Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Angin malam di kolong Jembatan Banpo tidak berhembus, namun ia menyayat. Setiap tiupannya membawa serta aroma khas Sungai Han yang sudah terlalu akrab—campuran anyir air yang tergenang, lendir lumut, dan sampah kota yang tersangkut di antara bebatuan. Lisa berdiri di tengah-tengah pilar-pilar beton raksasa yang menjulang bak kaki dewa jahat dalam kegelapan, merasakan dingin yang merayap melalui jaket kulit tipisnya.
Senter di tangannya adalah satu-satunya matahari di alam semesta kecil ini. Sinar putihnya menyapu tumpukan sampah plastik yang mengkilat, gundukan lumpur hitam yang tampak seperti organ dalam bumi, dan kerikil-kerikil tajam yang memantulkan cahaya seperti mata serangga. Tapi dari semua yang diteranginya, tidak ada petunjuk sedikit pun tentang kotak kayu ukir berisi mahkota perak Dinasti Joseon yang lenyap tiga minggu silam.
“Sial,” umpatnya lirih, suara itu langsung disedot oleh kegelapan yang lembap.
Ia mematikan senter. Kegelapan yang langsung menyergap begitu pekat hingga ia bisa merasakannya di lidah—rasanya seperti menelan air sungai yang kotor. Di atas, lampu jalanan jembatan membentuk garis-garis kuning pucat yang jauh, tidak cukup kuat untuk menembus kegelapan di bawah. Ia membiarkan matanya beradaptasi, mendengarkan suara gemericik air yang menetes dari sambungan beton.
𝘐𝘯𝘪 𝘨𝘪𝘭𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵. Batinnya menggigit.
Perburuan tanpa izin ini adalah loncatan karier dari tebing tanpa parasut. Tim penyelidik lapangan telah menyatakan area ini bersih dua hari yang lalu. Mereka sudah memindai setiap inci dengan detektor logam dan anjing pelacak. Jika ia pulang dengan tangan kosong—atau lebih buruk, ditemukan basah kuyup dan berlumpur di sini—ia hanya akan menjadi bahan tertawaan baru. “Lisa si detektif hantu,” mereka akan memanggilnya begitu. Ejekan itu akan lebih menyakitkan daripada angin malam ini.
“Kamu mencarinya di tempat yang salah.”
Suara itu, berasal dari jarak yang sangat dekat di belakang bahu kanannya.
Lisa tersentak begitu hebat hingga senter di tangannya terlempar, mendarat di atas lumpur dengan suara ‘blup’ yang memalukan. Jantungnya langsung memompa darah dengan kekuatan penuh, membuat telinganya berdengung. Ia berbalik, kaki-kakinya nyaris terpeleset di tanah yang licin. Tangannya refleks meraba pinggang, mencari kenyamanan dingin dari gagang pistol—dan menemukan kain jaket saja. Senjatanya ada di laci mobil, satu keputusan bodoh lainnya malam ini.
Dan di sana, bersandar dengan sikap santai yang tak mungkin pada pilar beton yang kasar, pria berambut kemerahan itu berdiri. Sosok itu adalah Sam. Jaket denimnya tampak sama lusuhnya, tapi dalam cahaya bulan yang tipis menyelinap dari celah-celah jembatan, kain itu seolah memendam cahaya sendiri, memancarkan kilau abu-abu kebiruan yang samar. Wajahnya tenang, ekspresinya datar, seolah insiden pengusiran keras di ruang istirahat semalam hanyalah salah urus kecil.
“Kau lagi.” Desis Lisa. Ia membungkuk dengan hati-hati, mengambil senter yang sudah belepotan lumpur. “Sudah kubilang, pergi! Keluar dari kepalaku! Aku sedang dalam tugas!”
“Aku tidak ada di kepalamu,” balas Sam, suaranya lembut tapi terpotong jelas dalam kesunyian, tanpa gema. Ia mendorong dirinya dari pilar dan melangkah mendekat. Kakinya tidak menyentuh lumpur. Ia melayang, hanya satu atau dua sentimeter di atas permukaan tanah basah, tanpa meninggalkan jejak. “Aku di sini karena ada yang memanggil. Bukan kau. Tapi… pemilik dari benda yang kau cari itu. Dia terus menangis. Dan suaranya begitu menyayat telingaku.”
Lisa tertawa. Suara tawanya pendek, getir, dan sengaja dibuat keras untuk menutupi gemetar di lututnya. “Arwah pemilik? Maksudmu seorang bangsawan atau putri dari lima abad lalu? Mereka sudah jadi debu, Sam. Debu dan tulang. Mereka tidak akan menangis. Mereka sudah tenang di atas langit.” Sarkasme itu adalah tameng terakhirnya.
Sam tidak tersinggung. Ia malah memandangnya dengan tatapan penuh kesabaran yang justru membuat Lisa semakin kesal. Lalu, dengan gerakan lambat, ia menunjuk ke arah sudut paling gelap di dasar pilar, tempat air yang menggenang tampak lebih dalam, menyatu dengan celah sempit di bawah fondasi beton. “Di sana. Di balik beton yang retak itu. Dia bilang… pencurinya panik saat mendengar sirene patroli dan melemparkan kotak itu ke dalam lubang itu seperti membuang sampah.” Sam berhenti sejenak, matanya yang hangat memandang ke arah lubang itu dengan ekspresi mirip. “Dia menangis karena benda itu adalah satu-satunya harga dirinya yang tersisa. Satu-satunya bukti bahwa dia pernah berarti.”
Lisa menatap lubang yang ditunjuk. Secara taktis, itu adalah tempat terburuk untuk menyembunyikan barang curian. Arus air, meski lambat, akan membawa benda kecil itu hanyut dalam hitungan jam. Logikanya berteriak bahwa ini omong kosong. Tapi ada sesuatu dalam cara Sam berbicara yang hanya menyampaikan sebuah fakta dengan keyakinan tenang yang membuat otot kakinya bergerak sendiri.
“Jika tidak ada apa-apa di sana, besok pagi aku akan mendaftar ke klinik psikiater terdekat. Aku akan mengaku semuanya. Halusinasi auditori dan visual. Stres pasca-trauma fiktif. Apa pun itu yang ada di kepalaku.” gumam Lisa.
Dengan erangan kecil, ia melangkah masuk ke dalam genangan air. Dinginnya begitu menusuk hingga ia menahan napas. Air itu merembes melalui sepatu botnya, membasahi kaus kakinya, menyelimuti kulitnya dengan sensasi beku yang nyata. Ia berlutut, mengabaikan protes dari jins denim mahalnya yang kini menyerap air hitam dan lumpur. Bau anyir langsung menyeruak kuat, memenuhi hidungnya.
Dengan napas tertahan, ia mengulurkan tangan ke dalam celah sempit di balik beton. Tangannya meraba dalam kegelapan total. Batu-batu kasar, akar tanaman air yang licin, lumpur yang dingin… lalu, ujung jarinya menyentuh sesuatu. Benda keras. Bersudut. Terbungkus kain kasar yang sudah basah kuyup dan berlumuran lumpur.
Jantung Lisa benar-benar berhenti berdetak selama satu ketukan yang panjang.
Dengan hati-hati, ia menjepit benda itu dan menariknya keluar.
Dari dalam kegelapan, muncul sebuah kotak kayu, panjangnya tidak lebih dari tiga puluh sentimeter. Ukirannya yang rumit, berupa naga dan bunga, meski tertutup lumpur, masih bisa dikenali. Gaya Joseon. Kayunya lapuk di beberapa bagian, tapi masih kokoh. Tangan Lisa gemetar semakin hebat saat ia membuka pengaitnya yang sudah berkarat.
Di dalam, dibalik kain beludru yang sudah compang-camping, sebuah mahkota perak kecil berkilauan lembut saat terkena cahaya senter yang ia arahkan. Logamnya masih utuh, permata-permata kecil di pinggirannya masih menempel. Itu sangat indah. Dan itu adalah barang bukti utama yang hilang.
Lisa terpaku. Ia berlutut di dalam air dingin, mendekap kotak kayu itu erat-erat di dadanya. Napasnya memburu, mengeluarkan gumpalan uap putih di udara malam. Perlahan, ia menoleh ke arah Sam.
Pria berambut kemerahan itu masih berdiri di sana. Ia tidak tersenyum sombong atau berkata “sudah kubilang”. Ia hanya menatap Lisa dengan senyum tipis yang penuh dengan sesuatu yang mirip kesedihan—seolah penemuan ini adalah sebuah tragedi, bukan kemenangan.
“Bagaimana…” kata Lisa, suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
“Bagaimana mungkin? Sepuluh orang. Anjing pelacak terlatih. Mereka menyisir tempat ini. Mereka tidak menemukan apa-apa disini.”
Sam mengangkat bahunya, sebuah gerakan kecil yang hampir manusiawi. “Aku tidak punya penjelasan yang akan membuatmu percaya. Aku hanya mendengar suara. Dan suara-suara itu sering kali tahu di mana barang-barang mereka berada.”
Lisa menunduk, menatap mahkota yang berkilau, lalu menatap Sam, lalu kembali ke mahkota. Rasanya seperti seluruh fondasi dunianya runtuh berdebuman di sekelilingnya. Kebetulan? Mustahil. Halusinasi yang bisa memproduksi koordinat GPS dan objek fisik? Itu lebih mustahil lagi.
Dengan kaki yang lemas, ia berdiri. Air menetes dari celananya, membuatnya menggigil. Tapi rasa dingin yang sekarang ia rasakan berbeda. Ini adalah dingin yang berasal dari dalam.
“Kau,” ia memulai, suaranya serak. Ia berhenti, menelan ludah yang terasa seperti pasir.
“Kau benar-benar… bukan dari dunia ini? Kau benar-benar apa yang kau katakan?”
Sam tidak menjawabnya langsung. Ia memandang ke atas, melalui celah-celah jembatan, ke arah sepetak langit malam yang terlihat, dihiasi oleh beberapa bintang redup. Ekspresinya jauh, merindukan sesuatu yang bahkan namanya sudah hilang dari ingatannya.
Lisa tidak mendesak. Ia hanya berdiri di sana, di kolong jembatan yang gelap dan anyir, mendekap artefak berusia lima abad di satu tangan, sementara di hadapannya berdiri sebuah misteri dari tiga dekade lalu. Ketakutannya belum sirna. Tapi sekarang, ia tercampur dengan sebuah pengakuan yang menggetarkan. Dunia ternyata lebih luas, lebih aneh, dan lebih sunyi daripada yang pernah ia bayangkan.
“Ini kebetulan atau benar-benar hantu?” bisiknya pada angin malam, sebuah pertanyaan retoris untuk dirinya sendiri.
Tapi di dalam hatinya, di ruang paling jujur yang tersembunyi di balik badge dan ketidakpercayaannya, sebuah jawaban sudah mulai bersemi. Dan kebenaran itu, menerima bahwa makhluk seperti Sam itu nyata, ternyata lebih menakutkan—dan lebih menggoda—daripada sekadar kehilangan akal sehat.
.
.
.
.
.
.
.
— Bersambung —