Rahmat melepas kuncian, lalu
Bug.
Satu pukulan lurus ke wajah, Presisi, tidak brutal, namun sudah lebih dari cukup membuat Ardi terhuyung dan jatuh terduduk di lantai.
Suasana jadi sunyi. Ada yang merekam bergulatan singkat dan keren itu dengan ponsel diam-diam, mengirim ke grub sekolah dengan judl dan narasi yang dibuat heroik
KEBANGKITAN RAHMAT SI PECUNDANG.
Video itu tersebar cepat dan luas, banyak orang yang melihat.
Rahmat berdiri tegak. Napasnya stabil. Seragamnya hampir tidak kusut. Ia menatap mereka satu per satu.
“Masih mau lanjut?” dengan mata dingin ia berkata.
Tak ada jawaban. Naluri bertarung mereka semua mengatakan untuk mundur, orang d depannya jelas beda level.
Diamnya mereka diasumsikan sebagai tidak, Rahmat menganggukkan kepala mengerti. Lalu dia merapikan kerah.
Sistem muncul lagi.
Sistem muncul lagi.
[Misi Selesai]
[Refleks Fisik +1]
[Reputasi Sekolah: +20]
[Bonus uang ; RP 1.000.000]
[Tingkat Ancaman Sosial: Meningkat ke 74%]
[Peringatan: Potensi Balasan Tidak Langsung]
....