罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Nakamura part IV
...**...
...決して清くない血...
...-Kesshite Kiyoka Nai Chi-...
...'Darah yang Tidak Pernah Jernih'...
...⛩️🏮⛩️...
Ruang tengah masih hangat oleh obrolan sederhana. Lampu tua di langit-langit memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, memantul di dinding kayu yang sudah lama mengenal musim. Suara napas Misao terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Ia duduk diam lebih lama dari sebelumnya, seolah tubuhnya sedang berunding dengan dirinya sendiri.
Noa masih menatap wajah ibunya, hatinya semakin hangat. "Aku senang... ibu terlihat segar malam ini. Rasanya... seperti dulu, saat aku masih kecil. Aku... aku rindu senyum ibu seperti ini."
Misao menghela napas panjang, pelan, seakan menahan sesuatu yang tak ingin ia lepaskan begitu saja.
"Noa sayang..." suaranya lembut, namun ada getar yang tak bisa disembunyikan. "Bisa tolong antar Ibu ke kamar?"
Noa mengangguk. Ia segera meraih tangan Misao dengan hati-hati, seakan takut genggaman yang terlalu kuat bisa melukai. Tubuh Misao terasa ringan—sangat ringan. Noa menuntunnya perlahan melewati pintu sempit, langkah mereka menyatu dalam irama yang sunyi.
Di depan futon, Noa berhenti sejenak.
"Ibu," katanya pelan, hampir ragu, "malam ini... boleh aku tidur di sini? Bersama Ibu."
Misao menoleh. Untuk sesaat, wajahnya membeku, lalu melunak. Senyum kecil terukir—senyum yang menyimpan terlalu banyak perasaan untuk diucapkan.
"Tentu sayang," jawabnya. "Ayo."
Di atas kasur tipis, Misao berbaring perlahan. Noa membantunya merapikan selimut, lalu ikut berbaring di sampingnya, seperti dulu. Kepala Noa bersandar di sisi tubuh Misao, mendengarkan detak jantung yang masih setia berdetak—meski tak lagi sekuat dulu.
Misao menatap langit-langit kamar yang gelap. Dalam diam, pikirannya bergulir.
Barangkali ini pelukan terakhir yang bisa ia berikan. Jika waktu benar-benar berhenti setelah malam ini, biarlah Noa mengingat kehangatan, bukan kepergian. Biarlah ia tertidur dengan rasa aman, bukan rasa kehilangan.
Tangannya bergerak pelan, memeluk Noa. Ia membiarkan anak itu tetap di sisinya—tidak menjauh, tidak melarang. Jika ini adalah akhir, maka inilah caranya memilih.
"Sayang," bisiknya lirih, nyaris menyatu dengan napas malam.
"... Kore kara nani ga attemo na, hitotsu dake wasurentoite na... akirametara akan de."
(... Apapun yang terjadi nanti, ingatlah satu hal... jangan menyerah)
Noa tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, memejamkan mata, membiarkan hangat itu meresap dalam-dalam.
Misao menutup matanya perlahan. Napasnya teratur, tenang—pasrah kalaupun ini adalah malam terakhirnya. Pelukannya tidak dilepas. Ia membiarkan Noa berada di sisinya... hingga waktunya benar-benar habis.
Malam itu sangat tenang. Begitu lembut. Namun terasa ganjil. Dunia seakan memberi satu hadiah kecil—sebelum bayangan panjang kembali menelan waktu.
...⛩️🏮⛩️...
...Shugitani, Prefektur Kyoto ...
...Keesokan harinya....
Rumah itu kembali sunyi. Lebih sunyi dari malam kemarin. Lebih sunyi dari biasanya.
Langit menggantung rendah, berat oleh mendung yang belum tumpah. Di dalam kamar kayu yang sempit dan dingin, Noa duduk di lantai dengan tangan terlipat di atas lutut. Ia tidak menangis. Matanya kosong, memandangi sehelai kain putih yang menutupi tubuh Misao—wanita yang ia anggap ibu, satu-satunya yang ia punya.
Tubuh itu sudah dingin sejak subuh. Itulah yang membuat Noa terbangun saat masih berada disisinya—memeluknya erat. Tak ada jeritan. Tak ada air mata yang pecah. Hanya satu tarikan napas terakhir yang berat.
Sepanjang malam, Noa menggenggam tangan ibunya. Kini, Tangan yang kurus dan kasar itu diam, tak lagi menggenggam balik.
Noa merasakan perpaduan antara kehilangan dan rasa syukur: kehilangan karena waktu mereka telah habis, rasa syukur karena sempat merasakan hangat terakhir dari tangan yang selama ini melindunginya. Kata-kata ibunya, "Bertahan hidup," bergema di dalam hati Noa, menyalakan tekad yang pahit tapi nyata—ia harus tetap hidup, meski dunia kini terasa hampa.
Tak ada rumah duka di desa ini. Tak ada upacara pemakaman resmi. Hanya warga yang datang satu per satu, membawa makanan kecil, menepuk punggung Noa, dan berkata dengan suara pelan, "Gaman shiya\~ na, ee ko dosu na." (Sabar ya, anak baik)
Tapi sabar tidak pernah punya tempat dalam kesedihan yang dingin dan diam seperti ini. Sabar tidak memulihkan detak jantung ibu yang sudah berhenti. Tidak menghangatkan tubuh yang perlahan memucat, kehilangan warna.
Di halaman belakang, lelaki tua tetangga mereka sedang menggali tanah dengan cangkul tua. Ia pernah membantu menguburkan anjing peliharaan warga, dan hari ini, ia membantu untuk sesuatu yang lebih besar.
Noa tidak bicara. Tidak makan. Tidak menjawab ucapan belasungkawa. Ia hanya berdiri ketika waktunya tiba, menatap saat tubuh ibunya diturunkan ke dalam tanah, dibungkus kain seadanya, di antara pohon bambu dan batu lumut yang dingin.
Saat gumpalan tanah pertama jatuh, ia memejamkan mata. Tidak ada upacara keagamaan. Tidak ada pendeta. Hanya langit mendung, tanah basah, dan satu-satunya orang yang pernah mencintainya... kini menjadi bagian dari bumi.
"Okaa... aku masih di sini," bisiknya.
"Tapi tidak ada lagi yang akan menungguku pulang."
Ia tidak menangis. Air matanya sudah terlalu lelah dan kering. Sorot matanya terlihat cekung dengan gelap bagian bawahnya. Lelah dengan penderitaan. Lelah dengan kesunyian. Lelah dalam kekosongan.
...⛩️🏮⛩️...
...Minato – Tokyo...
...Markas Utama Klan Yamaguchi....
Di jantung pusat kota, berdiri sebuah hongke megah, sunyi tapi penuh aura kekuasaan. Di halaman tengahnya, kolam koi berkilau redup di bawah lampu temaram, seolah menelan bayangan siapa pun yang melangkah di sana. Ini bukan sekadar rumah; ini markas, kantor, dan benteng Yamaguchi Clan.
Di sebuah ruangan luas berlantaikan kayu gelap, dengan lampu gantung rendah dan lukisan burung bangau tua menggantung di tengah dinding, suara itu berbicara.
Tenang. Dalam. Tapi penuh kekuasaan yang tak bisa ditolak.
"Dia bekerja penuh waktu. Ekonomi buruk. Rin sakit parah. Keinginan gadis itu untuk keluar dari desa meningkat..."
Oyabun* membaca ulang kutipan di laporan itu—tertanggal 3 hari sebelum Rin meninggal, dengan mata sipit, lalu meletakkan lembaran kertas tua itu di atas meja tatami.
Ia tak pernah menyukai teknologi. Informasi yang datang ke tangannya harus lewat cara lama—ditulis tangan, dikirim dengan cara yang tak bisa dilacak.
Atas perintahnya di masa lampau, Tadashi mulai menyelidiki keberadaan Rin sehari setelah wanita itu menghilang. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukannya jauh dari kota, di sebuah desa kecil yang nyaris tak tercatat peta.
Ia tidak langsung bertindak.
Sebagai gantinya, ia mengirim Hane untuk mengawasi dari bayang-bayang. Diam, tanpa intervensi. Dan sejak itu, Hane tinggal di desa tersebut.
Pengawasan telah dilakukan selama delapan belas tahun. Sejak anak itu berusia satu tahun saat ditemukan.
"Sudah berapa lama Hane tinggal di sana?" tanya Raizen, suaranya pelan namun tak menyisakan ruang untuk kelalaian.
"Sembilan tahun, Oyabun-sama," jawab pria dengan rambut disisir rapi ke belakang, berdiri tegak di sisi ruangan. "Sejak anak itu berumur sepuluh."
"Dan tidak ada tanda-tanda warisan sejauh ini?"
"Hane-san melaporkan tidak ada aktivitas abnormal. Tapi... sekarang ibunya mati. Anak itu sendirian. Tekanan emosional mungkin bisa memicu sesuatu."
Diam.
Oyabun Yamaguchi mengangkat cangkir tehnya, menyesap sedikit, lalu menatap keluar jendela yang menghadap taman batu. Salju belum turun, tapi udara mulai menusuk.
"Warisan itu saat ini masih tertidur, tapi seiring waktu warisan itu bisa muncul tak terkendali," katanya pelan.
"Apalagi jika ia tumbuh dalam lumpur dan kesepian. Perlu ada yang memancingnya untuk bangun dan mengendalikannya. Hanya masalah waktu."
Ia mengetuk meja kayu tiga kali—sebuah kode lama.
Pria berambut panjang terikat itu membungkuk. "Go-meirei desu ka, Oyabun?" (Perintah, Oyabun?)
...•...
...•...
...•...
Dan setelah jeda dan pertimbangan yang lama, Oyabun memberi titah tajam dan dingin.
"Sakaki, Kyouto no kumichou ni tsutaero.
Tesha o soroero. Sannin, mura e haken da.
Hane to tomo ni, sono ko o honbu e tsurete koi."
(Sakaki, sampaikan pada Kumicho Kyoto, siapkan orang-orangmu. Kirim 3 orang ke desa. Bersama Hane, bawa anak itu ke markas)
...—つづく—...
*pemimpin klan/jabatan tertinggi
**ketua
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍